Tok tok tok.
Ketukan itu pelan dan ragu, seperti ketukan orang yang tidak yakin berhak masuk. Rani sudah terjaga sejak kokok ayam pertama, berbaring di kasur lipat ruang tengah rumah Maya dengan mata terbuka, dan ia yang bangkit lebih dulu membuka pintu sebelum Maya atau Danu sempat keluar kamar.
Hajjah Salmah berdiri di teras dalam gelap subuh. Kerudung sutranya kusut, riasan matanya luntur, dan anting berlian di telinganya satu-satunya benda yang masih tampak rapi. Di belakangnya, sopir sewaan menurunkan sebuah tas kecil dan segera pamit dengan wajah tidak enak.
"Nak."
Hanya itu. Hajjah memandang Rani, memandang jejak biru di lengannya yang belum tertutup lengan baju, dan lututnya menekuk. Rani menangkapnya sebelum ia benar-benar jatuh, dan mereka berdua terduduk di lantai teras yang dingin, berpelukan seperti dua orang yang sama-sama terdampar.
"Maafkan Mama. Ya Allah, maafkan Mama."
Mereka baru bicara di ruang tamu, setelah Maya menyodorkan teh panas dan menghilang bersama Danu ke dapur. Hajjah memegang gelasnya dengan dua tangan, tetapi tidak meminumnya. Dari celah pintu dapur Rani melihat Danu sedang menggoreng telur dengan gerakan canggung, dan Maya, yang biasanya tidak bisa menyembunyikan apa pun, menutup mulut dengan sendok.
"Mama bukan tidak tahu, Nak," ucapnya pada permukaan teh. "Waktu Rendi SMA, Mama sudah dengar dia pakai. Waktu dia dewasa, dua kali Mama bayar utang judinya, tiga puluh juta, empat puluh juta, dan dua kali dia janji. Mama pikir kalau dia menikah dengan perempuan baik-baik, dia akan malu berbuat begitu. Mama pikir..." Suaranya pecah. "Mama pikir kamu bisa menyelamatkannya. Mama memakai kamu, Nak. Mama jahat."
Rani meletakkan kantong plastik hitam itu di meja, di antara mereka, dan membuka ikatannya. Hajjah melihat bungkusan koran, melihat isinya, dan menutup mulut dengan tangan yang cincinnya berdenting di gigi.
"Itu ada di tas olahraganya, Ma. Sudah lima hari bau, dan aku baru berani membukanya kemarin." Rani menjaga suaranya tetap datar, karena kalau tidak, ia tidak yakin bisa melanjutkan. "Aku tidak ingin Mama minta maaf lagi. Aku ingin Mama dengar apa yang akan aku lakukan."
Hajjah mengangkat wajah.
"Rendi harus masuk rehabilitasi. Menetap. Ada panti di Banjarmasin yang menerima, lima minggu, tanpa ponsel dan tanpa kunjungan, supaya tidak ada yang bisa dibujuk atau ditipu. Biayanya Mama yang tanggung, bukan aku, bukan ibuku. Dan Rendi harus setuju di depanku, bukan di depan Mama saja." Rani menarik napas. "Kalau dia menolak, atau kalau dia keluar dan kambuh, aku menggugat cerai. Aku bilang di depan Mama, supaya tidak ada yang bilang aku tidak memperingatkan."
Hening sebentar. Dari dapur terdengar bunyi sendok yang jatuh, dan Danu bergumam minta maaf pada seseorang.
"Mama sudah menyiapkan itu, Nak." Hajjah merogoh tasnya, mengeluarkan kertas yang dilipat empat. Brosur dengan gambar rumah sederhana dan taman, nomor telepon dengan angka tulisan tangan di pinggirnya. "Dari kenalan Mama di Sampit, anak lelakinya pernah di sana. Mama bawa uang mukanya. Mama sudah siap kalau kamu bilang apa pun, termasuk kalau kamu bilang pergi dan tidak mau melihat Mama lagi."
"Aku tidak bilang begitu."
"Terima kasih," bisik Hajjah, dan menangis lagi.
"Mama juga harus tahu satu hal lagi." Rani menyentuh perutnya, dan Hajjah menatap telapak itu seolah baru melihat sebuah alamat. "Saya hamil. Hampir delapan minggu."
Gelas di tangan Hajjah bergoyang dan tehnya tumpah ke pangkuan, tetapi ia tidak menyekanya. Bibirnya bergerak tanpa suara, menyebut sesuatu yang lama sekali tidak keluar dari mulutnya, yang kedengarannya seperti nama Tuhan dan nama seorang anak kecil sekaligus.
"Dan dia tahu?"
"Dia tahu. Dia bahagia sebentar, lalu bertanya uangnya dari mana."
Hajjah memejamkan mata. Itu satu-satunya jawaban yang Rani butuhkan tentang apa yang ia ketahui soal anaknya.
*****
Rani dan Hajjah naik angkot dari rumah Maya ke kontrakan sebelum petugas panti tiba. Pukul tujuh pagi, mobil putih sederhana dengan tulisan nama yayasan di pintunya berhenti di gang belakang pasar. Dua laki-laki berkaus polos turun, yang satu berkacamata, yang satu bertubuh besar, dan mereka berdiri sopan di teras kontrakan sampai Hajjah memanggil.
Rendi duduk di tikar ruang makan di tengah pecahan gelas yang tidak disapu semalam. Matanya bengkak, kaus kemarin belum diganti, dan di telapak tangan kirinya ada plester yang dipasang miring. Ia tidak berdiri ketika Rani masuk. Ia hanya memandang Hajjah, lalu Rani, lalu lantai.
"Mama sampai sudah subuh?"
"Mama bawa orang yang akan membantu kamu." Hajjah berdiri tegak sekarang, dengan suara yang Rani belum pernah dengar darinya: tidak lembut, tidak meminta. "Lima minggu, Rendi. Tanpa ponsel, tanpa Mama, tanpa Rani. Atau Rani pergi, dan Mama tidak akan menahannya."
Rendi mengangkat wajah. Matanya menyusuri ruangan, mencari celah, dan yang ia temukan hanya Rani yang berdiri di dekat jendela dengan lengan menyilang di perut.
"Aku bilang di depan Mama dan di depan mereka, Bang," ucap Rani. "Aku tidak menunggu karena kasihan. Aku menunggu hasilnya. Kalau Abang keluar dan kembali seperti kemarin, aku mengajukan gugatan, dan aku tidak akan ragu."
"Kamu... akan tunggu?"
"Aku akan periksa kandungan, makan, dan bekerja. Itu yang aku lakukan. Apa yang Abang lakukan di sana, itu urusan Abang."
Ia menunduk lama. Pundaknya turun. Ketika menjawab, suaranya nyaris tak terdengar.
"Abang mau."
"Lebih keras," kata laki-laki berkacamata, ramah tetapi tegas. "Sampaikan sendiri, Mas."
"Abang mau," ulang Rendi. "Abang mau masuk."
Mereka membawanya lima belas menit kemudian. Ia berjalan menuju mobil putih itu tanpa menoleh, dengan tas kecil berisi dua helai pakaian yang dikemas Hajjah, dan di pintu mobil ia berhenti sesaat, hampir berbalik. Si laki-laki besar menepuk bahunya dengan lembut, dan ia masuk.
*****
Siang itu rumah Maya sepi. Hajjah sudah tidur di kamar tamu setelah dipaksa Danu minum obat tekanan darahnya, dan Rani duduk di teras belakang dengan ember bunga melati yang belum disiram.
Maya muncul dengan dua gelas es sirup dan duduk di sebelahnya tanpa bicara. Mereka menatap pagar yang berkarat.
"Aku salah cara ngomongnya waktu itu, Ran," kata Maya akhirnya. "Aku kayak jaksa. Padahal yang kamu butuhkan sahabat."
"Aku yang kelewatan, May. Kalimatku waktu itu..." Rani menelan ludah. "'Aku sudah menikah, mau kamu apakan aku.' Itu kejam."
"Banget." Maya terkekeh getir, dan suaranya patah di tengah. "Tapi kamu bener juga. Aku nggak punya hak apa-apa selain sayang."
"Itu hak yang paling besar."
Maya merangkulnya, kuat, sampai gelas es sirup di tangan mereka bergoyang dan sebagian tumpah ke celana. Anehnya, tidak ada yang tertawa, dan tidak ada yang melepas.
"Kamu tinggal di sini sampai kapan pun," bisik Maya ke rambutnya. "Tapi tidur di kasurku. Kamu ngorok kalau sendirian, aku tahu."
"Aku nggak ngorok."
"Ngorok."
"Dan semalam aku belum sempat teriak," bisik Maya tiba-tiba, menegakkan badan sampai es sirupnya tumpah ke lantai. "Kamu hamil, Ran. Kamu hamil, dan aku sempat diam seperti patung. Aku tante! Aku jadi tante! Danu! Dan..."
"Jangan keras-keras, Hajjah lagi tidur."
"Aku nggak keras!" bisik Maya dengan suara yang tetap terdengar sampai pagar, lalu menangis, lalu tertawa, lalu memukul lengan Rani pelan dan segera meminta maaf karena salah lengan.