Lima tahun berlalu, nuansa Venetie van Java pun sudah jauh lebih berwarna. Coretan bekas aksi vandalisme, gunung sampah di ujung jalan, dan rumput liar yang mengganggu pemandangan sudah dibabat habis.
Segarnya udara pagi di sini membuat kedua netra bulat itu terpejam sejenak. Semilir angin yang menerpa permukaan wajahnya berhasil merelaksasi pikiran gadis cantik itu. Meski baru beberapa jam tiba di Semarang, tapi kerinduannya langsung terobati seketika.
Tiba-tiba, seorang pria berseragam serba hitam menghampiri gadis yang mengenakan blouse maroon itu dengan tundukan hormat, "Mobil telah siap, Nona."
"Terima kasih," ucapnya sambil melepaskan pandangan dari karya terindah Tuhan. Dia harus segera pergi dari bandara menuju ke rumah keluarga besarnya.
Postur tubuh tegak dan pandangan yang lurus begitulah penampilan elegan Viola Sekar Queenigrat. Desainer muda yang kini memasuki mobil nostalgia berwarna putih itu tak pernah tampil mengecewakan.
Meski datang ke Semarang bukanlah keinginannya, tapi sebisa mungkin pesona Viola maksimal. Hal itu juga semakin mempertegas bahwa dia tidak gagal membuktikan ikrar untuk menjadi seorang desainer terkenal.
See, semua itu terwujud sekarang. Viola tidak lagi merasa rendah jika bertemu dengan neneknya. Dia berhasil membuktikan kalau desainer bukan profesi yang membawa kesialan.
Selama perjalanan, arah pandang Viola tertuju pada pinggiran jalan Kota Semarang. Pepohonan rindang dan desain rumah-rumah yang estetik membuat Viola berdecak kagum.
Saat dulu masih duduk di bangku sekolah dasar, Viola ingat betul kalau banyak sekali bangunan roboh di daerah dekat waduk ini. Deretan pohon pun juga tidak terawat dan tak sedikit sampah daun kering yang berserakan sampai layu.
Tak terasa empat puluh menit berjalan. Mobil sedan putih keluaran generasi ketiga ini telah memasuki kompleks perumahan elite yang ada di Kawasan Kota Lama. Bangunan megah dengan arsitektur ala negeri kincir angin mendominasi daerah di sini.
Begitu bola mata amber menangkap sebuah rumah bercat cream yang sudah sedikit luntur, Viola mengulas senyum kecil. Delapan jam dalam pesawat kini terbayar sudah. Tempat tinggal yang dulu ia singgahi ternyata tidak berubah banyak. Hanya beberapa tata letak yang diperbaiki.
Ketika roda mobil sudah tidak bergerak lagi, kaki mulus berbalut heels setinggi lima senti itu turun dari mobilnya. Tentu saja dibantu oleh seorang bodyguard yang selalu siaga. Pria berwajah kaku itu mengulurkan kacamata hitam pada Viola, "Selamat datang kembali, Nona Viola."
Tangan Viola menerima benda tadi tanpa mengucapkan apa-apa. Cuaca yang semakin terik membuatnya tidak bisa terlalu lama memandang sesuatu tanpa sekat. Hal itu sudah dihafal baik oleh para pengawalnya.
Viola langsung melangkah kecil menuju ke mini garden yang dulu menjadi tempat bersantai favoritnya. Kenangan itu jelas masih membekas dalam ingatan Viola.
Entah karena terlalu menyelam pada kepingan masa lalu, tapi Viola tidak sadar jika ada sebuah selang air taman yang berada di depannya persis. Sontak saja, heels Viola tersangkut dan membuat keseimbangan tubuhnya hilang.
Dug!
"Awh!" pekik Viola sambil meringis kecil. Meski di tanah bercampur pupuk, tapi tetap saja namanya jatuh itu pasti sakit.
Para bodyguard yang ada di sana dengan sigap akan membantu, tapi mereka terlambat. Seorang laki-laki berkaos oblong abu berlari ke arah Viola.
Namun, bukannya menolong si desainer cantik, atensi laki-laki itu justru mengarah pada selang biru yang tergeletak mengenaskan.
Laki-laki itu menarik selangnya dengan rasa cemas yang mata ketara terpahat di wajah lugunya, "Ya Allah, kowe ora apa-apa to?"
Seketika, mulut Viola menganga lebar. Melihat bagaimana laki-laki itu yang lebih mengkhawatirkan keadaan benda mati jelas menyentil emosi seorang Viola.
"Heh, Bocah Tengil!" Viola menajamkan sorot matanya.
Merasa dipanggil, laki-laki minus etika itu menoleh. Akan tetapi, dia justru menunjuk dirinya sendiri, "Aku?"
"Ya iyalah!" sewot Viola yang terlanjur geram. Pakaiannya kotor karena pupuk tamanan, tapi tidak ada satu pun yang menolongnya?
Benar-benar di luar nalar!
Akhirnya, seorang bodyguard berbaik hati membantu Viola berdiri. Dengan wajah judes, telunjuk Viola mengarah pada bocah tengil di depannya, "Lo siapa sih?!"
Viola sudah gatal untuk melempar heels lima sentinya ke dalam mulut laki-laki tidak tahu diri ini. Ke mana perginya otak manusia sejenis dia?
"Vio?" Suara wanita lansia itu memecah kegaduhan yang telah terjadi.
Pusat perhatian Viola spontan berpindah pada Eyang Putri, nenek kandungnya. Mengamati tubuh sang nenek yang semakin kurus membuat hati nurani Viola tertampar keras. Dia terlalu keras bekerja sampai melupakan bahwa masih ada satu harta terbesarnya yang menunggu.
Tanpa mempedulikan masalah yang sempat menimpanya, Viola menghampurkan diri ke pelukan Eyang Putri. Tangisnya pecah seiring dengan rasa bahagia, haru, dan senang yang ia rasakan.
Tangan Eyang menepuk pundak cucunya penuh sayang. Dengan Bahasa Jawa yang amat kental, wanita lansia itu menenangkan sang cucu, "Cup cup cup. Jangan nangis. Sudah besar juga loh."
Benar.
Refleks, Viola langsung menghapus jejak air matanya. Usia memang tidak bisa dijadikan patokan untuk menolak tangis. Terlebih, ketika bertemu dengan orang yang kita sayangi setelah sekian lama berpisah.
"Pfftt." Laki-laki tidak tahu malu itu menutup mulutnya agar semburan tawa tidak meletus.
Badan Viola langsung berbalik arah. Mata bulatnya menyipit dan menatap nyalang sumber suara yang memanaskan telinganya.
Melihat kemarahan sudah tercetak di wajah cantik cucunya, Eyang Putri menengahi keduanya, "Anak perempuan tidak boleh marah-marah. Harus lemah lembut."
"Oh iya, Nduk. Kamu sudah kenal sama dia belum?" Pertanyaan itu sama sekali tidak meredakan kekesalan Viola.
Sudah tidak ditolong, bocah tengil itu justru meledeknya. Viola jadi semakin enggan membahas soal manusia tidak tahu diuntung itu.
"Vio?" panggil Eyang Putri karena Viola terdiam cukup lama.
Pandangan wanita lansia itu beralih dari Viola menuju laki-laki berumur dua puluh lima tahun di sana, "Nang, bawa koper ini ke dalam ya."
Hanya ada dua koper di sana, "Siap, Eyang." Sebelum pergi melaksanakan titah majikannya, laki-laki itu menyempatkan diri melihat wajah Viola yang masih memerah kesal.
Ingin tertawa lagi, tapi Eyang Putri sudah menatapnya tegas. Segera dia pergi dari hadapan dua wanita berbeda usia itu dengan tangan yang menggangkat koper gadis cantik tadi.
"Sejak kapan nenek mempekerjakan anak di bawah umur?" tanya Viola sambil berjalan masuk ke rumah Eyang Putri. Tentu saja, dia harus melepas heels tingginya lebih dahulu.
Kepala Eyang Putri memukul lengan Viola yang jauh lebih tinggi darinya, "Hush!"
"Dua puluh lima itu sudah dewasa loh." Eyang membawa Viola duduk di salah satu sofa dalam ruang keluarga.
Pandangan Viola tidak bisa lepas dari suasana sepi yang tercipta di sini. Jika dulu ia sering menghabiskan canda tawa bersama orang tuanya di sofa cokelat ini, tapi sekarang jelas berbeda.
Viola menghembuskan napas panjang. Dia bukan lagi gadis kecil yang lemah. Sorot matanya yang selalu dingin dan sifat acuh telah mengakar dalam diri Viola.
Transformasi sosok Viola jelas dirasakan langsung oleh sang nenek. Tidak sedikit perubahan yang wanita lansia itu tangkap. Mulai dari gaya berpakaian, nada bicara, dan karakter pribadi semuanya telah diperbarui.
Kalau sudah begini, Eyang Putri akan mengalah, "Vio, kamu tahu kan apa tujuan nenek memintamu datang?"
Sengaja Eyang Putri mengubah bahasa dalam ucapannya. Dia tahu ini salah, tapi wanita berumur enam puluh empat tahun itu tidak mau memaksa Viola lebih dalam lagi.
Viola meringis kecil ketika mendengar neneknya menghilangkan Bahasa Jawa dalam kalimatnya, "Eyang, maaf."
Seperti adat masyarakat Jawa, setiap anak muda yang berbicara dengan orang yang lebih tua baiknya menggunakan Bahasa Jawa tepatnya Krama Inggil. Akibat rentang waktu merantau ke Jakarta cukup lama, Bahasa Jawa milik Viola sudah memudar.
"Tidak apa, Vio." Eyang Putri tersenyum tipis.
Teringat topik bahasan penting ingin ia sampaikan, Eyang Putri mengulangi perkataannya, "Ini terkait permintaan terakhir nenek, Vio."
Helaan napas berat menguar dari sosok gadis berparas ayu, "Jangan bilang seperti itu jika nenek hanya memperalatku."
"Terserah apa katamu. Eyang tetap ingin menikahkanmu dengan pilihan Eyang sendiri," ujar Eyang Putri membuat wajah Viola semakin ketus.
"Ini masa depanku, Eyang. Tolong, jangan ikut campur." Viola sudah terlampau muak. Dia kesal dan lelah terus diperbudak selama ini.
Eyang Putri dengan segala pendiriannya tidak terpengaruh sama sekali. Arah pandangnya menyorot pada seorang ajudan yang sedari tadi mengawasi keduanya, "Panggil Cakra ke sini."
"Siapa lagi itu Cakra?!" Viola meraup wajah cantiknya frustasi.
Sudut bibir Eyang Putri tertarik ke atas. Melihat cucunya tertekan, dia jadi teringat kala pertama kali merasakan sebuah perjodohan egois. Ya, persis seperti yang pernah dulu ia rasakan.
Tak berselang lama kemudian, seorang laki-laki berkaos abu datang sembari menunduk hormat. Tak lupa ia menanyakan maksud dipanggilnya dia dengan Bahasa Jawa yang fasih, "Ada apa, Eyang?"
"Duduk dulu." Mau tidak mau, Cakra menaati perintah majikannya.
Pandangan Eyang Putri menoleh pada cucu paling cantiknya. Dia tahu kalau Viola paham dengan maksud tindakannya kali ini. Lantas, berpindah ke wajah bingung Cakra.
Senyum wanita berusia senja itu terukir, "Kalian harus menikah dua hari lagi."
"WHAT?!"
"APA?!"
Dua respon bermakna sama itu membuat Eyang Putri semakin mengembangkan senyum. Pilihannya tidak pernah meleset jika demi masa depan Viola.
Viola menunjuk sosok Cakra dengan pandangan remeh, "Aku harus menikah dengan bocah tengil itu?"
"Big no!" tolak Viola tegas dan lugas.
"Kamu tidak Eyang minta untuk menyanggah, Vio. Laksanakan perintah ini sebagai permintaan terakhir Eyang padamu." Ini adalah satu-satunya cara yang membuat Viola patuh pada sang nenek.
Pandangan dua insan yang tak pernah saling mengenal itu pun bertemu. Entah apa yang ada dalam pikiran keduanya, tapi Viola segera memutuskan kontak mata.
Gadis cantik dengan rambut curly bottom style itu terus menurunkan amarah yang sudah memenuhi ubun-ubunnya, "Eyang, bisa carikan calon lain untukku?"
"Kenapa? Cakra adalah pria baik yang Eyang yakin bisa membahagiakanmu," sahut Eyang Putri enteng.
Tiba-tiba, Cakra angkat bicara, "Eum, Eyang."
"Tap-"
"Apa pekerjaan dia, Eyang?" sela Viola saat Cakra hendak mengatakan sesuatu.
Kepala Eyang Putri menoleh ke arah cucunya, "Ah iya, kalian belum berkenalan."
Atensi wanita lansia itu kembali pada laki-laki yang sudah ia pilihkan untuk Viola, "Cakra, dia cucu Eyang, Viola Sekar Queenigrat."
Lantas, Eyang berpindah fokus pada gadis cantik yang tengah mendatarkan ekspresi, "Namanya adalah Cakra Abimanyu. Dua puluh lima tahun dan profesinya sebagai sopir pribadi Eyang."
Sontak, kedua mata bulat itu terbelalak kaget, "Sopir?!"
"Eyang tidak menerima bantahan apa pun dari kalian. Pernikahan akan digelar dua hari lagi. Jadi ... persiapkan diri kalian." Eyang Putri berdiri dari duduknya dengan bantuan tongkat.
Melihat majikannya kesusahan, Cakra berinisiatif membantu. Jelas saja, Eyang Putri semakin senang. Perhatian kecil seperti inilah yang akan Viola butuhkan.
Meski tampak begitu tulus, tapi Viola justru benci pada sosok Cakra. Sudah tengil, tidak punya perasaan, sok baik pada Eyangnya pula. Itu pasti hanya pencitraan saja!
Viola memijit keningnya pusing, "Kenapa Eyang tega banget milih jodoh berondong buat gue?"
Selama ini, Viola ingin sekali memiliki suami yang lebih dewasa darinya dan juga profesi yang mapan. Namun sekarang, sudah sia-sia saja semua mimpinya itu.
"Dua hari lagi gue pun harus menyandang status sebagai Nyonya Sopir?" gumam Viola memandang kepergian Cakra bersama neneknya.
Tangan Viola memukul kepalanya berulang kali, "Mimpi apa gue semalem, Ya Tuhan."