“Angkasaaaaa! Lo dimanaaa?” Nayla berteriak untuk mencari Angkasa, ia sudah ke kamar Angkasa, ke tempat Sport Vilatte, hingga ke kafe, tetapi tetap saja Nayla tidak menemukan sahabatnya itu.
“Aneh.. perasaan tadi aku melihatnya di area pantai deh.” Nayla menggaruk kepalanya, ia bingung dengan sikap Angkasa, terkadang sahabatnya itu terkesan ramah dan terbuka, tetapi ia juga sesekali bersikap misterius dan sulit ditebak.
“Lo cari gue?” tanya sebuah suara yang tepat berada di belakang Nayla. Nayla yang mendengar suara dengan bariton berat tersebut pun terkaget, suara itu terasa sangat dekat seakan ingin merasuki jiwanya.
“s****n lo! Kaget gue, kemana aja sih lo?” Nayla menatap kesal sosok Pria tinggi di hadapannya, ia sekarang makin kesal mengingat fakta Angkasa emang lebih tinggi dari dirinya. “Lo kok tinggi banget sih? Curang!” Nayla mengerucutkan bibirnya, kondisi moodnya sekarang sedang hancur.
“Kenapa emang kalau gue tinggi? Lo naksir ya?”
“Jijik banget! Yakali gue naksir sama orang culun kek lo!” hujat Nayla.
“Culun lo bilang? Mata lo perlu diperiksakan ke dokter tuh!” Angkasa menunjuk kedua mata Nayla dengan dua jarinya, seakan ia ingin mencolok mata Nayla.
“Dih, apaan sih lo, lo kemana aja sih daritadi? Capek gue cariin lo dari ujung utara sampai ujung utara lagi,” ungkap Nayla lebay dan hanya ditatap menyedihkan oleh Angkasa.
“Gue tadi ada urusan di luar Vilatte. Kenapa? Lo kanget gue ya?” Pertanyaan Angkasa tersebut disambut pukulan pada lengan Angkasa yang sudah jelas itu tidak menyakiti Angkasa.
“Arghh.. Lo ngapain pake mukul gue segala sih?” Angkasa mengerang kesakitan yang sudah jelas itu hanya kebohongan semata.
“Ya.. lo habisnya minta dihujat mulu. Udah jelaskan kalau kita sekarang nggak bisa main-main? Dan liat? Lo sekarang terlihat seperti orang yang banyak gaya dan arogan, nggak peduli sama keadaan sekarang.” Nayla mengeluarkan semua kekesalan hatinya yangmembuat Angkasa menahan tawa.
“Ngerti gak? Posisi kita sekarang itu sedang nggak baik baik aja,” sambung Nayla kembali.
Nayla melirik ke arah Angkasa yang terlihat menahan tawa, hal itu membuat Nayla merah padam. “Angkasa s****n! Lo malah ketawa? Ada akhlak nggak lo begitu?” Nayla memukul berulang kali lengan Angkasa dengan sekuat tenaganya.
“Hahahahahaha,” tawa Angkasa lepas, ia tidak tahan melihat ekspresi wajah Nayla, Angkasa berpikir itu adalah hal yang sangat lucu, mengingat Nayla jarang marah seperti ini.
“Iya-iya, gue minta maaf.” Ucapan Angkasa membuat Nayla berhenti memukuli Angkasa dan melihat Angkasa dengan pandangan tajam.
“Lo bisa serius nggak sih?” ketus Nayla.
“Bisa kok bisa, tapi bisa nggak bahas itu nanti aja? Gue capek baru pulang ke Vilatte, eh langsung disuguhkan hal berat lagi.”
“Yaudah..” Nayla membuang mukanya. Ia melihat ke arah matahari yang terbenam, pemandangan pantai dan sunset membuat hati Nayla sedikit melunak, tetap saja meski sekolah ini menyimpan banyak misteri, tidak dapat dielakkan bahwa kenyataannya sekolah ini merupakan sekolah terbaik di dunia dengan berbagai keunggulan. Salah satunya pemandangan asri dan indah yang sekarang ditatap oleh Nayla.
“Omong-omong... mata lo kenapa kaya panda gitu? Lo kemarin malam nggak tidur ya?” ucap Angkasa dan memeriksa mata Nayla dengan menyantuh wajah Nayla.
“Ekhem.. ngapain kalian?” tanya sebuah suara yang membuat Angkasa dan Nayla menoleh ke asal suara tersebut.
“Stella?!” Nayla langsung menepis tangan Angkasa dengan cepat.
“Sejak kapan lo ada disini?” tanya Nayla dengan senyuman cerianya dan mendelik tajam Angkasa.
“Gue ganggu waktu kalian berdua ya? Kalau gitu gue perg-“ Nayla langsung mencegat tangan Stella, “Nggak kok! Yakali gue sama Angkasa? Oh tidak, itu seperti menyatukan kutub utara dan selatan.”
“Baiklah, Angkasa? Lo habis darimana? Kenapa badan lo bau... darah?” tanya Stella sedikit tidak yakin dengan pertanyaannya. Angkasa yang mendengar itu sedikit kaget, lalu ia segera merubah raut wajahnya, “Ah tidak.. gue habis main pedang-pedangan di hutan dan tidak sengaja mengenai hewan yang ada di hutan, jadi darahnya kena baju deh,” ungkap Angkasa.
“Okay, kalian mau di sini dulu atau langsung masuk? Gue juga lagi nunggu Sera.”
“Langsung masuk aja deh,” jawab Nayla cepat.
“Oke, kalian duluan kalau begitu, sebut saja nomor kamar kalian, nanti gue nyusul sama Sera.”
“Kamar Angkasa, nomor 31.” Setelah memberitahukan nomor kamar Angkasa, Nayla segera pergi dengan menarik Angkasa.
“Lo habis darimana? Coba jujur sama gue,” bisik Nayla pada telinga Angkasa seraya mereka berjalan.
“Habis main pedang dibilang,”
“Bohong! Gue tau lo kalau main pedang di area Vilatte, nggak mungkin lo keluar, lagian gue nggak ada lihat bekas kalau lo habis main pedang.”
“Ngapain juga gue bohong Nay..” elak Angkasa.
“Lo tau kan Stella dan Sera gimana?” tanya Nayla.
Angkasa terdiam, ia tau jelas bagaimana kecerdasan Stella dan Sera dalam mendeteksi kebohongan dan menganalisis seseorang.
“Gue tau, tapi mereka tidak secerdas Xander.”
“Bukan itu Angkasa... Mereka berdua itu.. punya kemampu-“
“Hei, kalian kenapa masih di sini?” sapa Sera yang secara tiba-tiba berada di depan mereka.
“Ah? Bukan apa-apa kok,” ujar Nayla.
“Kalian sedang membicarakan apa? Tadi gue dengar kalau nama kami berdua disebut,” ujar Nayla.
“Hanya membahas kalau kalian berdua sangat digemari oleh banyak anak cewek disini dan dikagumi oleh banyak anak cowok,” bohong Nayla.
“Oh begitu..”
“Angkasa? Lo kenapa bau anyir?” tanya Sera dan berjalan di samping Angkasa.
Sera mengambil cairan merah mengental yang masih melekat pada leher belakang Angkasa.
“Ini kan.. darah manusia..”
***
Sana sedang duduk pada balkon kamarnya, ia menikmati udara malam segar yang menerpanya dengan lembut. Tidak lupa kopi hitam yang selalu menemani Sana setiap malam ketika ia ingin bekerja berat.
Sana mengusap meja pada balkonnya seperti layar pada Gadget. Pada meja itu terlihat banyak sekali kotak-kotak video, ia mengusap ke kanan, dan terlihat kotak-kotak video yang berbeda dengan jumlah yang sama. Ya, sana sekarang sedang memantau Video cctv yang sudah dipasangnya di seluruh penjuru sekolah.
Sana membutuhkan waktu selama seminggu untuk memasang seluruh cctv yang diciptakannya dengan sistem yang mudah bekerja dan tidak dapat terdeteksi oleh pendeteksi keamanan.
Terdapat total 1988 cctv yang dipasangnya, ia juga mengubah meja kecil yang ada pada balkon menjadi tempat untuk memantau cctv yang dipasangnya.
Sana sekarang sedang memantau para Starzy, ia lebih fokus memantau Sera, Xera, dan Angkasa. Menurutnya ketiga Starzy tersebut sangat menarik dan menyimpan banyak sisi misterius pada diri mereka, bahkan Sana sendiri merasa mereka seperti mengetahui bahwa ada cctv tersemnunyi yang dipasang olehnya. Sana sungguh tidak dapat menebak apapun dari gerak-gerik mereka, seperti jiwa kosong, tetapi memiliki emosional.
Mereka bertiga yang sedang dipantau Sana lebih seperti robot, Sana sedikit curiga bahwa mereka merupakan kepintaran buatan oleh manusia, karena mereka tidak seperti memiliki jiwa tetapi memiliki emosional yang cukup cacat, emosi mereka tertekan dan tidak berjalan sempurna. Sana sendiri terkadang menemukan beberapa kejadian ketika Sera, Xera, dan Angkasa hanya terdiam cukup lama dan tidak bergerak sama sekali. Hal itu membuat Sana yakin bahwa mereka seperti digerakkan oleh seseorang yang berada di Starlight School, dan orang tersebut persis seperti dia yang sedang memonitor seluruh penjuru Starlight School.
“Sekolah yang menarik. Tempat ini sangat bagus untuk pengembangan bakatku, mari kita coba untuk memanipulasi sedikit jaringan di otak salah satu dari mereka,” gumam Sana.