Dua bulan lebih dan lima kali sidang sudah lewat sebelum hakim akhirnya membuka berkas putusan, dan selama itu Rendi, yang tetap mendekam di tahanan Sampit, tidak sekali pun dihadirkan.
Rani duduk di bangku yang sama dengan map biru yang sama. Perutnya sekarang tidak bisa lagi disembunyikan oleh kardigan mana pun. Bayi di dalamnya sudah lama berhenti menjadi ancaman dan berubah menjadi penumpang yang gemar menendang rusuk setiap kali ia duduk terlalu lama. Hari ini ia menendang dua kali sejak pagi, seakan tahu kapan harus ikut menyimak.
Dua bulan itu berlalu tanpa kejadian besar, hanya hari-hari kecil yang disusun satu demi satu. Rani tetap tinggal di kamar tamu rumah Maya. Ibu Bagas pulang ke Banjarmasin setelah empat hari dan sejak itu menelepon tiap Jumat sore, kadang juga hari lain tanpa alasan. Sidang ketiga membawa surat dari rutan yang ditulis Rendi dengan huruf besar-besar, menolak bercerai tanpa menyebut satu pun alasan. Hakim membacanya sekali, mencatatnya, dan melanjutkan. Dari ibu Rani tidak ada kabar sama sekali, tidak telepon, tidak titipan, tidak sebaris pesan.
"Majelis memutuskan," kata hakim ketua, membaca dari kertas dengan nada yang sama tenangnya seperti pada sidang pertama. "Menyatakan Tergugat telah dipanggil secara sah dan patut, tetapi tidak hadir. Mengabulkan gugatan Penggugat. Menjatuhkan talak satu ba'in sughra Tergugat terhadap Penggugat. Membebankan biaya perkara kepada Penggugat."
Palu diketuk satu kali.
Rani menunggu sesuatu terjadi. Kilat, atau tangis, atau dada yang meledak. Yang datang justru kesunyian yang sangat biasa, seperti ketika seseorang meletakkan beban yang sudah terlalu lama dipikul dan lengannya belum mengerti bahwa ia boleh menjatuhkan tangan.
"Mbak." Pengacara berkacamata itu menepuk punggung tangannya. "Selesai."
"Sudah?"
"Sudah, Mbak. Tinggal menunggu salinan putusan." Perempuan itu merapikan map-mapnya, lalu menurunkan suara. "Satu hal yang harus saya ulang supaya Mbak tidak lupa. Mbak sedang hamil, jadi masa iddah Mbak sampai melahirkan. Selama itu Mbak belum boleh menikah dengan siapa pun. Setelah anak Mbak lahir, Mbak bebas."
"Saya ingat, Bu." Rani menyentuh perutnya dengan telapak. "Terima kasih sudah mengantar saya sampai sini."
"Itu pekerjaan saya, Mbak. Yang berat bagian Mbak."
Maya sudah menunggu di depan pintu ruang sidang dengan mata sembab, dan Danu di belakangnya memegang kunci mobil seperti jimat. "Gimana?" tanya Maya, tak sabar.
"Dikabulkan."
"Alhamdulillah." Maya memeluknya begitu cepat sampai perut Rani tertekan, dan bayinya menendang protes. "Eh, maaf, maaf, Nak. Tante terlalu semangat."
"Pelan-pelan, May," kata Danu, tapi senyumnya lebar.
*****
Di lorong luar, di antara bangku-bangku kayu yang digosok ratusan pantat selama puluhan tahun, Hajjah berdiri menunggu dengan tas tangan yang ia dekap erat.
Ia tidak masuk ke ruang sidang. Ia datang pagi-pagi dari Sampit bersama pamannya dan duduk di lorong sampai putusan selesai, seakan dengan menunggu di sana ia bisa menebus sesuatu. Wajahnya tidak berubah sejak terakhir Rani melihatnya. Hanya garis di sudut matanya semakin dalam.
"Sudah, Nak?"
"Sudah, Ma..." Rani berhenti, menggigit bibir. Kata itu sudah tidak lagi berhak ia pakai, dan lidahnya belum diberi tahu. "Sudah, Bu Hajjah."
Hajjah hanya tersenyum samar, senyum orang yang mengerti dan memutuskan tidak menawar. "Panggilan itu urusanmu, Nak. Mama tidak akan minta kembali."
Hajjah menutup mata sebentar, mengangguk, dan Rani melihat bibirnya bergerak mengucap sesuatu yang tidak ia dengar. Ketika matanya terbuka lagi, ia mengeluarkan amplop cokelat dari tasnya.
"Ini. Mama tidak ada hak meminta kamu menerimanya, tapi Mama tidak tahan menyimpannya."
Rani membuka amplop itu. Di dalamnya ada kotak kecil dari kain merah. Ia membukanya pelan: sepasang gelang emas mungil, secukupnya untuk pergelangan bayi, dengan lonceng kecil yang berdenting halus ketika kotak itu bergeser. Di bawahnya terselip selembar kertas terlipat empat, bergaris biru, tulisan tangan di sampulnya miring dan tergesa.
Untuk Ade.
"Gelangnya dari Mama," kata Hajjah. "Tapi surat itu dari Rendi. Mama sudah bilang jangan, Nak, tapi dia memohon lewat petugas rutan sampai Mama menyerah. Kamu tidak harus membacanya. Kamu boleh membuangnya sekarang di depan Mama, dan Mama tidak akan marah."
Rani menimbang kertas itu di telapak tangan. Ringan sekali.
"Saya simpan dulu, Bu Hajjah. Saya belum mau membacanya."
"Itu hak kamu."
"Dan gelang ini." Rani menutup kotak merah dengan hati-hati. "Saya terima untuk anak saya, bukan untuk saya. Terima kasih."
Hajjah mengangguk lagi, kali ini bibirnya bergetar. Ia meraih tangan Rani, menggenggamnya sekejap, lalu melepasnya cepat-cepat seperti takut tangannya sendiri terlalu menuntut. "Mama pulang dulu, Nak. Kalau kamu butuh apa pun..."
"Saya tahu, Bu Hajjah."
*****
Mobil kantor sawit itu meluncur pelan menjauhi halaman pengadilan. Danu di balik kemudi, Maya di kursi sebelah dengan sebuah kantong plastik berisi kue basah yang ia beli tanpa alasan, dan Rani di kursi belakang dengan jendela sedikit terbuka dan angin siang yang membawa bau debu.
Tidak ada yang bicara sampai mereka melewati persimpangan besar dekat pasar. Lalu Rani mengangkat tangan kirinya ke depan wajah dan menatap jarinya.
Cincin polos itu masih di sana. Cincin tipis yang dipasang Rendi di jari manisnya pada pagi akad, ketika tangannya masih hangat dan matanya berair. Gelang dan kalung dan cincin bermata kecil sudah dijual. Cincin ini satu-satunya yang tidak pernah ia lepas dan juga tidak pernah ia jual, entah karena alasan apa. Mungkin karena terlalu ringan untuk berharga, mungkin juga karena melepasnya berarti mengaku.
Ia menarik cincin itu perlahan. Jarinya sedikit bengkak karena kehamilan, jadi ia harus memutarnya dua kali, dan ketika akhirnya lepas, di kulitnya tertinggal garis pucat yang tipis.
"Ran?" Maya menoleh dari kursi depan.
"Aku nggak apa-apa."
"Kamu nangis."
"Iya." Rani tertawa, dan tawa itu menjadi isakan di tengah jalan, lalu menjadi sesuatu yang lebih sulit diberi nama. Air mata mengalir tanpa ia perintahkan. "Aku nangis karena lega, May. Aku lega banget. Aku nggak tahu kenapa lega bisa sakit begini."
Maya tidak menjawab. Ia hanya memutar tubuh di kursinya dan menggenggam tangan Rani di antara jok, erat. Danu menatap jalan dan menaikkan volume radio sedikit, supaya ruang itu tidak terlalu penuh.
"Mau mampir beli es kelapa?" tanyanya akhirnya, tanpa menoleh. "Orang baru menang perkara biasanya haus."
"Aku bukan menang, Mas," sahut Rani sambil mengusap hidung. "Aku cuma selesai."
"Selesai juga boleh dirayakan pakai es kelapa."
Ponsel Rani berdering di dalam tas. Layarnya menyala dengan nama yang kini jadi bagian hari-harinya setiap Jumat dan sering di antara Jumat.
"Halo, Ibu?"
"Sudah, Nak?" Suara Ibu Bagas hangat, agak serak, seperti baru bangun dari doa panjang. "Maya sudah SMS Ibu tadi. Katanya putusannya hari ini."
"Sudah, Ibu. Dikabulkan." Rani menghapus pipi dengan punggung tangan. "Saya sekarang resmi bukan istri siapa-siapa lagi."
"Resmi punya diri sendiri, itu namanya." Ada tawa kecil di seberang. "Bagas titip salam, katanya selamat untuk keberanianmu. Dia tidak berani telepon sendiri, takut kamu salah paham." Jeda sebentar. "Dengar, Nak. Ibu tidak mau kamu merayakan sendirian. Ahad nanti Ibu datang bersama Laila. Ibu bawa masakan sendiri, tidak boleh ditolak."
Rani memandang Maya yang sedang menyeka matanya sendiri, lalu Danu, yang pura-pura tidak mendengar. "Baik, Ibu. Saya tunggu."