Kamar yang disediakan untuk Viona itu luasnya hampir sama dengan rumah tempat ia tinggal selama ini. Dindingnya dicat warna krem lembut, lantai kayu yang mengkilap, perabotan berwarna cokelat tua yang terlihat sangat mahal, dan tempat tidur berukuran besar dengan tirai putih yang menjuntai rapi. Ada meja rias, lemari pakaian yang menjulang tinggi, hingga balkon yang menghadap ke taman luas yang diterangi lampu-lampu taman yang indah.
Namun di tengah kemewahan itu, Viona merasa seolah terjebak di dalam kandang emas. Ia berdiri di ambang pintu, memandangi seluruh sudut kamar itu dengan perasaan hampa. Semua yang ia lihat terasa asing, jauh berbeda dengan kehidupan sederhana yang ia jalani selama ini.
Pelayan wanita yang mengantarnya tadi — yang memperkenalkan dirinya sebagai Mbak Sari, wanita paruh baya yang wajahnya terlihat ramah namun tetap menjaga jarak — tersenyum kecil. “Nyonya, kalau butuh apa-apa, panggil saja saya. Kamar saya ada di ujung lorong ini.”
“Terima kasih, Mbak Sari,” jawab Viona pelan, lalu menunduk sopan.
Mbak Sari mengangguk, lalu berbalik pergi meninggalkan Viona sendirian. Begitu pintu tertutup, suasana menjadi hening seketika. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar jelas, seolah mengingatkan bahwa waktunya kini sudah berubah sepenuhnya.
Viona melangkah perlahan menuju balkon. Ia membuka pintu kaca itu, lalu menghirup udara malam yang terasa segar namun tetap dingin. Di bawah sana, taman yang luas terlihat sangat indah dengan pepohonan yang terawat rapi dan bunga-bunga yang bermekaran. Namun ia tahu, di balik keindahan itu, ada pengawasan ketat dan rahasia yang tidak boleh ia ketahui sembarangan.
Ia teringat kembali kata-kata Raka tadi. “Jangan berharap apa pun. Jangan berharap ada cinta, ada kehangatan, atau ada janji masa depan.” Kata-kata itu terngiang jelas di telinganya, membuat hatinya terasa sesak. Ia tahu posisinya, ia tahu ini hanya perjanjian. Tapi tetap saja, menjadi istri orang asing yang disegani sekaligus ditakuti banyak orang terasa sangat berat untuk dijalani.
Malam itu, Viona tidak bisa tidur nyenyak. Ia terbaring di atas kasur yang empuk dan lembut, namun matanya tetap terjaga hingga dini hari. Pikirannya melayang ke ayahnya, ke rumah lamanya, dan ke masa depan yang terasa begitu gelap dan tidak pasti.
Keesokan harinya, Viona terbangun saat sinar matahari baru saja menyelinap masuk lewat celah tirai jendela. Ia bangun perlahan, merapikan tempat tidur, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia hanya memiliki pakaian sederhana yang ia bawa dari rumah, jadi ia memilih mengenakan gaun katun berwarna krem yang longgar dan nyaman.
Baru saja ia selesai merapikan rambutnya, pintu kamar diketuk pelan. “Nyonya, apakah sudah bangun?” suara Mbak Sari terdengar dari luar.
“Sudah, Mbak. Silakan masuk,” jawab Viona.
Mbak Sari masuk sambil membawa nampan berisi air minum dan beberapa potong buah. “Tuan Raka meminta Nyonya untuk segera turun ke ruang makan. Beliau ingin bicara sebelum berangkat.”
Jantung Viona berdebar kencang lagi. Ia mengangguk pelan, lalu mengikuti Mbak Sari menuruni tangga menuju lantai dasar.
Saat tiba di ruang makan yang luas dan megah, Viona melihat Raka sudah duduk di ujung meja panjang. Ia sudah mengenakan setelan jas hitam rapi, rambutnya disisir rapi, dan wajahnya terlihat semakin tegas. Di hadapannya terhidang sarapan lengkap, namun ia hanya duduk diam sambil membaca dokumen yang tergeletak di atas meja.
Begitu mendengar langkah kaki, Raka mengangkat wajahnya. Tatapannya langsung menatap Viona dari ujung kaki hingga kepala, membuat gadis itu berhenti melangkah sejenak.
“Duduk,” perintahnya singkat, lalu menunjuk kursi di seberangnya.
Viona berjalan perlahan mendekat, lalu duduk dengan hati-hati. Ia menunduk sedikit, tidak berani menatap mata Raka terlalu lama.
“Kamu butuh waktu untuk menyesuaikan diri, saya mengerti,” kata Raka, suaranya tetap datar namun tidak setajam semalam. “Tapi mulai hari ini, kamu harus mengikuti aturan yang berlaku di rumah ini. Saya tidak ingin ada kesalahpahaman yang bisa berujung pada masalah.”
Viona mengangguk. “Saya mendengarkan, Tuan.”
Raka meletakkan dokumen di tangannya, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Pertama, jam makan tetap sama setiap hari. Sarapan pukul tujuh pagi, makan siang pukul satu siang, dan makan malam pukul tujuh malam. Jangan terlambat, dan jangan meminta makanan di luar jam itu kecuali ada keperluan mendesak.”
“Baik, Tuan.”
“Kedua, kamu bebas berjalan-jalan di dalam rumah dan taman, tapi tidak boleh keluar dari area pagar tanpa izin saya. Jangan berbicara dengan orang luar, jangan menerima tamu, dan jangan membuka pintu untuk siapa pun kecuali saya atau orang yang sudah saya percayai.”
Viona menelan ludah. “Baik, Tuan.”
“Ketiga,” lanjut Raka, matanya menatap tajam ke arah Viona, “jangan menyentuh apa pun yang ada di ruang kerja saya, di lantai atas sebelah barat. Jangan membuka laci, lemari, atau meja apa pun tanpa izin. Dan yang paling penting — jangan pernah bertanya soal urusan saya, bisnis saya, atau ke mana saya pergi dan dengan siapa saya bertemu. Itu bukan urusanmu.”
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Raka terasa seperti aturan yang tidak bisa dibantah sedikit pun. Viona merasa tertekan, namun ia tahu ia harus mematuhinya jika ingin menjalani perjanjian ini dengan aman.
“Saya mengerti semuanya, Tuan,” jawabnya dengan suara tenang.
Raka mengangguk singkat, lalu mengambil sendok dan garpunya. “Makanlah. Makanannya sudah disiapkan. Jangan menunggu saya, saya akan segera berangkat.”
Viona mulai mengambil sedikit makanan, namun rasanya terasa hambar di mulutnya. Ia makan dengan perlahan, sesekali melirik Raka yang makan dengan tenang dan terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Di tengah keheningan itu, Viona menyadari betapa besar perbedaan antara dirinya dan pria di hadapannya ini. Ia adalah gadis biasa yang hidup sederhana, sedangkan Raka adalah pria berkuasa yang memiliki segalanya namun hidup dalam kewaspadaan yang tinggi.
Setelah beberapa menit, Raka meletakkan peralatannya. Ia menatap Viona sekali lagi, lalu berkata, “Saya akan pulang malam ini. Bisa jadi larut malam. Jangan menunggu saya. Kunci pintu kamarmu dengan baik. Kalau ada apa-apa, panggil saja Mbak Sari atau pengawal yang berjaga di depan pintu.”
“Baik, Tuan,” jawab Viona.
Raka berdiri, lalu berjalan menuju pintu keluar. Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. “Satu hal lagi, Viona. Jangan mencoba mencari tahu siapa saya sebenarnya. Dunia tempat saya hidup bukan tempat yang aman untuk orang sepertimu. Selama kamu tetap mengikuti aturan, kamu akan aman. Jangan sampai kamu sendiri membahayakan dirimu sendiri.”
Kalimat itu terucap dengan nada biasa saja, namun ada peringatan tersirat yang membuat bulu kuduk Viona merinding. Ia hanya bisa mengangguk pelan, menatap punggung Raka yang semakin menjauh hingga hilang dari pandangannya.
Begitu Raka pergi, suasana di ruang makan itu kembali hening. Viona menunduk, memandangi sisa makanan di piringnya. Ia tahu, hidupnya di rumah ini tidak akan mudah. Ia harus hidup dengan aturan ketat, menjaga jarak, dan berhati-hati di setiap langkahnya.
Namun di tengah perasaan takut dan tertekan itu, ada satu hal yang terlintas di pikirannya. Tatapan terakhir Raka tadi — seolah ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatapan dinginnya itu. Sesuatu yang belum bisa ia pahami, namun membuatnya merasa ada lebih banyak hal yang akan terjadi di masa depan.
Viona menghela napas panjang, lalu melanjutkan makannya. Ia harus kuat. Demi ayahnya, demi keluarganya, ia harus menjalani satu tahun ini dengan sebaik-baiknya. Siapa tahu, nanti setelah masa itu selesai, ia bisa kembali ke kehidupan lamanya yang damai. Namun ia belum tahu, bahwa nasibnya sudah terikat erat dengan pria itu, dan dunia yang ia anggap asing itu perlahan-lahan akan menariknya masuk lebih dalam, jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.
Setelah selesai makan, Viona berdiri dan membereskan piringnya sendiri, meski Mbak Sari segera melarangnya. “Tidak perlu, Nyonya. Biar saya saja yang mengurusnya. Tugas Nyonya hanya beristirahat dan menyesuaikan diri di sini.”
Viona tersenyum tipis, merasa canggung karena terbiasa melakukan segala hal sendiri. “Terima kasih, Mbak Sari. Tapi saya terbiasa bergerak. Kalau diam saja rasanya tidak enak badan.”
Mbak Sari mengangguk paham, lalu mengajaknya berkeliling rumah agar Viona tahu letak ruangan mana saja. Rumah itu sangat luas, memiliki tiga lantai, banyak ruangan yang tertutup, dan lorong-lorong panjang yang membuat Viona merasa seperti berada di labirin.
“Yang paling atas adalah ruang kerja dan kamar pribadi Tuan Raka. Sebaiknya Nyonya tidak naik ke sana tanpa izin, ya,” bisik Mbak Sari dengan nada waspada. “Beliau sangat menjaga privasinya.”
Viona mengangguk setuju. “Saya mengerti, Mbak.”
Siang itu terasa sangat panjang. Viona berjalan-jalan di taman belakang, duduk di bangku kayu sambil memandangi kolam ikan yang jernih. Angin siang berhembus lembut, membawa aroma bunga melati yang tumbuh rapi di sepanjang jalan setapak. Namun hatinya tetap terasa kosong, teringat pada ayahnya yang kini pasti juga sedang memikirkannya.
Saat matahari mulai condong ke barat, suara mobil yang masuk ke halaman terdengar dari arah gerbang. Viona menoleh, melihat mobil hitam mewah yang sama melaju masuk, diikuti satu mobil pengawal di belakangnya. Jantungnya kembali berdebar — Raka sudah pulang.
Ia berdiri ingin masuk ke dalam, tapi langkahnya terhenti saat melihat Raka turun dari mobil. Pria itu terlihat lelah, dahinya sedikit mengernyit, dan rahangnya terlihat lebih tegang dari biasanya. Ia berbicara sebentar dengan pengawalnya dengan nada rendah namun tegas, sebelum akhirnya berjalan menuju pintu masuk.
Saat melewati taman, pandangan Raka tertuju pada Viona yang berdiri di dekat kolam. Langkahnya terhenti sejenak, matanya menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan — bukan lagi dingin semata, tapi ada rasa ingin tahu yang samar.
“Kamu di sini?” tanyanya singkat.
Viona menunduk sopan. “Iya, Tuan. Hanya berjalan-jalan sebentar.”
Raka mengangguk pelan, lalu melangkah mendekat. “Sudah makan siang?”
“Sudah, Tuan. Mbak Sari yang mengantarnya ke kamar.”
“Bagus,” jawabnya singkat, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah. Namun sebelum menghilang di balik pintu, ia menoleh lagi. “Malam ini kita makan bersama. Jangan terlambat.”
Viona hanya bisa mengangguk, menatap punggung Raka yang menjauh. Setiap kali berhadapan dengan pria itu, perasaannya selalu bercampur aduk — takut, canggung, tapi juga ada rasa penasaran yang ia coba tekan sekuat tenaga.
Malam itu, saat jam menunjukkan pukul tujuh malam, Viona sudah menunggu di ruang makan. Tidak lama kemudian, Raka datang. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu yang dibuka dua kancing bagian atas, terlihat lebih santai namun tetap berwibawa.
Makan malam berlangsung hening. Suara sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Viona makan dengan perlahan, berusaha tidak membuat kesalahan sedikit pun.
Namun tiba-tiba, Raka meletakkan peralatannya, membuat Viona terkejut sedikit.
“Besok pagi, saya akan pergi selama tiga hari ke luar kota,” ucapnya tiba-tiba.
Viona mengangkat wajahnya sedikit, terkejut mendengarnya. “Baik, Tuan.”
“Saat saya pergi, aturan tetap berlaku. Jangan keluar pagar, jangan menerima tamu, dan ikuti apa yang dikatakan Mbak Sari dan pengawal yang berjaga. Jika ada hal mendesak, hubungi nomor yang akan saya berikan ke Mbak Sari.”
“Baik, Tuan.”
Raka menatapnya lekat-lekat, seolah ingin memastikan bahwa Viona benar-benar paham. “Kamu terlihat takut padaku.”
Pertanyaan itu membuat Viona tertegun. Ia tidak menyangka Raka akan bertanya hal itu. Ia menunduk, lalu menjawab dengan jujur. “Siapa pun yang mendengar nama Tuan, pasti akan merasa takut. Bukan karena Tuan jahat, tapi karena Tuan memiliki kekuasaan yang besar.”
Raka terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis — senyum yang terasa getir dan penuh makna. “Baiklah. Biarkan saja rasa takut itu ada. Itu akan membuatmu lebih berhati-hati. Di dunia tempat saya hidup, rasa takut sering kali menjadi pelindung terbaik.”
Kalimat itu membuat bulu kuduk Viona merinding. Ia mulai menyadari bahwa di balik kekayaan dan kekuasaan itu, tersimpan bahaya yang selalu mengintai.
Makan malam dilanjutkan dalam keheningan kembali. Namun kali ini, Viona merasa ada sesuatu yang berubah. Ia mulai melihat sisi lain dari Raka — bukan lagi hanya pria dingin dan tegas yang ditakuti orang, tapi juga pria yang hidup dengan kewaspadaan tinggi, seolah selalu siap menghadapi bahaya kapan saja.
Dan malam itu, saat Viona terbaring di tempat tidurnya, ia berjanji pada dirinya sendiri: ia akan berusaha menjalani hidup ini dengan hati-hati, menjaga jarak, dan tidak membiarkan perasaan apa pun tumbuh pada pria itu. Karena ia tahu, mencintai Raka Dirgantara sama saja dengan mencintai bahaya itu sendiri.