Sesuai janjinya. Kevin mengajakku berkencan. Tapi ada satu hal yang menjadi masalah. Menurutku ini masalah kecil, namun bagi Kevin masalah itu seperti masalah besar. Kevin tidak ingin Harry ikut ke acaranya. Ia ingin hanya aku dan Kevin saja untuk malam ini, seperti menghabiskan waktu hanya berdua karena kurasa aku dan Kevin memang sudah jarang menghabiskan waktu berdua. Aku tidak mengatakan anakku adalah penghalang. Tidak. Malah Harry lah yang lebih mengisi hariku menjadi lebih berwarna.
Blake dan Zak datang ke rumah karena Kevin memintanya untuk menjaga Harry. Aku dan Kevin tidak mau Harry ditinggal bersama Jane, takut-takut Jane akan memberinya makanan yang membuat Harry alergi. Dan kebetulan, Harry menyukai Blake. Sayangnya, kali ini kedatangan Blake tidak mempan untuk Harry.
"Harry, daddy hanya sebentar pergi dengan mommy. Nanti daddy belikan mainan. Harry di rumah saja ya bersama Paman Blake dan Zak?" bujuk Kevin pada anaknya yang sejak tadi tidak berhenti menangis.
"Harry mau ikut!" jeritnya disela-sela isaknya.
"Harry biarkan daddy dan mommymu pergi. Mereka sedang ingin berkencan. Di sini kan ada Paman Blake. Nanti kita main PS, bola, monopoli, atau kita ke Toy Store membeli banyak mainan?" timpal Blake ikut membujuk Harry yang masih menangis.
"Tidak mau!" teriaknya dengan suara galak.
Aku hanya mengusap puncak kepala Harry agar tangisnya mereda. Tetapi tetap saja, tangis Harry semakin menjadi saat Kevin, Blake, maupun Zak membujuk Harry supaya tidak ikut denganku dan Kevin. Aku tidak masalah jika Harry ikut bersama kami, bukankah itu akan menyenangkan? Akan tetapi, aku tahu apa yang ada dipikiran Kevin.
"Huahhh mommy, Harry ingin ikut mommy. Pokoknya ikut," isakkannya semakin pecah. Harry menjulurkan kedua tangannya tanda ingin di gendong. Sayangnya, aku tidak bisa menggendongnya karena Kevin tidak mengijinkanku, ia khawatir. Jadi aku hanya berlutut mensejajarkan tinggiku dengan Harry, lalu memberikannya pelukan.
"Kevin. Biarkan saja Harry ikut. Kau tega melihatnya tidak berhenti menangis?" gerutuku, mendongak menatap Kevin. Harry memeluk leherku erat, seakan tidak mau melepaskannya dalam waktu dekat.
Kevin menggeleng tidak setuju. Ya ampun, pria satu ini sangat keras kepala sekali. Aku sampai kesal sendiri. Maksudku, kenapa harus membesarkan masalah sepele seperti ini? Dia kan seorang ayah, seharusnya mengerti keinginan anaknya yang tidak mau jauh dari orang tuanya walau pun hanya sebentar untuk makan malam di restauran.
"Mommy, Harry mau ikut huahhhh," tangisnya semakin pecah saat Kevin menggeleng.
"Sama Paman Blake dan Zak saja ya Harry tampan?" rayu Blake yang masih tidak kapoknya.
Harry melepaskan pelukannya dan menatap Blake dengan kesal. "Tidak mau!" teriak Harry serak. "Pokoknya Harry mau ikut!"
Blake mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Sepertinya Harry benar-benar tidak ingin lepas dari kalian."
"Anak kalian sangat pintar, tidak ingin memberi celah untuk orang tuanya berdua," tambah Zak, terkekeh.
Kevin mendengus kesal seperti anak kecil. Wajahnya terlihat sekali kesal sekaligus pasrah.
"Harry boleh ikut tapi syaratnya berhenti menangis," ucapku selembut mungkin.
Dalam hitungan detik, Harry mengucek matanya lalu ia menyengir padaku. Tangisnya hilang sudah tergantikan oleh seringaian khasnya yang membuatku gemas ingin mengecup seluruh wajahnya.
"Tidak. Harry tidak boleh ikut," tolak Kevin dengan nada tegas.
"Huahhh mommy." Baru saja Harry berhenti menangis dan sekarang saat Kevin menolaknya, Harry kembali menangis. Ia duduk di lantai, kakinya ia hentak-hentakan sehingga menimbulkan suara.
Aku memutar bola mataku, geram pada Kevin. "Kevin mengalah lah atau kau malam ini tidak akan tidur di kamar!"
Blake dan Zak yang mendengar ancamanku sontak tertawa keras membuat Kevin tersinggung. Alhasil, dengan sangat terpaksa Kevin memperbolehkan Harry untuk ikut meski pun terpaksa.
"Apa kami tidak diajak juga?" gurau Blake, menyeringai pada Kevin yang sedang menampakan ekspresi datar.
Aku ingin sekali menggoda Kevin dengan mengajak Blake dan Zak ikut bersama kami. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Aku harus menghargai Kevin yang sepertinya sudah menyiapkan kencan kami. Seharusnya aku yang mengajaknya ke suatu tempat, bukan dia, karena ini adalah hari spesialnya.
"Kalian jaga rumah saja. Tidak perlu merusak acaraku."
"Apa ada wanita cantik itu di rumah? Jika ya aku akan menginap saja," ujar Blake, mengedipkan sebelah matanya.
Kevin menggidikan bahunya. "Tarserah kau saja. Yang penting jangan merusak acaraku," himbau Kevin.
Akhirnya aku, Harry, dan Kevin berjalan ke halaman depan menuju mobil kami. Aku sedikit heran saat mataku melihat banyak mobil mewah berjajaran di halaman rumah. Halaman rumahku sekarang lebih tampak seperti parkiran. Mobil-mobil siapa yang diletakan di sini? Setahuku Kevin hanya mempunyai dua mobil, yaitu mobilnya dan mobilku.
"Kevin, semua ini mobil siapa?" tanyaku terheran-heran.
"Mobilku," jawabnya.
Aku menganga tidak percaya. Mobilnya? Sebanyak ini? Apa dia kolektor mobil mahal? Sungguh, ini namanya pemborosan. Apalagi yang tidak kuketahui tentang apa yang ia punya?
"Satu...lima, enam...sembilan...." Jariku menunjuk setiap mobil-mobil yang berjajar seraya menghitungnya dengan teliti dan tidak percaya.
"Kau sedang apa Luna?" tanya Kevin. Aku sontak berhenti menghitung jumlah mobilnya.
"Menghitung jumlah mobilmu," jawabku jujur. Jika semua itu adalah benar mobilnya, kenapa aku baru melihatnya?
Kevin tergelak seraya membukakan pintu mobil depan untukku. "Apa kau tidak ada pekerjaan lain?"
Aku berdiri di hadapannya yang terhalang oleh pintu mobil sebelum aku masuk. "Entahlah. Untuk apa kau mengoleksi mobil?" tanyaku hampir berteriak.
Kevin menaikan kedua bahunya. "Bisa kita jangan bahas itu sekarang? Aku yakin jika kita bahas itu, akan ada pertengkaran kecil di antara kita."
Tentu saja akan ada pertengkaran kecil. Kevin membeli mobil seperti membeli mainan Harry saja. Mengeluarkan uang layaknya memetik daun di hutan! Umpatku kesal. Aku pun masuk ke dalam mobil dengan Harry di pangkuanku. Ia tidak ingin duduk di belakang kemudi.
"Daddy, kita akan ke mana?" tanya Harry, nadanya sangat antusias sehabis menangis tadi.
Kevin melirik sekilas pada Harry, lalu ia kembali menatap jalanan lurus. "Ke restauran favorit mommymu dulu. Kita akan makan malam di sana. Harry senang?"
Restauran favoritku dulu? Setahuku aku tidak pernah punya tempat favorit selain rumah. Apa itu restauran sebelum aku amnesia?
"Tidak," balasnya yang tiba-tiba menjadi ketus. "Daddy tadi nakal, tidak mau mengajak Harry!" Harry memalingkan wajahnya dengan kesal.
Aku mengulum senyumku, memperhatikan raut wajahnya yang menggemaskan jika sedang mengomel. Kuusap rambutnya pelan seraya berkata, "Daddy tidak bermaksud seperti itu. Harry tahu, ada tempat yang tidak boleh didatangi oleh anak seumuran Harry. Makanya tadi daddy tidak mengajak Harry. Jika mommy dan daddy pergi untuk bersenang-senang mana mungkin tega meninggalkan anak kesayangan mommy dan daddy sendirian."
"Tumben membelaku. Biasanya kau akan menambah Harry jengkel padaku," timpal Kevin, ia terkekeh.
"Kevin, berhentilah menjadi orang menjengkelkan hari ini!"
"Sekarang gilirin mommynya yang cemburut," Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sesampainya di restauran, aku cukup dibuat terpana dengan dekorasi restauran apung di tengah danau. Butuh perahu kecil untuk mengantar kami sampai ke meja makan kami di tengah-tengah danau. Keterkejutanku bertambah saat melihat tempat makan kami dikelilingi oleh balon-balon berbentuk hati dan di pinggiran bawahnya dikelilingi lilin. Jadi ini alasannya kenapa tadi Kevin tidak mau mengajak Harry karena ini adalah semacam makan malam romantis, pikirku.
"Wihh daddy! Apakah tempat ini akan terbang seperti di film up? Balonnya banyak sekali," komentar Harry, kegirangan melihat balon-balon yang mengelilingi tempat kami.
Kami pun duduk lesahan, karena restauran ini menyediakan tempat duduk lesehan. Wajahku merona merah nyaris menyerupai kepiting rebus saat Kevin terus memandangiku dengan senyum seksinya. Terpancar aura kepuasan dari wajahnya saat menatapku. Dengan apa yang telah ia lakukan selama ini sebagai seorang suami sekaligus ayah, Kevin memang tidak ada tandingannya dengan pria lain. Semuanya tampak sempurna di dirinya. Oh Tuhan, aku sangat mencintai pria ini.
"Harry tidak rugi ikut ke sini," kata Harry.
"Tapi daddy sedikit merasa rugi," cibir Kevin pada Harry, dengan seringaian jahilnya.
Harry yang mendengar cibiran Kevin sudah siap untuk kembali menangis tapi Kevin cepat-cepat meralat ucapannya, "Maksud daddy, daddy akan rugi jika tidak mengajak Harry kemari."
Aku tertawa kecil. Harry menggeser duduknya mendekat padaku. Ia memeluk pinggangku, lalu Harry mendongak. "Mommy, aku sebal sama daddy," keluhnya dengan raut wajah lugu.
"Maklumi daddy saja. Harry kan tahu daddy itu terkadang suka membuat kita kesal, tadi saja mommy menangis gara-gara daddy," sindirku.
Kevin melototiku. "Ayolah sayang, jangan bahas itu lagi. Aku sudah minta maaf."
Aku mengangguk sambil tersenyum senang. Selang beberapa menit, hidangan spesial kami datang. Harry larut dalam makanan favoritnya sampai-sampai ia mengomel jika di ganggu, lalu ia mengabaikanku dan Kevin.
Aku melipat kedua tanganku di atas meja dan mencondongkan wajahku untuk menatapnya lebih dekat.
Setiap memandangi wajah Kevin, terkadang aku tersenyum sendiri seperti orang gila. Nah sekarang aku dalam posisi itu.
"Berhenti memandangiku seolah-olah kau ingin menerkamku di ranjang."
Aku langsung melempar tisu ke wajahnya. "Kau," desisku.
Kevin menggeleng-geleng."Kau senang Luna?"
Aku mengangguk penuh semangat. Tentu aku senang. Tidak ada wanita yang tidak senang jika seorang pria memperlakukannya semanis ini. Kurasa pria seperti Kevin hanya ada satu di dunia ini.
"Kau memang sulit kuduga. Terima kasih atas kencannya," kataku, tersenyum lebar.
Kami pun mulai memakan hidangan kami dengan nikmat. Keheningan merajai kami karena kami terlalu menikmati hidangan yang lezat ini.
Hampir dua jam setelah makan, aku dan Kevin berbincang-bincang mengenai berbagai hal yang mampumembuatku tersenyum seperti orang i***t. Kulirik ke sebelahku, Harry ternyata tertidur pulas.
"Sudah larut malam. Ayo pulang," ajakku pada Kevin.
******
Alunan musik melenyapkan kebisuan kami dalam perjalanan pulang. Aku melirik jam tanganku. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.59. Hanya tinggal hitungan detik lagi hari ini akan berakhir berganti dengan hari yang baru.
"Meskipun aku bukan orang pertama yang mengucapkan ini padamu tapi setidaknya aku menjadi orang yang terakhir. Selamat ulang tahun," ujarku sedikit canggung. Dalam hatiku, aku mengutuk diriku sendiri yang tidak bisa berkata lebih manis dari pada itu. Aku merasa mengucapkan selamat ulang tahun pada teman yang baru kukenal.
Kulihat sudut bibir Kevin melengkung ke atas. Pandangannya masih fokus ke jalanan lurus. Melihat respon Kevin seperti itu, aku merasa kesal sendiri. Apa Kevin sedang menertawaiku di dalam hatinya? Pikirku setengah jengkel.
"Kevin! Mengapa kau diam saja?" suaraku sedikit meninggi karena tidak dapat respon dari Kevin mengenai ucapanku barusan.
"Ssst... Luna, pelankan suaramu. Harry sedang tidur. Kautahu Harry akan sulit tidur jika ia bangun lagi dan aku tidak ingin anak kita merusak momen kita di kamar nanti untuk yang sekian kalinya," ujar Kevin pelan, kemudian ia terkekeh.
Dasar otak ranjang, umpatku kesal sembari mengelus punggung Harry yang tertidur di pangkuanku. Harry hampir saja terbangun jika aku tidak segera mengelus punggung atau puncak kepalanya.
Aku mematikan musik di radio mobil Kevin agar saat aku bicara pelan Kevin bisa mendengarnya dengan jelas.
"Lalu kenapa kau hanya diam saja saat aku mengucapkan itu?" tanyaku berbisik-bisik seperti sedang mengumpat dari kejaran anjing.
Kevin membelokan stirnya ke kanan saat bertemu dengan pertigaan kemudian ia melirikku sekilas sambil tersenyum kecil.
"Aku harus jawab apa? Terima kasih? Luna, hormon kehamilanmu itu menyebalkan. Kau terkadang suka sentimen padaku sama seperti saat kau hamil Harry dulu," keluh Kevin.
Aku menarik napasku dalam-dalam. Kenapa saat aku berusaha untuk romantis pada Kevin selalu saja berakhir aku yang kesal? Akhirnya aku lebih memilih diam daripada bicara yang mungkin akan membuatku tambah kesal.
Aku menyenderkan kepalaku pada jendela mobil. Tiba-tiba saja aku merasa Kevin melajukan mobilnya dengan cepat, sangat cepat. Kevin beberapa kali melirik kaca spion yang berada di tengah setelah itu Kevin menambah kecepatan lajunya.
"Kevin pelankan. Kenapa kau mengendarai mobil seperti orang kesetanan?" omelku. Aku semakin memeluk Harry erat dalam dekapanku.
Kevin tidak menghiraukanku. Ia malah terus melaju Mclauren P1-nya dengan kecepatan tinggi.
Aku menatap ke arah jalanan dengan tatapan ngeri. Bisa kurasakan Mclauren P1 putih milik Kevin ini sudah melaju seperti kecepatan cahaya. Ya Tuhan... Ada apa sebenarnya ini? Kenapa Kevin tiba-tiba seperti orang yang sedang dilanda kemarahan? Aku tidak berani lagi untuk menyuruhnya memelankan lajunya ketika kudapati ekspresi Kevin yang tampak mengerikan, sama seperti dulu.
"s**l!" umpat Kevin. Ia membanting stirnnya ke kanan dengan tiba-tiba membuat tubuhku otomatis sedikit terbentur ke pintu mobil. Aku semakin mempererat pelukanku pada Harry. Yang kukhawatirkan bukanlah diriku tapi Harry.
"Zak, cek GPS dan bawa beberapa orang ke lokasi mobilku sekarang." Kevin menjatuhkan ponselnya sembarang.
"Kevin ada apa?" tanyaku terheran-heran sekaligus ketakutan. Jantungku berdebar cepat seperti laju mobil ini.
"Tidak ada apa-apa Luna," jawabnya tenang. Suaranya sangat terdengar jelas sedang berpura-pura tenang.
Aku melirik ke spion tengah. Terlihat ada empat mobil sedan di belakang mengikuti mobil kami dengan laju yang tidak kalah cepat dengan Kevin. Kevin menginjak pedal gasnya semakin dalam hingga kecepatan mobilnya sudah berada di titik kecepatan maksimal. Tubuhku seketika mengeluarkan keringat dingin. Aku seperti merasa ingin mengeluarkan seluruh isi perutku.
Mobil kami kini diapit dua mobil sedan yang sedang mengejar kami. Laju mobilnya berkejar-kejaran dengan laju mobil Kevin. Sementara mobil sedan yang satunya berada di belakang-begitu dekat.
"Kevin mengapa mobil-mobil itu mengejar kita?" tanyaku panik.
"Aku juga tidak tahu tapi kau tidak perlu khawatir. Kita akan baik-baik saja," ujar Kevin yang berusaha menghilangkan kepanikanku.
Mobil sedan di sisi kananku berhasil menyalip ke depan dan mobil itu berhenti mendadak sekitar 7 meter di depan kami. Kevin sontak membanting stirnya dan menginjak rem mobilnya untuk menghindari tabrakan. Aku dan Harry hampir saja terbentur ke depan jika tangan kananku tidak menahan tubuhku. Kurasakan mobil ini sudah benar-benar berhenti dan tidak beruntungnya, mobil kami di kelilingi oleh empat mobil sedan sehingga mobil kami tidak dapat bergerak sama sekali.
Selang beberapa detik, orang-orang yang berada di dalam mobil-mobil sedan itu keluar menuju kami, memaksa kami keluar dari mobil. Kira-kira ada delapan atau sembilan orang. Entahlah. Mereka cukup banyak. Aku semakin panik dan ketakutan mendapati mereka membawa s*****a tajam. Kami tidak mungkin berdiam diri di dalam mobil dan tidak mungkin juga keluar dari mobil.
"Kevin," panggilku, suaraku bergemetar diiringi detak jantungku.
Kevin menggenggam tangan kiriku kuat-kuat. "Luna kunci mobil ini. Aku akan bereskan mereka."
Aku menarik tangan Kevin yang hendak pergi keluar dari mobil. Aku yakin wajahku sudah sangat pucat dan ketakutan.
"Tidak Kevin. Aku tidak mau kau keluar dari mobil ini. Mereka terlalu banyak."
"Aku bisa mengatasinya. Kau tidak perlu khawatir," ujarnya. Kevin menyingkirkan tanganku dengan lembut. "Yang perlu kaulakukan adalah mengunci mobil ini dan jangan sampai Harry terbangun."
Kevin pun keluar dari mobil dan aku secepat kilat mengunci mobil. Kulihat setengah dari mereka menyerang Kevin dan sisanya masih berusaha memaksaku untuk keluar dari mobil.
Pintu mobil di sisiku berusaha di buka paksa oleh orang-orang itu. Kevin yang melihat itu, langsung menuju ke sisi pintu mobil dan menyeret mereka menjauh. Aku dapat melihat jelas bagaimana Kevin meninju dan menendang mereka secara cepat dan bagaimana mereka memberi pukulan di perut dan wajah Kevin.
Aku segera mengambil ponselku dan menelepon Zak. Kepanikanku semakin bertambah saat nomor Zak tidak dapat dihubungi.
BUGG
"Kevin!" Jeritanku tertelan saat melihat Kevin terlempar lemah ke bagian badan depan mobil. Wajah Kevin sudah babak belur dihiasi oleh cairan merah segar. Aku ingin sekali keluar dari mobil ini tapi aku tidak mungkin meninggalkan Harry.
Salah satu dari mereka memegang pisau dan hendak menancapkannya ke punggung Kevin. Aku berteriak sekaligus menangis melihat kejadian yang berada di depanku yang dihalangi kaca mobil. Pisau itu sudah melayang di udara, siap untuk menusuk punggung Kevin yang tidak berdaya lagi. Aku lebih merasakan pisau itu akan menancap jantungku daripada Kevin.Ya Tuhan, selamatkan Kevin, gumamku cemas dan penuh harapan. Tubuhku terguncang hebat saat melihat pisau itu bergerak ke bawah. Dengan refleks aku memejamkan mataku. Aku tidak sanggup jika harus melihatnya. Kupeluk tubuh Harry kuat-kuat dan membenamkan wajahku di kepalanya.
"Kevin!" teriakku saat aku merasakan sesuatu yang menyakitkan dalam diriku.
Detik itu aku merasakan kematian hanya beberapa inci di hadapanku.