Hujan turun lagi sore itu, dan seperti biasa, atap garasi Pak Surya tidak mau kompromi. Air merembes dari sambungan seng yang berkarat, jatuh tepat ke ember biru yang sudah disiapkan Arka sejak setengah jam lalu. Bunyinya: tes, tes, tes. Teratur, hampir seperti metronom.
"Itu ketukannya lebih konsisten daripada Bima," kata Damar sambil tertawa, menyandarkan bass-nya ke tembok.
"Sekali lagi ngatain timing gue, gue lempar stik ini ke muka lu." Bima, si penabuh drum, mengangkat sepasang stik kayunya yang ujungnya sudah tipis dimakan latihan.
Arka tidak ikut tertawa. Ia berdiri di depan mikrofon murah yang mereka beli patungan dari uang jajan, jari-jarinya menggenggam tali gitar tua peninggalan ayahnya. Garasi ini sempit, pengap, bau oli, dan separuh lantainya basah. Tapi bagi mereka berempat, tempat ini adalah satu-satunya dunia yang masuk akal.
"Kita ulang dari intro," kata Arka pelan. Suaranya tidak keras, tapi tiga orang lainnya langsung diam dan bersiap. Begitulah cara kerja mereka. Arka jarang memerintah, tapi kalau dia bicara soal lagu, semua mendengar.
Senja, gadis yang memegang keyboard di sudut, menyalakan kembali alat itu. Jemarinya melayang di atas tuts. "Yang kunci minor di bagian reff, ya? Aku masih nggak yakin transisinya enak."
"Enak kok," sahut Arka. "Justru karena nggak sempurna, jadi kerasa."
Mereka menyebut diri Senja Terakhir. Nama itu lahir dari kejadian setahun lalu, saat mereka pertama kali nongkrong di garasi ini sampai matahari benar-benar tenggelam, dan Damar nyeletuk, "Ini senja terakhir sebelum kita mulai serius." Konyol, tapi melekat.
Petikan pertama Arka mengalun. Damar masuk dengan bass yang dalam, Bima membangun ritme, dan Senja menebar lapisan keyboard yang membuat ruangan sempit itu tiba-tiba terasa luas. Lalu Arka bernyanyi.
Suaranya bukan suara penyanyi profesional. Ada serak di ujungnya, ada nada yang kadang meleset tipis. Tapi ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika Arka membuka mulut. Seolah setiap kata yang keluar membawa beban yang tidak ia ucapkan di luar lagu.
"...rumah itu cuma dinding, bukan tempat pulang..."
Senja mendongak dari keyboard-nya, memperhatikan punggung Arka. Lirik itu baru. Kemarin belum ada.
Lagu berhenti di tengah karena senar gitar Arka putus. Pluk. Suaranya melengking lalu mati.
"Yah," kata Bima, "senar lu udah karatan, Ka. Ganti dong."
"Belum sempat beli." Arka melilit senar putus itu di jarinya, lalu menggulungnya ke kantong celana.
"Belum sempat atau belum ada uang?" Damar bertanya, nadanya hati-hati.
Arka hanya tersenyum tipis. "Sama aja."
Hening sebentar. Hujan masih turun. Ember biru sudah hampir penuh.
Senja berdiri, mengambil ember itu, lalu menumpahkannya ke selokan luar. Saat kembali, ia berkata, "Eh, kalian udah denger belum?"
"Denger apa?" tanya Bima, masih memutar stik di jarinya.
"Festival Suara Muda. Tahun ini katanya diadain di alun-alun kota, panggung gede, ada juri dari label beneran." Senja meletakkan ember kembali ke bawah titik bocor. "Pendaftaran dibuka minggu depan."
Bima langsung berdiri. "Serius? Yang tahun lalu pemenangnya direkrut label itu?"
"Iya. Yang itu."
Damar menoleh ke Arka. "Gimana, Ka? Kita ikut?"
Arka tidak langsung menjawab. Ia menatap gitarnya, lalu ke arah pintu garasi yang setengah terbuka, ke arah hujan, ke arah rumah-rumah petak di gang sempit tempat mereka tumbuh.
"Kita belum siap," katanya akhirnya.
"Justru itu kita siapin," sahut Senja cepat. "Masih ada waktu. Kita punya lagu, kita punya kamu—"
"Lagu kita cuma tiga yang jadi."
"Bikin lagi," kata Bima. "Lu kan tiap minggu nulis lirik baru. Tadi aja ada yang baru, kan? Yang soal rumah itu."
Arka menatapnya. Ada sesuatu yang berkelebat di wajahnya, cepat sekali, lalu hilang. "Itu cuma corat-coret."
"Corat-coret yang bikin merinding," kata Senja pelan.
Di luar, suara klakson motor terdengar. Lalu suara perempuan memanggil, "Arka! Arka, pulang! Ayah cariin!"
Arka langsung berdiri. Wajahnya berubah. Ia menyambar tas dan jaketnya.
"Besok kita lanjut," katanya buru-buru. "Soal festival, nanti gue pikirin."
"Ka—" Damar memanggil, tapi Arka sudah keluar, menerobos hujan, menghilang di tikungan gang.
Tiga orang yang tertinggal saling pandang.
"Dia kenapa sih akhir-akhir ini?" tanya Bima.
Senja menatap pintu yang masih bergoyang. Di lantai garasi, tetesan dari atap terus jatuh, mengisi ember biru, satu demi satu.
"Nggak tahu," jawabnya. "Tapi aku ngerasa, semua yang dia simpen, dia tumpahin ke lagu."