"Apa kiamat itu, Val?" tanya Prof. Eldenio.
"Bukan apa-apa, Prof," ujar Valerie.
"Untung di dunia ini tidak mengenal kata kiamat, kalau gak bisa kiamat sungguhan aku," batin Valerie.
Valerie mulai mengambarkan array di depannya ke papan arraynya.
"Mari kita cocokan dengan panduan warna di papan array," ujar Valerie setekah selesai menganbar array di depannya.
"Merah itu seharusnya yang paling tua," ujar Valerie lalu menuliskan nomor urutan di gambarnya.
Beberapa kali Valerie menulis dan mencocokan warna permata inti sebelum akhirnya menyelesaikannya.
"Sudah selesai, Prof," ujar Valerie sambil memberikan papan arraynya.
"Kamu masih punya waktu 2 menit, langsung kamu decode aja," ujar Prof. Elquino.
Segera Valerie me-decode array berdasarkan gambarnya.
Duar...
Valerie langsung berlari.
"Selamat kamu berhasil memecahkan array nya," ujar Prof. Eldenio.
"Itu bukan arraynya meledak karena gagal?" tanya Valerie.
"Tenang, itu sebenarnya adalah Party Array," ucap Prof. Eldenio, "Untuk ucapan selamat datangmu. Dan sebenarnya Party Array ini lebih sulit daripada Rainbow Array, Rainbow Array hanya menggunakan kombinasi 25 permata inti, sementara Party Array menggunkan kombinasi 50 permata inti."
"Kalau aku bisa menyelesaikan Party Array 30 menit, bukankah berarti Rainbow Array hanya akan memakan 15 menit?" tanya Valerie.
"Tidak dibagi dua seperti itu, Valerie," ucap Prof. Eldenio, "Target decode Rainbow Array hanya 5 menit didasarkan pada waktu tercepat yang pernah ada dan untuk party array sendiri paling cepat adalah 15 menit."
"Keren," ujar Valerie dengan matanya yang bersinar.
"Jika kamu mau mencoba, kamu bisa minta tambahan latihan dengan Elquino di luar jam kelas," ucap Prof. Eldenio.
"Sekarang tugasmu adalah menyusun Party Array," ucap Prof. Eldenio, "Dan saya akan mengajari Elquino materi baru."
"Baik, Prof," ucap Valerie.
"Waktumu adakah 2 jam," ucap Prof. Eldenio, "Karena kamu baru belajar menyusun, maka saya berikan lebihan waktu, estimasi waktu aslinya adalah 1 jam."
"Tidak perlu pakai estimasi asli, Prof," ujar Valerie, "Aku tidak akan sanggup."
"Santai saja setiap profesor yang mengajar kelas khusus memang selalu mempunyai target yang tinggi untuk murid-muridnya, terutama jika kita jadi murid inti," ujar Elquino saat melihat muka cemas Valerie yang sedang menunggu penilai dari array pertama yang dibuatnya.
"Bagus sekali, bakatmu tidak lebih buruk dari Elquino," ujar Prof. Eldenio dengan bangga.
"Apakah ada yang salah, Prof?" tanya Valerie.
"Tidak ada yang salah, hanya perlu latihan sehingga bisa lebih cepat," ujar Prof. Eldenio, "Tapi tenang aja, array yang digunakan untuk pertempuran tidak menggunakan permata inti sebanyak ini, namun ada kekurangannya yaitu memiliki perhitungan yang rumit."
"Sepertinya aku lebih baik mengerjakan yang itu," ujar Valerie, "Lebih baik menghitung daripada mencocokan warna seperti ini, sangat membosankan dan berhasil membuat kepalaku pusing."
"Selama ini semua lebih suka mengerjakan yang seperti ini daripaada yang menghitung," ujar Elquino.
"Tentu saja, bagaimana pun ini adalah bagian termuda dari array, tapi tidak ada keseruan sama sekali," ujar Valerie.
"Yang seperti ini aja kalau tidak memiliki mata yang tajam untuk membedakan warna masih akan gagal," ucap Elquino.
"Lalu bagaimana dengan para senior yang mendapatkan kelas pertahanan array?" tanya Valerie.
"Kamu akan tahu saat nanti kamu membantu saya mengajar di kelas," jawab Prof. Eldenio lalu tertawa.
"Kita juga ikut mengajar?" tanya Valerie.
"Tentu saja, pelajaran ini tidak mudah," jawab Prof. Eldenio, "Sehingga tidak mungkin untuk membimbing mereka dalam kelas besar. Jadi para murid khusus akan ikut mengajar dan biasanya akan saya bagi dalam kelompok-kelompok kecil."
"Aku kalau bisa gak akan mau ikut mengajar," gumam Elquino.
"Kenapa?" tanya Valerie.
"Penyakit kepala alami," jawab Elquino yang ditertawakan oleh Prof. Eldenio.
"Kok bisa?" tanya Valerie.
"Apakah kamu tahu tahun berapa yang belajar pertahanan array?" tanya Elquino.
"Tahun kelima, 'kan?" jawab Valerie agak ragu.
"Benar, para senior yang sok pintar itu, hanya akan membuat kamu emosi!" ujar Elquino.
"Mahklumi saja, El, namanya juga mereka lebih tua," jawab Prof. Eldenio, "Dan kamu memang kebetulan adalah orang dengan bakat yang langkah sehingga mereka tidak sebanding dengan kamu."
"Sebenarya Prof, setelah saya pikir seharusnya ini tidak ada hubungan dengan bakat," ujar Elquino, "Mereka hanya berusaha menekan kita yang lebih muda, padahal mereka tidak mengerti array sama sekali, jangankan menyusun array, mereka bahkan tidak bisa membedakan warna permata inti."
"Sebenarnya aku bingung, mengapa semua murid harus belajar pertahanan array, bukan kah kalaul di academy lain yang belajar array hanya murid-murid terpilih?" tanya Valerie.
"Apakah academy kita bisa dibandingankan dengan academy lain?" balas Prof. Eldenio dengan sombong, "Tentu saja tujuan utama mengajarkan array kepada mereka bukan agar mereka bisa me-decode ataupun me-encode array, saya kuatir kalau seperti itu mereka tidak akan ada yang bisa. Tujuannya hanya melatih agar mereka tetap tenang jika mereka harus menghadapi array, walaupun jika dihadapkan dengan array tingkat tinggi pembelajaran ini juga tidak aka berguna, namun sangat jarang array tingkat tinggi muncul kalau bukan untuk melindungi barang berharga."
"Sepertinya aku paham, hanya sekedar untuk pertahanan dan pengetahuan," ujar Valerie.
"Sudah sana kalian segera kembali ke asrama," ujar Prof. Eldenio.
"Sudah selesai ya, Pof?" tanya Valerie.
"Iya, tapi kalau kau masih mau lanjut juga boleh," jawab Prof. Eldenio.
"Tidak perlu, Prof," ucap Valerie buru-buru, "Aku masih ingin makan malam, kami pergi duluan, Prof."
"Terima kasih, Prof," ucap Elquino.
Kemudian mereka berdua keluar dari ruangan Prof. Eldenio dan menuju asrama Pheonix.
"Ini mau langsung ke aula atau mau mandi dulu?" tanya Valerie.
"Masih ada setengah jam, lebih baik mandi dulu," jawab Elquino.
"Oke, kalau begitu langsung ketemu di aula," jawab Valerie kemudian langsung masuk ke kamarnya.
***
"Gimana kelas array pertamamu, Val?" tanya Hazel setelah Valerie duduk.
"Untungnya baik-baik saja," jawab Valerie sambil mengambil makanan yang disajikan di tengah meja.
"El tidak menyiksamu?" tanya Steven dengan tidak percayya.
"Sedikit," jawab Valerie.
"Maksudnya sedikit itu bagaimana?" tanya Yura, "Santai aja lagi sama kita, gak perlu sungkan, nanti kita pasti akan bareng-bareng membalaskan dendammu ke El!"
"Benar itu, kami pasti akan bantu kamu melampiaskan dendammu," ujarr Hazel mendukung.
"Memang kalian menurunkan ilmu menghasut orang dari generasi ke generasi ya!" decak Steven.
"Tentu saja," ujar Yura, "Kalau tidak, tidak ada kesenangan untuk ini, selain itu, kalian para senior akan bisa membully kami para junior. Hal ini tidak bisa ditoleransi!"
"Sebenarnya itu tidak termasuk membully juga," ujar Steven, "Itu hanya menguji kemampuan dan pengetahuan junior baru."
"Untungnya senior Yura baik," ujar Hazel, "Kalau tidak aku pasti akan menderita saat menjadi pendatang baru."
"Biasa perempuan!" ujar Elquino sambil menarik kursi.
"Akhirnya yang mau di-bully datang!" decak Yura.
"Val, kamu tahu tahun lalu ada perempuan yang mengejar Elquino," ujar Hazel sambil menampilkan smirk jahilnya.
"Perempuan itu kasih Elquino surat loh di lapangan setelah pertandingan persahabatan," ucap Yura sambil melirik Elquino yang mulai memelototinya.
"Kalian berhenti gak?" ancam Elquino.
"Terus yang dilakukan Kak El?" tanya Valerie dengan penasaran.
"Dia bilang bahwa dia punya tunangan," jawab Steven yang ikutan juga.
"Hmm... gak seperti gaya Kak El," ujar Valerie.
"Tentu saja, kalau El yang biasanya pasti hanya dilewati perempuan itu," ucap Yura, "Tahu gak apa yang buat El membalas dengan kejam?"
"Perempuan itu memcium El!" sahut Hazel dengan bersemangat.
"Diamlah, Hazel!" ujar Elquino, "Gak perlu kamu dengarkan para senior sesat mu, Val."
"Apanya yang sesat?" sahut Steven yang ikutan memanasi, "Itu kenyataan, apalagi setelah itu si doi pindah academy."
"Bukan kah terlalu implusif untuk pindah academy hanya karena masalah kecil seperti percintaan?" tanya Valerie.
"Wajar aja si doi pindah," ujar Yura, "Masa El langsung melap mukanya detik itu juga di depan umum."
"Bukan hanya melap, bahkan seingatku langsung membilas mukanyaa, mentang-mentang elemennya air," ujar Hazel.
"Sama sekali tidak menyisakan muka!" decak Steven, "Apalagi Elqueena juga langsung menampar si doi."
"Sangat kejam!" ujar Valerie.
"Ya begitulah, dewa besar adalah dewa besar," ujar Yura.
"Mana alasan yang Elquino tidak masuk akal lagi," ucap Hazel.
"Tapi itu nyata," ujar Elquino.
"Aku gak percaya!" ucap Hazel, "Aku gak pernah mendengar adanya pertunanganmu, kita berasal dari keraajaan yang sama loh, apalagi untuk seorang pangeran seharusnya berita pertunanganmu akan dipublikasikan."
"Masuk akal yang dibilang Hazel," ujar Yura.
"Elqueena setelah menampar, juga mengatakan hal sama," ujar Elquino.
"Kalian bersaudara, masuk akal kalau dia membelamu," ujar Steven.
"Sepertinya kalian memasuki academy yang salah!" ujar Elquino.
"Hah?" tanya Yura saat merasa apa yang dikatakan Elquino tidak nyambung.
"Kalian seharusnya masuk ke academy pergosipan," ucap Elquino.
"s****n!" umpat Steven.
"Aku duluan," ujar Elquino sambil bangkit dari duduknya, "Ayo, Val."
"Ngapain pergi ngajak-ngajak Valerie?" tanya Yura sambil menahan Valerie.
"Kalau gak ngajak Valerie, mau ngajak siapa lagi?" tanya Elquino, "Senior Yura kah? Apakah senior yakin mau belajar array?"
"Ooo, kamu mau ngajari Valerie toh," ujar Yura, "Ngomonglah dari tadi, kirain lagi mengincar Valerie."
"Hmm...," balas Elquino lalu melangkah pergi.
"Aku duluan, Senior!" pamit Valerie lalu buru-buru menyusul Elquino.
"Bagus, aku baru tau ada kejadian seperti itu!" sindir Valerie.
"Kejadian itu tidak penting," ujar Elquino.
"Sekalipun tidak penting, bukankah aku berhak tau?" tanya Valerie.
"Tentu kamu berhak tau," jawab Elquino, "Tapi saat itu aku mau menemui kamu aja gak bisa."
"Hummph!" kesal Valerie, "Dicium perempuan cantik enak, kan?"
"Darimana enaknya, aku merasa itu sangat menjijikan!" ujar Elquino sambil memegang pipinya saat mengingat kejadian tersebut dan bergindik ngeri.
"Aku anggap masalah ini selesai di sini, awas aja sampai terulang!" ancam Valerie sambil memelototi Elquino.
"Kamu tenang aja, Val, aku jamin gak akan ada lagi," ujar Elquino, "Sangat menjijikan!"