"Aku tahu ini berat, Raya. Meminta kamu untuk sabar memang terdengar klise, tapi kamu harus kuat, hidup harus tetap berjalan bukan?" bunyi pesan dari teman Raya.
Raya melempar pesannya dengan nafas memburu. Pesan dari salah satu kenalannya itu, alih-alih menguatkan, justru membuag kepalanya mau pecah. Apalagi pesan itu datang bersamaan dengan kepastian kabar yang paling dia hindari; Bayu benar-benar akan menikah dengan Fika, rekan kerjnya.
Pesan-pesan serupa terus berdatangan bersembunyi di balik kata simpati namun ujung-ujungnya hanya penasaran dan memastikan apakah ia dan Bayu batal menikah. Dunia seolah menertawakan saat ini. Hubungan tiga tahun yang dia banggakan, mendadak kandas tak tersisa dan menjadi konsumsi publik.
****
Dua bulan berlalu bertepatan dengan pergantian tahun yang baru mendung kelabu masih menggelayuti keseharian Raya. Namun, hidup harus tetap berjalan dan ia memilih untuk mengubur luka dengan tetap bersikap profesional dalam bekerja.
Arva Studio, tempat Raya bekerja sebagai desainer interior, rupanya tengah terlibat proyek kolaborasi besar dengan PT Cipta Graha Perkasa, perusahaan kontraktor tempat Jagad Samudera bekerja sebagai Project Manager. Pertemuan kembali di dunia kerja ini awalnya terasa begitu canggung. Jagad tentu mengenal Raya sebagai wanita yang hampir menjadi kakak iparnya, sementara Raya pun tahu siapa Jagad.
Pada pertemuan pertama mereka di ruang rapat, Jagad sempat merasa kikuk dan serba salah. Namun, melihat bagaimana Raya bersikap begitu tenang, lugas, dan sangat profesional tanpa membawa-bawa masalah pribadinya dengan Bayu, kecanggungan Jagad perlahan mencair. Kekaguman tersirat mulai muncul di benak Jagad melihat ketegaran wanita itu.
Seiring berjalannya proyek, interaksi mereka menjadi lebih intens namun tetap kasual. Mereka kini sering menikmati makan siang bersama, membaur dengan rekan-rekan kerja dari kedua belah pihak perusahaan. Di sela-sela obrolan proyek, Jagad mulai menunjukkan perhatian kecilnya. Tanpa ada niat terselubung atau mencoba menggantikan posisi kakaknya, Jagad murni hadir sebagai support system yang tulus bagi Raya demi memberikan kekuatan baru yang perlahan mulai menyembuhkan ruang hampa di hati wanita itu.
Malam itu, Jagad menjemput Raya di Tangerang, tepat di depan rumah Candra, kakak Raya. Mereka berkendara menuju sebuah restoran di kawasan elit Alam Sutera untuk makan malam bersama. Obrolan mengalir hangat, berputar di antara dunia arsitektur yang digeluti Jagad dan desain interior yang menjadi keahlian Raya.
"Jadi, konsep lighting untuk lobi utama nanti mau dibikin warm atau agak modern minimalis, Ray?" tanya Jagad sambil memotong steak-nya.
Raya sambil menyesap jusnya sebelum menjawab. "Kalau menurutku lebih masuk warm, Gad. Biar kesan mewah tapi homey-nya dapet begitu klien masuk."
"Boleh juga. Selera desainer emang nggak pernah gagal," puji Jagad, menatap Raya dengan binar kagum.
Raya terkekeh kecil, merasa sedikit tersanjung. "Bisa aja kamu. Tapi struktur pilar dari tim kamu juga sudah kokoh banget, jadi aku tinggal poles estetikanya."
Meski ada rasa kagum yang tumbuh di dadanya, Jagad sebenarnya dikenal sebagai seorang womanizer. Ia memiliki banyak teman dekat wanita, dan beberapa di antaranya bahkan sudah pernah tidur bersamanya. Namun terhadap Raya, Jagad bersikap sangat berhati-hati. Baginya, Raya adalah wanita terhormat yang tidak boleh disentuh sembarangan. Jagad sama sekali tidak tahu bahwa di balik sikap manisnya, Raya tengah menyiapkan rencana pembalasan dendam dan bersiap membubuhkan sesuatu ke dalam minumannya.
"Kamu serius pesan minuman beralkohol ini, Raya?" tanya Jagad sangsi, menatap gelas yang baru diantarkan pelayan.
Raya tersenyum tenang, menutupi debar di dadanya dengan tatapan mata yang teduh. "Ini kadarnya rendah kok, kamu tenang saja."
Saat ponsel Jagad berdering menampilkan nama seorang teman wanitanya, ia memilih bangkit dan menepi dari meja. Bagaimanapun, pria itu tengah menjaga citranya di depan Raya. Momen itulah yang langsung dimanfaatkan Raya untuk mengeluarkan pipet dan meneteskan obat pe-rang-sang ke dalam gelas berisi cairan berwarna amber milik Jagad.
Sebelumnya, Raya membuang sedikit cairan tersebut ke gelas jus buah naganya yang masih tersisa, lalu berpura-pura menyesapnya tepat ketika Jagad kembali duduk. Tujuannya adalah dia hanya pura-pura mabuk tapi sebenarnya dia terjaga.
"Siapa, Gad yang telepon? Urusan pekerjaan?"
"Bukan, tadi ajakan teman touring ke Jogja. Cuma aku bilang lagi ada proyek apartemen yang kita urus," bohong Jagad dengan lancar.
"Oh oke. Sorry, aku minum duluan," ucap Raya sambil menggoyang gelas berkaki panjangnya.
"Santai saja, Ray," sahut Jagad sembari meraih gelas amber miliknya dan meneguknya tanpa curiga.
Sambil terus mengobrol santai, Raya meneruskan makannya. Senyum tipis di sudut bibir ranumnya terangkat, mengamati perubahan pada Jagad.
Rencana ini sama sekali bukan impulsif. Begitu tahu Arva Studio menjadi rekanan PT Cipta Graha Perkasa, Raya langsung mengajukan diri untuk mengambil proyek apartemen mewah tersebut. Ia sengaja bersikap tenang dan profesional, bahkan meminta Jagad agar tidak sungkan meski dirinya dan Bayu sudah berpisah.
Selama itu pula, Raya selalu membawa cairan tersebut di dalam tasnya, menunggu momen yang tepat untuk melancarkan pembalasan.
"Steaknya enak, aku suka medium rare. Kalau kamu well done, ya, Gad?"
"Iya, aku... bentar, Ray, kok tiba-tiba gerah banget ya?" bisik Jagad sambil melonggarkan kerah kemejanya.
"Kok bisa? Padahal ini sejuk banget, lho. Kamu demam?" tanya Raya sambil memeriksa kening Jagad. "Bagaimana kalau kita pulang? Aku juga sedikit pusing, padahal alkoholnya tidak terlalu tinggi," lanjutnya sambil menunjuk gelasnya dengan dagu.
"Boleh, Ray. Kepalaku mendadak pusing dan badan rasanya panas sekali. Ayo kita keluar sekarang."
Raya memanggil pelayan untuk membayar.
"Aku saja yang bayar," potong Jagad pelan, mencoba tetap sopan di tengah kesadarannya mulai turun.
"Hei, kamu kan sudah sering mentraktirku, sekarang gantian." Raya menyerahkan kartu kreditnya pada pelayan, lalu beralih menatap Jagad. "Kunci mobilmu mana? Biar aku yang menyetir," ujarnya sambil menyentuh lembut punggung tangan Jagad untuk memicu reaksi obat tersebut.
Jagad tersentak, sensasi panas langsung menjalar ekstrem akibat sentuhan itu. "Ini kuncinya. Tolong ya, Ray, badanku benar-benar terasa aneh sekali sekarang."
Setelah membayar, Raya meminta seorang pelayan laki-laki untuk merangkul tubuh Jagad yang terasa berat menuju mobil SUV Eropa milik pria itu. Tak lupa, Raya memberikan tip kepada si pelayan. Dan satu lagi, catatan pentingnya. Raya tak lupa membuang sisa botol obat laknat itu ke tong sampah untuk melenyapkan bukti untuk berjaga-jaga misal Jagad menggeledahnya.
"Jagad, pakai sabuk pengamanmu," ucap Raya setelah mereka berada di mobil.
Pria itu hanya bergumam kecil tak jelas, bersandar lemas pada jok kulit dengan mata setengah terpejam.
"Permisi, aku pakaikan, ya,"
Raya mendekatkan tubuhnya, perlahan menarik sabuk pengaman melintasi d**a Jagad. Aroma parfum maskulin Jagad bercampur dengan kehangatan napas pria itu yang memburu, mengembus tepat di ceruk leher Raya. Ketika jemari Raya tanpa sengaja menggusap da-da bidangnya untuk mengunci sabuk, Jagad langsung mengerang rendah. Sentuhan seringan apa pun kini terasa seperti sengatan listrik di kulitnya yang membara, memicu gairah liar yang mulai menggerogoti sisa kesadaran sang arsitek.
"Jagad, kalau aku antar kamu ke Jaksel, ke apartemenmu, kan jauh sekali dari Alam Sutera . Lagipula aku nanti pulangnya harus naik taksi malam-malam. Bagaimana jika kamu tidur di Tangerang saja, di rumah Mas Candra?" tawar Raya sebelum keluar dari area parkiran.