Kevin's POV
Kevin menatap berkas-berkas kerjanya yang harus dia tanda tangani. Tumpukkan berkas itu membuatnya tambah tidak selera untuk berlama-lama di kantor. Kevin ingin segera pulang menikmati waktu bersama dengan Luna dan Harry dibandingkan harus duduk di kursi besarnya. Tapi jika ia tinggalkan kantornya terlalu lama, Kevin bisa darah tinggi karena sebelumnya selama satu minggu ia tidak datang ke kantor dan hasilnya perusahaannya mendapat kerugian yang cukup besar. Lihatlah betapa berpengaruhnya seorang Kevin Sanders dalam mengelola perusahaannya.
Kevin memasuki ruang rapat dan para staff-nya sudah menunggu dengan waswas. Mungkin mereka khawatir akan dipecat karena kinerja mereka tidak becus selama Kevin tidak ada? Berdoa saja semoga aku sedang berbaik hati, gumam Kevin.
"Baru satu minggu aku absen dan lihat kerugian perusahaan yang kudapatkan bagaikan aku tidak masuk selama setahun." Kevin menjaga nada suaranya agar tidak menggema di ruangan rapat.
Ruangan ini menjadi panas. Mereka-para staffnya hanya menunduk. Kevin bisa merasakan mereka ketakutan. Apa aku semenakutkan itu? Rasanya aku ingin mengaca melihat rupaku, ucap Kevin pada dirinya sendiri.
"Apa bos kalian sedang berada di lantai sehingga kalian menatap ke bawah?" tegur Kevin dengan suara beratnya yang tegas. Kevin ingin sekali menyambar mereka dengan berbagai cacian tapi ia tahan.
Mereka serentak menegakkan kepalanya dan menatap Kevin dengan tatapan waswas.
"Kalian ingin kupecat?" tanya Kevin masih dalam keadaan normal walau jauh di lubuk hatinya, ia begitu kesal.
Wajah mereka yang sudah panik bertambah panik dan pucat. Kevin ingin mereka bicara tapi sepertinya mereka lebih memilih di pecat. Jangan salah, jika Kevin pecat mereka semua dalam hitungan satu jam ia sudah dapat pegawai baru yang kecerdasannya memang pantas untuk bekerja di perusahaannya. Tidak mudah untuk bisa masuk ke perusahaannya begitu saja, banyak seleksi yang ketat yang harus mereka lewati jika ingin bekerja di perusahaan Kevin dan perusahaannya sudah memiliki cadangannya jika sewaktu-waktu Kevin memecat mereka.
"Kate, pecat mereka semua," ujar Kevin dingin pada sekretarisnya.
"Pak..."
"Pak Kevin..."
Mereka berbondong-bondong memanggil nama Kevin.
"Saya sudah memberi kesempatan kalian bicara tapi mengapa baru bicara saat saya mengatakan kata pecat?" Kevin berdiri dari posisi duduknya. Lama-lama berada di sini bisa membuatnya tidak dapat menahan emosi yang sudah berada di ujung tanduk.
Tok...tok...tok
Pintu besar di buka perlahan. Kevin menatap siapa yang berani mengetuk pintu di saat emosinya hampir tidak tertahankan. Kevin bersumpah akan memarahinya.
"Ma-maaf Pak, Nyonya Luna datang."
Kevin tidak tahu kenapa tiba-tiba Luna datang ke kantornya tanpa memberi tahu terlebih dulu. Ingin Kevin cepat-cepat menyeret kakinya pada Lunanya dan meninggalkan pegawainya di sini, tapi Kevin harus tetap profesional.
"Suruh tunggu istriku di ruanganku," perintah Kevin. Tidak tahu kenapa ia bangga sekali menyebutnya istrinya di depan umum. Terlihat bodoh memang, tapi inilah yang namanya cinta. Tidak peduli jika terlihat i***t sekali pun.
Pintu besar itu kembali di tutup. Kevin menyunggingkan senyuman, tidak sabar ingin menghampiri istrinya. Tahan Kevin, tahan, batinnya berbicara. Mereka staff Kevin menatap Kevin dan ikut tersenyum ketika Kevin menyunggingkan senyuman. Kevin langsung membetulkan posisi bibirnya menjadi sebuah garis lurus yang tertutup rapat menyadari mereka memperhatikannya.
"Jadi...siapa yang tidak ingin kupecat?" tanya Kevin bermaksud memberi kesempatan pada mereka. Beruntung untuk mereka karena mood Kevin sedang membaik, matahari sedang menyinari hatinya. Jika tidak, Kevin sudah menyuruh mereka untuk angkat kaki dari tadi.
Mereka mengangkat tangan mereka sambil menundukkan kepala. Sungguh, Kevin tidak ingin mempunyai staff seperti mereka yang tidak berani memandang bosnya. Kevin bukan hewan buas yang akan menerkam mereka jika mereka menatapnya.
"Bagus jika kalian masih ingin bertahan di sini. Buktikan kinerja kalian dengan cara meningkatkan nilai saham dalam waktu dekat," papar Kevin datar.
"Tapi Pak bagaimana kita bisa menaikkan saham dalam waktu dekat?" tanya salah satu staff Kevin yang berjenis kelamin laki-laki.
Pakai otakmu, umpat Kevin kesal. Emosinya baru saja terbang namun angin mengembalikan asap-asap kemarahannya dalam diri Kevin.
"Ada yang ingin bertanya seperti tadi?" Kevin menekankan setiap kata yang ia lontarkan.
Mereka diam dan Kevin menatap pria yang pertanyaannya tidak berbobot itu. "Kalian bisa menjatuhkan nilai saham perusahaanku dalam waktu dekat dan salah satu dari kalian bertanya bagaimana caranya?!" Kevin menggebrak meja persegi panjang hingga membuat mereka hampir berdiri dari duduknya. "Tanya pada diri kalian bagaimana caranya menaikkan nilai saham! Aku tidak ingin mempunyai pekerja yang otaknya berada di dengkul. Aku yakin kalian semua lulusan sarjana dari universitas ternama tapi sepertinya aku lebih memilih lulusan SMA yang mempunyai kreatifitas lebih tinggi daripada kalian yang gemar memamerkan almamater kalian." d**a Kevin naik turun. Pada kenyataannya Kevin memang lebih memilih orang yang lulusan biasa tapi pintar menempatkan dirinya daripada lulusan populer yang tidak mempunyai kemampuan yang sebanding dengan ijazah mereka. Asal kalian tahu saja, yang menempati posisi cukup penting di perusahaan Kevin adalah lulusan SMA namun mereka mempunyai kinerja yang memuaskan.
"Jika kalian tidak dapat memuaskanku dengan kinerja kalian. Kalian tahu akan kemana nasib kalian," ujarnya dengan nada mengintimidasi sambil membenarkan posisi jasnya, "selamat bekerja keras," lalu Kevin keluar dari ruang rapat.
Ketika Kevin membuka pintu besar, ia menemukan Luna sedang berdiri di depan ruang rapat. Luna langsung memberi tatapan mengerikan pada Kevin. Katakan, apa Kevin melakukan kesalahan? Atau ia membuatnya menunggu terlalu lama?
"Maafkan aku membuatmu menunggu. Ayo kita ke ruangan kerjaku." Kevin menarik pinggang Luna mendekat padanya namun Luna menepis tangan Kevin."Ada apa sayang?"
Luna mengabaikan Kevin. Ia menatap ke dalam ruangan rapat yang masih utuh dengan para staff. Kevin mengekori tatapan Luna. Apa yang dia cari?
"Aku dengar tadi kau mengoceh."
Lalu apa hubungannya dengan Luna? Kevin memarahi staffnya, bukan memarahi istrinya. Kenapa Luna yang kesal? Apa itu karena hormon kehamilannya?
"Pak, besok kita ada rapat dengan Liam Richard. Apa perlu jadwalnya kuundur mengingat besok kita mempunyai jadwal yang cukup padat?" Kate datang begitu saja.
Kevin melirik Luna. Luna sepertinya sedang memandangi Kate, entah apa yang sedang Luna perhatikan tentang Kate sekretaris Kevin.
"Tidak perlu," kata Kevin lembut lalu Kate mengangguk dan melangkah menjauh dari hadapan mereka. Sepertinya Luna benar-benar tidak menyukai Kate. Pertama kali Luna bertemu Kate, Kevin sudah memperhatikan bagaimana cara Luna memandanginya dengan tidak suka.
Kevin membawa Luna ke ruangannya. Luna duduk di kursi besar Kevin, kakinya ia lipat menyamping. Dia cocok menjadi bos jika duduk di kursi Kevin. Luna sedari tadi menatap Kevin dengan tatapan yang membuat Kevin cemas. Ada apa dengannya?
"Kevin kau harus sering memberikan senyummu pada pegawai-pegawaimu agar mereka tidak tegang melihatmu. Kau itu mengerikan jika mulutmu terkatup rapat tanpa ekspresi apa pun," celotehnya. Luna melipat kedua tangannya.
Kevin duduk di mejanya. Ia membungkukkan tubuhnya untuk mensejajarkan posisinya dengan Luna. "Apa aku semengerikan itu?" tanya Kevin lembut.
Luna mengangguk. "Dan apakah sekretarismu selalu pergi ke kantor dengan pakaian yang minim?" tanyanya tak suka.
Kevin tahu Luna sedang cemburu. Ingin sekali memancingnya untuk tambah cemburu padanya tapi ia urungkan niatnya. Mood Luna belakangan ini sedang tidak stabil, jika dia marah dia bisa mengancam Kevin untuk tidur di kamar lain. Kevin sebagai pria normal tentu menolak mentah-mentah ancamannya itu. Tidur seranjang tanpa menyentuhnya dengan intim saja sudah membuat Kevin frustrasi sendiri, apalagi jika tidak tidur dengannya?
"Aku tidak tahu. Aku tidak pernah memperhatikan cara berpakaian karyawanku," jawab Kevin. Ia mendekatkan bibirnya di bibir Luna. "kau cemburu Luna sayang?" bisik Kevin tepat di depan bibir Luna yang menggiurkan untuk dicicipi.
"Kauingin aku menjawab apa? Ya?" Luna mamalingkan wajahnya hingga bibir Kevin menyentuh daun telinga Luna. "aku tidak suka kau bekerja dengan wanita seksi. Kau bisa saja tergoda, apalagi kondisiku yang sedang hamil seperti ini dan berat badanku bertambah. Tapi Kevin aku lebih seksi darinya!"
Kevin tergelak.
"Tentu Luna. Kau lebih seksi darinya, dari siapa pun. Aku tidak bisa tergoda dengan wanita mana pun kecuali dengan bidadari yang sedang bersamaku," goda Kevin.
Luna menatap Kevin, ia berdecak lidah. "Rayuanmu berlebihan Tuan Sanders, aku geli mendengarnya." Luna terkekeh.
Kevin menarik dagunya lalu mengecup bibirnya. "Kenapa kau tiba-tiba kemari?"
Luna menggidikkan bahunya. "Aku bosan di rumah terus, apalagi Harry sedang sekolah," keluhnya. "Kevin izinkan aku bekerja."
Kevin diam sesaat. Apa lagi yang ingin dia lakukan? Kevin tidak bisa membiarkannya banyak melakukan aktifitas. Luna harus banyak istirahat. Ia tidak ingin kandungan Luna kenapa-kenapa. Luna ikut diam, menunggu jawaban Kevin. Dari tatapannya ia sangat berharap Kevin mengizinkannya.
"Bukannya kau sudah bekerja?"
Dahinya berkerut. "Bekerja apanya? Aku hanya diam di rumah kau bilang itu bekerja?"
Kedua lutut Kevin kini menyentuh lantai, berlutut pada Luna. Kevin menggenggam tangan Luna dengan lembut lalu mengecup setiap jari lentik milik Luna. "Kau sudah melakukan banyak pekerjaan. Setiap hari kau bekerja. Malah pekerjaan kau lebih mulia daripada pekerjaanku dan pekerjaanmu juga tidak bisa di bayar dengan uang. Mengurus anak, suami, dan rumah adalah pekerjaan terberat dan juga mulia di dunia ini. Jadi kau mau bekerja apa lagi? Tidak ada pekerjaan yang lebih mulia dibandingkan mengurus anak dan suami," tutur Kevin, menyunggingkan senyuman. Kevin harap Luna mengerti ucapannya.
Bisa ia tangkap Luna sedang tersenyum lembut. Luna seperti kehilangan kata-kata untuk merespon ucapan Kevin.
"Kuharap kau tidak memintaku untuk mengizinkanmu bekerja hal yang lain. Jika kau bosan di rumah, kau boleh datang ke kantorku setiap hari," lanjut Kevin setelah selang beberapa waktu. Kevin memperhatikan perut Luna yang sedikit mulai membesar.
"Benarkah?" wajahnya berseri-seri.
Kevin mengangguk. Apa pun asal dia senang. Kevin harus bekerja ekstra jika Luna setiap hari datang ke kantornya. Karena bisa ia pastikan otaknya tidak dapat berfungsi normal dengan keberadaan Luna.
"Kevin mengapa kau cepat sekali bermetafora?" tanyanya.
Kevin mengerutkan dahinya tidak mengerti maksud dari ucapan Luna.
"Tadi kau marah-marah pada pegawaimu, sekarang kau bersikap lembut," papar Luna seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "jangan terlalu keras pada mereka. Aku kasihan melihat mereka ketakutan."
"Ya baiklah," ujar Kevin pasrah. Kevin mengelus perut Luna lalu memberi kecupan pada calon anaknya. "Sekarang kau pulang ya? Harry pasti mengomel jika mommynya tidak ada di rumah. Aku akan menyuruh Zak mengantarmu."
Luna mengangguk. Kevin mengantarnya sampai ia masuk ke dalam mobil. Sepanjang jalan menuju ke ruangan Kevin, Kevin tidak bisa untuk tidak tersenyum. Dan para karywannya pasti terheran-heran akan perubahan sikapnya.
*****
"Kau yakin dia orangnya?" tanya Kevin pada Zak.
Zak mengangguk. Beberapa jam yang lalu Zak memberiku info yang cukup mencengangkan. Info yang sudah Kevin kubur bertahun-tahun silam. Kevin sudah melupakan kejadian itu bahkan memaafkan pelaku yang telah memporak-porandakan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Tapi sepertinya dia masih belum puas. Sungguh, apa dia tidak mempunyai kehidupan lain? Kevin pikir dia akan menyesal. Tidak kah dia sudah senang hidupnya dulu lebih di pilih daripada hidup Kevin?
"Sepertinya kita harus berhati-hati. Dia bisa saja melakukan hal di luar dugaan kita," imbuh Zak.
Kevin menatap jendela yang besarnya sama dengan dinding ruangannya. Gedung-gedung pencakar langit menjadi pemandangan biasa di matanya. Fajar mulai terbenam menggantikan sore menjadi malam.
"Kapan Joe akan keluar?"
"Minggu depan. Mengenai Joe, kukira dari awal dia tahu siapa yang menjebaknya hanya saja dia lebih memilih diam."
"Aku tahu siapa orang di balik yang menculik Luna pada malam Joe ditangkap polisi. Tapi aku tidak ingin memperpanjang masalahnya," kata Kevin.
Kevin menghela panjang. Semuanya harus baik-baik saja. Tidak boleh ada korban jiwa lagi. Ia tidak ingin melihat orang-orang yang tidak bersalah menjadi korban, persis seperti 9 tahun silam. Istri dan putri Joe meninggal dengan mengenaskan, di bunuh.
Kevin mengkhawatirkan satu hal. Orang yang dimaksudnya akan berusaha menyakiti Luna atau pun Harry. Tidak bisa kah hidup berdamai saja?
Tiba-tiba ponsel Kevin berdering keras. Langsung ia terima telepon itu dengan senyum yang mengembang.
"Kevin bisa kau pulang sekarang?" suaranya terdengar cemas.
"Ada apa Luna?" tanya Kevin cemas, "kau baik-baik saja? Apa perutmu sakit?"
"Bukan itu...," Luna menggantungkan kalimatnya, "ada A-adam di rumah ingin menenuimu," suaranya nyaris tidak terdengar di telinga Kevin.
Kevin langsung menegang mendengar nama pria yang pernah singgah di hati Luna, dan mungkin saja Luna masih menyimpan sedikit perasaan untuk Adam. Jujur saja, aliran darah Kevin terasa mendidih ketikavAdam menampakkan wajahnya kembali. Membuka luka lama Kevin.