“Bagaimana bisa Mommy memilih pria seperti ini,” jerit Izora, sambil menatap ngeri pada pria di depannya. Tangannya terangkat pelan untuk menutup mata, dia meringis ketika melihat pria di depannya jauh dari ekspektasi dirinya.
Semua orang berhak menentukan masa depan mereka, kecuali Izora. Wanita dengan gelar direktur itu harus menelan pil pahit, ketika dia terus berulang dijodohkan dengan pilihan orang tuanya.
Namun, sayangnya semua pilihan orang tuanya benar-benar tidak sesuai dengan kriteria yang dia inginkan. Contohnya pria di depannya ini, bernama Adit, rambutnya tersisir rapi dengan Pomade yang begitu banyak, wangi parfumnya berhasil membuat Izora mabuk seketika, belum lagi outfit yang pria itu pakai.
Izora memijat pelan pangkal hidungnya, dia benar-benar ingin marah dan mengamuk pada orang tua nya. Bagaimana bisa, dari sepuluh pria yang dijodohkan, tidak ada satupun yang dapat dia pilih.
"Nama saya Adit, nama kamu, Izoka 'kan?" Adit mengulurkan tangan, dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi kuningnya.
Izora mendengus, bahkan menyebutkan namanya saja sudah salah.
"Maaf, sepertinya saya harus pulang, ada hal yang harus saya kerjakan," pamit Izora, dia berdiri dari duduknya tanpa membalas uluran tangan dari pria di depannya.
Hujan mengguyur ibukota, ketika Izora memutuskan pulang dari kencan buta. Dia menatap langit yang meneteskan air dengan begitu derasnya, Izora menghela napas pelan dan menatap mobil yang berada di parkiran.
"Sial, hari ini benar-benar sial," umpat Izora pelan, dia ingin sekali menjerit dan menumpahkan segala kesalnya.
Sampai, dering suara ponsel membuat pikirannya teralihkan. Benda pipih itu berkedip pelan, tertera nama mommy Ratna dengan huruf yang begitu besar. Izora mencoba menghela napas, sebelum dia menjawab panggilan ibunya.
[Hallo, mom]
[Bagaimana? Dia cocok kan dengan kriteriamu?] tanya Ratna dari seberang sana.
Izora mendelik, dia menatap langit yang terlihat bertambah gelap. [Tidak]
Satu kata yang sukses membuat Ratna mendengus pelan, dia tidak habis pikir kenapa putrinya tidak mau menikah. Dia tidak ingin, sampai Izora menjadi perawan tua.
[Ya sudah, mommy masih punya 20 orang lagi] ucap Ratna dengan suara menggebu penuh semangat.
Izora kembali menghela napas, dia lelah, dan tidak ingin berdebat mengenai ini. [Aku pulang dulu, kita bisa bicarakan lain waktu]
Panggilan terputus sepihak, Izora dengan cepat memasukan ponselnya dan kembali menatap hujan yang semakin deras. Jika boleh memilih, dia tidak ingin menikah, ada perasaan enggan yang sangat besar.
Izora menunduk pelan, kacamata hitamnya sudah terlepas dari wajah cantiknya. Dia memejamkan mata, dan merasakan semilir angin yang menerpa tubuhnya. Udara semakin dingin, dengan hari yang bertambah gelap.
"Tante, mau bareng sama saya?" tawaran itu membuat Izora mengalihkan perhatiannya, disampingnya berdiri pemuda tampan, dengan jaket berlogo pengantar makanan.
"Tante, ayo!" ajak pemuda itu sekali lagi.
Izora mengerjap pelan, dia meremas tasnya dengan begitu erat. "Kamu bilang saya, apa?" tanya Izora, berusaha memastikan pendengarannya.
Pemuda itu mengernyit heran, dia mengedipkan mata pelan dan menatap Izora dengan wajah kebingungan. "Tante ...,"
"Stop! Don't call me, Tante!" sentak Izora dengan suara yang cukup tinggi. Matanya membesar dengan hidung yang mulai kembang kempis.
"Santai, Tan-eh maksud saya Mbak. Saya ...,"
"Mbak? Kamu kira saya istri pamanmu yah!" Suara Izora kembali meninggi.
"Maaf, Ka. Saya hanya menawarkan payung. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung," kata pemuda itu dengan mata yang kembali mengedip pelan.
Izora memejamkan mata, dia meremas tangannya dengan urat-urat leher yang mengencang pelan. Izora terus menerus menarik napas pelan, mencoba mengatur amarahnya yang benar-benar diuji sedari tadi.
Dia bukan tipe yang gampang marah, tempramen Izora bahkan cukup baik dia kelola. Hanya saja, untuk hari ini, dia benar-benar lelah ... lelah dengan semua pilihan orang tuanya. Setelah dirasa cukup tenang, Izora kembali membuka matanya perlahan.
Namun, yang dia lihat hanya kekosongan, pemuda dengan payung kuning itu sudah berlari menjauh dari dirinya. Meninggalkan dia seorang diri, di depan cafe dengan air hujan, dan baju yang sedikit basah oleh cipratan air.
"Aku, Izora Qailula Zivara, ditinggalkan begitu saja?" geram Izora dengan tangan terkepal erat. "Sialan."
Izora memutuskan pulang karena hujan yang tidak mau berhenti, dia menerjang hujan deras dan dengan cepat berlari masuk ke dalam mobilnya. Pakaian Izora basah, tetapi wanita itu terlihat cuek, dia dengan cepat melajukan kendaraannya, dan pergi dari sana.
Meninggalkan segala kekesalan yang baru saja terjadi, cukup memakan waktu tiga puluh menit, Izora sampai di rumah. Baru saja turun dari mobil, Ratna–ibu Izora sudah berdiri di ambang pintu, dengan tangan yang bersedekap di d**a.
Izora kembali menarik napas panjang, dia berjalan menghampiri ibunya dengan perasaan enggan. Seharusnya, dia pulang ke rumahnya saja, bukan rumah orang tuanya.
"Jadi, bagaimana Izora?" tanya Ratna dengan nada yang cukup penasaran.
Izora berjalan masuk ke dalam rumah, tanpa menjawab pertanyaan dari ibunya. Dia terlalu malas, tidak ingin menimbulkan keributan di hari yang sudah terbilang malam. Langkahnya terseret pelan ke lantai atas, meninggalkan Ratna yang masih terus berbicara di lantai bawah.
Bahkan suara ibunya masih terdengar, ketika Izora masuk ke dalam kamar, merebahkan diri diatas kasur dan memilih menutup kepala dengan bantal. Dia harus tidur, karena pekerjaannya sudah menunggu di hari esok.
Pagi menjelang dengan cepat, udara dingin berembus pelan, membawa aroma tanah basah sisa air hujan semalam. Arkana, pemuda yang terlihat masih muda itu sudah bangun dari tidurnya, dia bersiap menjemput rezeki yang sudah menanti.
Kafe Purnama menjadi tepat Arkana mengais rezeki, pemuda tampan itu masuk dengan cepat ke dalam restoran. Sedikit membereskan kursi-kursi dan merapikan beberapa peralatan yang sekiranya mampu dia kerjakan.
"Saya pesan kopi Americano, satu." Suara itu mengalun pelan, penuh wibawa, dan terdengar familiar di telinga Arkana.
Pemuda itu berbalik, matanya melebar ketika melihat wanita yang sore kemarin dia temui di depan cafe purnama. Penampilan wanita itu terlihat elegan dengan rok sebatas paha yang memperlihatkan pada putihnya, belum lagi rambut yang terurai indah, dan tentu wajah yang cantik sempurna.
"Ka, jalan kembang nomor satu," ucap temannya dengan satu paper bag yang diserahkan, pada Arkana.
Pemuda itu terkejut, dan dengan cepat meraih pesanan itu. Sampai di ambang pintu, tanpa sengaja dia menabrak wanita itu–wanita yang dia temui kemarin sore.
"Maaf, Ka," lirih Arkana pelan.
Mata Izora terpejam, ada kesal yang tidak mampu dikeluarkan.