“Bagaimana perkembangannya Vita?” tanya sosok pria yang berjalan menghampiri seorang wanita yang sedang mengamati perkembangan suatu alat berbentuk kotak.
“Tidak ada kemajuan,” ucap perempuan yang bernama Vita tersebut. Ia terlihat menghelakan napasnya dan melemparkan lembaran kertas pada sebuah meja yang ada di depannya.
“Tenanglah, jangan terlalu gegabah untuk itu.” Ucapan pria itu membuat Vita menatapnya sekilas, “Apa kau tidak mengetahuinya? Kalau berita tentang rencana kita sudah tersebar ke seluruh penjuru sekolah,” ungkap Vita.
“Tentu saja aku mengetahuinya, tetapi apa yang bisa dilakukan oleh seorang siswa? Mereka tidak memiliki daya apapun, kekuasaan masih berada di tangan kita selama mereka tidak mencoba keluar dari pulau ini,” ujar pria itu dengan tenang.
“Sepertinya kau benar, aku hanya terlalu takut jika semua rencana yang selama ini kita susun, gagal begitu saja karena sosok makhluk kecil yang suka ikut campur.”
“Tenang saja, mereka tidak akan bisa menghentikan kita. Lagian, alat yang sudah dirancang tinggal menunggu penyempurnaan final bukan? Kau harus sabar untuk itu, jangan sampai karena kita gegabah itu nantinya dapat menjadikan kita sosok yang ceroboh dan gagal.”
“Iya-iya, aku paham Kenz,” jawab Vita cepat, ia sudah lelah mendengarkan ceramah dari Kenzo yang setiap hari didapatkannya.
“Kau selalu mengusirku seperti itu, ada masalah apa kau denganku?”
“Tidak ada, aku hanya ingin sendiri,” ucap Vita. “Tapi Ken, menurut lo gelombang ini nggak bakal merusak dunia secara total kan?” tanya Vita yang mulai meragukan kemampuan alat yang sedang mereka uji coba.
“Tidak, itu hanya pemancar yang tidak akan berdampak ke apapun, kecuali manusia dan hewan,” jawab Kenzo.
“Tapi, bukankah jika kehilangan banyak populasi secara tiba-tiba akan mempengaruhi kesimbangan bumi? Aku masih belum mendapatkan jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan ini.” Vita mendudukkan dirinya pada sebuah kursi, ia menguap mengingat bahwa ia sudah jarang tidur karena kesibukan dan jadwalnya yang sangat padat.
“Tentu saja berpengaruh besar, tapi apa yang ditakutkan? Kita tetap dapat menyeimbangkannya dengan hanya menyisahkan 5% yang terbaik,” jawab Kenzo yang setelahnya mendapat lirikan dari Vita.
“Bagaimana cara memilih 5% orang tersebut?” tanya Vita cepat. Ia sebenarnya penasaran dengan apa yang terjadi jika alat itu dipakai dan bagaimana sistem kerjanya. Ya, emang Vita tidak banyak mengetahui hal apapun, dikarenakan dia hanya bertugas mengawasi dan mengembangkan alat tersebut.
“Gelombang dari alat ini..” Kenzo menunjuk alat kecil hitam yang berbentuk kotak tersebut, “Akan dipancarkan dengan gelombang rendah dan gelombang tinggi yang kalau disatukan dapat membuat siapapun yang terkena akan gila bahkan berjumpa dengan kematian, dan yang selamat dari kematian itulah yang akan menjadi 5% terbaik nantinya.”
“Terdengar seperti cerita fantasi,” ucap Vita sembarangan.
“Kau benar, bagi mereka yang tidak memiliki ilmu yang kompeten dan penalaran yang kuat, akan menganggap semua hal ini hanyalah fantasi semata, sampai akan saatnya tiba baru mereka mempercayainya,” ujar Kenzo.
“Dan itulah mengapa tidak ada satupun murid disini yang bertanya atau menanyakan hal seperti alat pemancar gelombang yang sedang kita kembangkan, karena menurut mereka itu sangat mustahil dan menganggap hanya rumor semata,” sambung Kenzo.
“Ya, aku tau itu Ken. Tapi, gue rasa beberapa murid tahun ini bisa saja menjadi boomerang bagi kita. Emang apa gunanya tetap menjalankan sekolah ini, jika nanti semuanya juga akan dihancurkan.” Vita tidak habis berpikir dengan rencana pemiliki sekolah yang snagat misterius.
“Kelinci percobaan,” jawab Kenzo.
“Nggak mungkin, aku tidak melihat dimana letak dari kelinci percobaan itu sendiri.’
“Ayolah, coba lihat lebih detail lagi. Menurutmu mengapa pemilihan yang terbaik disini berdasarkan kemampuan nalar dan logika? Karena petinggi yang sekarang ada, ingin menyisahkan 5% orang dengan kemampuan seperti itu, supaya tidak ada perpecahan karena ketidakmampuan mereka berpikir.”
“Selain itu, mereka juga diteliti dalam pembentukan karakter, dan itu akan ada transfer data genetik yang nantinya dikonversikan menjadi gelombang. Sebut saja sekolah ini dibuat untuk mengumpulkan data tentang manusia yang sempurna, setiap data yang diambil dari berbagai tes akan memunculkan banyak gelombang otak dari berbagai peserta. Data itu yang diteliti dan gelombang itu yang akan dimasukkan ke dalam box ini nantinya, hal itulah yang akan memicu manusia dengan karakter sempurna. Jika otak mereka mampu, maka mereka akan menjadi sangat cerdas, tetapi sebaliknya. Jika tidak mampu, maka mereka akan cacat hingga dapat menyebabkan kematian.” Kenzo menjelaskan kepada Vita dengan singkat. Jika Kenzo menjelaskan secara keseluruhan dengan proses ilmiah, itu akan memakan waktu dua jam.
“Ah baiklah, aku mengerti. Tapi, bukankah ini cukup keterlaluan?”
“Pada akhirnya jumlah manusia akan bertambah banyak dan tumpah ke laut, sumber daya semakin menipis karena kerakusan manusia, dan hukum semakin sulit untuk ditegakkan. Menurutmu apalagi solusi untuk semuanya kalau bukan depopulasi?”
***
“Gue malas!” Stella masuk ke dalam kamarnya dan langsung merebahkan dirinya di ranjangnya.
“Lo harus ikut gue Stella!” Xian mengejar Stella yang dengan sangat cepat masuk ke kamarnya itu.
“Lo ngapain tidur?! Cepat bangun!” Xian menarik kaki Stella hingga Stella seperti ingin terjatuh.
“EH?! Iya-iya! Gue turun lepasin gue, nanti gue jatuh bisa bisa gue meninggal.” Stella melayangkan pukulannya pada udara kosong dan berusaha melepaskan kakinya yang ditarik oleh Xian.
“Seriusan lo?” tanya Xian tidak yakin pada Stella yang suka berbohong kepadanya.
:Iya iya, kali ini gue janji deh.” Kaki Stella yang melayang langsung dilepaskan oleh Xian dan membuat kaki Stella jatuh bebas mengenai lantai.
“Duh! Sakit b**o!” teriak Stella lalu melemparkan bantal pada Xian.
“Udah ah, gue malas.” Stella kembali merebahkan tubuhnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Xian yang sudah lelah dengan sikap Stella dengan cepat ia merangkak ke hadapan Stella yang sedang tertutup selimut. Stella yang merasa ada yang aneh pun segera membuka selimutnya dan menemukan Xian yang ada di atasnya dengan eskpresi aneh.
“Lo mau ngapain?!” teriak Stella.
“Menurut lo? Lo mau gue buat hal yang nggak seharusnya gue lakukan?” Xian menggigit bibir bawahnya dan melihat Stella dari atas dan turun ke bawah.
‘I-iya, kali ini gue nurut kok,” ucap Stella cepat, ia sekarang terlihat ketakutan.
Xian yang mendengar itu segera turun dari ranjang Stella, “Lo gue tunggu di taman,” ucap Xian dingin yang membuat Stella bergiding ngeri.
“Dasar Xian s****n! Aneh banget tuh orang.. Ahhhh, bisa bisanya gue terintimidasi olehnya.” Stella melemparkan bantalnya ke sembarangan arah. Lalu pergi ke luar untuk menemui Xian yang terus-terusan memaksanya membantu dalam penelitian Starzy.