MALAM HARINYA
Lisa berjalan santai menuju halte bus dekat dengan sekolahnya sambil menyenandungkan lagu kesukaannya.
Suhu udara di malam hari cukup dingin membuat Lisa harus merapatkan almamater sekolahnya agar tak menggigil kedinginan.
Seperti yang Rose katakan tadi sore, hujan kembali turun dengan cukup deras.Untungnya Lisa selalu membawa payung putih transparannya membuatnya bisa menghalau hujan yang sedang turun dengan cukup deras.
Lisa melipat payungnya saat sudah berada di halte bus lalu mendudukan dirinya di bangku halte bus yang di sediakan.Namun niattan duduknya hilang saat Lisa melihat seseorang, lebih tepatnya seorang lelaki yang memakai seragam yang sama dengannya tengah duduk tidur menyamping ke arah tiang penyangga halte membuat Lisa tidak bisa melihat wajah lelaki yang ia yakini tengah tertidur tersebut.
"gila, tertidur dengan kondisi hujan deras, tak dingin apa? eh...apa aku harus membangunkannya?tapi kalo dia lelaki jahat bagaimana?Lisa positifkan saja pikiranmu.Kau kan punya bela diri untuk apa takut.Pasti pun dia laki-laki baik kan?.kasian jika tidak di bangunkan.Dia akan ketinggalan bus terakhir.Lagipula, dia memakai seragam yang sama denganku.Mungkin dia kelelahan sampai-sampai tertidur di halte?"gumam Lisa yang sedikit takut.
Lisa memberanikan dirinya untuk membangunkan laki-laki yang berseragam sama dengannya, menghalau pikiran negatif yang memenuhi pikirannya terhadap laki-laki yang ada di hadapannya.
Ia membulatkan matanya terkejut saat ia membalikkan tubuh laki-laki tersebut, melihat wajah yang tak asing begitupula dengan name tag siswa tersebut.
"Jevan"
Jevan Jeon, teman sekelas Lisa yang sangat jarang berinteraksi dengan teman sekelasnya, begitupula dengan Lisa yang notebatenya ketua kelas yang diam-diam menaruh rasa suka dan penasarannya terhadap siswa pendiam tersebut, menurutnya Jeva merupakan laki-laki yang berbeda dari laki-laki yang berada di kelasnya.Namun itu semua ia urungkan mengingat Jeva yang terus saja menghindar dari semua orang-orang yang ingin menjadi temannya atau mendekati dirinya membuat Lisa tak yakin bisa menjadi teman laki-laki tampan bergigi kelinci tersebut.
Lisa mulai panik saat cairan kental berwarna merah tiba-tiba keluar dari hidung Jevan.
Lisa, gadis itu langsung mencari tisuue di dalam tasnya lalu menyeka darah yang keluar dari hidung mancung Jevan.
Lisa yang khawatir melihat kondisi Jevan lantas menguarkan handphone untuk menghubungi seseorang, meminta bantuan
"kak".
".....".
"kakak bisa menjemput ku di halte bus dekat sekolah ku?tapi tolong kak, temanku pingsan disini.Aku tidak tahu alamatnya dan dia juga sedang demam tinggi kak.Aku tidak mungkin menaiki bus sampai di rumah.Hujan masih sangat lebat".
".....".
"iya kak, cepatlah!".
"...".
Lisa mematikan teleponnya dan beralih ke laki-laki tampan yang masih setia menutup matanya.Rasa cemas menyelimuti dirinya saat melihat keadaan laki-laki tersebut yang tak lain Jevan.
Lisa menyampirkan almamaternya ke tubuh panas Jevan agar udara dingin di malam hari akibat hujan tak membuat tubuh Jevan kedinginan dan memperparah demamnya.
"kak! cepatlah!".
Tin tin tin
Suara klakson mobil membuyarkan kecemasan Lisa yang tengah menyeka darah yang terus keluar dari hidung Jevan.Ia lantas menyudahi aktivitasnya saat suara sang kakak memanggilnya.
"Lisa, siapa temanmu yang sakit?"tanya kakak Lisa saat dia sudah berdiri di hadapan Lisa.
Sang kakak membulatkan matanya saat melihat wajah laki-laki yang Lisa tunjuk.
"Jevan?"
Lisa menyerngitkan dahi bingung"kakak mengenalinya?"tanya Lisa yang penasaran.
Kenapa kakaknya bisa mengenali Jevan padahal Lisa sendiri tak dekat dengan laki-laki tampan tersebut dan Jevan pun tak pernah main ke rumah Lisa.
Sang kakak mengangguk"iya, dia adik dari sahabat kakak...Sebaiknya kita pulang, kakak akan memeriksanya di rumah juga memberi kabar pada sahabat kakak jika kita sudah sampai di rumah"jelas sang kakak.
Lisa mengangguk setuju, ia mengambil tasnya lalu mengikuti sang kakak yang tengah mengendong Jevan menuju ke mobilnya yang terparkir di depan halte bus.
Pagi yang tidak terlalu cerah di Seoul karna hujan lebat semalam masih menguyur tapi tak sederas semalam.
Gerimis kecil di pagi hari membuat suhu udara semakin dingin.Untungnya ini hari libur membuat beberapa orang lebih memilih mengistirahatkan tubuh mereka di rumah dengan hanya sekedar tiduran, menyambung tidur semalam.
Begitupula dengan Lisa yang menikmati pagi di hari libur dengan membaca buku novel di kamarnya yang menurutnya sangat pas dengan suasana pagi yang sedang gerimis sambil menunggu lelaki tampan yang masih terlelap akibat demam tingginya semalam yang tak lain Jevan.
Laki-laki yang di temui Lisa di halte bus.Untungnya pagi ini demamnya sudah mulai turun.
Tanpa Lisa sadari, Jevan mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.Ia mengedarkan padangan ke sekeliling ruangan yang begitu asing pikirnya sampai tatapannya terpaku pada seorang perempuan berponi yang tengah asik duduk, membaca buku di samping dirinya.
Sepertinya Lisa terlalu asik dengan buku novelnya karna tak menyadari Jevan yang sudah membuka matanya.
Jevan, dia bingung harus apa karna dirinya sendiri masih pusing untuk sekedar memanggil gadis berponi tersebut walaupun suhu badannya mulai menurun.
Jungkook lantas berusaha memanggil Lisa yang untungnya Lisa segera menoleh ke arahnya.
Seketika Jevan hanya bisa menelan susah salivanya saat melihat wajah perempuan, teman sekelasnya dari dekat.
Lisa gadis itu menaruh buku novelnya di samping nakas lalu menoleh ke arah Jevan yang sedang menatapnya.
"kau sudah bangun?"tanya Lisa yang hanya di balas dengan anggukan kecil.
"ah maaf....Aku tidak menyadarinya".
Lisa mengambil handuk kecil yang berada di kening Jevan lalu kemudian meraba keningmya untuk mengecek suhu tubuhnya.Lisa tersenyum"panasnya sudah mulai turun.Aku akan mengambil obat dan bubur untuk kau makan.Kau jangan banyak bergerak ya".
Jevan mengangguk patuh membuat Lisa tidak bisa tak menyunggingkan senyuman cantiknya.Sungguh, ternyata Jevan saat ini sangat menggemaskan karna ekspresinya yang begitu polos, tidak seperti ekspresi yang Lisa selalu lihat di kelas, selalu dingin, tidak ada ekspresi lain selain itu.
Lisa bangkit dari duduknya dan berlalu ke dapur meninggalkan Jevan yang masih terbaring di kasur miliknya.
Jevan tersenyum sembari mengalihkan pandangannya, melihat pemandangan pagi yang tengah di guyur hujan gerimis melalui jendela kamar Lisa.
"lucu"gumamnya kecil sambil terus melihat pemandangan di luar.
Lisa kembali dengan nampan yang berisi bubur hangat dengan segelas air mineral dan juga beserta obat di atasnya.Ia tersenyum saat melihat Jevan yang tengah melihat pemandangan dari jendela kamarnya.Jangan lupakan dengan sebuah senyuman manis terpatri di wajah tampannya.
Lisa mendudukkan dirinya di tempat duduk yang tadi ia duduki membuat Jevan mengalihkan fokusnya ke arah Lisa.
Lisa tersenyum manis sambil menaruh nampan yang di bawanya di atas nakas samping tempat tidurnya."sekarang kau makan ya...agar tak terlalu lemas".
Jevan mengangguk lalu berusaha untuk bangun dari tidurnya tapi dengan sigap Lisa langsung membantu Jevan yang kesulitan untuk bangun.
Lisa membuat tumpukan bantal di belakang punggung Jevan agar lelaki itu bisa menyederkan punggungnya dengan nyaman.
Lisa mengambil mangkuk yang berisi bubur di atas nakas lalu mulai menyodorkannya ke arah Jevan.
Jevan refleks membuka mulutnya, menerima suapan dari Lisa dan memakan buburnya dengan perasaan senang.Bersyukur bisa kembali merasakan rasanya di suapi kembali dan juga di perhatikan jika sedang sakit.
"terima kasih"ucap Jevan tiba-tiba membuat Lisa sedikit terkejut tapi seperdetik kemudian, Lisa tersenyum"kita satu kelas, itu artinya kita teman.Sebagai teman harus saling tolong menolong kan?".Jevan tersenyum tipis begitu juga Lisa yang masih terus menyodorkan bubur ke hadapan Jevan yang di terimanya dengan senang.
"semalam kakak ku bilang, kau kelelahan dan stress...itu yang membuatmu jadi demam tinggi semalam, benarkah?".
Jevab hanya menjawab dengan anggukan tanpa berniat mengeluarkan suaranya, lebih memilih menyantap makanannya.
Lisa, gadis itu mencoba memaklumi Jevan yang mempunyai sifat tertutup.Ia tau bahwa Jevan tidak ingin di campuri urusan pribadinya.
"Lisa.....bolehkan kita berteman?"tanya Jevan tiba-tiba membuat pergerakkan Lisa terhenti.
Lisa mengangguk semangat sambil tersenyum lebar"tentu saja, aku senang kau mau jadi temanku...kalo bisa juga, kita jadi sahabat"tuturnya sambil menyodorkan kembali bubur kehadapan Jevan.
Jevan, laki-laki bergigi kelinci itu tak bisa menyembunyikan raut senangnya saat pertama kalinya ada orang yang benar-benar ingin menjadi sahabatnya.Sungguh ia bersyukur bisa bertemu dengan perempuan sebaik Lisa.
"Jevan"panggil seseorang membuat Lisa dan Jevan mengalihkan pandangannya ke arah dimana laki-laki tinggi tengah berdiri di depan pintu kamar Lisa.
Lisa yang menyadari siapa yang telah memanggil Jevan lantas berdiri dan menyuruh orang tersebut masuk untuk menemui orang yang ingin di temuinya.
"yakkk! Jevan.Kenapa kau kabur dari rumah sakit?dan kau malah pergi ke sekolah!lihat! apa yang terjadi padamu sekarang!aishhh! kau bisa bisa membuatku mendapatkan serangan jantung mendadak karna tak dapat menemukanmu di kamar rumah sakit!"marah lelaki tinggi tersebut yang tak lain kakaknya Jevan.
Jevan yang mendengar deretan kemarahan dari sang kakak hanya menampilkan senyuman kelincinya membuat sang kakak membuang napasnya kesal, meredakan emosinya.
Jevan tau, pasti sang kakak akan marah dengan keputusannya yang kabur dari rumah sakit dan malah pergi ke sekolah sebagai pelariannya.Sekarang benar yang di katakan sang kakak.Ia tumbang karna tak kuat dengan kondisinya yang memang kurang baik akhir-akhir ini.
"maaf kak, lagipun ini sudah terjadi.Aku kan sudah bilang pada kakak...aku sangat tidak suka dengan rumah sakit.Aku sangat tidak suka kak...Dan maafkan aku yang membuat kakak sangat cemas".
"dasar anak ini!"
"sudahlah Chan, kan yang penting Jevan sudah membaik.Kau jangan terus memarahinya, dia masih butuh istirahat begitupula dengan telinganya"saut seseorang yang tak lain kakak Lisa, Bara.
Bara menghampiri tiga makhluk yang sedang menatapnya dengan ekspresi yang berbeda-beda.
"yakk! bara!aku hampir saja mati gara-gara sangat cemas dengan Jevan yang tiba-tiba menghilang"balas Chandra yang tak terima komentar Bara.
Bara sendiri hanya mengeleng-gelengkan kepalanya.Ia sangat hafal betul sifat sang sahabat.
"kau sudah baikkan tidak?.Biar kakak yang merawatmu di rumah.Kakak akan ijin kuliah untuk beberapa hari"tanya Chandra melembut yang membuat Jevan menggelengkan kepalanya.
"tidak kak, kau sedang masa sibuk-sibunya sekarang.Aku tak ingin merepotkanmu.Kau kan sedang manggang sekarang"tolak Jevan.
"Jevan benar Chan.Kita tak bisa menunda-nunda lagi.Lagipula ada Lisa yang akan merawat Jevan di rumah...biarkan dia beristirahat di rumahku.Kau dan Jevan bisa menginap disini...Sekarang sebaiknya kita pergi ke rumah sakit.Pasti sudah banyak pasien yang telah menunggu kan"tutur Bara.
Chandra nampak berpikir sembari melirik ke arah Jevan yang masih di suapi Lisa.Chandra menghela napas, kembali mengalihkan pandangannya ke arah Bara yang tengah memandangnya dengan tatapan bertanyanya"ya baiklah, hari ini aku dan Jevan akan menginap di rumahmu...maaf, kami merepotkan kalian berdua".
Lisa menggeleng cepat saat mendengar penuturan Chandra"tidak kak, aku senang jika kalian menginap disini.Lagipula di hari libur ini aku jadi tidak kesepian, begitu juga dengan kak Bara"sambar Lisa yang diangguki setuju oleh Bara membuat Chandra dan Jevan tersenyum.
"terimakasih Lisa, sudah merawat Jevan dan menolongnya semalam.Entah apa yang terjadi kalo kau tidak bertemunya semalam tapi aku tidak ingin membayangkan lebih jauh lagi"ujar Chandra dan Lisa mengangguk sembari tersenyum tipis.
"Lisa, kau jaga Jevan.Kakak dan Chandra akan pergi ke rumah sakit.Tenang saja, hari ini kami akan pulang cepat...dan Jevan, minum obatmu, jangan banyak berpikir macam-macam itu akan memperburuk kondisimu"perintah Bara yang diangguki Lisa dan Jevan menurut.
"Jevan, kakak pergi dulu...jangan membuat Lisa kesal akibat keras kepalamu!....dan Lisa, omelkan saja jika Jevan tak mau menurut denganmu"cerca Chandra yang membuat Jevan mencebikkan bibirnya kesal sedangkan Lisa terkekeh lucu, melihat interaksi kedua kakak beradik ini.
Lantas Bara dan Chandra pamit untuk pergi ke rumah sakit, tempat mereka maggang.
Lisa menaruh mangkuk bubur yang telah kosong di nakas lalu mengambil obat dan juga segelas air mineral yang tadi ia taruh di atas nakas dan memberikannya ke Jevan.Lantas Jevan langsung meminum air sambil menelan obatnya.
"Lis, terimakasih untuk semalam dan juga semuanya.Maaf, aku merepotkanmu"tutur Jevan setelah selesai meminum obatnya.
Lisa tersenyum, sekarang Jevan berterimakasih lagi padanya"hey, sudah kubilang... kita teman, oh bukan maksudku sahabat.Kau sekarang sahabatku, aku harus menolong sahabatku dan itu adalah kewajibanku"balas Lisa dengan senyuman yang terus terpatri di wajah cantiknya.
"oh satu lagi...jika kau di sekolah, bergabunglah dengan para kakak kelas, sahabatku, mereka pasti akan senang jika kedatangan anggota baru".
Jevan mengangguk setuju"Lis, bolehkah aku bertanya?".
Lisa, gadis itu mengangguk setuju"tentu saja, kita sahabat...kau boleh bertanya apa saja denganku".
Jevan menundukkan wajahnya lalu menghembuskan napas pelan dan kembali menatap mata Lisa dalam"kau dan kakakmu tidak kesepian di tinggal orang tua pergi bekerja?".
Lisa sedikit terkejut atas penuturan Jevan.Namun sedetik kemudian, ia tersenyum.ia sekarang tau apa yang tengah di pikirkan lelaki tersebut"ya terkadang aku kesepian, apalagi di saat kakakku sedang sibuk dengan kuliahnya.Aku sangat bosan tapi aku berusaha mengerti posisi mereka...Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhanku dan kakakku.Lagipula, mamah dan dady akan pulang walaupun sebulan sekali...dan hanya tinggal beberapa hari dirumah.Tapi masih ada para kakakku, mereka terkadang menemaniku di rumah"jawab Lisa .
"aku tau kau kesepian Jevan.Kau marah dan kecewa pada kedua orangtuamu.Kau dan kakakmi tidak pernah di anggap ada atau di perdulikan oleh kedua orangtuamu.Mereka hanya ingin fokus pada karir dan juga diri mereka masing-masing...maaf Jevan
Aku tahu ini karna kak Bara memberitahuku semuanya semalam...oh bukan, lebih tepatnya kakakmu yang menceritakan kepada kakakku.Maaf jika aku terlalu masuk ke dalam masalahmu"tambah Lisa.
Jevan, pemuda tersebut hanya bisa menampilkan senyumannya, lebih tepatnya senyuman miris"yah, tidak masalah Lis.Kau sahabatku dan kakakmu sahabat kakakku, itu tidak masalah.....lagipula itu benar faktanya...Setidaknya aku senang ada orang yang mau peduli padaku setelah kakakku"tungkas Jevan.
Lisa sebenernya sangat tidak enak untuk mengatakan ini tapi ia hanya ingin membuka hati Jevan.Membuka hati dan matanya agar dapat melebarkan pandangannya pada orang-orang yang masih peduli padanya.
"Jevan, kalo begitu sadarkan kedua orangtuamu dengan sebuah tamparan, bukan!bukan tamparan fisik...tapi sebuah tamparan yang mampu menyadarkan hati mereka.Maksudku, kau harus tetap banggakan kedua orangtuamu.....Aku yakin, suatu saat nanti mereka akan melihatmu dan kakaku.Kau ikuti saja seperti kak Chandra.Dia terus saja melangkah ke depan untuk mengejar impiannya... berusahalah Jev dan jangan pernah membatasi pertemanan...dan aku harap, kau tidak pernah berpikir bahwa kau hanya sendiri....Ada aku, kakakmu dan kakakku, dan juga orang lain yang masih peduli padamu.Cobalah membuka dirimu.Rubah sikapmu menjadi hangat dan turunkan egomu.Aku yakin, masih banyak orang yang menyayangimu hanya saja kau tidak ingin peduli pada sekitarmu.Kau mecoba paling kuat tapi nyatanya kau butuh sandaran.Tunjukkan pada semua orang bahwa kau pemuda kuat dan banggakan kakakmu serta kedua orangtuamu.Aku yakin, mereka nantinya akan senang dengan itu"nasihat Lisa panjang lebar.
Jevan mengangguk paham.Ia sangat terkejut dengan penuturan Lisa yang panjang tapi membuatnya terkesima.
Dan apa yang di tuturkan itu memang benar, Jevan memang ingin menutupi segalanya, termasuk dengan kakaknya yang paling ia sayang.
Jevan juga mencoba bersabar dengan sikap kedua orangtuanya, di tambah ia yanh harus menutupi kemarahan dan kekecewaanya pada orangtuanya yang tidak pernah pulang beberapa bulan ini.Terakhir kali mereka pulang seminggu yang lalu itupun hanya beberapa hari dan mereka tidak pernah melirik Chandra maupun Jevan, hanya sang ibu yang menanyakan kabar, itupun hanya batas sekolah.
Mereka hanya membiayai hidup Jevan dan juga kakaknya tanpa niattan mengurus mereka berdua padahal Jevan sangat rindu masa kecilnya.Masa dimana perusahaan sang ayah belum terlalu besar seperti sekarang.
Terlebih Jevan juga harus menyembunyikan traumanya, trauma yang di sebabkan oleh teman-teman Jevan yang hanya memanfaatkan uangnya.Memanfaatkan apa yang ia punya membuatnya enggan untuk memulai tali pertemanan ataupun persahabatan lagi.
Memikirkan itu membuat kepala Jevan pusing kembali.Ia lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar Lisa, dimana ia melihat pemandangan luar dengan hujan gerimis yang masih setia menguyur kota Seoul, itu cukup membuatnya lebih nyaman.
Dimana ia bisa melihat air hujan turun ke bumi dengan beraninya tanpa ada rasa takut walau dia harus jatuh dari awan yang tinggi.
Lisa mengikuti arah pandang Jevan
Ia tersenyum saat melihat apa yang sedang di lihat Jevan.Seketika sebuah ide terlintas di pikirannya.
"cepatlah sembuh, aku menantang mu bermain air hujan dan pergi ke sekitar sungai Han agar bisa menikmati guyuran air hujan, bagaimana?"tantang Lisa.
Jevan menoleh ke arah Lisa yang tengah menatapnya dengan ekspresi menantangnya.Ia lantas mengangguk dan tersenyum tipis"yah....aku menerima tantangan mu Lisa.Kau lihat saja".
'Lisa, aku janji akan selalu melindungi mu sebagai sahabat sekaligus orang pertama yang aku suka' J.
'Jevan, semangat.Aku akan selalu bersamamu walau aku masih asing bagimu...tapi tak apa, aku akan membantumu keluar dari permasalahanmu dengan orangtuamu dan juga membantumu untuk kembali percaya akan pertemanan atau persahabatan.Aku menyayangimu sebagai sahabat Jev' L.
Summer Rain