Setelah menyelesaikan proyek dikalimantan, aku langsung memesan tiket pesawat untuk pulang ke Jakarta, bahkan Juna asistenku yang menemaniku mengurusi proyek di Kalimantan aku tinggalkan begitu saja karena sudah satu minggu ini aku meninggalkan Jakarta dan seseorang yang sangat aku cintai, tentu Juna yang pahampun tak melarangku karena memang pekerjaan di Kalimantan sudah benar-benar selesai.
Perjalanan menggunakan pesawat dari Kalimantan menuju Jakarta hanya memerulukan waktu kurang lebih dua jam, dan sampai dijakarta sekitar pukul delapan malam. Sampai dijakarta tentu aku tidak langsung pulang ke rumah melainkan aku akan menemui Wanita yang sangat kurindukan selama satu minggu ini, dan akupun meminta supir yang menjemputku untuk pulang terlebih dahulu dan aku membawa mobilku melaju ke tempat dimana wanitaku bekerja.
Dan ya waktu-waktu seperti ini di Jakarta sangat macet karena waktu seperti ini banyak orang yang pulang kerja dan alhais aku merasa terjebak macet. Aku pulang ke Jakarta memang tak mengabari wanitaku karena aku ingin memberikan surprise kepada dirinya, dan untungnya tadi aku bertanya kepada dirinya apakah dia sudah selesai bekerja atau belum, namun nyatanya belum dan hal itu membuatku langsung pergi menuju restoran tempat dirinya bekerja,
Dan aku bisa mengle nafas lega kala melihat mobil didepanku sudah berjalan sehingga membuat meboilku bisa berjalan Kembali, sungguh aku sangat Lelah bagaimana tidak setelah menyelesaikan pekerjaanku dan langsung pulang ke Jakarta tanpa beristirahat sama sekali, tapi aku yakin lelahku akan terbayarkan setelah melihat senyum indahnya.
Dan setelah satu jam setengah menempuh perjalanan akhirnya diriku sampai didepan restoran besar milik pacar sahabatku yaitu Diva, aku ke restoran ini tentu tidak ingi bertemu Diva ataupun makan disini melainkan bertemu dengan wanitaku ya wanitaku bekerja disini.
Dan setelah keluar dari mobil ternyata aku berpapasan dengan Arfan dan juga Diva, lantas akupun menyapa keduanya
“yaelah lengket banget lo Ar, tenang dong Diva engga akan diambil orang” kataku dari arah belakang mereka sehingga membuat mereka menoleh kebelakang dan mendapatiku tersenyum tengil kearah mereka
“biarin iri bilang Bos”
“ngapain gue iri, engga ada kamus dihidup gue iris ama kalian ya”
“yayaya yang bentar lagi mau ketemu kekasih tentu engga iri”
“lah itu lo tahu” jawabku membuat Arfan mendengus kesal membuatku tertawa dan menepuk pundaknya
“Alisha ada kan Div?” tanyaku kepada Diva yang hanya tersenyum melihatku dan juga Arfan
“ada kok, dia kan jaga malam” jawab Diva membuatku semangat
“udah sana temuin Alisha, gue tahu wajah lo udah kangen berat sama dia”
“hahahaha kok lo tahu si Ar, peramah lo yah”
“iya baru tahu Lo” jawabnya Kembali membuatku tertawa
“udah deh jangan berantem, kalian tuh ya setiap ketemu engga pernah akur gitu”
“habisnya dia sering ngejek aku saying”
“bukan ngejek gue ya Ar”
“bodo amat” jawab Arfan spontan dengan menoyor kepalaku, akupun hanya mendengus kesal
“sialan lo main noyor gue” jawabku dan akan membalas Arfan namun Arfan langsung sembunyi dibelakang Diva
“dasar lo yah malah minta perlindungan sama Diva engga asik lo” kataku dan Arfan hanya memeletkan lidahnya seakan mengejek diriku
“ih udah deh berantem mulu kan, udah sana kamu ketemu Alisha aja Ta”
“iya memang gue mau ketemu Alisha kesini, emang kerjaan Alisha udah selesai Div?”
“udah kayaknya, dan lagian ini restoran kan udah tutup”
“berarti bentar lagi Alisha keluar dong”
“iya palingan setengah jam lagi”
“lumayan lama juga ya”
“ya kalua lama tunggu didalam aja”
“engga deh gue tunggu disini aja, mau bikin surprise ke dia”
“elah gayanya Lo Ta, bikin surprise segala”
“berisik lo, udah sana gue tahu kalian mau pulang kan, udah sana pulang jangan gangguin gue, Div bawa sana pacar”
“idih engga perlu disuruh kita juga mau pulang”
“ya udah sana pulang”
“ayo saying pulang” kata Arfan menarik Diva, divapun hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanakkanakan pacar dan sahabatnya tersebut
“bentar saying aku pengin bicara sebentar sama Genta”
“mau bicara apa sih saying, jangan bilang kamu jatuh cinta sama curut satu ini”
“engga lah, kamu ngawur banget sih ngomongnya, kan hati aku udah milik kamu”
“iya iya deh aku percaya, ya udah aku kasih waktu sepuluh menit buat bicara sama si curut ini” kata Arfan membuatku mendelik kearah Arfan, enak saja dia mengatakan diriku curut, lah kalua diriku curut terus dia apaan, monyet
“Ta..”
“iya Div, mau bicara apa sama gue”
“begini, lo udah bilang sama Alisha”
“bilang apa?”
“yang kemarin gue omongin sama lo Ta, masa lo lupa sih” tanya Diva dan akupun berfikir untuk mengingat-ngingatnya dan ya aku ingat
“ingat kan?”
“iya gue ingat, tapi gue belum ngomong sama dia Div”
“lebih baik lo ngomong sama Alisha secepatnya Ta, lo engga mungkin kan bohongin Alisha terus menerus, tiga tahun loh kalian menjalani hubungan dan kalua dia tahu lo bohong tentang status diri lo sama dia pasti dia akan sedih Ta” kata Diva membuatku terdiam seketika
“gue harap lo bicara baik-baik sama dia dan menjelaskan semuanya, karena gue lihat lo mau serius sama Alisha kan, begitupun sebaliknya”
“iya Div gue akan jujur sama dia tapi gue tunggu waktu yang pas aja”
“iya gue harapn secepatnya yah sebelum lo buat dia kecewa”
“iya Div”
“ya udah gue pulang dulu ya, Arfan udah nungguin tuh, kasihan kalua kelamaan”
“iya silahkan Div gue tahu monyet satu itu engga sabaran” kataku membuat Diva tertawa dan langsung berjalan meninggalkan diriku menuju mobil dimana disana sudah ada Arfan, setelah kepergian mereka aku merenungi ucapan Diva tadi, memang benar aku sudah membohongi Alisha tentang statusku tapi jika aku jujur apakah Alisha masih mau bersamaku sungguh aku takut jujur kepada dirinya, tapi jika tidak jujur dan Alisha tahu sendiri dari orang lain itu malah membuat dia kecewa. Dan saat diriku sedang melamun terdengar suara seseorang yang sangat lembut dan aku sangat kenal dengan suara itu
“Mas Genta!!” teriaknya dan akupun langsung membalikan tubuhku, bahkan hanya melihatku dari belakang dia sudah tahu itu aku, akupun langsung tersenyum kepadanya dan merentangkan tanganku meminta dia masuk ke dalam pelukanku, diapun langsung berlari dan menerima pelukanku, dan kamipun berpelukan melepaskan rindu ini
“Alisha kangen”
“Mas juga kangen sama kamu saying, kangen banget malahan” jawabku dengan memeluknya erat, dan saat merasakan pelukan itu tiba-tiba aku merasakan dia mencubit perutku membuatku mengaduh kesakitan
“aduh kok kamu cubit Mas sih saying”
“habisnya Mas bohongin aku katanya pulangnya tiga hari lagi nyatanya udah disini didepanku pula, kan kesel”
“hehehe ya maaf saying soalnya rindu ini udah engga bisa ditahan lagi makanya Mas langsung balik ke sini”
“emang pekerjaan Mas udah selesai?, emang engga dimarahin kalua Mas udah pulang duluan sama Bosnya?”
“pekerjaan Mas udah selesai semuanya dong makanya udah dibolehin pulang ke sini”
“syukurlah kalua begitu, Mas pasti cape yah”
“cape Mas langsung hilang setelah melihat senyum kamu”
“idih gombal melulu”
“itu fakta sayang”
“yaya terserah Mas aja deh” jawabnya membuatku tersenyum
“ya udah yuk Mas antar kamu pulang kamu pasti Lelah kan”
“iya lumayan sih Mas, restoran hari ini ramai banget” jawabnya membuatku kasihan sebenarnya melihat dia harus bekerja seperti ini
“ya sudah Mas anterin pulang ya”
“iya tapi mampir beli soto dulu ya Mas soalnya tadi ayah telepon minta beliin soto”
“siap sayang” jawabku dan akupun menggenggam tangannya dan membawa Alisha ke mobilku, aku merasa lega tadi sopir rumah membawa mobil sederhana ini bukan mobil mewah milikku karena aku tidak mau membuat Alisha curiga. Dan lelahku tergantikan setelah bertemu dengan Alisha dan juga melihat senyumnya, Alisha adalah kebahagiaanku saat ini dia yang sangat mengerti diriku dan aku sangat mencintainya.
***
setengah jam menempuh perjalanan akhirnya Alisha dan juga Genta sampai didepan rumah sederhana miliki Ayah Alisha, merekapun keluar dari mobil dengan Genta yang dengan mesranya memegangi tangan Alisha, tentu hal tersebut membuat wajah Alisha merona malu, tiga tahun menjalin hubungan sepasang kekasih hal seperti ini masih saja membuat Alisha malu dan juga canggung, tapi berbeda dengan Genta, Genta sangat suka menggengam tangan Alisha bagi Genta tangan Alisha yang kecil dan mungil sangat pas ditangannya dan juga dengan menggengam tangan Alisha artinya Alisha berada disisinya, keduanyapun saling berpandangan mesra hingga deheman seseorang membuat mereka tersadar
“Ekhm…” deheman seseorang yang lumayan keras langsung mengalihkan tatapan mereka menuju rumah, dan ternyata didpintu depan sudah ada ayah Alisha yang berdiri disana, Alishapun tersenyum dan berjalan menuju sang ayah
“assalamualaikum ayah” sapa Alisha dan langsung menyalami tangan sang ayah dan menciumnya
“assalamualaikum ayah” salam Genta juga yang berjalan dibelakang Alisha, tidak asing jika Genta memanggil Ayah Alisha dengan sebutan Ayah bukan Om, karena Ayah Alisha sudah tahu hubungan Genta dan juga Alisha dan perilaku Genta yang sangat baik dan sopan membuat Ayah Alisha menyukainya dan menyuruh Genta memanggilnya Ayah saja dan tentu Genta yang diterima oleh ayah Alisha dengan senang hati memanggilnya ayah
“waalaikumsalam” jawab Ayah Alisha
“ayah kok bangun, harusnya kan Ayah istiraahat ini udah malam, ingat pesan dokter kemarin”
“ayah bosan tiduran terus dikamar, dan juga kamu belum pulang makanya ayah menunggu disini”
“kan ini Alisha udah pulang, ow hiya ayah Alisha bawa soto pesanan ayah, ayah belum makan kan?”
“belum, kan ayah nungguin kamu”
“ya udah kita makan bareng-bareng aja, Alisha juga belum makan ayah, Mas Genta udah makan apa belum?”
“belum juga dek”
“ya udah sekalian makan bareng aja disini”
“iya..” jawab Genta dengan senyum manisnya
“ya sudah Alisha nyiapin dulu makannnya ya” kata Alisha dan diangguki oleh Genta dan juga Ayah, Alishapun langsung memasuki rumah dan menuju ke dapur
“ayo nak Genta masuk” kata Ayah ramah, Gentapun mengangguk dan mengikuti Ayah Alisha yang sudah berjalan memasuki rumah. Sesampai diruang tamu Ayah dan Gentapun duduk dikursi yang tersedia
“bagaimana pekerjaan kamu nak?, kata Alisha kamu ditugaskan untuk menyelesaikan proyek di Kalimantan?, apakah sudah selesai?” tanya Ayah
“alhamdulilah lancer yah, dan juga proyeknya sudah selesai jadinya Genta udah disini”
“syukurlah kalua begitu, Ayah seneng dengarnya”
“lalu bagaimana kondisi ayah?, kemarin Alisha mengatakan kepada saya kondisi Ayah ngedrop dan dibawa rumah sakit” tanya Genta dan sang Ayah hanya tersenyum
“Alisha memang slalu cerita apapaun kepadamu ya Nak?”
“karena saya yang meminta Alisha untuk menceritakan apapun kepada saya Yah, saya tidak mau ada yang ditutupi dari Alisha terlebih kondisi Ayah”
“kamu ini, apakah sebegitu cintanya kamu sama Alisha, sampai kamu takut melihat Alisha bersedih”
“iya Yah, Genta sangat mencintai Alisha Yah, dan Genta tidak ingin melihat Alisha bersedih” kata Genta mmebuat Ayah alisha menatap Genta dan terlihat dari tatapan Genta bahwa dia bersungguh-sungguh atas ucapannya
“Apakah kamu serius dengan anak Ayah?” tanya Ayah lagi dan dengan mantap Genta mengangguk
“iya yah, Genta serius dengan anak Ayah”
“jika kamu serius kapan kamu akan menikahi anak Ayah?”
“maksud ayah?”
“begini, ayah tahu mungkin ucapan Ayah membuatmu terkejut, Ayah tahu kamu lelaki yang baik sopan, dan sangat mencintai anak ayah Alisha, dan kamu tahu bukan kalua ayah sudah penyakitan ditambah lagi mungkin waktu yang ayah miliki sudah tidak lama lagi dan ayah ingin sebelum Ayah meninggalkan Alisha, Alisha sudah dijaga oleh orang yang tepat”
“ayah kenapa bicara seperti itu”
“umur tidak ada yang tahu Nak, dan untuk jaga-jaga saja, dan juga ayah ingin melihat Alisha hidup Bahagia dengan lelaki yang dia cintai yaitu kamu, jadinya ayah ingin kamu menikahi Alisha dan dengan demikian Ayah bisa tenang, apakah kamu bersedia nak?” tanya Ayah, Gentapun Nampak berfikir, jelas Genta sangat mau menikahi Alisha karena itu impian Genta, tapi Genta juga harus mengatakan ini semuanya ke kedua orang tuanya terlebih harus mengenalkan Alisha kepada Papa dan Mamanya, terlebih lagi dengan statusnya tentu Genta harus menceritakannya kepada Alisha.
“eh kok mukanya serius begitu? Lagi ngomongin apa sih?” tanya Alisha yang sudah berada diruang tamu dan melihat kedua orang yang dia cintai saling tatap dengan wajah serius, Ayah Alishapun langsung memalingkan wajahnya dan menatap anaknya
“engga ngomongin apa-apa kok sayang, ayah Cuma tanya gimana kerjaan Genta, gitu aja kok”
“beneran nih?, engga ada yang ditutup-tutupin kan?”
“engga kok dek, yang ayah katakana emang bener kok, Ayah Cuma tanya pekerjaan Mas”
“awas ya kalua bohong”
“astaga anak Ayah curigaan sekali sih, gimana udah siap belum, ayah sama Genta udah laper nih”
“udah dong, ini aku kesini mau manggil Ayah sama Mas Genta, yuk udah aku siapin semuanya” kata Alisha diakhiri dengan senyum manisnya, Ayahpun mengangguk dan berdiri dari duduknya diikuti oleh Genta, sedangkan Alisha sudah Kembali ke dapur
“ayah engga memaksa untuk terburu-buru nak Genta, fikirkan dulu ya” kata Ayah dan Genta langsung mengangguk, setelah itu mereka berjalan menuju dapur dan terlihat Alisha sedang menuangkan air putih ke dalam gelas, dan merekapun mulai makan malam dengan sangat Bahagia dan hangat, bahkan Ayah Alisha bersikap biasa saja kepada Genta dan Alisha.