"Rani, kerudungku miring nggak?" Maya berdiri di depan cermin lemari dengan kebaya putih gading yang menyisakan sedikit ruang di bagian pinggang karena ia terlalu banyak makan kue uji coba. "Miring, kan? Aku merasa miring."
"Lurus, May."
"Kamu bilang begitu karena kamu sayang aku."
"Aku bilang begitu karena lurus." Rani mundur dua langkah dengan Alya di gendongan kain, menepuk-nepuk punggung kecilnya yang sedang merengek halus, dan menilai sahabatnya dari ujung kepala sampai kaki. Tiga minggu menjadi ibu telah mengajarinya menilai sesuatu dengan cepat. "Kamu cantik. Dan kamu gemetar."
"Aku nggak gemetar."
"Tanganmu."
Maya menurunkan pandang ke tangannya, yang memang bergetar seperti daun di kipas, lalu tertawa, lalu menutup wajahnya dengan buket melati. "Ran, aku mau nikah. Aku, Maya, yang bilang nggak mau terikat sampai umur empat puluh. Aku mau nikah sama pegawai kebun sawit."
"Dan dia melamarmu pakai sarung."
"Sarung pinjaman." Maya tertawa lagi, dan di sudut matanya sesuatu menggenang. "Ran. Makasih sudah ada."
"Kamu juga ada waktu aku di dasar." Rani meraih tangan Maya yang masih menggenggam melati. "Ayo. Ayahmu menunggu."
Ruang tamu rumah Maya sudah disulap menjadi ruang akad: karpet merah, meja rendah dengan taplak putih, kursi-kursi plastik berjajar rapi di belakang. Penghulu tua dengan kacamata tebal duduk di ujung. Danu duduk di depannya mengenakan jas hitam yang sedikit kebesaran di bahu, wajahnya pucat seperti kapur. Di sampingnya, ayah Maya, seorang laki-laki jangkung bertubuh tegap dengan rambut keperakan dan arloji emas besar, duduk dengan punggung lurus dan tatapan lurus ke depan, seakan sedang menghadiri rapat yang tak ingin ia hadiri tetapi harus.
Rani mengantar Maya sampai ke kursinya, lalu mundur ke deretan tamu dan duduk di kursi plastik paling belakang di dekat jendela, tempat yang ia pilih sendiri. Di sebelah kirinya, ibu Rani, dengan kebaya ungu tua yang sama dengan Lebaran lalu. Di sebelah kanan, kursi kosong yang kemudian ditempati Anita dengan tisu di tangan.
"Dulu di tempat itu," bisik Anita, "kamu duduk di sini?"
"Nggak." Rani tidak perlu menjelaskan. Dulu ia duduk di balik tirai, dengan jantung yang terlalu cepat dan hati yang terlalu kosong. Hari ini ia duduk di kursi paling belakang, dengan anak di dada dan hati yang sangat tenang, dan mungkin itulah bedanya.
Penghulu membuka khotbah singkat. Ayah Maya menjabat tangan Danu, lengan yang kaku bertemu lengan yang gemetar, dan mengucapkan kalimat wali dengan suara berat yang tidak bergoyang. Lalu jawaban itu meluncur dalam satu tarikan napas: "Saya terima nikah dan kawinnya Maya dengan mas kawin tersebut, tunai."
"Sah?" tanya penghulu kepada para saksi.
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah."
Ruangan meledak oleh ucapan syukur dan tangis. Maya menangis, Danu menangis, Siti menangis di sudut dengan sapu tangan yang jelas bukan miliknya. Ayah Maya, untuk beberapa detik yang panjang, menatap putrinya dengan wajah yang sulit dibaca, lalu berdiri dan mengusap puncak kepala Maya dengan telapak tangan yang besar.
"Bahagia, ya, Nak." Hanya itu. Tetapi Maya terisak dan memeluk pinggang ayahnya, dan laki-laki itu menepuk punggung putrinya sambil menatap langit-langit, rahangnya bergerak.
Rani mengusap pipinya sendiri dan menyadari ia pun menangis.
*****
Sesudah akad, tamu bergeser ke halaman yang dipasangi tenda biru dan meja panjang berisi nasi kuning dan soto. Rani duduk di bangku kayu di sudut halaman, Alya akhirnya tertidur di gendongannya, ketika sebuah bayangan jatuh di rumput di sampingnya.
"Boleh?"
Bagas berdiri dua langkah darinya dengan kemeja batik cokelat dan kopiah, satu tangan menahan piring yang belum dimakan. Di belakangnya, di bawah tenda, Ibu Bagas dan Kak Laila sedang bercakap dengan ibu Rani, jelas dalam jarak pandang dan jarak dengar, jelas pula sengaja dibiarkan begitu.
"Silakan, Mas."
Ia duduk di ujung bangku, menyisakan jarak untuk satu orang lagi. Mereka memandang tenda, tamu, dan Danu yang sedang disalami oleh ayah-ayah dengan wajah bingung.
"Hari ini aku di sini dari awal," kata Bagas akhirnya, pelan. "Dari sebelum akad. Aku datang bersama Ibu dengan mobil dan duduk di barisan depan. Kali ini aku nggak duduk sendirian di mobil pinjaman."
Rani tersenyum tipis. "Saya tahu, Mas. Saya lihat tadi."
"Waktu itu..." Ia menggeleng. "Aku nggak mau membahasnya. Aku cuma mau bilang, kali ini beda."
"Saya juga ada yang mau dibilang." Rani menunduk menatap kepala kecil di dadanya, topi katun tipis, sehelai rambut hitam yang menempel di pelipis. Suaranya tidak naik, tetapi ia mengatakannya dengan jernih, kata demi kata, seperti menyusun barang di rak. "Debar itu, Mas. Yang dulu saya kira cuma gugup, di pelaminan. Waktu Mas bilang 'Selamat'."
Bagas tidak bergerak.
"Saya mengenalinya sejak saat itu," lanjut Rani. "Saya cuma tidak mau mengakuinya karena saya sudah punya cincin di jari. Saya pikir kalau saya tidak menamainya, ia akan pergi sendiri." Ia mengangkat wajah. "Ia tidak pergi."
Lama sekali Bagas tidak menjawab. Rahangnya bergerak sekali, dan matanya merah di tepi.
"Aku tahu, Ran," katanya. "Aku juga tahu. Dari dulu."
"Mas tidak perlu menjawab apa-apa."
"Aku nggak akan bertanya apa-apa hari ini." Ia menegakkan punggung, merapikan kopiahnya yang tidak berantakan. "Kamu baru tiga minggu jadi ibu dan sahabatmu baru menikah. Biarkan hari ini jadi hari Maya. Tapi aku mau kamu tahu bahwa kamu nggak sendirian dengan debar itu."
Rani mengangguk pelan. Ia merasa seluruh tubuhnya ringan dan hangat, seperti baru turun dari tangga yang terlalu tinggi.
"Ran!" Suara Maya memecah halaman. Ia berdiri di undakan teras dengan kebaya yang sudah ditinggikan satu sisi roknya, buket melati terangkat di atas kepala, dan Danu di belakangnya berusaha menahan lengan istrinya. "Tangkap, ya!"
"May, aku gendong bayi!"
"Justru itu! Siap?"
"Maya, jangan..."
Buket itu melayang, terbang jauh melewati kepala Rani yang refleks membungkuk melindungi Alya, dan jatuh tepat di dekapan Iki, yang tahu-tahu sudah berdiri di bawah tenda dengan mulut belepotan nasi kuning.
"Iki dapat!" ia berseru, lalu memandang buket itu dengan ngeri. "Iki nggak mau nikah!"
Halaman pecah tertawa. Ibu Bagas menutup mulut dengan tangan, Kak Laila menunduk menyembunyikan wajah, dan ibu Rani, untuk kali pertama sejak pagi, tertawa lepas dan keras, sampai harus berpegangan pada bahu Adi yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya dengan ransel tersampir.
"Kak Adi?" Rani setengah berdiri. "Kok..."
"Gue bilang gue pulang saat penting," kata Adi. "Ini penting."
*****
"Rani, Nak."
Hajjah Salmah berdiri di dekat meja prasmanan, mengenakan gamis hijau tua dan kerudung perak, wajahnya tidak sepucat biasanya. Ia memegang piring kecil yang isinya hampir tak tersentuh dan menunggu Bagas pergi menghampiri Ibu Bagas sebelum bicara lagi.
"Selamat atas pernikahan Maya." Hajjah tersenyum. "Cantik sekali dia."
"Terima kasih sudah datang, Bu Hajjah."
"Mama ingin menyampaikan satu hal. Tidak enak rasanya menunda." Hajjah menarik napas. "Rendi bebas Rabu ini. Tanggal dua belas."
Rani tidak terkejut. Ia sudah menghitung hari itu berminggu-minggu. Tetapi mendengarnya diucapkan keras, di tengah tawa dan bunyi sendok di piring, membuat sesuatu di bawah tulang rusuknya mengerut sebentar.
"Saya sudah tahu tanggalnya, Bu Hajjah."
"Mama tahu." Hajjah menunduk. "Mama juga mau minta, kalau kamu izinkan. Restu agar dia bisa melihat bayinya. Sekali saja."
Alya menggeliat dalam gendongan dan Rani mengelus punggungnya, pelan, tanpa menjawab dulu. Di belakang Hajjah, di bawah tenda, Bagas memandangnya dari jauh dengan wajah yang sengaja tidak menunjukkan apa-apa.
"Kalau Rendi mau bicara dengan saya," kata Rani akhirnya, "dia datang sendiri, Bu Hajjah. Bukan lewat Ibu. Soal Alya, saya jawab di depan dia."
Hajjah mengangguk lama.
"Rabu," katanya lirih. "Mama akan bilang padanya."