Lampu ruang makan menyala sejak pukul delapan, dan jam dinding sudah menunjuk sepuluh lewat empat puluh ketika deru mobil sewaan berhenti di ujung gang.
Rani tidak berdiri. Ia duduk di kursi plastik dengan kedua tangan di atas meja, di sebelah gelas air putih yang belum disentuh. Ia sudah memakai baju salat, bukan karena akan salat, tetapi karena kain panjang itu membuatnya merasa punya dinding.
Kunci diputar. Rendi masuk sambil bersiul pelan, kemejanya kusut, tas olahraga tersandang di bahu. Siulan itu berhenti ketika ia melihat istrinya.
"De? Kok belum tidur? Abang pikir kamu sudah..." Ia tertawa kecil, menaruh tas di kursi. "Wah, lampu semua nyala. Kayak ada yang nunggu."
"Duduk, Bang."
"Abang cuci kaki dulu..."
"Duduk."
Rendi menatapnya sedetik terlalu lama. Lalu ia menarik kursi di seberang dan duduk dengan punggung tegak, seperti murid dipanggil guru.
Rani sudah menyusun kalimat-kalimatnya sepanjang sore dan sepanjang jalan pulang, dan yang tersisa sekarang hanya mengucapkannya satu per satu, pelan, seperti meletakkan kartu di meja.
"Tadi siang aku ke asrama atlet. Namamu tidak ada di buku penghuni. Tidak ada di daftar enam belas pemain yang dipaku di papan. Penjaga bilang Abang bukan atlet resmi. Sejak Desember Abang tidak pernah muncul lagi." Ia menarik napas. "Bu Bambang bilang dia tidak pernah lihat kontrak Abang."
Hening. Kipas angin di sudut berputar dengan bunyi tek-tek-tek. Wajah Rendi tidak berubah, hanya warna di pipinya yang surut pelan-pelan seperti air meninggalkan pasir.
"Siapa yang bilang begitu?" Suaranya datar, dan ia mencoba tersenyum. "Maya? Atau bosmu itu, yang dari dulu nggak suka Abang? De, mereka cuma..."
"Aku sendiri yang datang ke sana, Bang. Aku sendiri yang baca papan itu."
Senyum itu bertahan dua detik, tiga, lalu runtuh seperti kertas basah.
"Kartu laminasi yang Abang tunjukkan di toko itu apa?"
"De..."
"Aku tanya apa."
"Dibuatkan teman," ucap Rendi hampir tanpa suara. "Anak asrama yang bisa laminating. Abang memang ikut latihan di sana. Pelatihnya kenal Abang. Tapi..." Suaranya bergetar, lalu pecah. "Abang nggak pernah terdaftar. Abang ikut tes bulan September, sehari, di putaran pertama sudah dicoret. Malu, De. Abang malu. Abang sudah bilang ke semua orang."
Ia menutup wajah dengan kedua tangan, dan bahunya mulai berguncang. Rani memperhatikan itu dan menyadari bahwa tidak ada satu pun bagian dari dirinya yang bergerak ke arah sana. Setahun lalu, sebulan lalu, mungkin ia sudah berdiri memeluk. Sekarang ia hanya menunggu.
"Kebun sawitnya?"
"Punya paman. Abang kadang bantu, dapat upah harian. Itu pun nggak tiap bulan." Air mata menetes di sela jari. "Abang nggak punya gaji. Nggak punya apa-apa selain bola dan mulut ini. Abang takut kamu nggak mau, De. Abang takut kamu lihat Abang yang asli dan pergi."
"Jadi Abang bohong sebelum aku sempat lihat."
"Abang tahu salah. Abang nggak bisa bela."
"Soal obat." Rani mengucapkannya tanpa mengubah nada. "Teman Danu cerita Abang pernah pakai sabu waktu SMA. Itu benar?"
Rendi mengusap hidungnya. Lama baru menjawab, dan ketika menjawab, matanya menatap tikar, bukan wajahnya. "Dulu. Waktu SMA, ikut-ikutan teman. Mama tahu, itu yang Mama bilang nakal. Abang sudah lama berhenti, De. Sudah belasan tahun. Tangan Abang gemetar bukan karena itu."
"Kenapa tidak bilang dari awal?"
"Karena siapa mau?" Ia mengangkat wajah, basah dan memerah. "Siapa perempuan yang mau laki-laki begitu?"
Rani tidak menjawab. Pertanyaan itu terdengar seperti pertanyaan yang ia dengar dari kecil di rumah, pertanyaan yang ditujukan padanya sendiri: siapa yang mau perempuan tanpa ayah, tanpa uang, tanpa pendidikan?
Ia menunggu pertanyaan lain keluar dari mulutnya, satu nama yang berputar di kepalanya sejak pantry tadi siang, dua suku kata yang ia dengar sebagai kunci jatuh. Nur. Ia membuka mulut, dan ia merasakan sesuatu mencegahnya. Takut. Ia takut pada jawabannya lebih dari ia takut pada bohongnya. Kalau jawabannya buruk, ia harus mengemasi koper malam ini juga, dan ia tidak tahu harus membawa kopernya ke mana. Ibu sudah bilang jangan pulang.
Maka ia menutup mulutnya lagi.
"Ada satu aturan, Bang," ucapnya akhirnya, dan suaranya lebih keras dari yang ia kira. "Hanya satu. Satu kebohongan lagi, sekecil apa pun, aku keluar dari pintu itu dan aku tidak kembali. Aku tidak akan minta penjelasan. Aku tidak akan menimbang. Aku pergi."
Rendi menatapnya dengan mata terbelalak. Lalu ia turun dari kursi dan berlutut di lantai di depannya, memegang kedua tangan Rani dengan kedua tangannya yang dingin.
"Demi Allah, De. Abang bersumpah. Abang cari kerja besok pagi. Apa saja. Kuli, tukang parkir, Abang nggak peduli. Abang nggak akan bohong lagi sama kamu seumur hidup."
"Kartu ATM-ku."
"Oh. Iya." Rendi merogoh dompetnya dengan tangan gemetar dan menaruh kartu itu di meja. "Satu setengah juta, sesuai bilang Abang. Sisanya ada. Abang nggak ambil lebih."
Rani mengambil kartu itu, memasukkannya ke saku baju salatnya, dan berdiri. Lututnya hampir menekuk.
"Tidur, Bang. Besok kamu harus bangun cari kerja."
Dalam gelap kamar, ia mendengar Rendi menangis sendirian di ruang makan sampai lewat tengah malam. Dan di sela tangis itu, ia mendengar dirinya sendiri berbisik kepada langit-langit: aku bisa. Aku yang memilih. Aku bisa membuat ini jadi benar.
*****
Pagi harinya Rendi bangun lebih dulu dari Rani, mandi, dan menyetrika sendiri kemeja putih satu-satunya dengan hati-hati, seperti anak yang akan menghadap kepala sekolah. Ia memasukkan fotokopi ijazah SMA ke dalam map plastik, mengecup kening Rani yang masih berdiri di pintu kamar, dan berkata dengan suara serak, "Doakan Abang ya, De. Hari ini Abang mulai."
"Hati-hati di jalan, Bang."
"Abang bakal bikin kamu bangga."
Ia berangkat berjalan kaki ke ujung gang, punggungnya tegak, dan Rani mengikuti punggung itu sampai lenyap di tikungan. Sebagian dirinya, sebagian besar, ingin sekali percaya bahwa yang berjalan pergi itu laki-laki yang berjanji tadi malam. Sebagian kecil sisanya menghitung: berapa kali ia sudah melihat punggung yang sama dalam dua bulan ini, dan berapa kali ucapannya terbukti.
Ia duduk di teras dengan ponselnya. Ia menimbang satu nama di daftar kontak. Tersimpan sebagai Mama Hajjah, ia sendiri yang mengetiknya seminggu sesudah akad, jari-jarinya bingung antara dua panggilan. Ia menekannya dan menempelkan benda itu ke telinga.
"Assalamualaikum, Mama."
"Waalaikum salam, Nak." Suara Hajjah Salmah berat dan lambat, seperti orang yang baru bangun, atau yang belum tidur. "Rani. Kamu baik-baik saja? Rendi baik-baik saja?"
"Mama..." Rani menelan ludah. "Rendi tadi malam cerita, Ma. Soal seleksinya. Soal kebun, soal pekerjaan. Dia bilang semuanya... tidak seperti yang dia ceritakan."
Hening. Cukup panjang sampai Rani mengira sambungan putus. Lalu terdengar isakan, kecil, ditahan, dan seorang perempuan tua yang menarik napas bergetar.
"Mama sudah tahu dia berbohong."
Rani menegakkan punggung. "Mama sudah tahu?"
"Sebagian, Nak. Mama pikir... Mama berharap setelah menikah dia berubah. Mama sudah bukan ibu yang baik untuk dia, jadi Mama... Mama kira kamu yang bisa." Tangis itu pecah. "Maafkan Mama. Mama berharap kamu bisa."