Foto itu hanya sebesar telapak tangan, dicetak di studio kecil dekat terminal Sampit, dan Rendi memegangnya dengan dua ujung jari seakan bisa luntur kalau dipegang lebih erat.
Di ruang kunjungan rutan, kaca penyekat memisahkan wajahnya dari wajah Hajjah, tetapi Hajjah sudah menempelkan foto itu ke kaca dari sisi sana, dan Rendi harus mencondongkan badan sampai dahinya hampir menyentuh.
"Namanya Alya," kata Hajjah. Suaranya dikecilkan lubang bundar di kaca. "Lahir enam belas November, dini hari. Dua koma tiga kilo. Perempuan. Sehat, Nak."
"Alya." Rendi mengucapkannya sekali, seperti mencicipi. "Hidungnya..."
"Hidungmu. Mama juga bilang begitu."
"Dia boleh aku bawa?" Rendi menyadari kebodohan pertanyaan itu begitu keluar dari mulutnya. Ia mengangkat tangan sebelum Hajjah menjawab. "Nggak. Maksudku... foto ini boleh aku simpan?"
"Itu fotomu sekarang." Hajjah menatapnya lama. "Rani mengizinkan satu foto, dengan syarat. Foto saja, Rendi. Bukan anaknya. Mama minta kamu mengerti bedanya."
Ia mengerti beda itu. Itu justru yang paling menyakitkan.
Di sel malamnya, ia duduk di sudut membelakangi tiga laki-laki yang sedang berebut remah gorengan dari bungkus koran, di bawah neon yang berkedip. Foto itu ia sandarkan ke lutut. Topi biru muda. Tangan sekepal yang menggenggam tepi kain putih di bawah dagunya.
"Siapa itu?" tanya tahanan berkumis tipis dari seberang, tidak jahat, hanya penasaran. "Anak lo?"
"Anakku."
"Cantik. Mirip lo, ya."
"Mirip aku." Rendi tertawa, dan suara itu keluar aneh dari tenggorokannya. "Hidungnya."
Si tahanan kembali ke gorengannya. Rendi tinggal sendiri dengan foto itu dan dengan sesuatu yang ia kira sudah ia hancurkan di malam-malam yang dihabiskan dengan botol dan asap: kemampuan untuk merasa. Sekarang rasa itu kembali tanpa permisi, dan ia tidak tahu harus ditaruh di mana.
Tiga bulan lalu ia punya enam teman di sini yang ia kira kawan. Tiga di antaranya sudah bebas dan tak satu pun menjenguk, padahal ia ingat betul malam-malam ia membayari minuman mereka. Dua dipindah. Dan Nur tidak pernah datang. Surat yang ia kirim ke kantor Nur dua bulan lalu kembali dengan satu kata di amplopnya, ditulis tangan orang yang tidak ia kenal: Ditolak.
Ia meminta kertas dan pena kepada sipir, yang memberinya sambil mengerutkan dahi, dan menulis tanpa berpikir lama:
Rani,
Aku tidak berhak lagi memanggilmu Ade, jadi aku tulis namamu saja.
Foto itu sampai hari ini. Aku sudah memandanginya berjam-jam. Kata orang di sel, hidungnya hidungku, dan aku tidak tahu harus senang atau minta maaf kepada hidung itu.
Surat sebelum ini kutulis supaya kamu tahu bahwa aku mencintaimu. Kutulis lagi sekarang bukan untuk mengulang, tapi supaya jelas: aku mencintaimu, Rani, dan aku menyadarinya setelah kehilangan. Aku tahu itu cara paling memalukan untuk menyadari sesuatu. Aku tidak meminta kamu membalas dan tidak meminta kamu kembali.
Terima kasih sudah memberinya nama. Terima kasih sudah membolehkan aku melihat satu foto. Aku tidak lupa bahwa itu bukan hakku.
Aku sadar ini sudah terlambat untukku.
Rendi
Ia membaca ulang sekali dan tidak mengubah apa pun. Lalu ia melipatnya, menulis nama Rani di bagian luar dengan huruf yang tidak gemetar kali ini, dan berdiri menghampiri jeruji.
"Pak. Tolong titipkan untuk Mama saya. Besok pagi dia datang."
"Surat lagi?" Sipir muda itu menimbang amplop di tangannya. "Ini sudah yang ketiga. Orang lain biasanya berhenti di yang pertama."
"Yang pertama bohong separuh. Yang kedua jujur separuh." Rendi menyandarkan dahi ke besi dingin. "Yang ini baru semua."
"Kalau dibalas?"
"Nggak akan dibalas."
"Kok yakin?"
"Karena kalau dia balas," kata Rendi, dan sendiri heran betapa tenang suaranya, "berarti aku belum belajar apa-apa."
*****
Hajjah menyerahkan amplop itu dua hari kemudian di teras rumah ibu Rani dan tidak mau masuk.
"Mama cuma mau menaruhnya di tanganmu, Nak." Ia berdiri di undakan paling bawah dengan tas kain terselip di ketiak. "Kamu tidak harus membalas. Kamu juga tidak harus membaca malam ini."
"Terima kasih sudah menyampaikan, Bu Hajjah."
"Alya sehat?"
"Sehat. Dia minum banyak."
"Alhamdulillah." Hajjah memandang sekali ke pintu yang terbuka di belakang Rani, tempat suara Iki terdengar membacakan buku bergambar untuk telinga yang jelas belum mengerti, lalu memutar badan. "Dia memandangi fotonya semalaman. Mama tidak bilang ini supaya kamu iba. Mama bilang supaya kamu tahu."
"Saya tahu, Bu Hajjah."
"Mama pulang."
Ibu Rani, yang menyaksikan dari kursi di belakang pintu, tidak mengomentari apa pun sampai langkah Hajjah hilang di ujung gang.
"Dia tahu diri," katanya.
"Iya, Bu."
"Baik perempuan itu. Anaknya yang rusak." Ibu Rani menatap amplop di tangan Rani. "Ibu nggak akan suruh kamu baca. Ibu juga nggak akan suruh kamu buang."
"Aku tahu, Bu."
"Kalau kamu bimbang, bimbangnya kamu sendiri yang pegang. Jangan ambil punya orang lain."
*****
Menjelang tengah malam rumah itu sunyi. Iki sudah tidur, ibu Rani sudah tidur, dan Adi mendengkur halus di kamar depan. Rani duduk di kursi goyang di kamarnya dengan Alya di pangkuan, menyusu tenang, sebelah tangan mungil menggenggam ujung kainnya.
Di meja kecil di sampingnya, dua amplop bersisian. Yang tua sudah lusuh dan buram di lipatannya, surat kedua, yang lebih dari sebulan ia simpan di bawah Quran kecil tanpa dibuka. Yang baru masih putih.
Ia menarik napas dan membuka yang lebih tua dulu.
Isinya pendek. Di bagian atas, satu baris dengan huruf lebih besar dari yang lain:
Aku baru sadar aku mencintaimu, Rani.
Sisanya Rendi menulis bahwa ia mengira perceraian akan membebaskannya, dan ia memamerkannya kepada teman satu sel, lalu tiga hari kemudian ia tidak bisa tidur. Ia menulis tentang sahur sendirian dan nasi yang tidak ada rasanya.
Rani kembali ke baris di bagian atas itu dan menatapnya lama. Alya menggeliat di pangkuannya, dan ia membetulkan posisi tanpa sadar, menepuk punggung kecil itu dua kali.
"Kamu belum tidur?" Ibu Rani berdiri di ambang pintu dengan sarung dan rambut kusut, matanya menyipit kena cahaya lampu meja.
"Alya baru selesai minum."
"Itu suratnya?"
"Dua-duanya. Yang lama belum pernah kubuka karena aku takut isinya apa. Ternyata isinya cuma dia."
"Dia." Ibu Rani menghela napas. "Bagaimana rasanya?"
Rani memikirkannya jujur. "Kosong, Bu. Aku kira bakal sakit. Atau lega. Tapi kosong. Seperti baca surat orang lain."
"Itu bagus, Ran." Ibu Rani masuk pelan, mengambil selimut dari ranjang, dan menaruhnya di bahu putrinya. "Jangan baca lagi malam ini. Tidur."
Pintu ditutup pelan di belakangnya. Rani membuka surat ketiga, membacanya dari awal sampai akhir. Kalimat tentang hidung. Kalimat tentang foto. Kalimat terakhir, dengan huruf yang rapi dan tenang.
Aku sadar ini sudah terlambat untukku.
Ia menunggu sesuatu muncul di dadanya, debar atau benci atau rindu yang tersisa, apa saja. Yang muncul hanya tenang yang dingin dan bersih, tanpa kemarahan yang dulu membakar dan tanpa kelembutan lama yang dulu mudah ia berikan.
Rani melipat kedua surat itu menjadi satu dan menyelipkannya kembali di bawah Quran kecil. Ia menatap Alya, yang sudah terlelap dengan mulut sedikit terbuka, dan berbisik pelan sekali, supaya tak ada yang mendengar kecuali anak itu.
"Terlambat untuknya. Tapi tidak untukmu, Nak."