Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore dan akhirnya Heydar menyelesaikan pekerjaan yang begitu banyak. Setelah menutup berkas terakhir dia menyandarkan punggung lelah ke kursi dan memijit sudut matanya karena amat lelah menatap komputer seharian, meskipun diselingi beberapa meeting dan ditemani oleh Hadi. Berulangkali Heydar menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Pundaknya terasa begitu pegal dan tak ragu dia memukul dengan tangan secara bergantian demi mengurangi rasa tegang. Selagi dia sibuk meregangkan otot yang kaku tiba-tiba terdengar pintu diketuk hingga terlihat seorang wanita cantik berjalan menghampiri.
"Maaf, Pak. Saya mau ambil berkas!" ucap wanita tersebut dan merupakan sekretaris Heydar. Seketika mata Heydar yang tertutup terbuka lebar dan segera membenarkan posisi duduk menjadi tegak dari sebelumnya bersandar.
"Aku sudah menyelesaikan semua berkas dan kau bisa mengambilnya!" Itulah jawaban yang keluar dari mulut Heydar disusul Farah menghentikan langkah tepat di depan meja. Tanpa sungkan dia mengambil tumpukan berkas yang sudah diperiksa oleh Heydar. Setelah memegang tumpukan berkas tersebut dia mengalihkan pandangan padanya seraya berujar lagi.
"Sepertinya Bapak sangat kelelahan hari ini. Apakah mau saya buatkan teh?" Itulah penawaran yang keluar dari mulut Farah karena melihat Heydar amat kelelahan hari ini. Ternyata gelengan justru diberikan oleh Heydar sehingga membuat Farah membuang nafas karena tak tahu sekiranya apa yang bisa dilakukan untuk Heydar. Namun, belum sempat dia mengatakan apapun lagi tiba-tiba terdengar suaranya.
"Aku akan segera pulang dan kau bisa pulang lebih dulu karena aku akan bersantai sebentar." Itulah perintah yang keluar dari mulut Heydar di mana Farah telah diizinkan untuk pulang lebih dulu olehnya. Dirasa tak ada keperluan lagi, Farah segera undur diri dan meninggalkan Heydar sendirian di sana.
Setelah menutup pintu Heydar meraih sebotol air mineral yang ada di meja dan meneguknya hingga tandas karena tersisa setengah saja. Dia membawa tangan kanan mengambil sebuah benda pipih yang berada di samping keyboard. Dalam diam dia menatap layar yang telah menyala dan membaca beberapa pesan masuk di mana salah satu di antaranya berasal dari Leyla. Menemukan pesan yang dikirim oleh istri tercinta bukan rasa senang yang dirasakan oleh Heydar karena justru wajah kesal seperti yang dialami tadi siang. Bersama rasa kesal yang dirasakan, mau tak mau Heydar segera membalas agar ocehan Leyla tak makin melebar dan membuat kepala pusing. Heydar menggerakkan jarinya membuat kalimat balasan untuk Leyla serta membacanya berulangkali sekadar memastikan penulisannya telah benar. Dirasa cukup Heydar segera mengirim pesan tersebut dan yakin kalau pesannya tak akan membuat Leyla mengoceh. Menunggu beberapa saat ternyata benar karena tak ada notif pesan atau panggilan berasal dari Leyla di mana Heydar telah mengirim sejumlah uang yang diminta sejak siang. Segera Heydar teringat dengan apa yang telah disampaikan kepada Hadi dan tak ragu untuk menghubunginya seraya mendekatkan benda itu ke telinga sebelah kanan. Dengan sabar Heydar menanti sampai panggilan terhubung hingga terdengar suara di seberang sana.
"Hallo, Pak."
"Aku akan pulang sebentar lagi. Apa kau sudah menyiapkan segalanya untukku?"
"Sudah, Pak. Pesanan Bapak sudah siap."
"Bagus. Kalau begitu tunggu aku di bawah 10 menit lagi."
"Baik, Pak."
Sambungan itu cukup singkat dan segera diputus oleh Heydar setelah mendapatkan jawaban pasti dari Hadi yang baru saja dia telepon. Setelahnya wajah lesu berubah semangat disusul Heydar tersenyum lebar. Bergegas dia mematikan komputer dan menyambar jas hitam untuk segera dikenakan. Dirasa tak ada yang tertinggal, dia segera menuju pintu untuk menemui Hadi yang menanti di bawah. Ketika keluar ruangan, dia menemukan kalau Farah masih ada dan sedang bersiap untuk pulang. Tak sungkan mereka jalan beriringan layaknya anak dan orang tua karena Farah seumuran dengan Olivia. Namun, arah Farah tentu berbeda dengan Heydar dan melihatnya masuk ke mobil yang sudah menanti di lobi hingga hilang dari pandangan. Sesudahnya Farah segera melanjutkan langkahnya menuju parkiran sambil mengoceh pelan.
"Kenapa wajah Pak Heydar tampak sangat senang, ya? Jadi curiga mereka mau kemana!"
Mobil yang membawa Heydar dan Hadi meluncur ke sebuah restoran yang bisa ditempuh dalam waktu setengah jam dari perusahaan. Setibanya di sana mereka langsung menuju sebuah meja yang telah dipesan sebelumnya oleh Hadi. Di meja tersebut ternyata telah ada seorang wanita cantik yang telah menanti dan memamerkan senyum terbaik ketika melihat kedatangan mereka. Bahkan, wanita itu segera bangun dari duduk disusul langkah keduanya berhenti di depan meja. Sejenak tak ada yang bicara kecuali suara Hadi memecah kesunyian.
"Oya, Pak. Kenalkan ini adalah Reni yang sudah saya ceritakan di mobil," ucap Hadi memperkenalkan siapa sosok wanita yang berada di hadapan mereka. Tanpa ragu Heydar langsung mengulurkan tangan kanan dan disambut oleh wanita yang diperkenalkan bernama Reni.
"Reni, o*******g berkenalan dengan Anda!"
"Saya Heydar. Ayo kita duduk!"
Itulah jawaban yang diberikan oleh Heydar disusul mereka langsung segera ambil posisi di mana Hadi membiarkan mereka duduk berdampingan. Tak berapa lama datang seorang pelayan sekadar untuk menanyakan apa makanan yang ingin dipesan. Dalam waktu singkat mereka telah memilih apa yang diinginkan disusul pelayan tersebut meninggalkan meja untuk mempersiapkan segalanya. Waktu amat cepat berlalu dan menunjukkan hampir jam 9 malam di mana semua makanan yang tersaji telah habis disantap oleh mereka, meskipun Reni hanya makan spaghetti. Ketika jam dinding menunjukkan tepat pukul 9 Hadi harus melepaskan kepergian Heydar bersama Reni untuk menuju suatu tempat. Ketika mobil yang membawa Heydar dan Reni hilang dari pandangan, akhirnya datang sebuah mobil berupa taksi dan segera mengantar Hadi untuk pulang ke rumahnya karena pekerjaan dia telah selesai. Tanpa mereka sadari, ternyata ada Farah yang menyaksikan sejak tadi dan sedang melamun. Seketika dia terhenyak ketika sebuah tangan menepuk bahunya.
"Hei, kenapa melamun? Ada apa, hmm?" Sebuah pertanyaan begitu jelas menyapa telinga Farah disusul matanya berkedip beberapa kali, lalu menoleh pada seorang pria yang berdiri di sampingnya. Namun, Farah tak segera menjawab karena kembali menatap ke arah jalan di mana tak terlihat mobil yang dikendarai oleh Heydar maupun Hadi.
"Aku melihat Pak Heydar pergi bersama seorang wanita, Mas!" ucap Farah tanpa sungkan dan seketika membuat pria yang tak lain adalah Nano berkerut kening. Bahkan, dia segera menatap ke arah jalan di mana sejak tadi pandangan Farah tertuju ke sana. Apa yang dilakukan tentu berakhir nihil karena tak ada tanda-tanda keberadaan Heydar. Namun, pikiran negatif belum mengisi otaknya dan segera menimpali.
"Maksudmu ada Pak Heydar bersama istrinya di sini?" balas Nano dan Farah menggeleng.
"Bukan, Mas. Wanita itu bukanlah istri Pak Heydar, tapi orang lain dan aku tak mengenalnya!" ucap Farah yang terlihat begitu yakin dengan penglihatannya beberapa saat lalu. Maka, terlihat Nano menggaruk kepalanya karena tidak tahu juga seperti apa sosok dari istri Heydar.
"Lantas, memangnya kenapa kalau dia bersama wanita? Mungkin saja seorang teman lama atau ada hubungan kerja yang sengaja makan malam bersama demi kelancaran urusan. Iyakan?" Begitulah komentar yang bisa dikatakan oleh Nano di mana dia tak merasa aneh jika saja memang benar kalau Heydar bersama seorang wanita. Apalagi bukan hal baru dalam dunia bisnis jika laki-laki bertemu dengan wanita sekadar untuk makan malam.
"Iya juga, sih, tapi menurutku terlihat begitu aneh karena wanita itu menggandeng mesra tangan Pak Heydar. Macam suami istri, Mas!" balas Farah merasa yakin dengan apa yang dilihat. Alasan itu kembali membuat Nano berkerut kening dan menimpali.
"Jadi maksudmu Pak Heydar bersama selingkuhannya?" Akhirnya apa yang terbersit di benak Farah terucap dari mulut Nano di mana dia tak ragu memberikan anggukan kecil, meskipun terlihat cukup ragu.
Sejenak tak ada yang menimpali karena sibuk dengan pikiran masing-masing. Adapun Nano memang tak melihat sosok Heydar sedikitpun sehingga dia tidak bisa membenarkan dugaan Farah barusan. Adapun kehadiran mereka di sana untuk merayakan bergabungnya Nano di perusahaan, meskipun hanya bertiga dengan Bimo yang berada di toilet.
"Widih, bisa jadi berita bagus kalau benar Pak Heydar punya selingkuhan. Dijamin rumah tangganya akan kacau balau jika istrinya tahu dia memiliki wanita idaman lain," gumam Nano kali ini dengan senyum sinis terukir di bibir karena mengetahui bahwa Heydar memiliki sebuah skandal besar, meskipun tak menyangkut dengan perusahaan. Apa yang digumamkan oleh Nano nyatanya didengar jelas oleh Farah yang berpikir sama. Apalagi Farah tahu betul jenis wanita seperti apa yang menjadi istri Heydar.
"Aku yakin Bu Leyla pasti akan ngamuk jika tahu kalau Pak Heydar main wanita di belakangnya. Apalagi jika tahu kalau Pak Hadi juga terlibat di dalamnya karena tadi ada dia juga, Mas."
"Benarkah?"
"Iya. Aku yakin kalau istri Pak Hadi pun akan berpikir bahwa suaminya main wanita seperti Pak Heydar atau jangan-jangan mereka memang sering melakukan hal itu bersama-sama dan tak pernah tercium oleh keluarga!" Penuh saksama Nano mendengar apa yang dituturkan oleh Farah di mana bukan satu keanehan jika dia mengetahui tentang keluarga Heydar maupun Hadi. Saat keduanya terus berbincang akhirnya datang Bimo yang baru saja kembali dari toilet. Selepas dia menghentikan langkah di depan mereka, terlihat Bimo yang menatap serius diikuti suaranya yang terdengar.
"Ada apa ini? Kenapa wajah kalian terlihat begitu serius?" ucap Bimo sekadar menebak kalau telah melewatkan sesuatu dan ingin mengetahuinya juga. Secara bersamaan Farah dan Nano membuang nafas kasar sebelum akhirnya terdengar lagi suara Bimo.
"Ada apaan, sih? Ceritalah dan jangan membuatku bingung. Buruan!" seru Bimo yang tak bisa lagi menahan rasa penasaran melihat keduanya bersikap seperti itu. Mau tak mau akhirnya Farah yang menceritakan semua dan didengar penuh saksama oleh Bimo yang sesekali melotot mendengar cerita tersebut hingga selesai. Mata Bimo menatap ke arah jalan di mana tak akan bisa melihat sosok Heydar maupun Hadi.
"Apa kau serius, Farah? Pasti kau salah lihat!"
"Aku serius, Mas. Itu memang Pak Heydar dan Pak Hadi bersama seorang wanita cantik. Hanya saja Pak Hadi memisahkan diri karena menaiki sebuah taksi, sedangkan Pak Heydar pergi bersama wanita itu menggunakan mobilnya." Amat jelas dan meyakinkan kalimat yang keluar dari mulut Farah. Mendengar cerita tersebut pikiran negatif seketika mengisi hati Bimo karena baru kali ini mendengar kalau Heydar bersama seorang wanita dan bukanlah istrinya. Seketika mata Bimo beradu pandang dengan Nano yang terlihat mengukir senyum sinis seakan mendapat kartu merah dan bisa digunakan untuk menyerang Heydar. Namun, apa yang mereka bicarakan saat ini harus dihentikan karena waktu sudah cukup malam di mana Farah harus segera pulang.
Di sisi lain, Heydar akhirnya tiba di sebuah apartemen yang terletak di Jakarta Selatan dan merupakan salah satu apartemen miliknya. Tentu saja apartemen itu dibeli oleh Heydar dari uang yang telah dia selundupkan bersama Hadi selama ini. Setelah mobil berhenti di parkiran Heydar dan Reni segera turun dari mobil di mana seorang sopir akan menanti dengan setia sampai urusan mereka selesai. Mereka berjalan layaknya pasangan suami istri dan disaksikan oleh sopir yang hanya bisa menyaksikan tanpa bisa berkomentar. Sebagai sopir kepercayaan Heydar tentunya dia akan menutupi segala kebusukan yang dilakukan oleh majikannya. Dalam waktu singkat Heydar dan Reni akhirnya tiba di kamar yang terlihat begitu nyaman dan dirawat dengan baik.
"Waaa ... apartemennya bagus, Om. Pasti harganya sangat mahal," ucap Reni ketika menginjakkan kakinya di apartemen tersebut dan langsung menunjukkan ketertarikannya.
"Apa kau suka dengan apartemen ini?" tanya Heydar dengan suara lembut yang sudah lama tak dilakukan pada Leyla.
"Suka banget, Om. Aku pasti sangat betah jika tinggal di sini," balas Reni dengan suara merajuk layaknya godaan seorang pelakor. Bahkan, Reni tanpa ragu terus menggandeng tangan Heydar yang merasa senang diperlakukan demikian.
Dengan sabar Heydar menunjukkan seisi apartemen itu yang memiliki dua kamar dan selanjutnya mereka terhenti pada kamar utama di mana gorden sengaja dibuka oleh Reni. Amat jelas pemandangan di luar gedung dengan langit yang telah gelap dihiasi bintang-bintang dengan rembulan bersinar cerah. Reni sadar betul apa yang menjadi alasan dia di apartemen tersebut dan segera membalik tubuhnya hingga berhadapan dengan Heydar yang menatapnya sejak tadi. Dalam hati Reni sudah tahu kalau Heydar ingin sekali menyerangnya sejak tadi, tapi coba ditahan.
"Om sudah tak tahan, ya?" kata Reni sekadar meledek dengan suara menggoda sambil mengelus bagian d**a Heydar yang terasa kokoh di mana selama ini selalu rajin berolahraga.
"Sudah tahu kenapa masih tanya, hmm?" balas Heydar yang justru membuat Reni cekikikan. Namun, dia memberikan pukulan kecil dan mengatakan hal lain.
"Sabar dulu dong, Sayang. Jangan main serang karena aku tak akan lari. Lebih baik mandi dulu supaya lebih segar dan semangat saat kuda-kudaan nanti. Ok?" terang Reni yang membuat Heydar harus menahan hasrat dan suka dengan panggilan akrab darinya.
Heydar sadar diri di mana dia harus membersihkan tubuh terlebih dahulu setelah seharian bekerja. Akhirnya dia segera memutuskan untuk masuk ke kamar mandi karena merasakan tubuhnya sedikit lengket sebelum apa yang diniatkan terlaksana. Adapun Reni menunggu dengan setia sambil duduk di pinggir ranjang dan terasa empuk. Bahkan, Reni mengukir senyum di mana sebentar lagi akan melayani hasrat seorang pria yang menjadi tambang emasnya. Di saat dia sedang bersiap untuk menanggalkan pakaian, tiba-tiba terdengar panggilan dari sebuah handphone dan merupakan miliknya. Secepatnya Reni meraih handphone tersebut dan menemukan kalau Hadi yang menelpon. Tanpa ragu Reni segera menerima panggilan itu dan terdengar seruan Hadi.
"Ini kesempatanmu untuk jadi simpanan pria berduit dan puaskan dia!"