“Jadinya Lusa ya?” tanya Nayla sembari mengikat tali sepatu olahraganya di sebuah bangku taman. Angkasa yang duduk di sampingnya hanya mengangguk dan berkata iya kepada Nayla tanpa ada penjelasan apapun lagi, hal itu tentu membuat Nayla kesal.
“Kenapa? Lo bisa nggak sih jangan tunggu gue tanya dulu baru kasih tau?” gerutu Nayla.
“Lah ngambek? Mana tau-tau gue kalau lo kepo atau nggak,” balas Angkasa sedikit tidak terima ia disalahkan. Ia menghembuskan napasnya panjang setelah menghirup udara segar dan menoleh ke Nayla yang membuang mukanya, “Untuk persiapan debat dengan topik yang sudah diberikan kemarin,” ujar Angkasa akhirnya yang menjawab pertanyaan di kepala Nayla.
“Lah? Apa yang diperdebatkan dari sebuah topik yang memiliki arti Cangkir?” tanya Nayla remeh dan bernada aneh