"Dokter Mitha!"
Panggilan itu membuat Mitha spontan berbalik, dia mengenal itu suara Rio, asistennya, salah satu perawat pria di rumah sakit tempatnya bekerja.
"Ada ibu hamil, berusia 42 tahun mengalami kejang di UGD, dari ukuran dan kondisi perut seperti nya dia hamil anak kembar"
Mitha menarik nafasnya perlahan, seharusnya dia sudah berada di apartemen saat ini karena jadwalnya sudah selesai. Tubuhnya terasa lelah, dan kurang istirahat. Tapi tetap saja prioritas utamanya seorang Dokter adalah pasien.
Dia paham betul bagaimana kelelahan dan kondisi hidup seorang dokter sebelum memilih masuk ke jurusan tersebut, tetapi rasa bersalah dan cintanya membuat nya tetap memilih jalan yang sebenarnya bukan dia inginkan.
"Mietha! Mitha! Mommy pulang"
Mitha berlari sekencang mungkin, menemui sang ibu yang memang tidak tinggal bersama mereka terhitung hampir sebulan.
Sedang kan Mietha, Saudara kembarnya itu hanya berjalan. Sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan me lomba kecepatan nya.
"Mommy akhirnya pulang juga!" histeris Mitha, memeluk Nia erat.
Nia tersenyum mengelus lembut kepala putrinya, dan mengecup keningnya,"Mommy rindu kalian," lirihnya merentangkan kembali tangannya saat Mietha mulai mendekati nya.
"Kami juga Mom, hampir sebulan" cicit Mietha memeluk Nia.
"Benar, tapi perpisahan kita membuahkan hasil kan?"
Nia mengangguk pasti,"Iya dong, Mommy nggak mungkin menyia-nyiakan kesempatan. Lihat ini" jelas Nia bangga, lalu mengeluarkan piala berukuran 30cm, berbentuk mahkota wanita, berwarna keemasan dan terlihat jelas ada angka satu TOP MODEL disana.
"Yey! Kalau Mommy kalah baru aku bakalan kaget,"
"Uda dapat piala sebanyak itu, Nggak mau berhenti aja Mom? "
Mitha menggeleng keras,"Maksud kamu apa, ga bisa gitu dong. Mommy uda berusaha sampai sekarang, masa mau berhenti gitu aja sih"
"Mommy kan butuh istirahat juga,"
Nia menggeleng kan kepalanya sembari terkekeh,"Mommy ga perlu istirahat di dunia modelling kak, Kalau pun Mommy berhenti, itu berarti kalian sudah menjadi pengganti Mommy di panggung. Lima belas menit lagi kalian ada kelas kan? Cepat bersiap, Prestasi modeling kalian harus bisa lebih baik dibanding Mommy. Ingat lombanya sudah di depan mata!"
Mietha menggeleng,"Hari ini Mietha ga bisa ikut, ada bimbingan belajar di jam yang sama"
"Kak, ga bisa apa fokus ke Model dulu. Waktu kalian hanya dua bulan lagi di panggung Fashion Show. Jangan sia-siakan kesempatan dong"
Mietha tetap menggeleng,"Ga bisa Mom, Mietha tiga bulan lagi tes masuk perguruan tinggi, persiapan Mietha masih belum matang. Mietha ga mau kesempatan Mietha jadi dokter hilang gitu aja"
Mitha ingat jelas semua kenangan manis yang terkadang terasa pahit itu, yang menjadi alasan utama Mitha mengambil jurusan yang sama di tahun setelah memenangkan kontes top model terbaik tingkat nasional.
Namanya MITHA STEVANI DAMAIN, Putri bungsu, ralat putri tunggal keluarga Damain. Perawakannya cantik dan manis serta kepintarannya yang tergolong di atas rata-rata. Membuatnya bisa memegang dua profesi sekaligus.
Dia sangat menyukai dunia Model, tetapi mencintai pendidikan dokter. Kelebihan yang dia punya tentunya membuat semuanya sedikit lebih mudah. Usianya kini menginjak 28 tahun dan sudah menjadi seorang dokter spesialis kandungan dan bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta.
"Bagaimana dari hasil tes nya?" tanya Mitha setelah selesai menenangkan si ibu. Dan sekarang berhadapan dengan keluarga pasien.
Rio memberikan kertas hasil pemeriksaan pada Mitha, dibacanya perlahan dengan seksama lalu mengangguk,"Dari laporan hasil tes pemeriksaan, Istri anda mengalami Eklampsia. Eklampsia adalah komplikasi parah dari preeklampsia. Ini adalah kondisi yang jarang, tetapi berdampak serius di mana tekanan darah tinggi menyebabkan kejang selama kehamilan"
"Preeklamasia?"
Mitha mengangguk,"Benar pak, yang menyebabkan preeklampsia diperkirakan merupakan hasil dari pembentukan dan fungsi plasenta yang abnormal. Dari kondisi istri anda, Faktor risiko yang mengembangkan eklampsia selama kehamilan; usia ibu yang sudah lebih dari 35 tahun, hipertensi dan juga kehamilan kembar"
"Jadi pengobatan istri saya bagaimana dokter?"
"Kita akan pantau kondisi janin dan ibu hamil secara berkala, jadi bawa kembali istri anda seminggu ke depan atau saat mengalami kejang kembali. Jangan lupa tetap kontrol tekanan darahnya juga. Sebentar saya tuliskan resep obat pengontrol tekanan darah dan suplemen vitamin"
"Apa anak dan istri saya bisa selamat saat persalinan nanti?"
"Kita pantau saja dengan baik, jika pengobatan nya berjalan dengan baik saya pikir anak maupun si ibu bayi masih bisa selamat tetapi kemungkinan besar akan persalinan bedah sesar"
Pria itu mengangguk mengerti,"Jadi apa kami boleh pulang hari ini"
"Saya sarankan besok saja, kami harus mengecek tekanan darahnya sampai besok pagi, jika semuanya tetap normal maka sudah boleh pulang"
"Baik dokter, terimakasih banyak dokter"
Mitha mengangguk memperlihatkan senyum ramahnya lalu kembali ke pasien,"Bagaimana keadaanya? Apa sudah baikan? Atau kepala masih cenderung terasa sakit?"
Wanita itu menggelengkan kepalanya,"Sudah baikan dokter,"
"Baiklah, jika merasa ada keluhan segera laporkan pada kami yah bu. Saya minta ibu jangan bergerak dulu, bed rest dengan posisi tidur menyamping ke kiri seperti sekarang ini"
Wanita itu mengangguk,"Terimakasih dokter"
Mitha mengangguk dan akhirnya meninggal kan tempat. Akhirnya pekerjaannya selesai. Dia senang dapat membantu orang banyak, tetapi kali ini dia berharap tidak ada lagi pasien dadakan yang akan menganggu waktu istirahat nya. Setidaknya hanya untuk dua jam ke depan.
"Selesai sift?"
Rio mengangguk antusias,"Pasien tadi yang terakhir, akhirnya jam ganti juga"
"Dokter mau pulang?"
Mitha mengangguk,"Iya"
"Aku kira dokter akan tetap menginap di rumah sakit seperti beberapa hari yang lalu" cercanya sembari terkekeh.
"Kali ini mau fokus tidur serius"
"Hahahaha,"
Akhirnya keduanya berpisah di parkiran. Mitha masuk ke dalam mobilnya, sudah sejak tiga hari yang lalu mobil ini terparkir rapi di parkiran rumah sakit. Selain mengerjakan laporan, beberapa pasien mendadak kerap kali datang padanya. Itulah alasan mengapa belum sempat pulang.
Sebenarnya jika melihat jadwal, pekerjaannya tergolong mudah. Dia hanya memiliki waktu wajib masuk dari jam sembilan pagi hingga pukul tiga sore dihari senin hingga jumat.
Tetapi jika ada pasien yang berhubungan dengan persalinan dan ibu hamil maka selama dua puluh empat jam Mitha harus sedia di tempat.
Sebelum akhirnya pulang, Mitha memilih singgah di salah satu penjual roti favorit nya. Roti selai moccha yang rasanya tiada banding.
"Dokter Mitha, baru pulang kerja?" sapa ibu pemilik toko sekaligus pembuat kue.
Mitha mengangguk,"Iya nih bu, pesan lima yah bu. Selainya seperti biasa"
"Aduh, maaf dok roti moccha nya habis. Baru saja di borong sama laki-laki ganteng yang di sebelah sana"
Spontan Mitha membalikkan badannya, seketika menahan nafas setelah melihat pemandangan yang di harapan mata. Pria itu menggunakan kaos tanpa lengan yang sangat ketat membuat segala yang ada dibalik baju dapat tercetak jelas.
Jangan lupakan bulir keringat yang membuat baju dan perut six pack menempel. Sepertinya pria itu baru saja pulang gym. Dan jangan lupakan wajah tampan yang seperti nya sedang tebar pesona sembari memakan roti moccha milikinya.
Mitha secara tidak sadar menelan Saliva nya, tunggu wajah itu.
Yah Mitha jelas mengenalnya, karena itu adalah Zack. Lebih tepatnya Zachery Jovanca, saudara sepupu Auristella.
Mitha tetap melihat kepada objek yang sama. Tanpa sadar Zack kini berjalan mendekat,"Belum puas memandangi ku? Yah sudah pasti, aku tau aku tampan. Jangan lihat ke bawah, karena kau pasti tau sulit melupakan nya"
Sedetik kemudian Mitha tersenyum miring, memutar bola matanya malas,"It make my stomach turn" tandas Mitha bergidik seolah menahan mual.
"Hahahaha, jelas sekali kau terpesona pada tubuhku Mitha"
Mitha terkekeh,"Ada baiknya, kalau kau engga terlalu percaya diri Zack"
"Seperti nya kalian saling mengenal tuan, kalau boleh Dokter Mitha ingin membeli satu dari roti moccha yang baru saja tuan borong"
"Ohh, kalau begitu ambil sesuai selera mu. Aku berikan tanpa kau belikan"
Mitha menggeleng tegas, "Engga, Terimakasih"
"Kenapa?" tanya Zack maupun Ibu penjual roti bersamaan.
"Kalian memaksaku?"
"Baiklah," ucap Mitha pada akhirnya mengambil tiga buah bungkus roti.
"Aku pergi bu, terimakasih banyak"
Ibu penjual roti mengangguk sembari tersenyum ramah. Tetapi sesudah menjaga jarak dari kasir maupun orang sekitar pengunjung toko Zack mendapati Mitha.
"Mitha!"
Wanita itu berbalik dan menatapnya kembali,"Engga mau berterimakasih padaku? Jika kau lupa maka ku ingatkan, itu Roti milikku yang kau ambil secara cuma-cuma"
Mitha menggeleng,"Kau salah, karena kau lah yang memaksa tadi. Tapi begitu pun maafkan aku, terimakasih banyak"
"Ada waktu?"
"Mau apa? Kalau bukan hal penting aku engga bisa. Aku mau istirahat capek"
"Ini penting"
Mitha menghela nafas,"Baiklah, ada apa?"
"Kau suka roti Moccha?"
"ZACHERY! AYOLAH,"
Zack menggeleng,"Ini serius Mitha,"
"Kalau engga suka ngapain aku beli!"
"Siapa tau ada orang yang menyuruhmu membelinya"
"Beli roti Moccha disini sejak Kapan?"
Mitha mendengkus kesal,"Sekali lagi kau membicarakan yang engga penting aku akan pergi"
Zack menggeleng,"Jawab saja, ini penting"
"Baiklah, dari aku kecil aku lupa sejak kapan"
Zack tersenyum,"Baiklah terimakasih, pulang dengan aman. Jangan lupa istirahat yang cukup, jangan kelelahan" kata Zack kemudian mendorong Mitha untuk masuk ke dalam mobil.
"Menyebalkan! Itu sama sekali engga penting, kalau engga menghiraukan nya mungkin aku engga kehilangan lima menit waktu berhargaku"
Kekesalannya mengakibatkan perjalanan kali ini mengingat kembali sosok pria itu. Zachery, tampan dan mapan sudah menjadi ciri khasnya. Tapi menjadi pria mata keranjang sudah menjadi julukan umum untuknya.
"huft, kenapa tubuhnya bagus sekali"
Mitha memeras kemudi mobil saat bayangan tubuh mempesona Zack kembali terulang di otaknya.
"Kenapa pikiranku sejorok ini, astaga"
"Tapi badannya emang bagus sih"
Krurkk...
Suara perutnya berbunyi, pagi ini dia hanya sempat memakan satu buah apel dan s**u full cream. Dan sekarang sudah hampir pukul enam sore yang sudah pasti makan siangnya sudah sangat terlambat. Jadi tidak heran jika perutnya berbunyi.
Dibukanya perlahan satu roti, dan memakannya sembari fokus menyetir. Berusaha keras menghilangkan tubuh Zack dari pikiran nya, dan menggantinya dengan rencana yang akan dia lakukan setelah sampai di apartemen.
"Laporan dulu apa tidur yah?"
Tanya Mitha pada dirinya sendiri, menimbang-bimbang yang mana yang harus dia lakukan terlebih dahulu.
"Tidur dulu aja deh, capek. Trus setelah ini baru ngerjain laporan sambil makan"