Pintu ganda itu membuka lagi sebelum ibu Rani sempat mengetuk, dan seorang bidan menyembul dengan masker di dagu.
"Keluarga Bu Rani?"
"Ibunya." Ibu Rani menegakkan punggung dan menyeka air hujan dari wajah dengan punggung tangan. Sandalnya yang berbeda warna berdecit di lantai. "Saya ibunya."
"Dia memanggil-manggil dari tadi. Satu orang boleh masuk. Cepat, Bu."
Maya, yang berdiri di dekat pintu, sudah mundur dua langkah dengan telapak tangan terbuka. "Masuk, Bu. Itu tempat Ibu."
Ibu Rani menatapnya sebentar, lalu hanya mengangguk, dan menghilang di balik pintu yang menutup kembali.
Ruangan itu terang dan dingin, dan Rani terbaring di tengahnya dengan rambut menempel di dahi, tangan mencengkeram pagar ranjang sampai ruas-ruas jarinya putih. Ketika bayangan ibunya jatuh di atas wajahnya, ia membuka mata.
"Bu?"
"Ibu di sini." Ibu Rani mengambil tangan itu, melepaskannya dari pagar logam, dan menggenggamnya dengan kedua tangan. Tangannya sendiri basah dan gemetar. "Ibu di sini, Ran. Ibu minta maaf telat."
"Tadi aku panggil Ayah."
"Ibu dengar."
"Aku nggak tahu kenapa."
"Nggak apa-apa." Ibu Rani menunduk dan menempelkan dahinya sebentar ke dahi anaknya, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sejak Rani kecil. "Ayahmu di sini juga. Sama-sama kita. Sekarang tarik napas."
Bidan memberi aba-aba. Rani mengikuti, dan pada gelombang ketiga, keempat, kelima, ia berhenti menghitung. Yang ia dengar hanya suara ibunya yang rendah, serak, berulang, seperti doa yang sudah ia kenal sejak kecil tetapi baru sekarang ia dengar utuh. Lalu, menjelang pukul empat dini hari, ada tekanan terakhir dan tangis kecil, setipis suara anak kucing, memecah ruangan.
"Perempuan," kata bidan. "Dua koma tiga kilo. Selamat, Bu."
Seorang perawat meletakkan sesuatu yang basah dan kecil dan merah di dada Rani, hanya sepuluh detik, dibungkus kain hijau tipis. Bayi itu menggeliat. Kepalanya sebesar kepalan tangan dan rambutnya hitam lekat, dan salah satu tangannya yang mungil menggapai sesuatu di udara, lalu menggenggam jari telunjuk Rani.
"Alya," bisik Rani.
Ia tidak sempat berkata apa-apa lagi karena perawat mengangkat bayi itu, membawanya ke meja di sudut, dan dokter anak mendekat. Rani menoleh panik. "Bu, dia..."
"Dia bernapas, Ran." Ibu Rani menahan bahunya. "Kamu dengar? Dia nangis lagi."
Tangis itu terdengar dari sudut, lebih kuat daripada tadi, marah sekali pada dunia yang terang dan dingin ini. Rani menutup mulut dengan punggung tangan dan tertawa sambil menangis, dan ibu Rani, yang berdiri di sisinya dengan kerudung yang entah bagaimana sudah lepas separuh, tertawa juga.
"Perlu inkubator, Bu," dokter anak memberi tahu dari sudut, tenang. "Belum cukup bulan, napasnya perlu dipantau. Tiga hari kira-kira. Bayinya sehat, hanya kecil. Kami bawa sekarang."
*****
Di lorong, Bagas duduk di bangku besi dengan tasbih di tangan dan punggung bungkuk. Kak Laila di sebelahnya, membaca sesuatu dengan mulut yang bergerak tanpa suara, dan Danu duduk di lantai bersandar ke dinding, matanya tertutup.
Ketika pintu ganda terbuka dan seorang perawat melintas membawa kotak plastik transparan beroda, ketiganya berdiri bersamaan.
"Selamat, keluarga," kata perawat itu sambil lewat, tanpa berhenti. "Perempuan, selamat dan sehat. Kami bawa ke ruang bayi."
Mereka melihat sekilas, hanya satu detik, sesuatu yang kecil dan bergerak-gerak di balik plastik. Bagas membeku, tasbih menggantung di jarinya. Kak Laila memeluk lengannya.
"Gas, itu..."
"Aku lihat."
"Dia selamat. Dua-duanya."
"Aku lihat, Kak." Bagas duduk lagi, pelan, seperti orang yang lututnya baru dicabut. Ia memandang jam di dinding lorong, lalu menunduk menatap tasbihnya. "Tanggal enam belas."
"Iya." Kak Laila menatapnya dari samping dan tidak berkata apa-apa lagi, hanya menyentuh bahu adiknya sekali. Ia tahu apa yang dihitung adiknya: dengan lahirnya bayi itu, masa iddah Rani selesai pagi ini, hitungan yang Bagas simpan sendiri berminggu-minggu tanpa pernah menyebutnya.
Maya keluar dari kamar bersalin beberapa menit kemudian, setelah dipanggil bidan untuk menandatangani sesuatu, matanya bengkak dan senyumnya lebar sekali.
"Dua koma tiga kilo," katanya kepada lorong. "Ibunya capek tapi sadar. Dia sempat tanya inkubatornya hangat atau nggak."
"Hangat," kata Danu, yang berdiri sambil menyeka mata dengan lengan jaket. "Aku lihat."
"Rani minta aku sampaikan satu hal ke kalian," lanjut Maya, menatap Bagas. "Katanya, terima kasih sudah menunggu di luar."
Bagas tidak berdiri. Ia tidak mengatakan apa pun. Ia hanya memejamkan mata dan melanjutkan tasbihnya dari butir yang terakhir ia tinggalkan.
*****
Matahari baru naik ketika Rani dipindahkan ke ruang rawat dengan dua ranjang yang ditutup tirai hijau. Ranjang di sebelahnya kosong. Di kursi plastik di antara jendela dan dinding, dua perempuan duduk bersebelahan tanpa bicara: ibu Rani dengan kerudung yang sudah dirapikan, dan Ibu Bagas dengan tasbih kecil di pangkuan.
"Dia ada di ruang bayi," kata ibu Rani ketika Rani membuka mata. "Dokter bilang bagus. Tiga hari lagi bisa dibawa. Kamu istirahat."
"Aku mau lihat."
"Siang. Sekarang tidur."
Rani menurut, tetapi tidak benar-benar tidur. Ia mendengar kursi digeser, bunyi pelan nampan sarapan, dan suara Ibu Bagas yang berbisik bahwa ia akan keluar sebentar mencari teh.
"Bu," kata ibu Rani, dan karena nada itu terdengar aneh di mulutnya sendiri, ia mengulang lebih pelan. "Bu. Tolong tunggu sebentar."
Ibu Bagas berhenti di ambang tirai, satu tangan di kusen, menahan berat badannya dengan hati-hati.
"Terima kasih sudah di sini. Waktu saya tidak ada."
"Ibu tidak mengambil tempat siapa pun."
"Saya tahu." Ibu Rani menelan sesuatu, dan Ibu Bagas, yang mengerti, keluar dengan langkah pelan, meninggalkan tirai bergoyang di belakangnya.
Hening di ruangan kecil itu panjang. Rani menoleh dan melihat ibunya duduk dengan tangan terlipat di pangkuan, bahu yang biasa tegak kini luruh.
"Ran."
"Ya, Bu?"
"Bukan salahmu Ayah pergi." Suaranya pecah di tengah kalimat, dan ia tidak mencoba memperbaikinya. "Bukan vespa, bukan hari itu, bukan kamu."
Rani mengulurkan tangan dari ranjang. Ibu Rani menggenggamnya seperti orang tenggelam menggenggam tali.
"Maaf, Ran. Maafin Ibu."
"Bu..."
"Ibu minta maaf." Ia menangis sekarang, tanpa suara, dengan bahu yang bergetar, wajah yang selalu keras itu terlipat jadi sesuatu yang rapuh. "Itu saja yang bisa Ibu bilang sekarang."
"Sudah, Bu." Rani menarik tangan ibunya ke dadanya, menempelkannya di sana, dan sekarang ia pun menangis. "Sudah dimaafin. Dari dulu."
Mereka tidak mendengar tirai disibak. Ibu Bagas masuk membawa tiga gelas teh dari kantin dalam nampan plastik, melihat apa yang ada di sana, dan berdiri membeku selama satu helaan napas. Lalu ia meletakkan nampan itu di meja tanpa bunyi dan duduk kembali di kursinya, memandang jendela, seakan seluruh pagi hari itu baru saja menjadi sangat menarik di luar sana.
Menjelang pukul sembilan, seorang perawat mendorong inkubator kecil itu masuk, hanya dua menit, hanya supaya sang ibu bisa melihat. Rani memaksa duduk dan memandang ke dalam kotak plastik berpori itu: bayi sekecil bantal sofa, topi rajut di kepala, selang tipis di hidung, dada yang naik turun dengan cepat sekali.
"Boleh pegang?"
"Lewat lubang ini, Bu. Satu jari."
Rani memasukkan telunjuknya lewat lubang bundar, dan tangan sekecil kerang itu menggenggamnya lagi, persis seperti tadi. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ibu Rani di sebelahnya menunduk ikut menatap, dan Ibu Bagas yang berdiri di sisi satunya menyentuh kaca inkubator dengan ujung jari, mulutnya bergerak membaca doa tanpa suara.
Setelah perawat membawa inkubator itu pergi, ponsel Rani bergetar di bawah bantal. Dari Adi, pesan yang diketik terburu-buru.
[Gue di bus Banjarmasin-Palangkaraya, mungkin sampai jam dua. Lo udah lahiran belum? Jawab, Ran.]
Ibu Rani mengambil ponsel itu dari tangan Rani dan, dengan dua jari yang kaku, mulai mengetik balasan.
[Sudah. Perempuan. Alya. Cepat pulang.]