***
"Rafly."
Perlahan manik mata itu terbuka setelah hampir satu jam tertutup. Adara mengerjap kemudian mengedarkan pandangannya hingga tak lama kedua matanya tertuju pada seorang pria yang tengah duduk di sampingnya sambil meletakkan kepala di samping tangan Adara.
"Danendra." Adara berucap pelan—membuat Danendra yang sempat terlelap seketika terbangun lalu ikut mengerjap.
"Ra, kamu bangun juga," kata Danendra.
"Aku di mana?" tanya Adara. Kesadarannya belum terkumpul, dia tak mengingat apa yang sudah terjadi padanya satu jam lalu. "Aku kenapa?"
"Kamu pingsan tadi," ucap Danendra.
"Pingsan?" Adara beringsut kemudian duduk di kasur queen size milik Muthia yang sejak tadi di tiduri. "Aku pingsan kena .... "
Adara terdiam ketika otaknya perlahan mulai bekerja—mengingat kembali kejadian apa saja yang dia alami seharian ini. Sarapan bersama Teresa, perjalanan menuju Majalengka, Sesampainya di rumah Wulan, hingga yang paling baru adalah ketika dirinya tiba-tiba saja lemas setelah melihat nama Rafly terukir di batu nisan.
"Danendra," panggil Adara sambil menatap sendu suaminya. "Danendra, Rafly ... Dan."
"Kamu kuat ya, Ra. Yang tabah," kata Danendra—merendahkan suaranya agar terdengar lembut dan menenangkan untuk Adara.
"Rafly pergi, Dan," lirih Adara. "Dia pergi ninggalin aku, Danendra."
Danendra tak tahu harus dengan cara apa menenangkan Adara, karena memang dia tak berpengalaman melakukan hal itu dan satu-satunya yang dia lakukan sekarang adalah;
Merentangkan kedua tangannya untuk Adara.
"Kamu boleh peluk aku kalau mau," ucap Danendra.
Adara yang sudah terisak memandang Danendra untuk sejenak lalu dalam hitungan detik dia menabrakkan tubuhnya lalu memeluk Danendra dengan sangat erat—disusul tangisan yang kembali terdengar.
"Kamu kuat, aku yakin itu," ucap Danendra sambil mengusap punggung Adara yang kini bergetar hebat karena isakkan tangis.
"Dia udah janji sama aku, Dan. Dia janji nikahin aku, dia janji bahagiain aku, bahkan dia janjiin kebahagiaan buat aku, tapi nyatanya sekarang apa? Dia malah pergi tanpa permisi ninggalin aku gitu aja," lirih Adara.
"Aku enggak tau harus ngomong apa buat nenangin kamu, karena aku tahu kehilangan orang yang disayang itu memang menyakitkan," ucap Danendra. "Tapi kamu harus kuat ya, Ra. Rafly di sana pasti sedih kalau lihat kamu nangis kaya gini. Ikhlasin. Rafly udah pulang. Dia udah diambil Pemiliknya lagi dan kamu harus kuat ngelepas dia."
"Sakit, Dan. Hati aku sakit," lirih Adara tercekat. "Rasanya ini kaya mimpi."
"I know, Ra, tapi aku yakin kamu bisa lalui semua ini," ucap Danendra. "Sekarang nangis aja enggak apa-apa. Kamu bisa luapkan semuanya supaya nanti perasaan kamu lebih baik."
Adara tak lagi menjawab karena yang dia lakukan sekarang justru menangis di pelukan Danendra. Dia tak menghiraukan suara tangisannya yang bahkan semakin keras karena yang ingin dia lakukan sekarang adalah; melampiaskan kesedihannya karena kehilangan Rafly.
"Manusia hanya bisa berencana, Ra. Yang menentukan semuanya tetap Tuhan," ucap Danendra ketika isakkan tangis Adara mulai terdengar pelan. "Percaya aja mungkin semua ini emang rencana terbaik Tuhan buat kamu."
Adara melepaskan pelukannya lalu memandang Danendra dengan kedua mata yang sembab.
"Mata kamu bengkak," kata Danendra. Dia kemudian mengedarkan pandangannya lalu mengambil beberapa lembar tisu dari atas meja.
Pelan, Danendra mengusapkan tisu itu di wajah Adara yang sudah sembab karena terus menangis.
"Jangan sedih berkepanjangan ya, Rafly nanti sedih," kata Danendra.
"Dan," panggil Adara dengan suara yang parau.
"Ya?"
"Aku mau ketemu Rafly."
"Ketemu Rafly?" Danendra menaikkan sebelah alisnya, hingga selang beberapa detik dia paham maksud istrinya itu. "Kuat? Aku takut kamu pingsan lagi."
"Kuat," jawab Adara pelan disertai anggukkan kepala.
"Ya udah ayo berdiri pelan-pelan," ucap Danendra.
Beranjak lebih dulu, hati-hati sekali dia membantu Adara untuk beranjak dari kasur, tapi nyatanya ungkapan 'kuat' Adara berlawanan dengan kedua kakinya yang bahkan sangat sulit diajak berdiri.
Entah kenapa—meskipun tangis Adara sudah mereda juga kesedihan yang perlahan mulai berkurang, kedua kakinya tetap terasa lemas—membuatnya kini mau tak mau kembali duduk di pinggir kasur.
"Kenapa?" tanya Danendra khawatir.
"Kaki aku rasanya masih lemes, enggak tau kenapa," ucap Adara.
"Seriously?" tanya Danendra dan Adara hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu setelah itu Danendra tiba-tiba saja berjongkok untuk memijat kedua kaki istrinya itu. "Sakit enggak?"
"Enggak, cuman lemes aja," kata Adara.
"Ya udah kalau gitu," ucap Danendra. Dia yang masih berjongkok akhirnya berbalik badan hingga kini posisinya membelakangi Adara. "Naik, aku gendong kamu."
"Gendong ke mana, Dan?" tanya Adara.
"Kamu mau ketemu Rafly, kan?" tanya Danendra. "Ayo aku gendong kamu."
"Tapi kan-"
"Aku suami kamu, Ra. Udah tugasku bantu kamu, ayo naik," pinta Danendra.
Adara menatap punggung kokoh Danendra dengan tatapan ragu hingga tak lama dia memberanikan diri untuk naik ke punggung pria itu.
"Seriusan, Dan. Enggak apa-apa?" tanya Adara.
"Enggak apa-apa, Ra. Ayo," kata Danendra. "Pegangan."
"Iya."
Adara berpegangan pada pundak Danendra lalu dalam hitungan detik pria itu beranjak. Sambil memegangi kedua paha Adara yang dibalut jeans, Danendra melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar yang sejak tadi mereka tempati.
"Mau ke mana?" tanya Wulan yang datang dari dapur.
"Mau ketemu Rafly, Bi," ucap Adara apa adanya.
"Rafly?"
"Kita mau ke makam dulu, Bi," kata Danendra. "Bibi tenang aja, saya jagain Adara."
"Oh ya sudah hati-hati."
"Iya."
Setelahnya, Danendra kembali melangkahkan kakinya keluar rumah. Menyusuri jalanan yang sama, dia membawa Adara kembali ke makam Rafly lalu sesampainya di sana, dengan sangat hati-hati Danendra menurunkan Adara.
"Makasih, Dan."
"Sama-sama."
Duduk langsung di atas tanah, Adara mengulurkan tangannya lalu dengan lembut dia mengusap nisan bertuliskan nama calon suaminya itu.
Sesak di d**a kembali Adara rasakan ketika bayangan-bayangan indah kebersamaan dia dan Rafly selama delapan tahun bersama, kembali berputar-putar layaknya kaset usang yang harus dikenang kembali.
'Semoga hanya maut yang memisahkan kita ya, Ra.'
Ucapan Rafly di taman kantor sore itu kembali terbersit di benak Adara. Ternyata benar. Hanya maut yang memisahkan dia dan Rafly. Namun, sialnya maut ini datang terlalu cepat—bahkan sebelum Adara sempat bahagia bersama Rafly.
"Raf, kamu yang tenang di sana ya, aku doain kamu selalu di sini," lirih Adara tercekat, sementara air mata kembali jatuh membasahi pipi. "Meskipun aku masih sakit, bahkan rasanya sakit banget, aku akan coba ikhlas lepas kamu. Jangan khawatir, aku akan berusaha bangkit meski itu susah."
Danendra tak banyak berkata. Dia hanya memperhatikan Adara sambil sesekali mengusap bahu perempuan itu untuk menguatkannya.
"Dan," panggil Adara setelah hampir lima belas menit dia mencurahkan semua isi hatinya di depan pusara Rafly.
"Ya?"
"Rafly udah pergi, Dan," ucap Adara. "Dia benar-benar enggak akan kembali."
Danendra mengukir senyum tipis sambil mengusap puncak kepala Adara dengan lembut. "Sabar ya, Ra. Doain semoga Rafly ditempatkan di sisi terbaik di surga sana."
"Pasti, Dan," ucap Adara. Untuk beberapa detik, dia menatap Danendra. "Danendra."
"Hm?"
"Yang kita bicarain di mobil tadi lalu tentang perpisahan aku sama kamu ...." Adara menjeda ucapannya. "Boleh aku tarik semuanya?"
"Maksud kamu?" tanya Danendra.
"Pada kenyataannya aku sama Rafly udah enggak bisa bersama, Dan," ucap Adara pelan. "Boleh aku batalin niat aku buat pisah sama kamu?"