Tentu saja ia tak bisa disalahkan dalam hal ini Karena dari sejak awal Eric tidak memperkenalkan dirinya sebagai putera Laura.
Delia tak tahu apakah pria itu memang sengaja membiarkan dirinya mengira bahwa dia seorang supir atau menganggap jati dirinya tak penting.
Delia berusaha mengendalikan lututnya yang lemas. Ia tentu tak mau jatuh terjerembab di hadapan tante Laura.
"Delia, selamat datang di tempat kediamanku. Aku berharap kau bisa betah dan jangan hiraukan Eric jika tadi dia berkelakuan menyebalkan padamu saat kalian dalam perjalanan menuju kemari. Dia memang tukang onar," kata Laura sambil tersenyum kecil ke arah Delia.
"Hmm ... Ya, Tante," sahut Delia dengan suara pelan. Tanpa sadar ia mencengkeram sekuat tenaga tas kecilnya sampai buku-buku jarinya memutih.
Hal itu tak luput dari pengamatan Eric. Dalam hati ia tersenyum penuh kemenangan menyadari rasa takut yang Delia alami. Itu pasti karena masalah tamparan tadi, pikir Eric senang.
"Perkenalkan pria usil ini adalah anak keduaku. Dia baru saja menamatkan studinya di London dan kini pulang kemari hanya untuk mengobrak-abrik seisi rumah ini. Tapi siapa yang bisa menghentikannya?" Laura berkata dengan menampilkan ekspresi frustasi yang tentu saja hanya sebagai bahan candaan.
Lalu kemudian Laura kembali melanjutkan, "Aku yakin kalian pasti sudah saling memperkenalkan diri tadi saat Eric datang menjemputmu," ucapan Laura lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan di telinga Delia.
Melihat reaksi yang ditunjukkan Delia, membuat Laura secara diam-diam melemparkan tatapan menuduh ke arah anaknya.
"Mulai hari ini juga kau akan bekerja, Delia. Tugasmu tetap sama seperti saat aku masih berada di rumah sakit tempat kau merawatku. Kau akan menempati kamar yang berada tepat di sebelah kamarku," ucap Laura sambil memandang ke arah pelayannya yang bernama Mina.
Mendapat tatapan dari sang majikan, Mina langsung mengerti tugasnya dan wanita itu langsung mengangguk ke arah Delia dengan maksud menyuruh Delia mengikutinya.
Delia memohon diri saat melewati Laura. Ia berjalan mengikuti Mina menuju lantai dua. Ia berjalan mengikuti Mina sambil dalam hati berusaha menenangkan gemuruh hatinya. Delia sampai memegangi dadanya, mengecek keberadaan jantungnya. Ia masih tidak percaya telah berani menampar Eric.
Delia tidak bisa membayangkan jika Eric tadi memberitahu Tante Laura bahwa Delia telah sangat lancang menampar wajahnya hanya gara-gara pria itu berusaha berbaik hati memasang sabuk pengaman untuknya. Sungguh tak bisa dimaafkan, keluh Delia dalam hatinya.
Mina menunjuk kamar yang akan ditempati Delia lalu wanita itu meninggalkan Delia sendirian di depan pintu kamarnya. Dengan ragu-ragu Delia memutar knop pintu dan sekali lagi ia langsung disuguhkan pemandangan interior yang serba mahal.
Delia berdiri cukup lama sampai akhirnya ia dikejutkan oleh teguran suara dari arah belakangnya, "aku masih menunggu permintaan maafmu, Delia."
Delia tidak tahu sudah berapa lama Eric berdiri di belakangnya. Hal itu membuatnya resah karena ingatan akan tamparan itu masih melekat erat di otaknya.
"Aku meminta maaf sekali lagi untuk kekasaranku, Eric. Aku panik karena begitu membuka mata, ada pria yang berada di hadapanku tidak lebih dari 30 cm. Coba kau posisikan dirimu di tempatku. Apa kau akan santai saja saat terbangun dan mendapati ada pria yang bisa dikatakan tidak kau kenal, berdiri sangat dekat dengan dirimu?" tanya Delia dengan nada sengit.
Mendengar ucapan Delia, membuat Eric langsung terkekeh. Eric tahu wanita itu tidak bersalah sepenuhnya. Ia hanya ingin menggangu Delia. Percuma ia dijuluki perusuh jika ia tidak mengunakan keahliannya sebaik mungkin.
"Aku terima permintaan maafmu dengan seperangkat tanda jarimu di pipiku," ujar Eric sambil menyorongkan pipinya untuk memperlihatkan tanda bekas jari Delia. Jelas sekali ia sengaja menggoda Delia untuk membuat wanita itu merasa bersalah.
Delia memandang dengan ngeri bekas tamparannya di pipi Eric. Tanpa berpikir panjang ia menyentuh pipi Eric dengan maksud memeriksa kondisi pipi pria itu.
Delia terlambat menyadari jika tindakannya itu akan memperparah keadaan. Kini ia malah terlihat canggung dengan jari-jari tangannya yang menyentuh pipi Eric. Terpaku melihat kilatan emosi yang berkelebat di mata pria itu.
Ia buru-buru menarik kembali tangannya dan bergumam permintaan maaf lalu ia memperlebar jarak diantara mereka dengan melangkah kian jauh ke dalam ruang kamarnya.
Eric tidak mengikuti wanita itu dan memilih meninggalkannya agar bisa lebih leluasa membiasakan diri dengan lingkungan barunya.
Delia menarik nafas lega ketika melihat pria itu meninggalkannya. Ia memang butuh ruang untuk dirinya sendiri. Delia mempercayai ungkapan selalu ada "hari pertama" di tempat kerja barumu.
Tidak semua hal bisa berjalan mulus tanpa kendala, hibur Delia pada dirinya sendiri. Ia akan menganggap masalah menampar Eric adalah pengalaman paling berani yang tak akan pernah ia lupakan.
Delia mengelus pinggiran ranjangnya yang berseprai putih dengan penutup ranjang berwarna khaki. Ia bisa merasakan tekstur kain yang sangat halus saat jari-jari tangannya menelusuri permukaan seprai itu.
Delia melihat ada lemari berukuran tiga pintu di bagian sudut kiri bersebelahan dengan meja rias. Ia otomatis menurunkan pandangannya kearah tasnya dan berusaha membandingkan barang bawaannya dengan ukuran lemari itu. Tentu saja barangnya yang tidak seberapa ini hanya akan menempati sepetak kecil tempat di dasar lemari baju itu, pikirnya tersenyum kecut.
Ia lalu membuka lemari itu dan langsung memasukkan tasnya sekaligus ke dalam. Tak lupa sebelumnya ia mengeluarkan baju perawatnya terlebih dahulu, kemudian berjalan ke arah kamar mandi.
-----
Eric mendengar suara teriakan bernada hiateris dari atas saat ia sedang mengobrol dengan mamanya. Awalnya ia tidak begitu menyimak tapi lama-kelamaan ia menyadari itu suara teriakan Delia.
Eric melihat mimik cemas di wajah mamanya. Ia berdiri dan segera melesat ke lantai dua untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi hingga perawat itu berteriak ketakutan seperti itu.
Begitu Eric mencapai pintu kamar Delia, ia langsung membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Dipicu oleh rasa panik membuatnya melupakan kesopanannya.
"Kenapa kau berteriak ketakutan seperti itu, Delia?" tanya Eric begitu ia masuk ke dalam dan melihat Delia begitu ketakutan dan wajah wanita itu pucat pasi. Tubuh wanita itu gemetar dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.
Delia langsung melemparkan dirinya ke arah Eric dan tanpa ragu memeluk erat leher pria itu. Ia tidak peduli jika pria itu mengalami kesulitan saat harus memenuhi rongga dadanya dengan oksigen. Hal itu dipertegas dengan suara batuk kecil yang keluar dari tenggorokan pria itu.
"Ada sesuatu yang bersembunyi di bawah ranjang. Berukuran besar dan sangat mengerikan!" teriak Delia dengan suara ribut dan ia praktis gemetar dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Eric berusaha melepaskan diri dari rangkulan Delia. Lalu ia berjongkok dan mengintip ke bawah kolong ranjang sesuai arah yang ditunjuk Delia tadi. Lalu Eric menjulurkan tangan ke dalam kolong ranjang dan menarik keluar sesuatu yang berbentuk panjang dan besar. Ular!
"Di-dia siapa? Ke-kenapa kau bi-bisa dengan santainya memegang ular itu? Lepaskan dia!" Perintah Delia dengan suara gemetar sambil menunjuk ke arah seekor ular berukuran besar berwarna kuning gading denga wajah ketakutan.
Mata ular itu semerah darah. Delia bergidik membayangkan ular sebesar itu akan membelit tubuhnya lalu kemudian akan menelannya bulat-bulat. Demi Tuhan, Delia ... bisakah kau berhenti mencekoki otakmu dengan pikiran menyeramkan?
"Dasar anak nakal. Kau sudah menakuti Delia. Bagaimana kau bisa sampai menyelinap ke dalam kamar ini. Hmm ... pasti saat Mina masuk kemari untuk membersihkan tempat ini, Athena ikut menemaninya," kata Eric sambil mengelus kepala ular mengerikan itu.
"At-Athena?" tanya Delia dengan nada bingung. Mimik bodoh menghiasi wajahnya yang oval. Ia tidak percaya makhluk predator itu bisa dijadikan hewan peliharaan dan dibiarkan berkeliaran di rumah serta menamainya Athena!
Bisa dibayangkan kegaduhan yang akan terjadi jika hewan melata ini dilepaskan ke rumah panti mereka.
"Ya, namanya Athena. Dia adalah ular piton betina albino. Panjangnya kini sudah mencapai tiga meter. Aku sering terpukau dengan kecantikannya," jawaban Eric membuat Delia melotot ke arah ular besar yang setiap detik menjulurkan lidahnya itu. Cantik? Ungkapan yang sangat menggelikan menurut Delia. Ular betina itu lebih tepat disebut menyeramkan.
"Aku tidak percaya kau menyebutnya cantik," protes Delia sambil tak segan-segan bergidik di hadapan Eric.
"Jangan coba-coba mendekatkan dirinya ke arahku!" seru Delia saat melihat Eric mulai berjalan mendekatinya sambil menyeringai.
"Aku hanya ingin memperkenalkan kalian berdua," kilah Eric sambil memamerkan senyum polosnya.
"Ini sama sekali tidak lucu, Eric," kata Delia sambil berjalan menjauh. Ia memandang takut ke arah Athena.
"Athena adalah hewan peliharaan kakakku. Aku sering curiga jangan-jangan mereka itu berpacaran karena Nuca sampai saat ini belum pernah sekali pun memperkenalkan kekasihnya ke mama," kata Eric. Pria itu melihat ke arah pintu dan mengecilkan suaranya saat memberitahukan informasi yang menurut Delia merupakan suatu guyonan yang sama sekali tidak lucu. Berpacaran dengan ular? Yang benar saja!
-----
"Apa yang sedang terjadi di atas tadi?" tanya Laura begitu melihat anaknya dan Delia muncul di ruang tamu.
"Delia hampir pingsan ketika mengetahui Athena selonjoran di kolong ranjangnya, Ma," jawab Eric tanpa pikir panjang.
Delia sampai tersandung kakinya sendiri ketika mendengar ucapan Eric. Selonjoran? Baru kali ini ia mengetahui ular juga bisa selonjoran. Harus Delia akui gaya bahasa Eric memang agak unik. Ia sering gagal paham saat mendengar ucapan pria itu tapi Delia yakin lama-kelamaan ia akan terbiasa menghadapi sikap dan sifat setiap penghuni di dalam rumah ini, kecuali ular betina itu.
Delia yakin ia akan selamanya tidak bisa mendekatkan diri pada Athena. Demi Tuhan, dia itu seekor ular! Mungkin jika mereka merontokkan semua gigi ular betina itu baru Delia akan belajar menerima kehadirannya.
"Athena sangat jinak, Delia. Dia bahkan tidak tega menelan seekor tikus," ucap Laura.
Tapi Delia tidak begitu yakin dengan ucapan tante Laura karena siapa pun bisa melihat jika Athena bukan termasuk hewan jinak.
Begitu banyak hewan jinak dan lucu di dunia ini, kenapa pilihannya harus jatuh pada ular piton albino?
Delia berusaha membayangkan sosok pria yg telah menjadi majikan Athena. Ia sangat yakin pria itu pasti juga memiliki perawakan menyeramkan—sama seperti hewan peliharaannya.
Laura kemudian memberitahu Delia secara singkat jadwal dia biasa makan dan kegiatan dia di rumah mulai dari pagi sampai malam. Delia mendengarkan dengan seksama dan mencatatnya dalam hati.
Semua pun akan ia lakukan dengan sepenuh hati asal jangan disuruh memberi makan atau memandikan Athena, pikir Delia sambil bergidik.
Saat Laura memberitahunya jumlah gaji yang akan ia terima, Delia tersentak. Jumlah yang disebut Laura itu jauh melebihi gaji yang ia terima selama menjadi perawat di rumah sakit.
"Aku berharap kau bisa diandalkan, Delia. Oleh sebab itu aku memberimu melebihi yang kau terima di tempat dulu kau bekerja," ucap Laura dengan nada pelan.
Entah kenapa saat mendengar perkataan tante Laura itu, membuat semangatnya bangkit. Ia yakin tante Laura bukan tipe orang yang suka asal-asalan dalam hal memilih pekerjanya. Hanya saja ini terlalu mudah baginya. Menurut Delia, tante Laura terlalu murah hati padanya.
"Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu, Tante. Dan aku akan selalu melakukan tugasku dengan sebaik mungkin untuk menunjukkan rasa terima kasihku padamu. Karena diantara begitu banyak perawat, bahkan sebagian besar keahlian mereka jauh melampaui pengalaman kerjaku, tapi kau memberiku kesempatan untuk berada di sini," balas Delia.
Eric hanya diam saja mendengarkan kedua wanita beda generasi itu berbicara. Secara diam-diam, sekali lagi ia memandangi Delia, berusaha mencari tahu kelebihan yang ada pada diri wanita itu hingga mamanya yang biasa selalu bermuka kaku dan resmi di hadapan semua anggota kerjanya tapi malah mendengarkan dengan sabar setiap kata yang diucapkan Delia dan saat memandangi perawat itu, mimik mamanya melembut. Suatu hal yang sangat jarang dijumpai pada diri mamanya sejak mengalami kecelakaan itu.