Ponsel di meja samping ranjang tidak berbunyi sepagian, dan Rani sudah memeriksanya empat kali.
Tidak ada pesan dari ibunya. Tidak ada panggilan tak terjawab. Seminggu sudah lewat sejak pintu rumah Maya menutup di belakang ibu Rani, dan pada hari ketujuh Rani akhirnya berhenti berharap layar itu menyala. Ia menaruh ponsel menelungkup, mengusap perut yang mulai menonjol di balik daster longgar milik Maya, dan membiarkan bayinya bergerak satu kali, seperti kepakan sayap kecil.
"Ran, ada tamu." Maya menyembulkan kepala dari pintu. "Danu bawa pengacara yang dia ceritakan itu. Kamu sudah siap?"
"Sudah."
"Bohong. Wajahmu pucat."
"Aku sudah siap, May," ulang Rani, lebih pelan. "Wajah pucat nggak ada hubungannya."
Pengacara itu perempuan, berusia hampir lima puluh, berkacamata tebal, dari lembaga bantuan hukum tempat kenalan Danu biasa menjadi relawan. Ia duduk di sofa dengan map cokelat di pangkuan dan tidak menunggu basa-basi selesai. Surat keterangan dokter dari rumah sakit Sampit sudah ia baca, foto pipi yang diambil Maya sudah ia periksa, dan ia mengajukan pertanyaan satu per satu tanpa menghakimi.
"Penyebab gugatan, Mbak Rani, kita tulis jelas ya. Kekerasan fisik saat hamil. Penggunaan narkoba oleh suami. Utang judi. Dan suami meninggalkan rumah membawa uang."
"Ya, Bu."
"Mbak boleh menolak kata mana pun yang menurut Mbak tidak benar."
Rani menatap lembar-lembar itu. Kalimat di sana rapi dan dingin, dan di balik tiap kalimat ia bisa melihat kamar mandi kontrakan, bau asap di baju Rendi, kaleng biskuit yang kosong. "Semuanya benar."
"Satu hal lagi." Pengacara itu meletakkan pulpen. "Kalau gugatan ini dikabulkan, Mbak hamil, jadi masa iddah-nya sampai melahirkan. Mbak tidak bisa menikah lagi sebelum itu. Itu tidak masalah buat Mbak?"
Rani sempat teringat satu wajah di balik kaca pintu rumah sakit, punggung tegak dan tangan bertaut. Ia menepis bayangan itu secepat datangnya. "Tidak, Bu. Saya tidak sedang mencari siapa pun."
Ia menandatangani tiga halaman. Tangannya tidak bergetar sama sekali, dan itu membuatnya sendiri heran.
"Besok pagi berkas ini saya antar ke Pengadilan Agama," kata pengacara itu sambil merapikan map. "Tergugat nanti dipanggil ke alamat terakhirnya. Alamatnya di mana?"
"Kontrakan dekat toko, Bu. Sewanya enam bulan, saya yang bayar dari tabungan." Rani tersenyum tipis tanpa lucu. "Mungkin dia belum pulang ke sana. Saya juga tidak tahu dia tinggal di mana sekarang."
"Kalau begitu pengadilan akan mencarinya lewat kepolisian atau keluarganya. Prosesnya agak lama, Mbak. Siapkan hati."
"Sudah, Bu."
*****
Arman datang menjelang tengah hari dengan seragam toko dan helm di tangan, canggung seperti orang yang diutus ke rumah yang tidak boleh ia lihat lebih dari perlu. Ia berdiri di teras, tidak mau masuk, dan menyodorkan amplop putih dengan kedua tangan.
"Mbak Rani. Dari bos. Gaji muka dua bulan, untuk Mbak yang sedang cuti. Katanya sesuai aturan karyawan hamil."
Rani memegang amplop itu tanpa membukanya. Ada kertas terlipat di dalam, selembar kuitansi yang sudah diketik. "Ada tanda tangan Bos?"
"Ada, Mbak. Itu dari bagian keuangan."
"Tunggu sebentar."
Ia masuk, menulis di belakang kuitansi dengan tulisan tegak, lalu keluar lagi. "Arman. Sampaikan pada Bos, saya terima sebagai gaji muka, dan nanti dipotong dari gaji saya sesuai hitungan. Saya tidak menerima ini sebagai kebaikan, hanya sebagai hak yang memang ada di aturan."
Arman mengangguk dua kali, lega karena pesannya jelas. "Baik, Mbak. Saya sampaikan persis."
"Terima kasih. Hati-hati di jalan."
Setelah motornya hilang di ujung gang, Maya bersandar di kusen dengan lengan terlipat. "Kamu tuh ya."
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa. Cuma, kamu baru diusir dari keluarga, mau menggugat suami, tapi masih sempat bikin surat perjanjian sama bos."
"Namanya juga hak karyawan, May." Ada sudut bibir Rani yang nyaris tertarik. "Semua orang butuh makan."
*****
Sorenya mereka makan nasi bungkus bersama di ruang tengah, Siti dengan satu kaki terlipat di kursi dan sendok teronggok di mulut. Ia menceritakan, dengan nada kesal yang dibuat-buat, betapa atasannya di kantor developer menyuruh ia menulis laporan tiga kali karena koma salah tempat.
"Terus lo bilang apa?" tanya Maya.
"Gue bilang komanya bisa pindah sendiri, Pak, kalau mau." Siti mengangkat bahu. "Dia nggak ketawa."
Rani tertawa. Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya, tetapi tawa itu nyata, dan Danu yang duduk di lantai bersandar ke dinding ikut tersenyum tanpa menoleh.
Hari itu sudah hampir magrib ketika terdengar bunyi motor berhenti di depan pagar.
Pagar besi rumah Maya berderit. Langkah-langkah yang Rani kenal terlalu baik, berat di tumit, sedikit diseret di sebelah kiri, naik ke teras. Lalu ketukan di pintu. Tiga kali. Pelan.
"Ade."
Seluruh tubuh Rani membeku. Danu, yang sedang membetulkan engsel jendela, meletakkan tang tanpa suara dan berjalan ke pintu. Siti, yang sore itu datang membawa nasi bungkus, berdiri di sisinya dengan bahu tegak seperti satpam. Maya menarik Rani menjauh dari ruang tamu.
"Aku mau bicara sama dia," bisik Rani.
"Ran..."
"Lewat pintu. Pintunya tetap tertutup. Aku nggak akan keluar."
Danu menatap Siti, Siti menatap Danu, dan keduanya akhirnya mengangguk. Rani berjalan sampai satu langkah dari daun pintu dan berhenti di sana, tangan kiri di perut, tangan kanan menempel ke kayu yang dingin.
"Aku di sini, Bang."
Di balik pintu, Siti memberi isyarat dengan dua jari kepada Danu: aku catat plat motornya. Danu hanya mengangguk.
Di seberang, napas Rendi terdengar naik turun. Ia kedengaran kurus. Kedengaran capek. Dan juga kedengaran seperti seseorang yang sudah mencoba berlatih kalimat ini sepanjang jalan.
"De. Abang minta maaf. Abang nggak sadar waktu itu. Demi Allah, Abang nggak sadar. Abang sudah bersih seminggu ini, De, Abang tidur di rumah kebun sendiri, nggak makan..."
"Mama bilang apa?"
"Mama..." Suaranya pecah. "Mama nggak mau bicara sama Abang. Mama bilang kalau Abang datang ke rumahnya, pintunya dikunci. Abang nggak punya siapa-siapa, De. Cuma kamu."
"Bang." Rani memejamkan mata. "Abang sudah janji empat kali. Di depan Mama, di depan aku, di panti, di kontrakan. Aku hitung semuanya."
"Itu kemarin. Sekarang Abang..."
"Pipiku sudah kuning, sebentar lagi hilang. Tapi anak ini hampir nggak ada." Ia menarik napas untuk menenangkan suara yang mulai naik. "Dokter bilang denyutnya masih ada. Tapi aku nggak tahu apa yang sudah terjadi sama dia di dalam sana hari itu. Dan Abang bilang Abang nggak sadar. Itu yang paling aku takutkan."
Keheningan menimbulkan bunyi sendiri di balik pintu: sol sepatu menggesek keramik, lama.
"Aku sudah tanda tangan surat gugatan tadi pagi," lanjut Rani. "Aku menggugat cerai, Bang. Ke Pengadilan Agama."
Terdengar bunyi tawa pendek, kering, bukan tawa orang yang geli. "Cerai?"
"Ya."
"Kamu pikir aku akan diam? Kamu istriku, De. Istriku." Suara itu naik, makin tipis seperti kawat. "Aku nggak akan menceraikanmu. Nggak sampai mati. Kamu dengar? Nggak akan!"
Brak! Sesuatu menghantam pagar dari luar, sekali, dua kali, besi bergoyang dan menggema ke seluruh gang. Danu melangkah maju, tangannya menahan kunci pintu, dan Siti sudah menggenggam ponsel dengan ibu jari di tombol. Dari celah gorden, Rani sempat melihat bayangan Rendi menendang pagar sekali lagi, membalik badan, menyalakan motor dengan satu hentakan, dan pergi dengan gas dalam.
"Ran." Maya menyentuh bahunya. "Ran, kamu gemetar."
"Aku tahu." Suaranya terdengar jauh. Rani melihat tangannya sendiri, jari-jarinya bergetar halus di atas kayu pintu. Tetapi kakinya tidak bergeser satu senti pun.