Alarm ponsel Maya berbunyi pukul tiga kurang sepuluh, dan sepuluh detik kemudian Rani sudah duduk di tepi ranjang dengan mata terbuka lebar.
Ia tidak perlu alarm. Bayinya sudah menendang sejak setengah jam lalu, entah karena kebiasaan baru atau karena ikut gelisah. Di ruang depan terdengar bunyi panci dan sendok, dan Danu, yang menginap lagi di sofa, bersenandung kecil sambil menghangatkan sayur. Dari kamar sebelah, suara Ibu Bagas sedang membangunkan Kak Laila dengan nada pura-pura galak. Rumah itu hidup, penuh, dan untuk beberapa saat Rani hanya duduk menikmati bunyi-bunyian itu.
Lalu ia membuka Quran kecil di laci meja, tempat sejak Mei terselip amplop uang dari Ibu Bagas dan di bawahnya lagi amplop cokelat dari Hajjah. Ia mengambil yang kedua.
Kertas bergaris biru itu terlipat empat. Tulisan di sampulnya masih miring dan tergesa, Untuk Ade. Rani menahan napas, membukanya, dan membaca dengan lampu kecil di atas bantal.
De. Abang tidak tahu apakah kamu akan membaca ini. Kalau kamu membuangnya, Abang mengerti.
Abang mau mengaku satu hal yang tidak pernah Abang katakan dengan jelas. Waktu pertama kali Abang menghubungi kamu, Abang punya niat yang buruk. Abang mau menaklukkan kamu lalu pergi. Itu benar, dan Abang tidak akan mencari alasan. Kamu tidak salah apa pun. Kamu hanya terlalu baik untuk orang seperti Abang.
Abang tidak minta kamu kembali. Abang tidak minta dimaafkan. Abang cuma mau kamu tahu bahwa yang kamu lihat di rumah kebun itu bukan karena kamu. Itu karena Abang.
Hanya itu. Surat itu tanpa tanda tangan dan tanpa satu pun kata cinta. Di ujung bawah kertas, tinta pulpen menyebar bundar di satu titik, bekas ujung pena yang tertahan terlalu lama.
Rani melipat surat itu kembali, empat lipatan yang sama, dan memasukkannya ke bawah Quran. Ia tidak menangis. Ia hanya duduk sebentar, memegang perutnya, dan berbisik kepada bayi yang menendang, "Ayahmu menulis surat, Nak. Nanti kalau kamu besar, kalau kamu mau, Ibu tunjukkan."
"Ran!" Suara Maya dari balik pintu. "Sahur! Ibu Bagas bawa sambal teri!"
Di meja makan, Ibu Bagas sudah duduk dengan sendok di tangan dan perawat di sampingnya menuang teh. Ia menatap Rani dari ujung kepala sampai kaki, lalu menyodorkan piring. "Duduk. Makan yang banyak. Orang hamil puasa itu boleh tidak, tapi kalau kamu mau, Ibu temani."
"Saya mau coba, Ibu. Dokter bilang boleh kalau kuat."
"Kalau pusing, batalkan. Jangan sok kuat."
"Dengar itu, Ran," sambung Maya sambil menuang nasi ke piringnya sendiri sampai menggunung. "Aku saksi."
"Kamu lagi nggak puasa?"
"Puasa. Makanya sahurnya banyak."
Kak Laila mengelap mulut dengan serbet. "Bagas masih tidur, Bu?"
"Biar, dia baru tidur jam dua. Tadi malam masih sibuk telepon kantornya." Ibu Bagas menyendok sambal ke piring Rani tanpa bertanya. "Nanti dia sahur sendiri."
*****
Di sebuah sel berukuran tiga kali empat di Sampit, Rendi menerima kertas bermaterai dari petugas pukul dua dini hari, bertepatan dengan semua orang di blok itu mulai terbangun untuk sahur.
"Salinan putusan," kata petugas itu. "Dari Pengadilan Agama Palangkaraya. Tanda tangan di sini."
Ia membacanya sambil duduk bersila di tikar tipis. Kata-kata hukum itu sulit, tetapi tiga baris terakhir cukup jelas. Gugatan dikabulkan. Talak satu. Perkawinan putus.
"Apa itu?" Seorang laki-laki di sebelahnya, bertato di leher dan sudah dua kali masuk keluar tempat itu, menjulurkan kepala.
"Cerai." Rendi tertawa kecil, dan dari mana tawa itu datang ia sendiri tidak yakin. "Istriku nggugat. Dikabulkan. Aku resmi duda."
"Ya Allah. Kasihan."
"Kasihan apanya?" Ia melipat kertas itu dan mengacungkannya seperti trofi. "Aku bebas, Bang. Nggak ada yang ngatur-ngatur lagi. Nggak ada yang nyuruh tes, nyuruh shalat, nyuruh pulang jam sembilan. Aku bujang lagi. Begitu keluar dari sini, aku bisa ke mana saja."
"Hebat." Laki-laki bertato itu menggaruk leher. "Terus bayi yang dia kandung?"
Rendi membuka mulut. Menutupnya.
"Ya itu urusan nanti," katanya akhirnya.
Nasi bungkus sahur dibagikan pukul tiga. Rendi mendapat sepotong tempe, nasi yang sudah dingin, dan sebungkus kecil sambal. Ia makan sendiri di pojok, punggung menempel dinding, sementara di sebelah sana kawan-kawan sel bercanda soal lauk. Tak seorang pun mengajaknya bicara lagi. Ia menyuap, mengunyah, menelan, dan menyadari bahwa tidak satu pun dari makanan itu memiliki rasa.
Kertas putusan di pangkuannya lembap oleh keringat tangan.
*****
Matahari baru terbenam ketika rumah Maya mulai penuh.
Ruang tamu disulap menjadi tempat makan lesehan. Tikar digelar, rantang-rantang Ibu Bagas berderet berisi opor ayam, sayur lodeh, dan sambal teri, sementara kolak pisang buatan Anita mengepul di panci besar. Siti membawa kurma dari ruko dekat kantornya. Anita datang membawa tas jinjing penuh gorengan dan melempar pelukan singkat kepada Rani. Bagas duduk di pojok paling jauh dari kerumunan, dengan kemeja koko putih yang membuatnya tampak seperti ia sendiri bingung harus diletakkan di mana, dan Kak Laila sesekali mendorongnya dengan pandangan.
Azan magrib berkumandang dari masjid ujung gang. "Bismillah," ucap Ibu Bagas, dan seluruh ruangan menjawab dengan gumam yang kacau dan hangat. Orang-orang mengangkat gelas. Rani meminum seteguk air putih, merasakannya mengalir ke kerongkongan yang kering, dan menutup mata untuk berdoa.
Doa itu belum selesai ketika pintu depan diketuk tiga kali, pelan dan ragu. Maya yang paling dekat membukanya, dan Iki menyerbu masuk sambil berseru, "Kakak!"
Anak itu memeluk lutut Rani tanpa peduli perut yang menghalangi, pipi gembulnya basah oleh keringat. Di teras, ibu Rani berdiri dengan tas anyaman dan wajah yang sudah menyiapkan penolakan. Debu di sandalnya menunjukkan ia sudah lama duduk di tangga luar sebelum berani mengetuk.
"Ibu ke sini cuma antar Iki," kata ibu Rani sebelum siapa pun bertanya. "Dia nangis dari sore minta ketemu kamu."
"Bu, masuk. Sudah azan." Rani berdiri perlahan. "Ada kolak."
"Ibu puasa di rumah."
"Ibu sudah buka tadi."
Hening yang tajam. Ibu Rani menatap deretan wajah di ruang tamu. Ibu Bagas yang tersenyum di sofa, perempuan berkerudung biru yang empat hari lalu menyuapi anaknya dengan bubur.
"Selamat datang, Bu." Ibu Bagas menggeser tempat duduknya. "Mari. Kami bukan pengganti siapa-siapa. Hanya menemani."
"Saya tidak lapar." Ibu Rani berjalan kaku ke sudut ruangan, ke kursi plastik paling jauh dari tikar, dan duduk dengan tas di pangkuan. Ia tidak makan sebutir kurma pun. Tetapi ia tidak pergi. Dan ketika Iki merengek minta ditemani makan, ia membiarkan anak itu duduk di pangkuannya dan menyuapinya sepotong ayam dengan tangan sendiri.
"Om siapa?" Iki sudah turun dari pangkuan dan berdiri di depan Bagas, mendongak dengan mata besar.
Bagas hampir menjatuhkan gelas. "Teman Kakakmu, Dik."
"Om punya bola?"
"Om punya... di mobil ada satu, kayaknya." Bagas melirik Rani, bingung dan nyaris geli. "Mau lihat besok?"
"Mau!" Iki kembali ke pangkuan ibu Rani dengan senyum menang, dan ibu Rani, yang mendengar semuanya, menatap lurus ke depan dengan wajah tak terbaca.
Rani melihat semua itu dari seberang ruangan. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengambil sepotong kurma dan memakannya pelan, menghitung dalam hati berapa lama ibunya akan bertahan di kursi itu, dan ibunya bertahan sampai isya.
Ponsel Anita berdering di tengah suasana yang ringan itu. Ia mengintip layar dan wajahnya berubah. Siti, yang duduk di sebelahnya, ikut melirik.
"Wahyu," kata Siti tanpa suara.
"Angkat," ujar Maya. "Spiker aja. Biar semua dengar."
Anita menarik napas panjang dan menekan tombol. Suara laki-laki itu terdengar gugup. Ia minta maaf. Ia bilang ia salah. Ia bilang Eni sudah lama tidak bersamanya, dan ia ingin memulai dari awal.
"Wahyu." Suara Anita lembut seperti biasa, tetapi tidak ada celah di dalamnya. "Aku terima permintaan maafmu. Dan jawabanku tetap tidak. Jangan telepon lagi."
Klik. Siti bertepuk tangan satu kali, keras, dan semua orang tertawa lega. Anita menunduk, wajahnya merah, tetapi bahunya tegak.
"Mas Danu, ayamnya jangan diambil semua," protes Maya.
"Aku cuma ambil dua."
"Dua ekor!"
"Tambah nasinya, Gas," perintah Kak Laila dari seberang, menyendokkan nasi ke piring adiknya tanpa menunggu persetujuan. "Kamu kurus."
"Aku sudah tiga kali tambah, Kak."
"Berarti kurang."
Iki tertidur di pangkuan ibu Rani. Di sofa, Ibu Bagas sedang menyuruh perawatnya duduk dan makan. Dadanya terasa penuh dan lapang sekaligus.
"Aku tidak sendirian," bisiknya, kepada siapa pun, dan tidak ada yang mendengar kecuali bayi di dalamnya.