“Coba lo pikir, kalau misal ini atom memiliki ruang kosong sebesar itu, berarti jika banyak atom disatukan tentu ruang kosongnya dua kali lipat lebih besar. Dan perbandingan itu semakin besar dan semakin jauh perbedaan antara keduanya, kalau perbedaan benda padat dan benda tidak terlihat mencapai satu banding satu milyar, pasti keliatan kalau emang atom memiliki ruang kosong.” Xander menjelaskan pendapatnya kepada Xera dengan menggambar atom hingga perbandingan pada kertas kosong.
“Nyatanya? Lo lihat kita, lo lihat benda yang ada di sekitar kita, dan lo lihat makhluk hidup lainnya, tidak ada bukan rongga di benda yang padat? Berarti secara nggak langsung itu menyatakan bahwa atom sepersekian persen merupakan ruang kosong adalah kesalahan besar,” sambung Xander dan mengakhiri perkataannya. Xera sejujurnya mengerti, hanya saja ini sedikit sulit untuk dibayangkan.
“Oke gue paham, kalau gitu kita sampai sini aja. Untuk materi dan masalah presentasi biar gue aja yang buat, besok lo yang nerangkan waktu tampil,” ujar Xera.
“Oke, tapi lo bisa kan? Maksud gue, lo udah paham kan?” tanya Xander.
“Sudah, nanti malam gue kirim bahan mentahan dan kerangkanya, kalau misal ada salah lo bilang aja, oke?” Xera berbalik setelah menyelesaikan perkataannya, ia tanpa pamit pergi meninggalkan Xander yang berada di laboratorium kimia di sekolah.
“Aneh..” gumam Xander ketika ia sudah tidak melihat dan merasakan keberadaan Xera.
“Lo bisa keluar!” seru Xander.
Rei yang sudah bersembunyi selama dua jam di ruangan sempit pada labor itu akhirnya keluar, ia menghirup udara segar sebanyak-banyaknya, lalu membuangnya pelan. Rei seperti ingin mati saja karena ruangan pengap disana.
“Lama bener, hampir aja gue mati lo buat,”
“Gue juga udah usaha, masalahnya Xera sulit memahami-“
“Bukan sulit, lebih tepatnya dia pura pura bodoh, entah apa yang diincarnya. Sepertinya ia tau kalau lo ada di sini,” ujar Xander.
“Sepertinya begitu.” Rei mendatangi Xander yang sedang membereskan penelitian yang tadi mereka lakukan, walaupun tidak membuahkan hasil dan percuma saja, mereka akhirnya menyimpulkan dengan perbandingan besaran saja.
“Lo masih sering diincar Xera ya?” tanya Xander.
“Masih, gue nggak tau apa yang dia mau. Tapi sepertinya ia udah tau kalau kita merupakan musuhnya. Sikap dia juga terbilang santai, gue nggak ngerti dengan jalan pikirannya.”
“Jadi apa yang lo dapat?”
“Ada di labor kamar gue, sengaja gue nggak bawa kesini untuk menghindarkan hal yang nggak diinginkan,”
“Dan ... dimana Stella?” tanya Xander yang sudah jarang melihat keberadaan Stella begitu juga dengan Sera.
“Stella nunggu di kamar gue, tapi lo lama,”
“Yaudah maaf, puas? Yuk ah pergi,”
***
“Lo berdua pacaran apa gimana sih? Lama bener gue nunggu jadinya, udah tiga jam nih! Mana gue chat nggak dibalas, gue telpon lo bedua gk diangkat. Pada ngapain sih?” cerewet Stella sebaik Rei dan Xander masuk ke kamar Rei.
“Ya maaf, Xander tuh lama bener berduaan sama Xera,” ungkap Rei yang mendapat tatapan menyelidiki dari Stella, “Lo ngapain berduaan sama Xera?”
“Kerjain kimia,” jawab Xander tidak minat.
“Oh kimia.. yaudah ayo makan siang dulu, gue laper,” ujar Stella dan menarik mereka berdua keluar kamar.
***
“Pegasus merupakan keturunan dari Poseidon dan Medusa?” Zadith berpikir memutar otaknya dan mencari maksud yang sesuai.
Zadith sebenarnya tadi pagi dikirimi sebuah pesan yang sangat menarik perhatiannya, pesan yang dikirimkan lebih seperti sebuah permainan yang dilakukan oleh pengirim pesan, dengan Zadith sebagai saksi bisunya, entah apa yang membuat Zadith dijadikan tokoh dalam permainannya.
Pesan-pesan yang diberikan oleh pengirim misterius tersebut sudah berlansung lama sedari awal Zadith memasuk Starlight School, pesan itu memiliki kalimat yang sama di awalnya dan selalu di akhiri kata kunci yang berbeda, dimana kata kunci ini merupakan berbagai rasi bintang yang tidak dapat Zadith mengerti.
Zadith masih ingat bagaimana pesan pertama itu masuk dan cukup membuatnya kaget.
Semua hal yang terjadi bertaut dengan masa lalu Dewa Dewi Yunani Kuno, temukan rasi bintang dengan paham, dan telitilah peristiwa yang ada di sekelilingmu. Mereka semua merupakan tokoh utama dan kamu merupakan kucing kemenangan.
Kata kunci : Prologue, Eridanus, dan Columba.
Zadith awalnya hanya mengira pesan iseng, tetapi semakin kesini pesan tersebut semakin sering muncul dan memiliki jeda sekitar tiga hari, bahkan pernah suatau waktu pesan itu terkirim sebanyak tiga kali dalam sehari, hal itu membuat Zadith bertanya-tanya dan mulai melakukan penyelidikan dengan berbagai rasi bintang hingga mitologi yunani kuno.
“Apa maksudnya? Ayo Zadith berpikir, ayo!” Zadith menghubungkan banyak pola di kepalanya, ia masih tidak mengerti dengan maksud kata kunci Pegasus yang diberi oleh pengirim pesan misterius tersebut.
Zadith emang merasakan banyak hal aneh dan seperti dikenadilkan oleh seseorang, dan seakan pengirim pesan ini tau apa yang kedepannya bakal terjadi. Bahkan ia mungkin dapat menguba skenario hanya dengan kemamuannya, seperti ia memiliki mata elang untuk mengawasi orang-orang di sekelilingnya.
Zadith kembali terlarut dalam pikirannya, sudah banyak kunci yang diberikan, tetapi ia tidak dapat memecahkan satupun. Ia hanya diam dan tidak memberitahukan hal ini kepada siapapun. Karena takut merasa bersalah ia akhirnya memutuskan untuk mengikuti permainan dengan mencari tahu kode yang baru saja dikirimkan padanya tadi pagi, yaitu Pegasus.
“Cerita Pegasus sangat simpel, ia merupakan kuda putih bersayap yang menjadi tunggangan Zeus. Ia merupakan keturunan dari Poseidon dan Medusa, tidak lama Medusa mengandung dan Athena marah besar kepada Medusa karena mereka berhubungan di kuilnya. Sampai perseus akhirnya memenggal kepala Medusa yang sudak dikutuk dan saat itulah pegasus lahir,” gumam Zadith. Ia membaca buku dengan telentang dan memegangnya dengan tangan kirinya.
“Tidak ada yang aneh, dan apa kaitannya dengan hal yang terjadi pada saat ini? Sungguh aneh,”
“Bentar, Pegasus sebaik lahir dirawat oleh para Muses. Apa ini tentang anak dari hubungan gelap?” tanya Zadith pada dirinya sendiri sedikit tidak yakin dengan kalimatnya.
“Emang siapa yang memiliki cerita stragis ini di kehidupan nyata? Ah sudahlah ini mungkin hanya pesan iseng saja.” Zadith mencampakkan buku tentang mitologi yunani kuno yang dibacanya ke sampingnya di kasur.
“Zadith! Lo ada di dalam?” panggil seseorang tiba-tiba dari luar dan Zadith seperti mengenali suara itu. “Ya, masuk saja!” teriak Zadith dan membukakan kunci pintu kamarnya dengan ponselnya. Ya, kamar yang diisi dengan teknologi canggih di Kingdom memiliki aplikasi khusus yang terhubung ke Ponsel pemiliki kamar, jadi mereka dengan mudah mengatur segalanya hanya dengan pantauan dari ponsel mereka.
“Sera? Lo ngapain disini?”
“Gue mau cerita dan minta pendapat lo,” ucap Sera.
“Tentang apa?” tanya Zadith kembali.
“Tentang seorang anak dari hubungan gelap kedua orang tuanya..”