Sup ayam itu mengepul di dua mangkuk di atas tikar, dengan irisan wortel yang terlalu tebal dan seledri yang dimasukkan terlalu cepat. Rendi menuang kuah ke mangkuk Rani sambil bercerita tentang anak gempal yang terpeleset di lapangan, dan betapa anak itu tadi pagi membawakannya sebungkus kerupuk sebagai tanda terima kasih.
"Namanya Dimas. Pipinya kayak bakpao. Kalau sudah besar nanti Abang yakin dia jadi kiper."
Rani mengaduk supnya. Uapnya naik ke wajahnya, dan ia baru sadar tangannya masih basah oleh hujan.
"Bang."
"Hm?"
"Tadi sore aku ketemu Nur."
Sendok di tangan Rendi tidak jatuh, tidak bergetar. Ia hanya berhenti, dengan mulut setengah terbuka, seperti kaset yang ditekan jeda. Lalu pelan-pelan ia meletakkan sendok itu di pinggir mangkuk.
"Di mana?"
"Di depan toko. Duduk di bangku. Dia datang jauh-jauh, memakai blus krem, bawa tas hitam. Perempuan yang sama yang berdiri di pagar GOR waktu itu." Rani menatap uap, bukan wajahnya. "Dia bilang dia bukan sepupu."
"De..."
"Dia bilang awalnya Abang mendekati aku karena cuma mau merasakan perawan sekali, lalu pulang ke dia."
Kalimat itu tidak lagi menyakitkan ketika diucapkan ulang di mulutnya sendiri. Rani heran. Rasanya seperti membaca nama orang lain di kertas ujian.
Rendi tidak membantah. Itu yang paling mengejutkan. Ia menunduk, bahunya turun, dan ketika ia mengangkat wajah, matanya sudah basah, seperti sudah menunggu giliran untuk basah.
"Itu sebelum aku kenal kamu."
Rani merasakan sesuatu mendingin di dasar perutnya. Persis. Kalimat itu, tanpa kurang satu kata pun, persis seperti yang diramalkan Nur di bangku besi tadi sore. Hafal saja. Saya sudah dengar lima kali.
"Abang ngaku?"
"Abang ngaku, De. Waktu itu Abang memang brengsek. Abang pikir kamu seperti perempuan-perempuan lain. Tapi sejak Abang dengar suaramu di telepon, sejak Abang tahu kamu tulang punggung keluarga, kamu jaga adikmu, Abang..." Ia menarik napas yang tersendat. "Abang berubah. Beneran berubah. Nur itu masa lalu. Abang sudah bilang putus. Tapi dia nggak terima, dia buntutin Abang sampai ke sini. Abang nggak tahu dia bakal datang ke tokomu."
"Waktu Abang ke Sampit, Abang ketemu dia."
"Abang pamit baik-baik."
"Dan 'sepupu yang jaga Mama'?"
Itu yang membuat Rendi tertegun cukup lama. "Abang bohong," ucapnya akhirnya, nyaris tanpa suara. "Abang bohong soal itu. Abang takut kamu marah. Maaf. Maaf, De."
Rani berdiri.
Ia tidak terburu-buru. Ia melangkah ke kamar, membuka lemari, dan menarik koper kecil yang dulu ia pakai ke pantai. Ia memasukkan tiga potong baju, mukena, sebuah buku catatan, dan menutup resleting. Semuanya dilakukan dengan tenang, dan dari ruang makan terdengar bunyi lutut membentur lantai.
Rendi sudah berlutut ketika ia keluar membawa koper. "Jangan. De, jangan. Hujan di luar. Malam ini jangan, Abang mohon. Kalau kamu pergi besok pagi Abang nggak akan halangi, Abang nggak akan minta kamu kembali, tapi malam ini..."
"Aku bilang satu kebohongan lagi, Bang."
"Abang tahu."
"Satu."
"Abang tahu." Air matanya mengalir tanpa suara. "Abang pantas kamu tinggal. Abang cuma takut. Setiap kali Abang bikin orang kecewa, Abang tambah bohong supaya mereka nggak pergi, dan mereka tetap pergi, dan sekarang kamu juga. Tolong jangan..."
Rani berdiri di ambang pintu dengan koper di tangan, dan di belakangnya angin membawa bau tanah basah dan suara hujan yang menderas di atap seng. Ia menimbang. Pikirannya bergerak cepat, jernih, dan dingin: pulang ke rumah ibu, yang sudah berkata jangan pulang; ke rumah Maya, yang ia lukai dengan kalimat paling kejam dua pekan lalu; ke rumah kontrakan sewa enam bulan yang sudah ia bayar dari tabungannya sendiri. Dan Hajjah, yang menangis di telepon dan berkata, Mama berharap kamu bisa.
Tetapi bukan itu semua yang membuat kakinya berhenti. Ia tahu itu. Ia tidak mau jujur pada dirinya, dan sekarang, di ambang pintu ini, ia harus.
Ia tidak mau pergi sebagai perempuan yang kalah dalam tiga pekan. Ia tidak mau menjadi bukti bahwa semua orang benar sebelum ia sendiri sempat melihat sendiri. Ibu bilang ia tidak punya hak memilih; Maya bilang ia buta; Reza bilang ia ditipu. Dan Nur, perempuan dengan tas mahal dan mata sembab itu, bilang bahwa Rendi akan menangis, dan ia menangis sekarang, tepat seperti yang diramalkan. Mungkin justru itulah yang bisa ia buktikan. Bahwa ia bukan sekadar bagian dari ramalan orang lain.
"Aku tidak pergi malam ini," ucapnya. Rendi mengangkat kepala, tak percaya. "Bukan karena Abang menangis. Aku mau melihat sendiri. Bukan apa yang Abang bilang, tapi apa yang Abang lakukan, mulai sekarang. Dan Bang, kali ini aku tidak akan menimbang lagi kalau Abang bohong."
"Terima kasih, De. Terima kasih." Rendi meraih ponsel dari saku celananya dengan tangan gemetar, lalu menyodorkannya. "Ini. Periksa. Semua pesan, semua nomor. Biar kamu tenang. Abang nggak punya apa-apa lagi untuk disembunyikan."
Rani menatap benda hitam itu di telapak tangan Rendi, layarnya menyala menampilkan wallpaper bola. Ia merasakan godaan untuk mengambilnya, dan ia merasakan pula bahwa godaan itu persis bentuk jebakan: kalau ia memeriksa, ia mencari kebohongan; kalau ia mencari, ia akan menemukan sesuatu, karena orang yang mencari selalu menemukan; dan ia akan hidup sebagai penyidik, bukan istri.
"Simpan," katanya. "Aku mau percaya tanpa mengintai."
Ia tahu yang disodorkan itu bukan ponsel kecil retak yang dulu bergetar dengan nama Paman Sawit. Ia sengaja tidak menanyakannya malam ini, dan mencatat dalam hati bahwa ia sengaja.
Rendi memandangnya seakan baru sekarang melihat perempuan yang duduk di hadapannya. Tangannya yang menggenggam ponsel gemetar semakin kuat, dan ia buru-buru menyembunyikannya dengan menekuknya ke dada.
*****
Mereka tidak lagi menyentuh sup yang sudah dingin. Rani memanaskannya sendiri, dan makan sedikit, karena perutnya meminta. Rendi mandi lama sekali. Ketika ia keluar, wajahnya segar, matanya merah, dan ia langsung naik ke kasur serta memeluk bantal.
Rani merapikan ruang makan, mematikan lampu satu-satu, lalu masuk kamar dan menggantung kembali bajunya yang tadi dikemas. Ia berjongkok untuk memasukkan koper ke kolong ranjang. Di sebelahnya tergeletak tas olahraga hijau lumut Rendi, resletingnya sedikit terbuka, tersandar di dinding.
Dari celah itu keluar bau.
Samar saja. Bau yang ia kenal dari dapur ibu bertahun-tahun lalu ketika sendok plastik tak sengaja terlepas ke atas bara, hangus, manis, tajam, lalu pahit. Bukan bau keringat dan sepatu futsal. Bau plastik terbakar.
Obat yang Mbak ingatkan itu obat apa? Tanya dia sendiri, kata Nur. Itu bukan dari saya. Kalimat itu muncul begitu saja di kepalanya, bersama wajah perempuan di bangku besi yang menarik kakinya dari tepi lubang.
Rani berhenti berjongkok. Dari balik bahunya terdengar napas Rendi yang tiba-tiba terlalu teratur, seperti napas orang yang pura-pura tidur. Ia menoleh, pelan. Mata Rendi tertutup, tetapi jari tangan kirinya, di atas selimut, menggeletar.
Ia ingin bertanya. Mulutnya sudah terbuka, kata pertamanya sudah di ujung lidah. Tetapi ia teringat janjinya sendiri satu jam lalu dan teringat pula apa yang akan ia dengar sebagai jawaban: mungkin pembersih sepatu, mungkin plastik bekas bola. Penjelasan yang masuk akal. Penjelasan yang selalu masuk akal.
Rani menutup resleting tas itu, mendorongnya ke sudut lebih jauh, dan berbaring membelakangi suaminya.
"Jangan dibuka tasnya, De," ujar Rendi pelan, tanpa membuka mata. "Isinya cuma sepatu basah sama baju kotor."
Rani tidak menjawab. Sepanjang malam hidungnya tetap mencium bau itu, walau resleting sudah tertutup rapat.