Setelah mengitari sekolah, akhirnya mereka menuju perpustakaan sekolah yang terkenal dengan koleksi bukunya yang lengkap untuk seukuran sekolah, letak perpustakaan berada di gedung yang terpisah dengan kelas dan ruang guru. Susunan rak buku kayu yang tinggi dan terisi penuh, berbaris rapi menunjukkan betapa banyaknya buku di dalam ruangan yang sangat luas itu.
Cukup untuk menyaingi perpustakaan pusat kota. Rak demi rak mereka terlusuri, tersirat kilauan kekagumaman di mata hitam pekat itu, ya wajar saja, sekolah ini mendapat julukan sekolah perpustakaan dan merupakan salah satu sekolah top, bahkan di musim panas atau dingin perpustakaan ini tidak pernah absen, kecuali di hari libur. Itu karena para siswa dan siswi selalu mengerjakan tugas setinggi gunung disini, mereka malas untuk keperpustakaan pusat yang lumayan jauh. Makanya mereka lebih memilih perpustakaan sekolah, bahkan tak jarang ada siswa dari sekolah lain juga datang berkunjung jika ada buku yang tidak ditemukan di perpustakaan pusat.
“Kau kenapa?” Tanya Eliot, ia melihat Ryea melamun disampingnya.
“Ah tidak apa-apa kok, ” balasnya sambil menggeleng.
“Apa karena bisik-bisik anak kelas lain tadi.” Eliot langsung menebak dan sayangnya itu benar.
“Bu-bukan kok," jawab Ryea cepat.
'Mati aku, kenapa langsung menuju sasaran dan aku harus bersikap seperti apa.’ Ryea membatin.
“Aih, sudahlah. Aku sudah tau dari tadi aku perhatikan kau seperti memikirkan hal lain. Ya hal lain, ucapan para anak perempuan tadi. Soalnya raut mukamu langsung berubah ketika mereka mengatakan itu.”
Jleb!
Perkataannya mengenai sasaran.
‘Aku memang memikirkan hal itu, jujur saja aku tidak terbiasa dengan bisik-bisik seperti itu. Karena aku menghindari hal tersebut, bagiku itu adalah hal yang merepotkan sekali.’Ucap Ryea dalam hati, ia tak ingin menyampaikannya pada Eliot.
Akhirnya hanya helaan nafas saja yang keluar dari mulutnya. Ia sama sekali tak mengerti isi pikiran anak baru ini, bisa-bisanya berbicara seperti itu dan sayangnya apa yang dikatakannya tepat.
“Aaah, begitukah. Sepertinya kau salah sangka.” Ryea membalas ucapannya berlawanan dengan apa yang ada dipikiran dan hatinya.
“Hmm. Aku menyukai perempuan yang biasa saja tidak berlebihan soal ini itu dan cukup kalem, suka tersenyum dan tertawa.” Sebelum Eliot melanjutkan kalimatnya, Ryea sudah memotong ucapan Eliot.
“Tunggu, kenapa kau mendadak berbicara seperti itu?” Ryea shock dengan ucapan Eliot barusan.
“Hanya ingin kau tau saja.” Jawabnya singkat,”kemudian membuatku nyaman ketika didekatnya, tidak perlu pandai memasak soalnya memasak itu bisa mahir seiring berjalannya waktu. Cantik, hm... itu bukan kriteria utama. Bagiku perempuan cantik itu lama-lama pasti tidak cantik lagi, jika di pandang terus-terusan. Aku lebih suka dengan perempuan manis, lebih enak dilihat dan tidak membosankan dan lebih penting dia harus lebih pendek dariku. Ya setidaknya dia segini.” Eliot memperagakan tinggi wanita idamannya dengan tangannya dan astaga! Tingginya sekitar tinggi Ryea.
“Hey, kau ini bicara apa? Memangnya kau memintaku untuk mencarikanmu kekasih yang sesuai dengan kriteriamu tadi? Apa kau ingin cepat-cepat menikah?” Balas Ryea yang mulai emosi, jantungnya tidak karuan ditambah wajahnya mulai memerah.
“Hahaha. Aku hanya berusaha menjawab pertanyaan mereka tadi, makanya aku berkata seperti itu.” Balasnya sambil tertawa.
“Katakanlah pada mereka jangan kepadaku.” Sungut Ryea kesal, “Untuk ukuranmu kenapa kau malah mencari perempuan yang biasa saja?” Rupanya Ryea cukup penasaran.
‘Apa yang aku tanyakan. Oh Tuhan!’
“Hahaha… Entahlah, bagiku itu sudah cukup. Tentunya lebih enak dilihat, memangnya kenapa?”
“Ah, tidak. Kupikir untuk lelaki sepertimu, kau lebih suka perempuan bak model. Tinggi, langsing, cantik dan sempurna.” Balas Ryea, ada nada mengintimidasi dari ucapannya.
“Hahaha... justru sebaliknya. Aku malah kurang suka perempuan seperti itu. Tidak menarik,” jawab Eliot dengan bangga.
“Sudahlah kenapa kita malah membicarakan wanita idamanmu. Ayo kita kembali, sebentar lagi jam pelajaran ketiga di mulai.”
“Sepertinya… jika ku lihat-lihat, kau cocok dengan kriteria yang kuucapkan tadi.”
Seketika Ryea berhenti dan dadanya bergemuruh cepat. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri, dua kali lipat… ah tidak! tiga kali lipat lebih cepat. Apa yang ia bicarakan sebenarnya, apa maksud perkataannya? Oh Tuhan, jika kau mendengarkanku tolonglah aku sekarang juga.
“A-apa yang kau ucapkan,” jawab Ryea terbata-bata.
“Kau itu cocok dengan kriteriaku.” Eliot berjalan dan berhenti dihadapan Ryea. Ia membukuk sedikit agar matanya sejajar dengan mata Ryea, pasti ia melihat dengan jelas rona merah dipipinya.
“Aku...,” ucap Eliot terputus.
‘Astaga apa yang ingin dia ucapkan.’ Mendadak isi kepala Ryea terbang entah kemana.
“Aku... bercanda,” ucapnya
“Hah!” Mulut Ryea menganga karena shock.
“Ya, bercanda. Kau jangan seserius itu menanggapinya, lihatlah wajahmu merah seperti kepiting rebus.” Balasnya dengan tawa usil.
“Apa kau bilang barusan! Ber-can-da!” Ryea naik pitam.
“O, jangan marah disini, ingat kita lagi di perpustakaan. Jika kau marah di sini yang ada kau dimarahi oleh Ibu pustakawan.” Eliot menunjuk ibu pustakawan yang sibuk mengecek komputer dimejanya.
“Tapi-” Ryea masih panas dan ingin memukul Eliot dengan seluruh kekuatannya yang sudah terkumpul penuh.
“Jika kau ingin memukulku nanti saja ya. Sekarang kita ke kelas dulu bel sudah berbunyi.”
‘Apa katanya! Nanti saja? Memukulnya? Tunggu dulu, darimana ia tau kalau aku ingin memukulnya dengan seluruh tenagaku, apa dia cenayang? Ah aku tidak peduli yang jelas aku ingin memukulnya.’ Ryea bersungut-sungut kesal, seumur hidupnya baru kali ini ia bertemu dengan lelaki menyebalkan. Tampan dan menyebalkan, kombinasi sempurna.
Semua bayangan tentangnya lenyap bak debu tertiup angin, dia tak seperti yang Ryea bayangkan. Dia itu iblis, iblis yang usil sekali. Ryea sama sekali tak bisa membalas semua ucapan Eliot barusan. Ia hanya bisa meluapkan kekesalannya di dalam hati sambil mengepalkan tangan.
“Apa yang kau pikirikan, ayolah kita kembali, apa kau ingin di hukum berdiri di luar kelas selama jam pelajaran,” kata Eliot dengan wajah tanpa dosa.
‘Kukutuk kau Eliot! Kau menyebalkan sekali! Beraninya kau menjahiliku seperti itu. Akan kusiapkan boneka jerami dan kutusuk dengan ratusan paku. Tidak! ribuan kali sampai aku puas,' kata Ryea dalam hati sambil mengepalkan tangannya sekuat tenaga karena geram.
“Astaga, sekarang aku melihatmu dengan tatapan ingin mengutukku. Nanti saja ya, sekarang kita kembali ke kelas dulu, ” balas Eliot sambil berbalik dan mendorong Ryea dan membuat gadis itu berjalan di depannya.
‘Dia ini benar-benar menyebalkan sekali dan bisa membaca isi pikiranku. Apa dia mempunyai kekuatan untuk membaca pikiran orang lain. Ah sudahlah! Aku sudah lelah untuk melawannya. Aku kalah telak.’ Ryea lagi-lagi membatin sambil menghela nafas.
Ia letih sekali dan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya untuk melawan lelaki menyebalkan itu. Sekilas ia mendengar gelak kecil yang ia yakini itu adalah suara tawa kemenangan Eliot yang berhasil mengerjainya.
‘Puas kau, puas kau! Tunggu pembalasanku!' Ryea kesal setengah mati, ia hanya bisa mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, raut wajahnya seperti siap untuk memakan orang.
Ketika mereka berjalan keluar dari gedung perpustakaan, Ryea menatap langit, cahaya yang keluar dari sisi awan gelap sangat cantik sekali. Seperti memancarkan warna emas, teduh tapi ada gelisah didalamnya dan bau angin sangat nyaman sekali, seperti bau sehabis hujan. Tanpa sadar Ryea memandang Eliot yang sudah berada disampingnya dan tiba-tiba Eliot berhenti berjalan, lelaki itu mendongak melihat langit dan lagi-lagi Ryea melihat mata itu. Seperti mata yang ia kenal, mata penuh luka, entahlah, rasanya dulu ia pernah melihatnya, tapi di mana. Ryea menangkap sesuatu dari raut wajah Eliot, sepertinya Eliot sangat mengenal suasana ini. Hal itu ingin membuat Ryea ingin menanyakannya. Tapi, sesaat kemudian ia urungkan lagi niat itu. Ia baru mengenalnya bahkan belum terlalu mengenalnya mana mungkin ia akan menanyakan hal yang terkesan pribadi itu padanya.
Eliot menyadarinya dan beralih menatap Ryea dari matanya Ryea tau kalau ia bertanya “ada apa?” Ryea langsung menggeleng, ia sempat berhenti sebentar untuk melihat Eliot dan setelah itu kembali berjalan menuju kelas, begitupun Eliot. Ryea ingin sekali rasanya melihat orang yang dibelakangnya kini, tapi mana mungkin ia menoleh ke belakang, tentunya hal itu akan menimbulkan pertanyaan lagi buatnya.
“Aku ingin tau apa maksud tatapannya itu, tatapan yang sama. Tatapan seseorang yang terluka, ingin mengungkapan kata, tatapan penuh penyesalan dalam dan tatapan itu ditujukan kepada siapa?” Gumam Ryea lirih.
“Dulu aku sering memandang langit seperti ini… dulu sekali.”
“Hah?”
Elio menggeleng. “Bukan apa-apa, ayo kita bergegas, ” balasnya. Eliot berjalan mendahului Ryea.
Ryea menghentikan langkahnya dan hanya bisa termenung dengan ucapan Eliot barusan.
‘Apa maksudnya? dia benar-benar aneh sekali. Ia bisa menjadi orang periang yang hangat penuh senyum dan seketika ia bisa menjadi orang yang dingin penuh luka mendalam.’
Ketika Ryea melihat kembali punggung Eliot dari belakang sepintas bayangan misterius menghampirinya. Bayangan punggung seseorang, perasaannya mengatakan bahwa itu adalah punggung seseorang yang ia kenal baik, tapi siapa? Terdengar suara samar-samar yang sepertinya sedang memanggil pemilik punggung itu. Ryea tidak tau nama siapa yang dipanggil itu, satu kali, dua kali dan tiga kali masih tedengar samar.
Lama kelamaan suaranya semakin jelas.
“Eliot...”
Deg! Deg! Deg!
Akhirnya Ryea dapat mendengar dengan jelas nama siapa yang dipanggil itu dan mengapa namanya adalah Eliot.