Di lain tempat, seorang pria tengah berada di rumah sakit. Di hadapannya terbaring seorang pria baya yang sedang terlelep dalam tidurnya. Masa koma yang dia alami sudah lewat, tapi tubuhnya dinyatakan stroke oleh dokter. Tangan pria itu meraih tangan kanan pria baya dan mencium punggungnya, lalu meletakkan di pipi. Matanya menatap sendu pria tak berdaya itu dengan kedua mata yang perlahan berkabut.
"Cepat sembuh, Pa. Aku janji akan menemukannya segera karena aku yakin kalau Mama masih hidup," gumamnya yang menyebut pria itu dengan sebutan Papa.
Ucapannya barusan seketika membuat tangan pria itu bergerak kecil sebagai respon apa yang baru dia ucapkan. Perlahan, mata pria itu terbuka dan memicing karena sinar yang menyapa mata membuat silau. Semenit kemudian, pria itu sudah membuka matanya cukup lebar menatap lembut orang yang menggenggam tangannya dan bergumam tak jelas. Pria itu pun tersenyum dan melabuhkan kembali ciuman di tangannya.
"Apa kabar, Pa?" tanya pria tersebut dengan parau dan dibalas gumaman lagi.
"Papa cepat sembuh, ya, dan aku minta doa restu semoga apa yang kulakukan kini akan segera membuahkan hasil!" lanjutnya lagi yang diangguki pelan, meski tanpa suara mengikuti setelahnya.
Pria itu mencium berkali-kali tangan pria yang dipanggil papa, bahkan tak ragu dia menempelkan kepalanya di atas d**a penuh manja. Mata pria baya itu nampak ikut berkabut dan menatap kepala pria yang tak lain adalah anaknya yang kerap datang untuk melihat kondisi dia selama ini.
"Papa akan selalu mendoakanmu, Nak. Semoga kau selalu baik-baik saja!" balas suara hati pria itu karena tak mampu berkata-kata akibat stroke yang dialaminya.
Setelah berada satu jam dalam ruangan dan bertemu dokter, pria dengan celana jeans robek dan jaket serta topi hitam itu pun meninggalkan rumah sakit. Langkahnya langsung menuju pintu gerbang dan menaiki angkot. Selang satu jam, tibalah pria lain ke ruangan tadi dan berjalan perlahan mendekati ranjang di mana pria baya tadi nampak terpejam layaknya sedang tidur. Senyum pria itu begitu sinis dan menatap sekeliling ruangan yang tampak tenang, lalu menatap kembali ke ranjang.
"Sayang sekali kau tak berdaya, Kak. Banyak hal terjadi setelah kau mengalami sakit begini dan kedatanganku ke sini hanya untuk mengabarkan kalau saat ini aku yang ambil alih perusahaan dan Olivia kukirim untuk menempati rumah Marco. Aku sengaja lakukan itu daripada rumah itu kosong dan dimakan rayap karena menantu kecilmu sakit jiwa!" serunya dengan posisi berdiri dan menggantung kedua tangannya ke belakang.
Pria itu berjalan dan mendekati jendela yang terbuka sedikit. Dia menatap ke luar yang terlihat mulai mendung dengan angin bertiup kencang serta terasa dingin membawa hawa hujan. Matanya kembali menoleh dan tersenyum tipis melihat seorang pria tak bedaya dan hanya bisa terbaring sepanjang waktu untuk menghabiskan sisa umurnya.
"Jika kau betah berlama-lama di sini, aku tak bisa berbuat apa-apa, Kak. Kau tak usah cemas karena aku akan mengurus perusahaan sekuat tenaga dengan semua ilmu yang pernah kau ajarkan selama ini. Kau juga jangan cemas, menantumu baik-baik saja dan berhubung dia sedikit depresi, maka aku pun dengan senang hati mengurus warisan yang ditinggalkan Marco untuknya. Pasalnya, dia tinggal bersama kakaknya di Bogor dan hal itu bukan mauku, tapi memang sangat menguntungkan bagiku!" cerocos pria itu yang tak lain adalah Heydar di mana dia kerap datang melihat kondisinya.
Tentu saja pria yang diajaknya bicara tak membalas. Jangankan membalas, dia justru tengah terlelap dalam mimpinya. Setelah hening sesaat, Heydar memutar tubuhnya dan kembali mendekati ranjang, lalu berdiri tepat di samping pria yang tak lain adalah Reymond.
"Nasibmu sial, Kak, karena kemalangan selalu menyertai keluargamu. Aku yakin, apa yang terjadi pada keluargamu adalah kesengajaan. Aku bisa saja menyelidiki siapa pelakunya, tapi karena hal ini menguntungkan bagiku, maka tidak kulakukan. Maafkan aku, Kak, karena sudah saatnya aku yang ambil alih perusahaan dan sudah lama ku idamkan. Aku yakin kau tak keberatan karena Marco sudah meninggal juga dan tak mungkin Elle yang mengurus karena bisa hancur semuanya. Jadi, aku datang ke sini untuk mengatakan kalau aku yang ambil alih perusahaan dan ju sarankan agar kau selamanya begini. Ok?" cicit Heydar diakhiri seringai aneh di bibir serta mata menatap sinis padanya yang bergeming seakan tak terganggu akan ocehannya sejak tadi. Tiba-tiba terdengar dering handphone dari balik saku celana Heydar disusul tangannya dengan cepat meraih benda pipih itu untuk melihat siapa yang menghubunginya dan tak lain adalah Leyla.
"Hallo, Ma!
"Papa di mana sekarang?"
"Aku sedang di rumah sakit melihat tambang emas kita. Ada apa?"
"Mama butuh uang dan tolong transfer sekarang juga!"
"Uang lagi? Baru kemarin Papa kasih 100 juta dan sekarang sudah minta lagi?"
"Ya ampun, Pa. Uang segitu sudah habis untuk bayar-bayar. Jangan pelit sama istri dan cepat kirim sekarang!"
"Kenapa kau boros sekali, Ma? Uang yang kemarin Papa berikan digunakan untuk apa? 100 juta tidak sedikit dan sudah habis dalam sehari buat apaan?"
"Astagaaaaaa ... tentu saja bayar listrik, bayar kartu kredit, belanja beras, bayar pembantu. Papa kira bayarnya pakai daun? Ya duit dong!"
"Mana ada beli beras sampai 100 juta, Ma. Sudahlah, akan kukirim uangnya nanti!"
Sambungan telepon terputus dan menyisakan raut kesal di wajah Heydar yang menggenggam erat handphone di tangan kanannya. Tentu saja dia kesal karena Leyla selalu minta uang dan entah dibelanjakan apa karena jumlah yang diberikan cukup besar.
"Boros sekali wanita itu. Aji mumpung betul hamburkan uang!" gerutu Heydar dengan kepala menggeleng di mana permintaan Leyla semakin aneh sejak dia menguasai perusahaan.
Di tengah rasa kesal yang menggelayut di hati, matanya menoleh ke arah ranjang dan menatap sebentar, lalu beranjak meninggalkan ruangan itu dengan dentuman pintu yang ditutup cukup keras. Ya, Heydar meninggalkan ruangan dengan rasa kesal akan perbuatan Leyla karena amat boros di mana banyak kecurangan dilakukan demi memenuhi gaya hidup istrinya. Setelah kepergian Heydar, maka ruangan itu kembali hening. Namun, perlahan dua kelopak mata yang tadi terpejam akhirnya terbuka menampilkan netra berwarna biru dan tajam menatap ke arah pintu yang tertutup rapat. Sudut bibir pria itu terangkat sangat kecil dengan telunjuk yang bergerak-gerak dan tak pernah dia tunjukkan padanya selama ini.
"Jadi begini watak aslimu sebenarnya, adikku!"
Di rumah yang terletak di kawasan Depok, Leyla yang baru saja menghubungi Heydar untuk meminta uang terlihat senang dan menghentakkan kaki hingga menimbulkan suara berisik. Upayanya meminta uang akhirnya dikabulkan oleh Heydar dengan dalih uang yang dia miliki sudah habis. Walaupun tidak semua benar, Leyla tak perduli asalkan keinginannya yang ingin hidup mewah bisa terlaksana. Bahkan, Heydar yang kini ambil alih perusahaan membuatnya semakin boros dengan membeli barang-barang mahal dan berkumpul bersama teman-temannya.
"Bisa beli tas baru lagi, deh! Bisa pamer minggu depan pas arisan sama Jeng Ratih," ujarnya sambil tersenyum bahagia dan duduk di sofa empuk.
Di saat hatinya sedang senang, tiba-tiba datang Olivia yang baru saja turun dari kamarnya karena baru selesai membersihkan diri dan sengaja datang untuk ambil barang yang belum diangkut semua ke rumah Marco. Dia hanya mengenakan pakaian rumah dan menggunakan riasan tipis untuk wajahnya yang sudah cantik serta rambut yang diikat. Olivia mendudukkan tubuh ke sofa dan meraih remote TV. Setelah sadar jika wajah Leyla begitu sumringah, dia pun berceloteh.
"Mama kenapa senyum-senyum? Dapat arisan, ya?" tebak Olivia karena tahu jika Leyla gemar ikut arisan yang berujung ajang pamer kekayaan. Bahkan, Olivia kenal betul siapa saja yang jadi teman kumpul ibunya.
"Bukan, Liv. Mama baru saja minta uang sama Papa dan mau dikasih, hihihi ...." Leyla menjawab jujur tanya Olivia yang hanya menatap dingin. Dia sudah tahu kalau Leyla sangat boros, terutama sejak Marco dinyatakan meninggal seakan takut kehabisan harta.
"Minta uang buat apa, sih, Ma? Belanja tas lagi?" sahut Olivia sedikit ketus dan menatap layar TV serta tangan masih memegang remote.
"Tuh, tahu. Ada model baru dan Mama tak mau kalah dengan Jeng Ratih. Mama mau tunjukkan kalau bukan hanya dia yang mampu beli. Kita sudah kaya dan bisa beli apapun kini. Iyakan? Oya, jangan lupa kau juga minta jatah sama Papa!" ujar Leyla yang membuat Olivia memicing di mana sikap itu lumayan membuatnya jijik. Bahkan, dia menatap aneh pada penampilan Leyla karena amat mencolok layaknya ibu-ibu arisan yang suka menggunjing.
"Aduh, Ma. Tante Ratih sudah kaya dari lahir. Dia memang beda dengan kita. Wajar dia bisa beli semua, sedangkan kita kaya karena mencuri warisan milik Marco dan seharusnya Elle yang menikmatinya. Bukan kita!" cicit Olivia ada benarnya, meskipun dia ikut menikmati hasilnya.
"Diam kamu, Liv! Mau mencuri atau tidak, kau juga ikut menikmatinya. Jadi diam dan jangan ceramahi Mama!" cicit Leyla tersinggung sambil menatap kesal pada Olivia. Bahkan, mata Leyla menatap nyalang pada Olivia yang tak gentar sedikitpun, kecuali membuang nafas kasar diikuti senyum sinis.
Mendadak tak ada bincang antara keduanya. Olivia memang suka menghamburkan uang, tapi dia tidak seboros Leyla dan lebih memilih menggunakan uangnya untuk jalan-jalan atau membuka usaha. Bahkan, uang yang dia dapatkan dari Heydar telah membuatnya berhasil mendirikan salon kecantikan yang cukup terkenal dan memiliki cabang. Di saat suasana keduanya yang menegang, tiba-tiba datanglah Heydar dan disambut senyum manis oleh Leyla karena sudah menanti.
"Eh, Papa, sudah pulang! Mana uangnya?"