Ibu Rani tidak menoleh ketika Rani menatapnya, dan itu justru jawaban pertama. "Jangan lihat Ibu begitu," katanya. "Ibu nggak ikut-ikut."
"Aku belum bilang apa-apa, Bu."
"Matamu sudah." Ibu Rani menarik ujung kerudungnya, melipatnya, membukanya lagi. "Bu Bagas telepon tadi malam. Sebelum Rendi datang, sebelum Ibu tahu dia bebas. Dia minta izin. Katanya, kalau Ibu merestui, dia mau telepon resmi, sebagai orang tua, untuk datang badatang."
Gelas teh di tangan Rani terasa tiba-tiba berat. "Terus Ibu jawab apa?"
"Ibu jawab nanti." Ibu Rani akhirnya menoleh, dan Rani melihat sesuatu di wajahnya yang jarang sekali ada di sana: ragu yang jujur. "Ibu bilang, Ibu mau ke makam Ayahmu dulu. Ibu nggak bisa ngambil keputusan sebesar itu sebelum Ibu cerita sama dia."
"Bu, aku belum memutuskan apa pun soal Mas Bagas."
"Ibu tahu. Makanya Ibu belum memutuskan juga." Ia berdiri, menepuk-nepuk sarungnya yang tidak berdebu. "Empat hari lagi kita ke sana. Bawa Iki. Bawa Alya."
Maya, yang sejak tadi pura-pura sibuk memotong bolu, mengiris lebih lambat daripada yang diperlukan.
*****
Empat hari kemudian, pagi di pemakaman umum itu masih berembun. Rumput di antara nisan basah dan menempel di sandal, dan Iki berjalan paling depan membawa botol air mawar, sesekali menoleh untuk memastikan kakaknya tidak tertinggal.
"Itu, Kak. Yang ada pohon kamboja." Ia menunjuk dengan bangga, seolah ialah yang menemukan.
Makam Ayah masih seperti terakhir kali Rani melihatnya, nisan sederhana dengan nama Iyus terukir dan sebatang kamboja yang bunganya jatuh ke tanah. Rani berlutut dengan Alya di gendongan kain dan mencabut dua tiga rumput liar. Ibu Rani membuka plastik bunga tabur dan menyebarkannya pelan-pelan, tanpa bicara, dari kepala sampai kaki.
Sepuluh menit mereka membaca doa berdampingan. Iki berhenti lebih dulu karena lututnya pegal, lalu bertanya sangat keras apakah Ayah bisa mendengar kalau mereka bilang Alya sudah punya gigi satu. "Belum punya, Iki," koreksi Rani. "Ia baru sebulan." "Tapi nanti punya," kata Iki, dan menaburkan sisa air mawar dengan khidmat.
Ibu Rani menyuruhnya menunggu di bawah pohon.
Sesudah Iki menjauh, ia tetap berlutut di sisi nisan. Tangannya yang kasar mengusap tanah di depan batu itu, lama.
"Yah," katanya, pelan. Rani sudah lama sekali tidak mendengar suara ibunya selembut itu. "Ini Rani. Ada Alya juga, cucumu. Lahir dengan selamat. Aku di sampingnya."
Rani menahan napas.
"Urusanku sama Rani soal pagi itu sudah kuselesaikan, Yah. Dia sudah maafin aku." Ibu Rani menunduk, lalu berhenti dan menggigit bibir. "Sekarang soal yang lain. Ada orang yang mau melamar Rani, Yah. Namanya Bagas. Aku belum kenal betul. Tapi dia datang waktu Rani nggak butuh dia. Dia nggak minta apa-apa."
Burung di kamboja berbunyi satu kali dan diam.
"Aku nggak tahu kamu mau apa," lanjut ibu Rani. "Tapi aku mau bilang, kalau kamu setuju, kasih tanda."
Tidak ada tanda. Hanya angin tipis menggoyang bunga kamboja, dan satu kuntum jatuh pelan di atas nisan. Ibu Rani menatap kuntum itu lama-lama, lalu menoleh pada Rani dengan mata yang berair.
"Itu bukan tanda," katanya cepat. "Itu bunga jatuh."
"Iya, Bu."
"Tapi Ibu mau menganggapnya tanda." Ia tertawa kecil, serak, pendek, dan menyeka mata dengan punggung tangan. Lalu ia mengatakan sesuatu yang tidak pernah Rani sangka akan keluar dari mulutnya.
"Ran. Ayahmu menitipkan kamu pada Ibu, bukan menitipkan Ibu pada kamu." Ia menatap lurus. "Selama ini Ibu terbalik. Ibu pikir kamu yang harus jaga Ibu, adik-adikmu, semua orang. Ibu keliru. Kamu berhak pilih orang yang menjaga kamu. Ibu cuma minta satu: pilih dengan mata terbuka. Bukan karena takut, bukan karena Ibu bilang."
"Aku akan, Bu."
"Ibu restui kalau dia memang baik. Itu saja." Ibu Rani berdiri dengan bertumpu pada nisan, dan Rani menahan sikunya. "Sudah. Jangan lama-lama, nanti Alya masuk angin."
Dalam perjalanan pulang Iki bertanya, di angkot, kenapa ibu menangis padahal tidak ada yang meninggal. Ibu Rani menjawab bahwa ia kelilipan. Iki tidak percaya, tetapi menggenggam tangan ibunya sampai turun.
*****
Sore itu Rani membongkar lemari kamar lamanya untuk mencari kain bedong yang katanya Maya pernah titipkan. Kain itu tidak ketemu, tetapi di rak paling bawah, terselip di antara rapor yang menguning dan sebuah topi pramuka, ia menemukan buku tulis bersampul biru muda dengan namanya di pojok: Maharani Saraswati, XI IPA 2.
Ia duduk di tepi ranjang dengan Alya tertidur di sebelahnya dan membuka halaman acak. Tulisan bundar dan rapi. Daftar belanja toko. Lirik lagu. Dan di halaman keempat, dengan pulpen hitam yang ditekan terlalu kuat:
Cita-cita: jadi guru. Kuliah di Banjarmasin. Biar Ayah bangga.
Ia membaca kalimat itu tiga kali. Dadanya hangat dan nyeri sekaligus. Pesan Ayah di rumah sakit dulu kembali, utuh, pada nada suaranya yang sudah hampir hilang: kuliah, jadi guru, jaga ibu dan adik. Dan jawaban Rani sendiri, dulu, sambil menunduk: "Pikir-pikir dulu, Yah."
Ia tidak membuat keputusan. Ia hanya menutup buku itu dengan hati-hati dan meletakkannya di atas lemari, di tempat yang akan kelihatan, bukan terkubur. 'Belum, Yah,' batinnya. 'Tapi jangan dihapus.'
Ponsel ibu Rani berbunyi di ruang tengah. Rani mendengar suara ibunya menjawab, dan jeda panjang. Lalu suara ibunya berubah menjadi sangat formal dan sangat sopan, seperti sedang menerima tamu agung.
"Ya, Bu Bagas. Waalaikum salam. Sehat, alhamdulillah." Jeda. "Ya, kami sudah dari makam tadi pagi." Jeda lagi, lebih panjang. "Ya, saya... ya. Silakan. Kami tunggu."
Rani berdiri di ambang pintu kamar ketika ibunya menutup telepon dan memandangnya.
"Sabtu depan," kata ibu Rani. "Dua puluh dua. Bu Bagas, anaknya, Kak Laila, mau datang badatang. Resmi."
Laki-laki yang kedua. Rani sudah mendengar kata itu terlalu lama, dari bisik-bisik di gang dan dari kepalanya sendiri, dengan nada keras dan sinis, seolah ia cuma sisa yang dipungut. Tetapi malam itu, di ambang pintu rumah masa kecilnya, dengan buku biru di belakang punggung dan anak di ranjang, ia merasakannya berbeda: kata itu masih menyakitkan, tetapi sekarang juga mengangkat.
"Hampir lupa," kata ibu Rani, dan masuk ke dapur membawa panci tanpa menunggu jawaban, seperti orang yang takut ditanya lebih jauh.
Rani baru akan menyusul ketika Adi muncul dari pintu belakang dengan sebatang tebu di tangan, yang entah ia dapat dari mana.
"Gue denger semuanya," katanya, menyandarkan bahu di kusen. "Tembok rumah ini tipis."
"Kak Adi mau marah?"
"Kenapa gue marah?" Adi menggigit tebu, mengunyah, menelan. "Gue mau ngomong satu hal, nggak lama. Dulu gue sudah minta maaf soal Rendi, soal gue diam. Lo sudah bilang nggak apa-apa. Tapi sekarang gue pengin lo tahu, jangan pernah milih Bagas karena lo ngerasa utang budi. Dia nggak minta itu. Gue kenal dia cukup lama. Dia orang yang kalau lo bilang nggak, dia cuma bilang oke dan nunggu."
"Aku tahu, Kak."
"Bagus." Adi tersenyum miring, wajah yang jarang sekali ia tunjukkan kepada adiknya. "Gue pulang karena gue pikir di sinilah gue dibutuhin. Cutinya gue panjangin sampai akhir tahun."
"Kak..."
"Udah. Gue ke belakang, mau bantu nyokap angkat panci." Ia menunjuk dengan tebu. "Teh yang lo bilang tadi, bikin yang banyak. Kak Laila itu katanya doyan teh manis."
Rani menahan tawa, lalu tidak berhasil menahannya, dan hari Sabtu itu mendadak terasa dekat dan tidak lagi menakutkan.