Rani membawa ponsel dan Alya yang merengek kecil ke teras belakang, supaya suaranya tidak sampai ke dalam. "Itu bukan keputusan saya, Mas," katanya. "Rendi minta bicara dengan Mas, bukan dengan saya. Bu Hajjah baru kasih nomor kalau saya izinkan, dan saya izinkan hanya kalau Mas mau. Kalau Mas bilang tidak, selesai. Tidak ada yang tersinggung."
Di seberang, ada jeda yang bunyinya seperti orang menggosok dagu. "Dia bilang mau bicara apa?"
"Cuma bicara. Itu kata Bu Hajjah."
"Kapan?"
"Besok siang kalau Mas bersedia. Dia sudah di Palangkaraya sejak pagi tadi, menginap di rumah kenalan Bu Hajjah." Rani menelan ludah. "Mas, saya nggak mau Mas merasa harus mewakili saya. Kalau Mas pergi, pergilah karena Mas mau."
"Aku mau," jawab Bagas, sederhana. "Aku juga ingin lihat orangnya sekali, Ran. Bukan untuk bertengkar. Untuk tahu siapa yang pernah kamu pilih dan yang akan selalu jadi ayah Alya."
Rani memejam. Betapa jarang laki-laki mengucapkan kalimat sejernih itu.
*****
Warung itu berdiri di tepi sungai, dua meja kayu di bawah atap seng, dengan bau ikan bakar yang mengepul ke arah air cokelat. Bagas sampai sepuluh menit lebih awal dan duduk membelakangi sungai supaya bisa melihat jalan. Ia memesan teh, tidak meminumnya, dan tiga kali mengecek jam.
Rendi datang berjalan kaki.
Bagas langsung mengenalinya, dan itu mengejutkan. Ia tidak mengira wajah yang pernah merangkul Rani di pelaminan itu bisa berubah sebanyak ini. Lebih kurus, lebih tua, tulang pipi menonjol. Tetapi lebih daripada itu, sesuatu di dalam sosoknya sudah dicabut, kecongkakan yang dulu ia pakai seperti jaket mahal.
Rendi berhenti dua langkah dari meja. Ia memandang Bagas lama, dengan tatapan orang yang sedang mencocokkan sesuatu dengan ingatan.
"Kamu yang di pelaminan," katanya akhirnya.
"Ya."
"Tamu yang lama melihat istriku." Rendi menarik kursi dan duduk, tidak minta izin. "Waktu itu aku tanya Rani siapa kamu, dan dia bilang pembeli toko dulu."
"Itu benar. Aku pembeli sepatu." Bagas menggenggam gelas tehnya dengan dua tangan. "Aku datang hari itu mau melamarnya, Bang. Aku bawa cincin. Aku terlambat satu bulan."
Rendi tertawa, pendek, tanpa suara. "Terlambat." Ia menunduk, memain-mainkan sendok di mangkuk kosong. "Aku pikir aku yang mencuri. Ternyata aku yang menyerobot."
"Aku nggak bilang begitu."
"Nggak perlu." Rendi menarik napas, dan ketika mengangkat wajah, matanya sudah berubah, keras, tapi bukan keras yang membuat orang takut; keras yang membuat orang waspada pada kesedihan. "Dengar. Aku nggak punya hak apa-apa. Tapi aku mau bilang ini sekali, jadi dengar. Kalau kamu sakiti dia, kalau kamu bohong, kalau kamu angkat tangan sekali saja ke dia atau ke Alya..." Suaranya turun. "Aku nggak peduli aku punya apa atau nggak. Aku akan cari kamu. Aku akan..."
"Bang."
"...aku akan..." Kalimat itu patah sendiri. Rendi menutup mulut dengan punggung tangan. Bahunya naik turun. Dari seberang meja, Bagas mendengar sesuatu yang tidak ia duga, bukan raungan, bukan ancaman, tapi isakan kecil yang ditahan seperti orang yang sudah lama tidak diizinkan menangis.
Ia tidak bergerak. Ia membiarkan.
"Aku yang menamparnya," kata Rendi lewat tangan. "Aku yang bikin dia berdarah. Orang seperti aku nggak punya hak mengancam siapa pun."
"Kamu punya hak sebagai ayah Alya," jawab Bagas pelan.
Rendi mengangkat wajah basah. Ia menatap Bagas seakan mendengar bahasa asing.
"Aku nggak akan menghapusmu dari hidup Alya, Bang. Itu bukan hakku, itu hak Alya. Kalau suatu hari dia tanya siapa ayahnya, aku nggak akan bohong. Aku cuma akan bilang bahwa ayahnya orang yang pernah salah dan berusaha benar. Tapi syaratnya Rani yang tentukan. Bukan kamu, bukan aku." Bagas berhenti. "Dan aku nggak akan mengambil tempatmu. Aku cuma akan berdiri di tempat yang kosong."
Lama sekali tidak ada suara kecuali air yang menampar tiang dermaga. Seekor kucing menyeberang di bawah meja. Penjaga warung, pura-pura membalik ikan, berhenti membalik.
"Jaga mereka," kata Rendi serak. Hanya itu, dua kata, tapi ia mengucapkannya dengan seluruh napas yang tersisa.
"Aku jaga."
Rendi bangkit, mengambil uang dari saku dan menaruh di meja untuk dua gelas teh yang tidak ia minum, lalu pergi dengan langkah yang lurus, tidak menoleh.
*****
Malam itu Rani menggelar sajadah di kamar lamanya, di bawah lampu belajar yang disetel redup. Ia sudah shalat istikharah dua malam berturut-turut, dan malam itu yang ketiga. Ia tidak minta tanda. Ia hanya menyerahkan, dengan jujur, dua hal yang selama ini ia pegang erat: takutnya, dan keinginannya.
Selesai, ia mendapati Maya duduk di tepi ranjang dengan Alya di pangkuan. Maya menginap, katanya, karena "Danu bisa sendiri semalam." Ia tidak banyak bicara. Ia hanya membuka kedua lengannya, dan Rani, di atas sajadah, menyelip ke dalamnya seperti anak kecil.
"Aku takut, May," bisik Rani di bahunya. "Takut salah lagi."
"Aku tahu." Maya mengusap rambutnya. "Tapi kamu nggak bakal salah, Ran. Kamu udah salah sekali, dan kamu bayar mahal. Sekarang kamu cuma perlu jujur sama diri sendiri."
"Aku sudah."
"Nah." Maya tersenyum di rambutnya. "Terus tunggu apa?"
*****
Pagi 25 Desember, Bagas tiba pukul delapan membawa kantong buah dan kabar. Ia berdiri di teras, tidak masuk, dengan Kak Laila dan Ibu Bagas menunggu di mobil, sebab Rani sendiri yang meminta jawabannya diberikan di sana, pintu terbuka, Adi di dalam.
Rani keluar dengan Alya di gendongan kain. Kerudungnya putih gading, polos.
"Mas," katanya.
"Ran." Bagas menelan ludah. "Sebelum kamu jawab. Kantorku sudah memutuskan semalam. Penempatan tetapku di Palangkaraya, mulai Februari. Bukan permintaan, tapi... aku yang minta. Apa pun jawabanmu, aku tetap di sini. Dekat ibumu, dekat Iki. Pesan Ayahmu soal itu... aku ingin ikut menjaganya."
Rani menunduk menatap kepala kecil Alya. Ketika ia mengangkat wajah, ia tersenyum, dan lesung pipi itu muncul.
"Aku sudah memutuskan, Mas." Ia berhenti pada "aku" itu, menyadari baru kali ini ia mengucapkannya di depan Bagas, lalu melanjutkan. "Aku memilihmu. Bukan karena aku butuh, tapi karena aku mau."
Bagas tidak bergerak. Matanya memerah, rahangnya mengeras seperti sedang menahan sesuatu yang terlalu besar untuk wadahnya. Lalu ia menunduk, dan Rani mendengar dua kata yang hampir tak terdengar, "Alhamdulillah," keluar dari mulutnya seperti napas yang sudah ditahan bertahun-tahun.
Di dalam rumah, ada bunyi sesuatu jatuh, panci, kemungkinan, lalu bisikan Adi, "Bu, jangan sekarang."
Rani berbalik. Ibu Rani berdiri di ambang pintu dapur dengan celemek dan wajah yang sudah basah. Iki bersembunyi di belakang kakinya.
"Bu," kata Rani. "Aku jawab ya."
Ibu Rani membuka mulut, menutupnya, lalu tangisnya pecah tanpa suara, bahunya terguncang. Adi melangkah, memeluknya dari samping tanpa kata-kata, dan ibu Rani menyandarkan kepala ke dadanya, anak laki-laki yang dulu ia sayangi paling banyak dan baru sekarang benar-benar memeluknya balik.
"Kak Rani jadi nikah sama Kak Bagas?" tanya Iki, polos dan keras.
"Iya, Dik."
"Terus Bang Rendi gimana?" Iki mengernyit.
"Bang Rendi tetap ayahnya Alya. Itu nggak berubah," jawab Adi, masih memeluk ibunya, dengan suara yang tidak sepenuhnya stabil. "Sudah, Ki. Nanti Kak Adi jelasin."