Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh Wisnu Padmanaba
Desa Kedungwaru, 2026, sebuah desa di bantaran sungai yang sudah dua belas tahun dipimpin Kepala Desa Hartono Sumarno—orang yang ramah, murah senyum, dan tak pernah benar-benar terkalahkan dalam tiga kali Pilkades. Rahasia kemenangannya bukan sihir: tambang pasir dan galian-C ilegal di tikungan sungai yang ia "restui" memberi nafkah pada hampir separuh kepala keluarga di desa—penambang manual, sopir truk, kuli muat, pemilik warung yang hidup dari truk-truk itu, sampai pemilik lahan yang menyewakan tanahnya untuk akses ekskavator. Uang tambang membayar kampanye, membayar serangan fajar, membayar mulut yang ramai di warung kopi. Selama tikungan sungai itu masih digerus, Pak Har akan selalu menang. Ke desa inilah Prabasta "Pram" Wijanarko, 27 tahun, pulang setelah bertahun-tahun merantau jadi pelatih sepak bola usia dini dan ojek online di kota. Ia kembali bukan untuk berpolitik, tetapi karena ayahnya, mantan kepala dusun yang dulu menolak tambang, meninggal—dan karena sungai tempat ia dulu berenang kini tinggal jurang pasir yang sebentar lagi melahap pekuburan desa dan jembatan satu-satunya. Saat Pilkades digelar lagi tahun ini dan tak seorang pun berani melawan Pak Har, Pram nekat mendaftar sebagai calon. Mesin konflik novel ini sepenuhnya elektoral dan membumi: senjatanya bukan dokumen atau bukti forensik, melainkan SUARA—merebut dukungan satu per satu warga, menyusun tim sukses dari pemuda dan ibu-ibu pengajian, melawan serangan fajar dengan kepercayaan, membantah fitnah di musyawarah desa, dan memenangkan kursi yang ditentukan di kotak suara, bukan di meja inspektorat. Persoalannya pahit dan horizontal: lawan terbesar Pram bukan Pak Har, melainkan tetangga-tetangganya sendiri yang mencari nafkah dari tambang. Menutup tambang berarti menyelamatkan sungai dan desa—tapi juga mematikan dapur puluhan keluarga yang ia kenal sejak kecil. Setiap suara yang ia rebut, ia rebut dari orang yang takut kehilangan pekerjaan. Itulah yang membuat kemenangan terasa seperti pengkhianatan, dan kekalahan terasa seperti membiarkan desa tenggelam.
Karena kamu suka Political · Misteri & Thriller, mungkin kamu suka ini juga:
Aksi · Misteri & Thriller