Sebulan setelah kasus akun anonim, kehidupan sekolah perlahan kembali pada rutinitas. Bisikan tentang Archen belum hilang sepenuhnya, tetapi ulangan, tugas, dan persiapan ujian membuat para siswa menemukan bahan pembicaraan baru.
Jessie menjalani konsekuensi yang berbeda. Pengakuannya tentang penggunaan jasa penyebar gosip pada masa lalu sampai kepada guru. Ia dipanggil bersama orangtuanya dan diminta mengakui unggahan-unggahan yang pernah dipesan.
Orangtua Jessie akhirnya datang ke sekolah. Ayahnya marah bukan karena putrinya telah merundung orang, melainkan karena perbuatan itu dapat merusak nama keluarga.
"Papa bisa pindahkan kamu ke sekolah lain," katanya.
"Aku gak mau lari."
"Kamu tahu berapa banyak uang yang Papa keluarkan buat sekolah ini?"
"Itu gak bikin aku bebas nyakitin orang."
Ayah Jessie terdiam. Ia tidak terbiasa mendengar putrinya menolak perlindungan uang.
Sekolah memberikan Jessie masa percobaan perilaku, konseling wajib, dan tugas pelayanan sosial. Beberapa korban memilih melapor secara resmi. Jessie meminta maaf tanpa memohon agar hukuman diringankan.
Pada sesi konseling pertama, ia mengaku pernah dirundung di sekolah lama dan merasa berkuasa ketika akhirnya memiliki kelompok sendiri. Konselor tidak membenarkan tindakannya, tetapi membantu Jessie melihat pola yang selama ini diulang.
"Kalau saya berubah, apa semua orang bakal suka lagi sama saya?" tanyanya.
"Mungkin tidak," jawab konselor. "Perubahan bukan cara membeli kembali kasih sayang."
Kalimat itu mengecewakan sekaligus membebaskan. Jessie tidak harus mengendalikan respons semua orang.
Kheanu tetap berbicara dengannya, tetapi memberi batas. Ia tidak selalu membalas pesan dan tidak menjadi satu-satunya tempat Jessie mengadu. Jessie mulai membantu di perpustakaan sekolah sebagai bagian pelayanan sosial. Di sana ia bertemu siswa kelas sepuluh yang pemalu dan sering makan sendirian. Jessie ingin langsung mengajaknya bergabung, lalu menyadari bahwa niat baik pun dapat terasa memaksa.
"Gue boleh duduk di sini?" tanyanya.
Anak itu mengangguk. Mereka membaca tanpa banyak bicara.
Hubungan Athena dan Archen juga bergerak perlahan. Mereka lebih sering pulang bersama, tetapi tetap tidak menggunakan status pacaran. Dean terus menyebut hubungan mereka paket percobaan gratis.
"Kalau kelamaan, nanti masa percobaannya habis," kata Dean.
Athena tertawa, tetapi sebenarnya ia mulai bertanya kapan Archen akan siap. Ia tidak ingin menekan, namun ia juga tidak ingin kebutuhan sendiri selalu berada di urutan terakhir.
Masalah itu muncul ketika Archen membatalkan janji menonton pameran pendidikan tanpa penjelasan. Athena menunggu selama satu jam. Pesannya hanya dibaca.
Malamnya Archen mengabarkan papanya mengalami kekambuhan dan ia pergi ke rumah sakit bersama Tira. Ia tidak memberi tahu Athena karena merasa semua terlalu kacau.
"Gue ngerti lo panik," kata Athena melalui telepon. "Tapi satu pesan cuma butuh beberapa detik."
"Gue gak kepikiran."
"Ini kedua kalinya lo menjauh waktu ada masalah. Kita udah sepakat lo kasih kabar."
Archen terdiam. Ia ingin berkata Athena seharusnya memahami keadaannya. Namun ia sadar trauma bukan alasan untuk mengabaikan orang yang menunggu.
"Gue salah," katanya. "Maaf."
"Gue maafin, tapi gue butuh tindakan, bukan cuma maaf."
Mereka membuat aturan sederhana. Jika Archen sedang menghadapi keadaan darurat, ia cukup mengirim kata aman. Athena akan tahu ia tidak dapat bicara tetapi masih selamat. Jika Athena membutuhkan kepastian, ia akan mengatakannya tanpa menyindir.
Keesokan hari Archen mengajak Athena ke rumah sakit. Kali ini mereka masuk ke ruang kunjungan. Teriyanto duduk dengan pandangan kosong. Ketika melihat Archen, wajahnya berubah bingung.
"Sita?" panggilnya.
Tubuh Archen menegang. Athena berdiri satu langkah di belakang, tidak menyentuh sebelum diminta.
"Bukan. Saya Archen," jawabnya.
Teriyanto memegang kepala. Ia menggumam bahwa Sita telah pergi karena semua orang berkhianat. Kemudian ia menangis dan meminta maaf kepada sosok yang hanya ada dalam pikirannya.
Archen merasakan kemarahan lama naik ke tenggorokan. Ia ingin berteriak bahwa permintaan maaf tidak menghidupkan mamanya. Namun melihat papanya yang sakit tidak memberikan kepuasan yang selama ini ia bayangkan.
"Gue mau keluar," katanya kepada Athena.
Mereka meninggalkan ruangan. Di taman rumah sakit, Archen duduk sambil menutup wajah.
"Gue benci dia," katanya. "Tapi gue juga kasihan. Gue jijik sama diri sendiri karena masih kasihan."
"Perasaan lo bisa lebih dari satu, Sen."
"Apa gue harus maafin dia?"
"Gue gak bisa jawab itu buat lo."
Athena tidak mengubah pengampunan menjadi kewajiban. Archen boleh mencintai ayah yang pernah dikenalnya, membenci pelaku yang membunuh mamanya, dan merasa kasihan kepada seseorang yang kehilangan kewarasan.
Dalam perjalanan pulang, Archen berhenti di kedai teh sudut jalan. Mereka duduk di meja biasa. Kali ini Archen menggenggam tangan Athena lebih dulu.
"Gue belum sembuh dari semua ini," katanya.
"Gue tahu."
"Dan mungkin lama."
"Gue juga tahu."
"Tapi gue gak mau terus menjadikan takut sebagai alasan bikin lo nunggu tanpa kepastian."
Athena menahan napas.
"Athena, lo mau jadi pacar gue?"
Tidak ada bunga atau musik. Hanya dua cangkir teh, suara kendaraan dari jalan, dan meja kayu yang sudah penuh goresan.
"Lo yakin?" tanya Athena.
"Gue takut. Tapi gue yakin mau nyoba bersama lo."
Athena tersenyum lebar. "Iya, gue mau."
Archen ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia memilih hubungan bukan karena yakin tidak akan terluka, melainkan karena percaya dirinya dapat belajar menghadapi luka tanpa selalu melarikan diri.
Dari luar kaca kedai, Kheanu yang sedang mengantar pesanan melihat tangan mereka saling menggenggam. Motornya melambat sesaat, lalu kembali berjalan.
Di jok belakang terdapat satu kotak kue untuk perpustakaan sekolah. Jessie menunggu di sana untuk menyelesaikan tugas pelayanan sosialnya.
Athena memberitahu orangtuanya pada malam yang sama. Bunda tersenyum, sedangkan Syarif menatap putrinya cukup lama sebelum bertanya apakah Archen memperlakukannya dengan baik.
"Sejauh ini baik. Kalau ada masalah, Athena bakal cerita."
Syarif tidak melarang. Ia hanya meminta mereka menjaga sekolah dan batas masing-masing. Ia juga menegaskan bahwa Athena tidak bertanggung jawab menyembuhkan trauma Archen.
"Athena tahu, Pa. Archen juga mulai konsultasi."
Di rumah Tira, reaksi jauh lebih ramai. Bi Ijah langsung menanyakan makanan kesukaan Athena, sedangkan Tira berpura-pura baru tahu meski senyumnya membuat kebohongan itu gagal total.
"Jangan senang dulu," kata Archen. "Sen baru mulai belajar."
"Memangnya hubungan ada ujian tengah semester?" goda Tira.
"Ada. Namanya ketemu orangtua."
Tira tertawa sampai Bi Ijah ikut tertawa tanpa memahami seluruh percakapan.
Keesokan harinya Athena dan Archen datang ke sekolah secara terpisah. Mereka sepakat tidak perlu mengumumkan status kepada semua orang. Dean tetap mengetahui hanya dari senyum Athena.
"Akhirnya!" teriaknya hingga satu kelas menoleh.
Kheanu ikut mengucapkan selamat. Suaranya terdengar normal karena ia sudah berlatih sepanjang perjalanan. Athena memeluknya singkat sebagai sahabat. Pelukan tersebut menyenangkan sekaligus menyakitkan.
Setelah mengantar pesanan, Kheanu tiba di perpustakaan. Jessie sedang menyusun buku berdasarkan nomor yang salah. Ia mengomel karena Kheanu menertawakan hasil kerjanya.
"Gue dapat nilai bagus di sekolah, ya," katanya.
"Tapi angka tiga aja lo taruh setelah tujuh."
Jessie akhirnya ikut tertawa. Ia tidak bertanya tentang Athena. Kheanu juga belum siap bercerita. Mereka menyusun ulang buku dalam keheningan yang tidak terasa mengancam.
Saat sore turun, Kheanu menyadari bahwa patah hati tidak membuat dunia berhenti. Masih ada toko yang harus dibantu, sekolah yang harus diselesaikan, dan teman yang sedang belajar menjadi baik.
Kheanu menarik napas panjang. Ada cinta yang akhirnya menemukan kepastian, dan ada perasaan lain yang harus belajar menerima bahwa tidak semua ketulusan berakhir dengan memiliki.