“Angkasa, apa pendapat lo?” tanya seorang temannya yang sedang menopang dagunya menatap Angkasa yang sedang tidak fokus.
“Angkasa?” panggilnya lagi dan melambaikan tangannya di depan muka Angkasa. “Eh? Kenapa?” celetuknya yang tidak mengerti dengan situasi.
“Lo belakangan ini mudah nggak fokus, ada masalah apa?” tanya temannya itu tidak menggubris pertanyaan Angkasa.
“Nggak apa Sa, gue hanya memiliki beberapa masalah kecil,” ucap Angkasa yang langsung membuat Elisa temannya itu paham dan mengangguk. “Lo terlalu memikirkannya, coba lo lupakan saja,”
“Masalahnya gue tidak bisa, kaya seakan itu menganggu gue.” Perkataan Angkasa membuat Elisa menatap Angkasa berkerut. “Menganggu? Jangan bilang lo mempermasalahkan hal kecil lagi?” tanya Elisa menatap tidak percaya pada temannya itu.
“Tidak ... Ah sudahlah jangan membahasnya, jadi apa?” tanya Angkasa di akhir yang mengarah kepada hal yang ingin dibahas oleh Elisa.
“Ah itu ... Lupakan saja, aku ada urusan yang lebih penting.” Elisa pergi tanpa basa basi meninggalkan Angkasa yang kebingungan.
***
Angkasa pulang ke rumahnya dengan perasaan hampa, ia tidak memiliki siapapun. Keluarganya masih utuh, hanya saja karena beberapa konflik, itu membuat mereka semua berpisah rumah. Termasuk dengan anak-anaknya, tetapi biaya semuanya masih ditanggung oleh orang tua Angkasa.
“Hoaam..” Angkasa menguap mencium aroma kamarnya yang sangat menenangkan, tempat tidurnya seperti melambaikan tangan mereka untuk menghampirinya, Angkasa hanya tertawa kecil dan geli mengingta imajinasinya yang terlalu tinggi.
“Apa yang harus gue lakukan sekarang?” tanya Angkasa pada dirinya sendiri. Ia sudah memiliki apapun, tetapi ia tidak dapat bagaimana memanfaatkan kehidupan baiknya dengan sebaik mungkin. Angkasa tidak mengerti dengan jalan pikirannya sendiri.
“Coba nonton aja kali ya?” gumam Angkasa, ia kemudian bangkit dan bejalan menuju ke lantai bawah rumahnya. Ya, Angkasa diberi fasilitas rumah yang bukan main luar biasanya oleh kedua orang tuanya, apapun yang dia inginkan pasti selalu diberikan dengan cepat, terkadang kebiasaan itu membuat sifat arogan pada diri Angkasa keluar.
Angkasa mencoba mengecek berbagai film kesukaannya, ia setiap bulan selalu membeli seluruh stok film yang populer atau sesuai dengan genre yang ia sukai. Angkasa terkadang juga sulit membeli barang seperti kaset film, karena ia tidak diberi kebebasam memilih film yang terbaik, diakibatkan dirinya belum cukup umur dan masih bersekolah di menengah pertama.
“Kehidupan yang sangat membosankan,” keluh Angkasa entah kepada siapa. Ia hanya bergumam dengan raut wajah datarnya.
Angkasa sebenarnya disukai oleh banyak temannya, hanya saja ia lebih memilih menyendiri di rumahnya. Semua itu bukan ia lakukan karena sombong, tetapi Angkasa merasa drinya memiliki emosi yang sangat labil. Terlalu risih ketika ia melihat ketidakteraturan, padahal dirinya merupakan orang yang tidak terlalu kerat.
‘Triing’ Suara pesan masuk dari ponsel Angkasa.
“Hm? Siapa ya?” gumamnya melirik ke meja kecil tepat di samping tempat tidurnya. Angkasa meraih ponselnya dengan sangat susah, ia hanya menggerakkan tangannya saja tanpa berminat mengegrakan tubuhnya. Ia terlalu malas untuk melakukan itu semua, hanya menghabiskan energi saja pikirnya.
Angkasa berhasil meraih ponselnya dengan tangannya yang kram, ia terlalu lama meregangkan tangannya, itu membuat otot dan syarafnya menjadi sedikit pegal. Saat ponsel tersebut dibuka oleh Angkasa, sebuah pesan langsung muncul di depan layar ponselnya.
Hallo, Virgo!
Selamat! Kamu telah berhasil memasuki wilayah peran
Nantikan keseruannya bersama dengan Konstelasi Matahari ya!!
“Ha? Apa ini?” celetuk Angkasa spontan dengan keningnya yang berlipat. Ada-ada saja yang mengirimkan hal seperti ini kepada dirinya. Bagaimana mungkin ia menjadi target iseng? Yang benar saja, Angkasa awalnya biasa saja sampai ia menemukan fakta bahwa nomor orang yang mengiriminya pesan tidak ada sama sekali.
“Ha? Kenapa bisa?” tanya Angkasa kaget bukan main. Bagaimana mungkin tidak memiliki nomor sama sekali, disana tertera jelas konntak pengirim tidak ada angka sama sekali.
“Apa selama ini..”
“Ah tidak mungkin.” Angkasa mengelak berpikir yang aneh-aneh, ia kembali dengan pikiran positifnya. Tidak mungkin jika selama ini dia diincar dan ada seseorang yang mengawasinya bukan? Hal itu sangat mustahil dan kurang kerjaan, bagaimana mungkin seorang manusia sekurang kerjaan seperti itu?
“Tapi tunggu.” Angkasa teringat suatu hal yang mengganjal hatinya, ia seperti pernah merasakan kejadian seperti sekarang yang dialaminya. Tidak, Angkasa tidak merasakan dejavu. Tetapi ia merasakan suasana dan aura yang sangat persis dengan beberapa waktu lalu, atmosfer dimana Angkasa merasakan kehidupannya akan menjadi hampa dan dibawah tekanan seseorang.
“Gue ingat! Nayla jawabannya.” Angkasa bangkit dan berlari menuju ke atap rumahnya, ia mencari berapa barang berharganya yang sengaja disimpannya disana. Angkasa mengacak seluruhnya dan menemukan sebuah foto Nayla bersama seorang remaja yang sama persis seperti Nayla. Ia bernama Arina, ia mengangumi Nayla sedari kecil dan selalu meniru gaya berpakaian Nayla hingga merubah wajahnya dengan caranya sendiri.
“Ya, dia! Dia ada disini.” Angkasa menunjuk Arina dengan pandangan yang sulit diartikan, perasaannya sekarang bercampur aduk. Lalu ia merinding seketika mengingat beberapa hal mengerikan tentang Arina, “Ya, aku harus terapi untuk melupakannya. Ia pantas mati saat itu dan itu bukan salahku ataupun Nayla,”
***
“Nayla, lo katanya kemarin ketemuan sama Kak Viza ya?” tanya Ransyi, temannya Nayla.
“Iya, emang kenapa?” Nayla menoleh ke samping memasang tatapan bertanya kepada temannya itu yang sedang mengunyah popcorn caramel.
“Bagi gue dong!” seru Nayla dan merampas cepat popcorn caramel menggoda yang dilihatnya. “Ih! Lo main rampas aja,” kesal Ransyi menatap sinis Nayla.
“Mata lo biasa aja kali, gue colok mau?” ancam Nayla seraya menyuapkan popcorn itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya manis.
“Dih. Eh eh, gue kepo. Lo ngapain aja sama Kak Viza?” tanya Ransyi yang terus-terusan mendesak Nayla untuk menjawab pertanyaannya.
“Lo kepo banget sih, serah gue lah mau ngapain aja sama dia.”
“Lo mah nggak asik.” Ransyi cemberut dan membuang mukanya ke sembarang arah menghindari kontak tatatapannya dengan Nayla. “Padahal gue punya coklat banyak di dalam tas.” Ucapan Ransyi membua Nayla membinarkan matanya dan langsung memeluk tangan Ransyi dalam sekejap, Nayla sudah menempel dengan tatapan memelas.
“Ransyi cantik banget deh,” kata Nayla.
“Baik hati, ramah, dan tidak sombong,” sambung Nayla.
Ransyi menatapnya sekejap, ia ingin dibuat muntah oleh teman satunya ini. Sangat suka bersandiwara dan labil pikirnya, emang sih remaja seperti mereka labil, tetapi Nayla labilnya sudah sangat diluar batas dan expert.
“Iya iya, lepasin nggak. Gue risih lo nempel nempel, mana pas ada maunya doang lagi,” ketus Ransyi. “Kan kita simbiosis mutualisme,” sahut Nayla yang mendapat jitakan kecil di kepalanya oleh Ransyi. “Simbiosis simbiosis, lo kutuan kaya kerbau apa? Terus gue makanin kutu lu gitu?” tanya Ransyi dengan menyindir Nayla.
“Iya deh iya maaf, kasih gue ayok satu tas!”
“Anjirr, lo maruk atau apa?” kaget Ransyi tidak habis pikir dengan perkataan Nayla barusan. “Kagak dih,”
“Yaudah cepat lo ceritakan lo ngapain aja dengan kak Viza?”
“Hmm, Cuma jalan-jalan doang. Yah beliin gue pakaian juga, terus traktir makanan. Biasa aja Ra, nggak ada yang spesial. Karena diri gue merupakan hal yang paling spesial dan indah dibandingkan siapapun,” ucap Nayla membanggakan dirinya di akhir perkataannya.
“Lo bukannya kasih tau baik baik, tapi malah banggakan diri lo sendiri ujungnya.” Ransyi memutar bola matanya dan menatap jengah sahabatnya itu, bagaimana bisa ia memiliki teman yang sangat percaya diri dan suka berhalu seperti Nayla?
“Nih.” Ransyi memberikan Nayla satu box coklat yang sangat besar.
“Wah,, INI KAN? Ahhhhh jadi makin sayang deh sama Ransyi.” Nayla memeluk temannya itu yang sangat risih jika dipeluk olehnya.
“Lepasin nggak? Woy lepasin!” teriak Ransyi histeris.
“Alay lo.” Dan berakhir mereka saling mengumpat hingga jam masuk kembali.
***
Nayla membereskan tumpukan buku di mejanya. Sekolahnya sekarang terlihat kosong, hanya ada dirinya saja yang masih setia berada di kelasnya, ia tadi memiliki beberapa urusan dengan guru di sekolah menengah pertamanya.
“Huft, capek juga ya.”
Nayla duduk di kursinya setelah membereskan semuanya dan membuka box coklat yang diberi Ransyi kepadanya lalu memakannya dengan nikmat. Coklat yanh diberikan Ransyi merupakan coklat favoritnya dan harga coklatnya terbilang sangat mahal, maka dari itu Nayla sangat girang ketika Ransyi memberinya secara cuma-cuma seakan sudah direncanakan sebelumnya.
Nayla menatap sekitar, sudah sore dan mulai gelap. Ia masih menikmati coklat itu yang sangat nyaman dan memanjakan mulutnya, karena rasanya yang sangat manis dan unik.
‘Triing’ Suara pesan dari ponsel Nayla yang langsung terbuka otomatis.
Nayla melirik ponselnya yang berada di samping mejanya, “Siapa ya?” gumamnya.
Hallo, Leo!
Selamat! Kamu telah berhasil memasuki wilayah peran
Nantikan keseruannya bersama dengan Konstelasi Matahari ya!!
“Gila!! Siapa ini?” Nayla mulai mulai berpikir yang aneh-aneh. “Tidak, ini pasti ulah Ransyi atau Angkasa,” gumamnya menananmkan pikiran positif. Tetapi itu tidak bisa, ia semakin paranoid ketika bulunya berdiri, merasakan seperti diawasi seseorang.
“Nggak-nggak, gue harus pulang kalau gini.” Nayla segera menghabiskan dengan cepat coklat yang ada di hadapannya, ia sengaja memakan coklatnya itu, karena jika dibawa pulang itu akan merepotkannya, karena Nayla berjalan kaki ke rumanya. Hal itu juga karena rumah dan sekolah Nayla hanya berjarak beberapa puluh meter saja.
“Baiklah, ayo pulang!” seru Nayla berbicara kepada dirinya sendiri.
“Nay,”
“EH SETAN SETAN!” kaget Nayla bukan main saat seseorang muncul di depannya sewaktu ia ingin ke luar. “Ini gue Nay, haahahahahah, muka lo.”
“Gue kaget s**l!” umpat Nayla menatap orang di deoannta tidak senang,
“Kenapa? Lo marah?”
“Jelas gue marah, lagian lo ngapain disana? Sore sore ke sekolah gue, ngapain? Seharunya lo tau kalau gue pulang cepat hari ini,”
“Yah karena gue tau dan bisa lacak tempat lo,” ucap Angkasa dan memperlihatkan ponselnya yang menunjukkan layar seperti maps dan titik putih, dibawah titik putih itu terterana nama Nayla.
“Dih curang lo! Ini namanya mah pelanggaran privasi orang,” ucap Nayla tidak terima.
“Ini berguna saat genting tau,”
“Ya serah lo, udah ah gue mau pulang!” seru Nayla dan pergi begitu saja melewati Angkasa.