"Selamat datang, Val!" sambut Prof. Fey.
"Selamat bergabung!" ucap Steven sambil meletakan beberapa gulungan kertas di meja di depan Valerie, "Silahkan dipilih mau membuat yang mana untuk tes pembuka."
"Yang pertama pasti yang termudah!" ujar Valerie dengan percaya diri sambil mengambil gulungan kertas paling kiri.
"Haha... karena kamu sudah ambil, kamu gak boleh ganti," ujar Steven dengan seringai kemenangannya.
"Sebenarnya itu adalah yang paling susah, Val," ucap Prof. Fey, "Tapi bagus, saya bangga dengan kamu, itu menunjukan bahwa kamu memang layak untuk menjadi murid saya."
"Tapi gak gini juga!" ratap Valerie di dalam hatinya.
"Selamat ya, Val," ujar Steven dengan senyum liciknya, "Padahal aku sudah berniat membantu kamu loh, biasanya itu mereka pilih yang di tengah, tetapi cara kerja otakmu sepertinya bermasalah sehingga pilih yang paling kiri."
"Senior kejam! Kenapa gak kasih aku bocoran," ujar Valerie.
"Salahmu gak tanya!" balas Steven.
"Emang kalau aku tanya, Senior kasih tau?" cibir Valerie, "Gak akan, 'kan?"
"Tergantung suasana hati, kalau lagi baik aku kasih tau," ujar Steven.
"Sama aja bohong!" sinis Valerie.
"Mana tahu, kan coba keberuntungan," ucap Steven.
"Karena aku tahu gak pasti akan dikasih tau atahu gak, aku lebih milih tidak mencoba," ujar Valerie.
"Lebih baik mencoba dan gagal daripada gak pernah berusaha," ucap Steven.
"Buang-buang energi!" cibir Valerie lalu membuka gulungan kertasnya, "Sudah, sudah, jangan ganggu aku lagi, aku mau mulai mengerjakan."
"Silahkan, gak akan ada yang ganggu kamu kok," ucap Steven, "Aku akan melanjutkan penelitianku dengan Prof. Fey."
"Saya harap kamu tidak mengecewakan saya," ujar Prof. Fey, "Waktumu 2 jam."
"Semoga aja bisa, Prof," ujar Valerie.
"Apaan gitu aja semoga! Lemah!" ledek Steven.
"Mentang-mentang senior gitu? Lihat aja, suatu hari kubalas!" ujar Valerie.
"Kutunggu!" ujar Steven.
"Humph!" ucap Valerie dengan sombong lalu mulai menyibukan dirinya.
Duar ....
"Karma oh karma!" ledek Valerie saat tungku Steven meledak.
"Jangan senang dulu, mungkin saja punyamu akan menyusul!" ujar Steven.
"Sudah salah masih meledek orang lain kamu Steven!" ujar Prof. Fey, "Gak segera membenarkan kerjaanmu tunggu apa lagi?"
"Ini mau membenarkan, Prof," ujar Steven lalu segera menyibukan dirinya dengan bahan-bahan alkimia.
"Bagaimana punyamu, Val?" tanya Prof. Fey sambil menghampiri Valerie.
"Sudah selesai, Prof," jawab Valerie, "Tapi aku belum buka tungkunya."
"Kenapa gak segera kamu buka?" tanya Prof. Fey, "Buang-buang waktu aja!"
"Hmm... aku takut kalau gak jadi. Ini pertama kalinya aku buat," jawab Valerie degan gugup.
"Kalau gitu tunggu apalagi? Segera kamu buka dan biarkan saya melihat!" perintah Prof. Fey.
"Ini dibuka sekarang, Prof?" tanya Valerie memastikan.
"Kalau gak? Tahun depan? Atau nunggu kamu lulus sekalian aja!" ujar Prof. Fey.
"Ini, ini aku buka," ucap Valerie lalu buru-buru membuka tutup tungkunya.
"Hmm... cukup baik," ujar Prof. Fey yang membuat Steven penasaran dan menghampiri meja Valerie.
"Prof, ini sangat baik!" ujar Steven dengan antusias.
"Tidak perlu melebih-lebihkan, ini dapat dikatakan sedikit lebih baik daripada kebanyakan orang, tapi tidak bisa dikatakan sangat baik!" ucap Prof. Fey.
"Tapi untuk orang yang pertama kali membuat ini bisa dikatakan sangat baik, Prof," ujar Steven.
"Apakah layak pil yang tidak mengeluarkan aroma pil dikatakan sangat baik?" cibir Prof. Fey.
"Kalau secara harafiah memang tidak layak, namun untuk kenyataan bahwa Valerie baru pertama kali membuat tentu saja layak," jawab Steven.
"Maka saya mengkuatirkan kecerdasanmu mungkin turun saat liburan pergantian tahun ajaran," ujar Prof. Fey, "Sepertinya saya harus memberikan kamu lebih banyak resep obat untuk kamu latihan."
"Tidak perlu, Prof," ujar Steven, "Yang seperti sekarang aja sudah lebih dari cukup."
"Tidak segera membenarkan milikmu menunggu apalagi?" tanya Prof. Fey.
"Sekarang membenarkan!" jawab Steven lalu buru-buru kembali ke mejanya.
"Hmm... Prof, karena tadi Anda bilang bahwa pil yang aku buat cukup baik, berarti belum yang terbaik, 'kan?" tanya Valerie.
"Tingkat kemurnian pil mu 60 persen," jawab Prof. Fey sambil memandang pil yang ada di telapak tangannya.
"Ini, ini hanya 60 persen?" tanya Valerie tidak percaya sambil menunjuk pil di telapak tangan Prof. Fey.
"Menurutmu aja?" tanya Prof. Fey balik.
"Aku juga gak tau, Prof," jawab Valerie.
"Saya belum memberimu buku untuk dasar alkimia?" tanya Prof. Fey balik.
"Belum," jawab Valerie, "Anda hanya memberiku buku berisi tumbuhan dan buku alkimia yang aku beli sendiri untuk menunjang kelas hnya berisi resep-resep membuat pil."
"Bagus, kalau gitu kamu baca ini dua hari, saat kelas berikutnya kamu harus sudah menyelesaikan buku ini," ujar Prof. Fey kemudian mengeluarkan sebuah buku dari ruang angkasanya dan memberikan ke Valerie.
"Dua hari, Prof?" tanya Valerie memastikan.
"Kalau gak? Kamu butuh setahun hanya untuk membaca buku setipis itu?" sindir Prof. Fey.
"Tidak, Prof, dua hari cukup kok, Prof," ujar Valerie.
"Bagus," ujar Prof. Fey, "Kelasmu hari ini sudah selesai."
"Berarti aku meninggalkan kelas sekarang sudah boleh kan, Prof?" tanya Valerie.
"Kejam sekali kamu, Val!" sahut Steven, "Tunggu aku lah."
"Kamu masih gak berkonsentrasi dengan tungkumu Steven?" ujar Prof. Fey, "Sampai tungkumu meledak lagi, kamu siap-siap aja saya keluarkan dari murid inti."
"Jangan, Prof, ini aku kembali ke tungku," ujar Steven lalu membalik badannya kembali menghadap ke tungku.
"Kamu boleh meninggalkan kelas duluan, Val," ujar Prof. Fey.
"Terima kasih, Prof," ujar Valerie lalu melenggang keluar dari ruang kelas alkimia.
***
"Hmm... sepertinya aku harus ke perpustakaan dan mengebut materi ini!" ujar Valerie saat melihat langit masih cukup cerah setelah keluar gedung ruang kelas khusus itu.
Sesampainya di perpustakaan Valerie melihat Elquino yang melambaikan tangan dan segera melangkah menghampiri meja tempat Elquino duduk dan mendudukan dirinya di sebelah Elquino.
"Gimana kelas alkimia pertamamu?" tanya Elquino.
"Aman," jawab Valerie sambil mengedipkan sebelah matanya dan mengacungkan jari jempolnya dengan percaya diri.
"Senior Steven tidak menyusahkan mu?" tanya Elquino yng menunjukan keheranan dan ketidak percayaannya.
"Hmm... Senior Steven malah mau membantu aku, tapi karena otakku yang berpikirnya kebalikan orang lain jadinya malah aku yang pilih ramuan yang paling susah," ujar Valerie.
"Itu namanya gak niat bantu, bantu kok setengah-setengah!" cibir Elquino, "Kalau dia niat bantu, harusnya bilangin kamu dulu sebelum masuk kelas."
"Aku juga ngerasa seperti itu sih, Kak El," ujar Valerie, "Tapi aku puas, karena Senior Steven sudah dapat buahnya."
"Buah apa?" tanya Elquino.
"Ramuannya Senior Steven meledak tiba-tiba, sangat puas aku!" ujar Valerie dengan bangga.
"Tumben dia meledakan ramuan, kesambet apa tuh senior?" ucap Elquino.
"Itu namanya karma berbuah," ujar Valerie masih dengan bangga.
"Ck... ck... kamu bisa-bisanya bahagia di atas penderitaan orang lain," ucap Elquino sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Tentu saja harus bahagia, karena bukan hanya aku sendirian yang menderita. Lihat nih, masa buku setebal ini aku disuruh Prof. Fey menghafalkan dalam 2 hari," ujar Valerie sambil mengeluarkan buku dari tasnya ke meja.
"Hmm... itu hanya tahun pertama aja kok, Val, setelah tahun pertama kelas khusus untuk murid inti tidak akan belajar teori lagi kok," hibur Elquino.
"Memang cara orang jenius menghibur berbeda!" decak Valerie lalu mulai membuka bukunya dan memfokuskan dirinya membaca buku dasar alkimia yang super tebal itu.
Untungnya di dunia sebelumnya Valerie cukup terlatih untuk mengingat buku-buku super tebal dengan waktu singkat sehingga buku dasar alkimia yang menurutnya tebalnya kebangatan itu sudah terselesaikan 1/4 buku saat Valerie diajak Elquino untuk makan malam.
***
"Aku punya berita bagus loh!" ujar Valerie sambil menarik kursi di meja bundar untuk makan malam itu.
"Ada update berita apaan, Val?" tanya Yura yang sudah kepo.
"Hari ini ada sejarah baru tercatat, Senior Steven meledakan tungku alkimia untuk pertama kalinya!" ujar Valerie dengan bersemangat.
"Hore!" sorak yang lainnya.
"Terus gimana reaksinya Prof. Fey?" tanya Yura dengan bersemangat.
"Biasa aja sih," jawab Valerie.
"Apanya yang biasa aja, pas ada Valerie aja tuh profesor pura-pura kalem! Pas Valerie sudah pergi, gak usah dibilang lagi, dia langsung menjatuhkan hukuman mati ke aku," ujar Steven.
"Hukuman mati gimana" tanya Hazel.
"Dia bilang mulai sekarang jadwalku ditambah menjadi 6 kali seminggu, di hari Valerie kelas aku akan ikut membuat ramuan yang dibuat dan untuk materiku sendiri akan aku buat di hari-hari yang tidak ada Valerie," ujar Steven.
"Kok aneh gitu hukumannmu?" tanya Elquino.
"Katanya Prof. Fey, karena aku meledakan tungku berarti aku kuranng latihan," jawab Steven, "Jadi dia memperbanyak latihanku, karena katanya tahun ini akan ada tournament di akhir tahun."
"Oh iya, tahun ini ada kompetisinya, aku gak sabar untuk menunjukan kemampuanku!" ujar Hazel.
"Academy kita yang jadi tuan rumah," ujar Yura.
"Tentu saja academy kita yang akan menjadi tuan rumah, apakah menurutmu ada academy yang lebih layak daripada academy kita?" cibir Steven.
"Sombong sekali senior!" ujar Valerie.
"Aku punya modal untuk sombong tidak ada alasan untuk tidak menfaatkannya dengan baik! Lagian salah mereka yang tidak punya kemampuan!" ujar Steven.
"Hmmm... jatuh baru tahu rasa!" cibir Elquino.
"Memang sejak kapan academy kita gak juara satu?" ujar Hazel mendukung Steven.
"Benar itu, academy kita akan selalu menjadi yang pertama," ucap Yura.
"Ckck... kalian ini memang tidak tau yang namanya merendah!" ledek Elquino.
"Benar itu, padi semakin berisi itu semakin menunduk, bukan semakin berdiri tegak," ujar Valerie.
"Ilmu itu hanya untuk orang-orang yang tidak punya kemampuan nyata sehingga meereka bersembunyi takut-takut kalau ada yang mengajak mereka menguji kemampuan!" ujar Yura.
"Baik, awas aja nanti sampai kalian kalah!" ujar Valerie, "Aku akan jadi orang pertama yang meledek kalian!"
"Jahat sekali kamu, Val!" protes Hazel.
"Karena seyakin-yakinnya kamu, masih tidak akan pernah mencapai 100 persen, alangkah baiknya dari awal menyerahkan 1 persen itu untuk merenah sehingga kalau gagal tidak akan malu!" ujar Elquino.