Dimas tidak mengerti jalan pikiran seorang Navya yang artinya wanita cerdas dan sangat di hormati dan punya segalanya malah memilihnya untuk di jadikan suami satu tahun hanya untuk mendapatkan keturunan seorang bayi. Awal penawaran yang konyol membuat Dimas menolak semua keinginan wanita itu yang tidak lain majikannya sendiri.Dimas hanya seorang pelayan, lebih tepatnya supir pribadi Navya yang tugasnya mengantar wanita itu kemana saja dia mau pergi.Hampir delapan bulan Dimas bekerja pada keluarga Javera, orang terpandang di kota Jakarta yang perusahaannya maju pesat, tidak ada komunikasi yang berarti antara Dimas dan Navya.Lalu alasan logis apa yang kini Navya ingin sampaikan hingga bisanya wanita itu meminta Dimas untuk menikahinya yang hanya seorang supir pribadi.Sudah satu minggu berlalu penawaran itu masih terngiang di ingatan Dimas bahkan ia tidak fokus melakukan hal apapun, ia menganggap mungkin nona Navya hanya sedang mabuk hingga tidak sadar apa yang di ucapkannya selama ini.Sebisa mungkin Dimas bersikap sewajarnya di hadapan Navya yang selalu memasang wajah juteknya di balik kecantikannya yang sempurna.Pantas saja wanita ini tidak terlihat sedikit pun mengandeng atau berkencan dengan seorang pria manapun, pastinya kaum pria akan mundur teratur karena ekspresi yang di berikan Navya sangat tidak bersahabat.Sangat pagi sekali Dimas sudah membersihkan mobil yang di lapnya mengkilat, karena pagi ini nona Navya minta di antarkan ke sebuah butik ternama.Suara sepatu hak tinggi terdengar melangkah keluar dari rumah menghampiri Dimas yang merunduk sedikit menyapa Navya dengan canggung.Navya tidak menggubris sapaan itu, ia terlalu angkuh mengenakan kaca mata hitamnya, saat Dimas membukakan pintu mobil ia masuk ke dalamnya.Memang wanita sempurna, bagi siapa saja memandang sosok Navya tapi tidak bagi Dimas, baginya ada satu kekurangan yang tidak di miliki Navya yaitu sifat murah senyumnya karena Navya sama sekali tidak pernah tersenyum lepas, seharusnya menghiasi wajah cantiknya."Kita berangkat sekarang nona?" tanya Dimas yang sudah duduk di dalam mobil melirik ke belakang pada Navya yang telah duduk dengan santai."Hemm.." hanya gumaman kecil terdengar.Dimas mulai menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah mewah itu saat gerbang terbuka lebar.Suasana dingin masih terasa di antara keduanya, tidak lama Navya meminta Dimas menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi, dengan bingung Dimas melakukan perintah nona majikannya itu."Aku masih berharap sekali padamu." kata Navya, melepas kaca mata hitamnya menatap pada Dimas yang masih bergeming."Aku perlu bantuan mu, karena hanya kamu yang bisa menyelamatkanku." lanjut Navya.Dimas menoleh pada Navya, ia masih tidak mengerti dengan keinginan wanita ini, bukankah dia sudah menolak tapi kenapa Navya seolah memaksakan kehendaknya demi tujuan tertentu.Ya… hanya satu keinginan Navya, ia hanya ingin seorang bayi terlahir di dari rahimnya untuk penerus kekayaan keluarga Javera.Navya hanya ingin membahagiakan keinginan kakek nya yang sangat mendamba seorang buyut. karena kakeknya sering sakit sakitan dan Navya hanya ingin memenuhi apa yang kakeknya mau."Tapi tidak seperti ini nona, menikah tanpa cinta tidak bisa membuat pernikahan itu bahagia.""Aku tidak perlu kebahagiaan, ku butuhkan hanya bantuan mu, kelak sampai aku positif hamil kita akan berpisah." Dimas mengerutkan keningnya menatap lekat kesungguhan di wajah Navya.Ada perasaan ingin melindungi dan kasian di hati Dimas, haruskah ia membantu Navya, melupakan harga dirinya karena secara tidak langsung penawaran di lakukan Navya seolah membahas jual beli dirinya untuk waktu tertentu."Saya tidak tau apa saya bisa melakukannya, saya tidak percaya diri."Kamu pasti bisa, kamu cukup ikuti instruksi dari ku, maka pernikahan sementara ini akan berjalan dengan mulus."Dimas bergeming, penawaran yang mengiurkan bagi siapa saja tanpa pikir panjang pasti menerima tapi kenapa dengannya, sampai detik ini Dimas masih bimbang untuk mengambil keputusan, ia takut salah mengambil langkah."Sebagai imbalan aku akan memberikan apa yang kamu mau, termasuk tubuhku." Kedua mata Dimas terbuka lebar, ia marah dalam hatinya, rasa panas yang sungguh luar biasa yang membuatnya mengeram kesal.Dalam pikiran Dimas kalau tidak dia, Navya pasti menawarkan hal serupa pada pria lain.Dimas tidak bisa membiarkannya, sok murahan Navya pasti hal bercanda, selama ini ia mengenal wanita ini sangat menjunjung tinggi kehormatan serta harga diri.Jangankan pria yang berani menyentuh tangannya, meliriknya saja pasti di berikan tatapan membunuh darinya."Nona bercanda?""Kamu tau sendiri aku tidak suka bercanda."Dimas memejamkan matanya sejenak, ia mengangguk lemah hingga Navya mengangkat alisnya ke atas."Apa itu tandanya kamu setuju dengan permintaanku, kamu bersedia menerima tawaranku?""Iya nona, tapi bukan bearti saya menjual harga diri saya, saya hanya ingin membantu kesulitan nona tidak ada tujuan lain." kata Dimas.Navya terdiam, ia kembali memasang kaca mata hitam, memerintah Dimas melajukan mobilnya.Awal yang sangat sulit bagi Dimas, wanita asing ini akan menjadi istri sandiwaranya. Entah apakah bisa ia berperan sebagai suami yang semestinya di jalani pada layaknya pernikahan lainnya.Mungkin seiring berjalannya waktu Dimas akan mengubah sisi pandang Navya tentang pernikahan yang tidak bisa di main kan.Tujuan mereka sampai ke butik, Navya meminta Dimas untuk turun menemani nya ke dalam butik.Seorang pria bertubuh tambun dengan dandanan menor menyapa Navya dengan gaya kemayunya.Dari pembicaraan mereka Dimas menangkap pria itu adalah desain gaun pengantin."Serius kamu mau menikah?" tanya Giun sapaan pria kemayu itu."Benar, aku ingin kamu mendesain gaun pernikahan ku dan jas calon suami ku, aku inginkan yang paling terbaik.""Navya, ini suatu kejutan, memang dengan siapa kamu menikah, aku tidak melihat kamu dekat dengan pria mana pun."Navya menarik lengan Dimas yang berdiri tidak jauh, merangkul lengan Dimas mesra."Dia calon suami ku." kata Navya lugas.Giun terperangah dengan mulut terbuka lebar, buru buru ia menutupnya menyembunyikan terkejutannya.Giun pernah beberapa kali bertatap muka dengan Dimas, bukannya Dimas adalah pelayan di rumah Navya."Aku butuh jawaban." gumam Giun."Ini lah jawaban mu Giun, secepatnya aku akan menikah dengannya.Giun mengejapkan matanya beberapa kali, ia tidak mau membahas atau membantah keinginan Navya karena bisa saja Navya memecatnya sebagai seorang sahabat."Baiklah aku akan mengukur tubuhnya."Kata Giun malas menatap Dimas.Bagi Giun, Dimas memang sosok yang tampan tapi pria itu tidak sebanding dengan Navya.Navya cantik, berkelas, seribu pria kaya dan tampan pun pasti mengantri untuk menikah dengannya.Giun memasang wajah juteknya, ia melirik Navya yang memperhatikan gaun gaun pengantin yang terpajang di patung.Menunggu suasana reda, Giun akan mempertanyakan teliti kenapa bisa Navya memilih pria miskin ini untuk di jadikan suami. Pasti Navya memiliki tujuan tertentu karena selama ini Giun sangat mengenal sifat Navya. Jangankan dengan lelaki kaya raya yang berkenan melamar selalu di tolaknya dan kini Navya malah memilih lelaki miskin bukankah ini sangat mencurigakan.
Tbc