Kalo pada akhirnya aku memberikan nomor handphoneku pada pria Dubai yang mengajakku kenalan di situs Muslimah.com di internet, pertama karena aku pikir dia pria muslim yang tidak mungkin berniat m***m padaku. Itu pertimbangan pertamaku. Kedua karena aku bisa langsung blok nomornya seandainya dia bersikap menyebalkan. Ketiga, karena dia tipe aku sekali.
Astaga…dari dulu aku suka pria pria dengan potongan rambut mendekati botak, tinggi, putih dan berwajah b******n. Gak tau ya, inikan soal selera. Rasanya keren aja dan manly. Laki banget gitu. Terlalu terlihat ningrat macam suami Nadine pun aku tidak suka, walaupun aslinya Boy, bosku itu tetap orang yang humble dan suka bercanda juga. Atau macam suami Pipit yang terlalu pecicilan pun aku tidak suka. Jadi terkesan tidak punya wibawa. Padahal juga aslinya Galih suami Pipit tipe yang serius, terutama soal pekerjaan. Ruang lingkup pergaulan Galih yang membuat Galih suami Pipit jadi selalu bersikap ramah dan banyak bercanda, kalo tidak mau di sebut pecicilan.
Tapi pria bernama Armet ini, cool keren gitu. Punya tato juga di tangannya dan menambah kesan macho gitu. Dia juga sopan dan ramah saat menegurku di chat room yang tersedia di situs online dating itu.
ARMET : hai sweetheart, are still single?. I Armet from Dubai. Can we be friends?
Itu pesan yang dia kirim padaku. Aku langsung lihat dong profil miliknya. Dan pasti ada foto foto dirinya di sana. Dari fotonya aja keceh. Ada fotonya dengan memakai jas berlatar belakang bangunan iconic di Dubai, ada fotonya yang menggunakan pakaian kerja dan di seperti ada di sebuah Rig pengeboran minyak lepas pantai. Dan ada beberapa foto dirinya yang lain, yang buat aku tertarik mengenalnya lebih baik.
Aku akan gunakan bahasa Indonesia untuk selanjutnya ya?. Untuk mempermudah aku cerita pada kalian.
Aku : ya aku single, aku berasal dari Indonesia. Senang bisa mengenalmu.
Itu jawabanku dan membuka obrolan lain sampai soal pekerjaan. Ternyata dia insiyur mesin dan bekerja di sebuah perusahaan pengeboran minyak lepas pantai. Tugasnya sebagai maintence mesin mesin pengeboran minyak dalam bentuk sebuah tim. Kesehariannya hanya di atas rig di tengah laut lepas. Lalu dia akan ada di daratan selama dua minggu setelah sebulan atau bisa dua bulan bekerja di atas rig, tergantung seberapa besar porsi pekerjaannya di atas rig. Saat dia daratan dia akan bekerja di kantor pusat perusahaan. Itu yang dia ceritakan padaku sampai kemudian dia meminta nomor handphoneku untuk mempermudah komunikasi kami. Rasa percayalah yang membuatku memberikan nomorku. Dan mulailah komunikasi kami yang jadi lebih intens dan aku nikmati sekali, waluapun dalam bentuk chat.
Aku : Apa kamu tidak merasa bosan kalo harus berbulan bulan berada di atas rig?.
Tanyaku padanya setelah kami pindah ke aplikasi WA. Dia berikan emot tertawa dulu sebelum menjawab.
Armet : Aku tidak punya pilihan. Ini soal pekerjaan dan aku harus bertanggung jawab di situ. Lagipula di atas rig sekalipun, sebenarnya seperti layaknya sebuah aparteman mewah dengan segala fasilitasnya. Di sini ada ruangan khusus untuk hiburan. Ada meja bilyar, karaoke room, restoran, bar, sampai ruangan seperti rumah sakit. Tidak membosankan sebenarnya, apalagi kalo ada perempuan.
Itu jawabanya, dan gantian aku yang tertawa.
Aku : Disana tidak ada pekerja perempuan?, atau kamu tidak punya pacar di daratan?.
Armet : Hahahaha…rasanya merepotkan seadainya aku harus berkencan dengan rekan kerjaku, apalagi di lingkungan terasing seperti ini. Kalo berjalan baik, kami aman. Kalo tidak berjalan baik, aku malas menghadapi drama wanita. Lalu soal pacar di daratan, aku pernah punya, tapi lalu dia meninggalkanku, karena aku selalu tidak punya waktu untuk kami sekedar berkencan nonton bioskop. Aku selalu sibuk darling.
Itu jawabannya. Dan aku hanya bisa berusaha mengerti.
Aku : Lalu tujuan kamu ikut online dating seperti ini?.
Chat aku lagi. Dia memberikan emot tertawa lagi.
Armet : Hanya berharap punya teman. Siapa tau ada perempuan yang mengalami kebosanan yang sama lalu bersedia melayani chat konyolku, atau melayani chat mesumku.
Aku balas emot tertawa dulu sebelum aku membalasnya.
Aku : Chat m***m?, wow, seperti apa?.
Armet : Kamu sudah pernah menikah bukan?, masa tidak pernah melakukan chat m***m dengan mantan suamimu saat kalian baik baik saja.
Jawabnya itu. Benar juga. Sepertinya aku salah saat berbohong soal statusku. Tapi sudah terlanjur. Jadi aku balas dengan emot tertawa lagi.
Armet : Okey darling, nanti kita lanjut lagi, aku harus pergi, pekerjaan memanggilku.
Ini salah satu nilai plus menjalin pertemanan dengan pria asing. Saat mereka harus melakukan tanggung jawab pekerjaan dan harus beristirahat, mereka akan melakukan itu, dan tidak memaksakan diri untuk terus berkomunikasi. Saat aku melakukan hal sama pun dengan pamit karena aku harus mengurus pekerjaan mereka tidak masalah dengan tidak baper padaku apalagi ngambek. Santai aja jawab ok lalu berpesan kalo aku free bisa menghubunginya lagi karena dia sedang free. Pernah aku abaikan chatnya sampai setengah hari karena aku sibuk, santai juga bilang tidak masalah untuk itu.
Soalnya aku pernah di dekati pria lokal yang aku kenal di lingkungan pekerjaanku, dia seorang jurnalis juga, kepala redaksi sebuah tabloid online terkenal. Duda anak dua, dan bercerai karena istrinya selingkuh. Tapi baperan dan selalu mau jadi prioritas perhatianku. Memangnya aku kurang kerjaan menghadapi chat tidak pentingnya mengarah ke lebay, kalo dia tanya aku sedang apa, aku dimana, atau aku sudah makan atau belum. Basa basi busuk sekali, di saat aku sudah cerita gimana keseharianku. Lalu soal makan, aku pasti makan kalo aku merasa lapar, mana mungkin aku diam saja dan membiarkan diriku kelaparan. Jadi malas aku tanggapi sampai aku kemudian blok nomornya karena membuat aku kesal.
“Kamu kenapa gak balas chatku?, memang susah untukmu sekedar balas chatku?. Aku lagi usaha kasih kamu perhatian loh” protesnya saat panggilannya aku jawab.
“Kamu taukan gimana sibuknya aku?” jawabku.
“Aku tau…tapi masa tidak bisa sekedar kasih kabar aku kalo kamu sedang sibuk?. Aku kan jadi tidak perlu menunggu kamu balas chat aku” sanggahnya.
Hadeh…tipe posesif kalo seperti ini, atau trauma karena pernah di khianati mantan istrinya. Kalo sudah posesif gitu, ujungnya gak akan pernah percaya pada apa yang aku katakan apalagi aku lakukan saat kami tidak bersama sama. Ini bukan bentuk hubungan yang dewasa menurutku. Umurnya sudah mau menjelang 40, sudah tidak muda lagi, dan kenyataan kalo dia punya tanggung jawab pada pekerjaan juga dan hidupnya sendiri, harusnya dia bisa mengkotak kotakkan atau membuat skala prioritas dalam hidupnya. Gak deh, aku hidup bukan untuk menyenangkan dia saja, atau focus pada dirinya saja, apalagi kami masih sekedar PDKT. Kalo kami akhirnya jadi pacar sekalipun masalah pekerjaan tetap harus jadi focus lain dalam hidup. Memangnya dari mana manusia bisa bertahan hidup kalo bukan dari hasil dia bekerja. Jadi suami istri aja tetap punya privasi masing masing dan kalo bekerja tetap mesti focus untuk kerja. Lagian memangnya baik aku atau dirinya ABG yang tidak perlu mikir hal lain selain romansa receh percintaan karena belum punya tanggung jawab lain di luar masalah cinta cintaan.
“Gini deh, supaya kamu gak perlu nunggu atau kesel karena merasa aku abaikan, lebih baik berhenti hubungi aku” jawabku.
“Kok kamu gitu sih?” protesnya.
Aku menghela nafas.
“Okey…aku cape sekali baru pulang kerja, aku mau mandi trus tidur. Kamu juga istirahat ya, selamat malam” pamitku menutup panggilan lalu dari situ aku blok nomornya.
Bodo amat dia kesal atau marah. Bukan urusanku, toh bukan siapa siapa aku. Lalu saat kami bertemu lagi di lain kesempatan, dia sudah menggandeng wanita lain. Tentu tidak buat aku merasakan hal apa pun, kami toh tidak sedekat yang dia pikir. Okey stop bicara soal ini. Cara cara PDKT yang dia lakukan benaran buat aku I’llfeel. Jadi kita hentikan bicara soal dia, okey!!.
Kita kembali ke soal si Armet, aku bilang memakai cara cara PDKT lebih selow. Kami banyak bicara, banyak mencari tau satu sama lain, sampai akhirnya aku kecewa. Semua terjadi waktu dia bilang sedang di kamarnya, dan selesai kerja.
Aku : Video call?, untuk apa?.
Tanyaku di awal setelah kami saling menanyakan kabar lewat chat.
Armet : ya, kita sudah sering chat, tapi belum pernah bertatap muka lewat video call. Aku merindukanmu sayang.
Jawabnya, dan membuatku tertawa menanggapi saat membaca chatnya.
Armet: Come on baby, jangan malu malu.
Rengeknya kemudian lewat chat.
Aku : Oke…
Akhirnya aku menyerah dan kami melakukan video call juga. Hal pertama saat akhirnya video call, adalah tertawa satu sama lain, lalu saling memuji soal betapa cantiknya aku, dan betapa kecehnya dia. Lalu candaan candaan lain yang membuat aku tertawa atau dia tertawa. Sampai kemudian…
“Kamu mau jadi pacarku?” tanyanya.
Sempat aku kaget lalu tertawa untuk menutupi rasa grogiku.
“Are you kidding me?” ejekku karena merasa tidak mungkin dia jatuh cinta padaku sekali pun kami sering berkomunikasi.
“Untuk apa aku berbohong untuk urusan serius. Aku bersungguh sungguh sayang” jawabnya.
Melayang dong, di taksir bujang Dubai keceh dan cukup mapan. Langsung terbayang macam macam dong di otakku.
“Aku bisa mengundangmu ke Dubai, lalu kita bisa berkencan. Kamu udah pernah ke Dubai?” tanyanya kemudian.
Aku menggeleng, karena belum pernah.
“Sayang sekali, padahal Dubai tempat liburan yang menyenangkan. Aku yakin kamu tau soal itu” lanjutnya.
Aku mengangguk membenarkan karena aku lebih focus pada penampakan wajahnya yang memang ganteng khas pria pria arab.
“Ya sudah, mau ya jadi pacarku, jadi kita bisa melakukan hal menyenangkan sekali pun kita berjauhan, dan membuatnya jadi kenyataan saat kita bertemu nanti” lanjutnya.
“Hal menyenangkan seperti apa yang bisa kita lakukan sementara kita berjauhan?” tanyaku lagi.
Kok aku tidak mengerti apa makudnya. Anehnya dia juga tertawa menanggapi.
“Serius kamu tidak mengerti?” tanyanya lagi.
Aku mengangguk.
“Video call s*x darling!!. maa kamu tidak tau?. Kamu sering bukan berkencan dengan pria yang kamu temui di online dating?” tanyanya lagi.
Mendadak aku mengerutkan dahiku. Sampai aku bangkita terduduk dari posisi rebahanku di ranjang.
“Aku baru tau soal ini sekarang, karena baru pertama kali juga aku bertemu dengan pria asing dan dari belahan dunia lain lewat online dating” jawabku.
Dia manggut manggut.
“Okey…tidak masalah. Aku akan mengajari caranya s*x call lewat panggilan video” jawabnya.
WHAT???, tapi di dorong rasa penasaran, aku jadi mengangguk.
“Okey…gimana caranya?” tanyaku menyerah dengan rasa penasaranku.
“Okey…wait!!. Aku ke kamar mandi dulu, nanti aku telpon kamu lagi” jawabnya.
Aku mengangguk saja. Lalu perlahan aku deg degan. Apa yang akan dia lakukan?, asli ini hal pertama yang aku lakukan. Sampai kemudian dia video call lagi. Dan astaga….waktu aku angkat, bukan lagi wajahnya yang tampak di layar handphone, tapi penampakan KENTI!!, iya p***s!!, kalo kalian tidak mengerti maksudku, alat kelaminnya yang besar dan dia pegang dengan satu tangannya. Astaga…bukan buat aku b*******h…malah aku mau muntah. Aku jadi seperti bersiap melihat tutorial pria dewasa melakukan kegiatan mastubrasi, onani, atau ngocok kenti. Hadeh….saat dia mengalihkan pada wajahnya lagi, aku langsung meringis menatapnya. Bukan karena merasa amazing mendapati kenyataan betapa besar Kentinya, tapi melihat wajah bergairahnya yang m***m sekali.
“Come on honey…kamu mau jadi pacarkukan, kamu mau aku undang ke Dubai bukan?. Ayo kita bercinta, kamu bisa mulai buka bajumu, dan memulainya dengan memainkan putingmu. Aku penasaran dengan penampakan d**a dan bokongmu yang besar” rengeknya tanpa pernah tau kalo aku justu merasa di lecehkan secara verbal.
Aku jelas langsung menggeleng. Dengan dia memintaku membuka bajuku dan menelanjangi diriku pun, aku sudah merasa di rendahkan, gimana kalo akhirnya aku bersedia melakukan vitual make love dengannya.
“Maaf…aku tidak suka melakukannya, karena aku tidak pernah melakukannya, dan aku rasa tidak mungkin sama rasanya kalo kita bercinta secara langsung” dustaku.
“No…kamu harus coba” protesnya dengan nafas terengah yang menyebalkan.
Hadeh…
“Okey…aku tinggal kamu dengan kegiatanmu, nanti kita bisa bicara lagi” pamitku.
Dia langsung mematikan panggilan dan buatku menghela nafas kasar. Tidak ada lagi chat atau panggilan lagi setelah aku menunggunya beberapa waktu. Dan itu jadi panggilan terakhir juga chat kami. Sampai pagi lagi pun tidak ada lagi kabar darinya. Aku tunggu sampai beberapa hari pun sama saja. Komunikasi kami mendadak terhenti. Sampai aku berinisiatif mengchat nomornya.
Aku : Hai apa kabar?.
Sapaku lewat chat, saat aku lihat nomornya online.
Armet : Go away from me BICHT!!.
Balasnya, dan aku langsung terbelalak.
Aku : Meaning?.
Tanyaku memastikan kata sapaan yang di tulis. BICTH, jelas bukan kata sapaan yang sopan. Biasanya dia menyapaku dengan Darling, Honey, or babe.
Armet : maksudku, jangan hubungin aku lagi. Kamu pikir, kamu siapa?. Di Dubai banyak wanita yang lebih cantik darimu dan apa kamu pikir, aku benar benar menginginkanmu?. I’m so sory, itu tidak mungkin. Jadi pergi jauh jauh dariku BICHT” ulangnya sebelum memblok nomorku.
“WHAT!!!!” pekikku pada kesunyian kamarku.
Jadi selama ini komunikasi Intens yang kami lakukan tidak berarti apa apa?. Jadi apa yang di cari dariku?. Jelas aku marah sekali. Tapi bisa apa, mau aku marah marah pun tidak bisa lagi aku hubungi. Tadinya aku mau mengchat dia lewat SMS, tapi aku urungkan. Kesannya aku apa gitu, sampai merasa perlu meluapkan betapa kecewanya aku. Apa itu cara pandangnya terhadapku saat kami berkomunikasi?, dan aku merasa isi komunikasi kami tidak mengarah ke s*x sebelumnya, yang memungkinkan dia jadi b*******h dan terangsang.
“Gimana bujang Dubai?” tanya Pipit menegurku saat kami janjian bertemu di yayasan milik keluarga Nadine.
Di banding Nadine, memang Pipit yang lebih bisa sering bertemuku, karena anak lelakinya sudah besar. Nadine belum bisa, karena putranya masih cukup kecil, dan merepotkan sekali kalo pun kami bertemu di yayasan, kecuali Boy suaminya ikutan. Sekalipun anaknya punya dua orang suster pengasuh, Nadine memang tetap memegang putranya sendiri, dan suster hanya dayang dayang.
“Males ah, belum apa apa gue mesti nonton dia punya KENTI yang gedong” jawabku.
Pipit kompak ngakak.
“Enak dong, setidaknya elo gak akan kecewa kalo akhirnya jadi laki elo” jawabnya.
Aku berdecak waktu dia ngakak lagi.
“Gue gak seputus asa itu cari laki, sampai mau aja Cuma jadi objek s*x laki arab yang kesepian di laut. Elo pikir gue bego?. Apa gue beneran bego ya Jum?” tanyaku pakai nama ledekan Pipit, Juminten.
Kalo akukan di panggil Srintil, dan selalu di singkat oleh Pipit dnegan memanggilku TIL, memang sialan sahabatku ini.
“Bego gimana sih Til?” tanyanya.
Aku berdecak lagi.
“Dengan komuk dia yang keceh, duit dia yang benyong, dan body dia yang keren, mana mungkin yakan dia gak bisa dapat perempuan yang dia mau, sekalipun cuma buat jadi teman tidur dia. Bego gue dah Jum, keburu GR duluan” keluhku.
Ngakak lagi dong Pipit, tapi aku ikutan tertawa.
“Tanda tanda tuh Til, elo mulai karatan, jadi gampang sange’an lihat lekong keceh, basah gak lo lihat dia c**i?” ejeknya lagi.
Malas aku tanggapi lagi obrolannya. Jadi aku tutup dengan melemparnya menggunakan pulpen yang aku pegang lalu dia ngakak lagi.
Sempat aku memutuskan berhenti untuk sekedar mengenal pria asing di medsos, atau situs online dating. Aku memilih focus kembali dengan pekerjaanku. Pipit pun tidak pernah bahas lagi terkait usahaku mencari pria asing sebagai pacar apalagi calon suami. Sampai kemudian notifikasi messeger dari akun facebookku memunculkan chat dari pria Amrik yang mengaku sebagai pensiunan tentara yang di karyakan lagi di daerah konflik Afganistan.
Hai..aku William Duncan, pensiunan tentara USA berusia 40 tahun, aku seorang duda dua anak remaja, dan istriku meninggal 5 tahun lalu. aku tertarik padamu, maukah kamu jadi calon istriku?.
Tanyanya pada chat panjang, dan aku tarik inti maksudnya menghubungiku. Dan memberikan pengalaman baruku yang lain dalam proses pencarian pria asing sebagai calon pacar, atau calon suami impianku.
Kalo kamu sopan, dan tidak berniat hanya sekedar mencari teman untuk melakukan s*x phone, aku tertarik mengenalmu. Tapi kalo kamu bertujuan mencari teman bercinta virtual, maaf…aku bukan orang yang kamu cari.
Itu balasanku pada pesan panjang yang dia kirim lewat DM messenger. Lalu gimana akhirnya aku bersedia memulai komunikasi antara kami, akan aku ceritakan lagi nanti. Aku perlu mengingat dulu apa yang dia lakukan dan buat aku sempat yakin, kalo dia pria bule baik dan bisa memenuhi harapan. Bule sopan yang akhirnya buat aku meleleh trus dengan kata kata manisnya, dan penuh penghargaan untukku.
Sebelum akhirnya aku setuju dengan pendapat Nadine yang aku bilang sebelumnya. BULE KALO SOPAN ITU ARTINYA BULE PENIPUAN.