Liora Varenkov tidak pernah membayangkan dirinya sebagai pengantin. Dia selalu berpikir tentang palet warna, goresan kuas yang berani, dan aroma minyak terpentin yang membebaskan. Namun, malam ini, aroma yang mencekiknya adalah melati dan kehancuran.
Gaun pengantin putih yang dikenakannya terasa seperti kain kafan, bukan janji. Gaun itu terbuat dari sutra murni dan renda Prancis, berharga lebih mahal dari seluruh studio seninya, namun gaun itu terasa seperti karung goni yang gatal dan menahan napasnya. Lebih terasa seperti seragam pengorbanan.
Di depan cermin antik berukir emas di kamar tidur tamu yang megah dan asing itu, ia melihat bayangan yang juga asing. Matanya, biasanya berbinar dengan api kreasi, kini kusam, dibingkai oleh lingkaran hitam tipis. Rambut hitam pekatnya disanggul rapi, menampakkan lehernya yang ramping—sebuah undangan terbuka bagi rantai yang akan dipasangkan padanya sebentar lagi.
"Kamu terlihat luar biasa, Sayang," bisik Elena, ibunya. Suaranya tegang dan bergetar, tetapi dengan nada lega yang terselubung. Lega karena semua hutang telah dilunasi. Lega karena Kaelen Alistair—Kai—tidak akan menuntut darah. Setidaknya, bukan darah keluarga mereka. Hanya kehidupannya.
Liora memalingkan muka dari cermin.
"Jangan berbohong, Ibu. Ini bukan pernikahan. Ini adalah pembayaran."
Kata "pembayaran" menggantung di udara, dingin dan berat.
Lima tahun lalu, ayahnya—pria yang mencintai kemewahan tetapi tidak punya keahlian untuk membiayainya—membuat kesepakatan dengan iblis: Kaelen Alistair.
Utang judi yang berlipat ganda, perjanjian bisnis yang gagal, dan tanda tangan yang ceroboh mengikat nasib Varenkov pada sindikat yang dikendalikan oleh keluarga Alistair. Ketika jumlahnya mencapai titik yang tidak mungkin untuk dibayar, hanya ada satu aset tersisa yang diinginkan oleh Kai: Liora.
"Dia bisa saja mengambil nyawa Ayahmu, Liora," Elena memohon, air mata akhirnya membasahi lapisan riasan mahalnya.
"Dia bisa saja menghancurkan kita semua. Ini adalah kesempatan."
"Kesempatan untuk menjadi tawanan dalam sangkar emasnya?"
Liora tertawa sinis, suara itu nyaris tanpa kegembiraan.
"Ibu, dia adalah Alistair. Dia tidak memimpin dengan uang; dia memimpin dengan rasa sakit. Dia adalah Grim Reaper yang memakai setelan desainer."
Di benaknya terngiang rumor tentang Kai Alistair: Dingin, cerdas, kejam di luar nalar. Dia mengambil alih kendali sindikat dari ayahnya yang sakit-sakitan pada usia dua puluh lima, membersihkan para pembelot dengan efisiensi klinis. Dia tidak pernah berteriak. Dia hanya menghancurkan dengan kesunyian.
Pintu terbuka, dan masuklah seorang pria bersetelan hitam, tinggi, dengan ekspresi yang begitu kaku layaknya ukiran dari granit. Itu adalah Damon, kepala keamanan Kai, dan pengawal bayangan yang akan mengantarnya ke dalam neraka.
"Nona Varenkov. Waktunya tiba." Suaranya datar, tanpa emosi.
Liora menarik napas dalam-dalam, mengambil sisa-sisa terakhir dari keberaniannya. Dia adalah seniman. Jika dia tidak bisa melarikan diri, dia harus mengubah takdirnya menjadi sebuah karya seni. Atau setidaknya, bertahan cukup lama untuk melukisnya.
Liora mengangguk. "Mari kita selesaikan ini."

*****
Ruangan tempat upacara berlangsung bukanlah sebuah kapel, melainkan aula marmer di properti pribadi Alistair yang terletak jauh di perbukitan. Cahaya rembulan yang redup menembus jendela kaca patri yang besar, memberikan nuansa merah darah pada setiap bayangan. Tidak ada tamu, kecuali notaris, seorang pendeta yang tampak ketakutan, dan beberapa antek Kai yang berdiri seperti patung di sepanjang dinding.
Di ujung ruangan, di bawah lengkungan bunga mawar merah gelap, berdiri Kaelen Alistair.
Liora melangkah maju, kakinya terasa berat, tetapi punggungnya tegak. Dia menolak untuk berjalan seperti korban. Dia berjalan seperti pewaris neraka.
Kai. Dia lebih tinggi daripada yang ia ingat, dan jauh lebih mengintimidasi dalam cahaya redup. Setelan tuksedo hitamnya disesuaikan dengan sempurna, menutupi bahu yang lebar dan bingkai yang ramping namun kuat. Rambutnya hitam, dipotong pendek, dan rahangnya yang tegas tampak tajam dan sekaligus menawan.
Namun, yang paling mengganggu adalah matanya. Abu-abu perak, mata itu tidak memantulkan cahaya. Mata itu menyerapnya. Ketika tatapannya bertemu dengan Liora, rasanya seperti belati yang diasah dengan dingin menembus tulang rusuknya. Tidak ada gairah, tidak ada kehangatan—hanya analisis murni dan kepemilikan menuntut.
Ketika Liora mencapai mimbar, Damon melepaskan lengannya. Dia berdiri di samping Kai, dan keheningan di antara mereka begitu pekat hingga bisa dipotong.
Pendeta, dengan keringat dingin membasahi kerah kemejanya, memulai upacara dengan suara bergetar. Dia merangkai kata-kata tentang cinta, komitmen, dan takdir—kata-kata yang terasa sangat mengolok-olok dalam konteks ini.
Liora tidak mendengar apa-apa. Dia hanya fokus pada aroma cologne Kai—cendana dan bahaya. Dia fokus pada jarinya yang kosong, yang sebentar lagi akan dihiasi dengan simbol rantai emas.
Saatnya pertukaran janji. Kai mengucapkan janji-janjinya dengan suara bariton yang rendah, tenang, dan setiap kata adalah palu yang memakukan takdir Liora. Itu bukan janji pernikahan. Itu adalah sumpah kepemilikan.
"Apakah kamu, Kaelen Alistair, mengambil Liora Varenkov sebagai istrimu yang sah, untuk melindungi, menjaga, dan mencintainya—"
"Aku bersedia," potong Kai, tatapannya tidak pernah lepas dari mata Liora.
Ada nada di suaranya yang membuat kata "melindungi" terdengar seperti "mengisolasi," dan "mencintai" terdengar seperti "mengendalikan."
Kemudian, gilirannya. Liora menelan ludah. Pendeta memandang Liora dengan tatapan memohon, hampir memohon agar ia tidak membuat masalah.
"Dan kamu, Liora Varenkov, apakah kamu mengambil Kaelen Alistair sebagai suamimu yang sah, untuk menghormati, mematuhi, dan mencintainya, sehidup semati—"
Liora mengangkat dagunya. "Aku bersedia," katanya, suaranya pelan tetapi jelas. Dia mengucapkan kata-kata itu dengan kebencian yang dingin. Dia akan mematuhi, ya. Tapi hanya sebagai strategi. Untuk menghormati dan mencintai? Tidak akan pernah.
Kai menyeringai tipis, hampir tidak terlihat. Itu adalah seringai predator yang baru saja menjerat mangsanya.
Cincin itu. Ketika Kai mengambil cincin itu—cincin platinum tebal dengan berlian hitam yang mematikan. Liora sejenak memperhatikan tangan pria yang akan mengikatnya itu. Begitu kuat, dengan buku-buku jari yang besar, dihiasi dengan tato halus yang merayap ke bawah pergelangan. Tangan yang bisa membuat janji atau patah tulang dengan mudahnya.
Cincin itu dingin dan berat saat menyentuh kulitnya. Kai yang memasangkannya. Jari-jarinya menyentuh kulit Liora untuk pertama kalinya. Kontak itu tidak membangkitkan kehangatan. Kontak itu terasa seperti aliran listrik statis yang berbahaya— seperti peringatan dini akan badai yang akan datang.
"Dengan kuasa yang diberikan—"
"Tunggu," kata Liora.
Semua orang di ruangan itu menahan napas. Pendeta memucat. Kai tidak bergerak. Dia hanya memiringkan kepalanya sedikit, tatapannya menyuruh Liora untuk melanjutkan.
Liora menatap mata abu-abu peraknya.
"Ada satu hal yang harus aku klarifikasi," katanya, membiarkan kebenciannya bergetar di tepi suaranya.
"Aku mengucapkan kata-kata itu untuk menyelamatkan keluargaku. Tapi jiwaku tidak termasuk dalam transaksi ini, Alistair. Itu tidak dijual."
Keheningan kembali datang. Begitu panjang, begitu mematikan, sehingga dinding marmer pun terasa menegang.
Kai akhirnya tersenyum. Bukan seringai predator yang ia tunjukkan sebelumnya, tetapi senyum yang sangat menawan, membuat jantung Liora berdebar—bukan karena kegembiraan, tetapi karena ketakutan.
Kai merapatkan tubuhnya, membungkuk ke telinga Liora sehingga bibirnya nyaris menyentuh anting-antingnya.
"Tentu saja tidak, istriku," bisiknya, suaranya serak dan dalam.
"Aku tidak menginginkan jiwamu yang tawar. Aku menginginkan kepatuhan mu—dan sisa dari dirimu. Dan aku akan memilikinya."
Dia menegakkan tubuh, tatapannya kembali menjadi dingin, dan mengangguk kepada pendeta.
"Lanjutkan," perintah Kai.
"K-kalian secara resmi adalah suami istri," pendeta itu tergagap, hampir berlari menjauh dari mimbar.
Kai tidak mencium Liora. Dia hanya memegang dagu gadis berkulit pucat itu dengan jempol dan telunjuknya, memaksanya untuk menatap matanya, melakukan tatapan yang lebih intim dan mengancam daripada ciuman apa pun.
"Selamat datang di rumah, Liora," katanya.