Kabut itu tidak turun. Ia naik.
Lana menyadarinya saat mobilnya mulai menanjak meninggalkan jalan beraspal terakhir, menukik ke jalur tanah berkelok yang menuju Karangwungu. Kabut bukan datang dari langit seperti yang biasa ia lihat di kota, melainkan merayap dari celah-celah tebing dan dari mulut hutan pinus di kiri-kanan jalan, seakan tanah itu sendiri yang menghela napas dan napas itu putih, basah, dan dingin.
Ia menurunkan kaca sedikit. Udara yang masuk berbau lumut, kayu lapuk, dan sesuatu yang anyir, seperti air yang terlalu lama menggenang. Wiper bekerja pelan, mengusap embun yang menempel di kaca depan walau hujan tak turun.
"Bodoh," gumamnya pada diri sendiri, mengulangi mantra yang ia bawa sejak berangkat dari kota dua belas jam lalu. "Tiga hari. Urus pemakaman, urus surat-surat, jual rumah, pulang."
Tiga hari. Itu rencananya. Itu seluruh hubungannya yang tersisa dengan seorang nenek yang nyaris tak pernah ia kenal, perempuan tua bernama Mbah Surti yang hanya hadir dalam ingatannya sebagai bayangan kaku di sudut foto, dan dalam wesel-wesel uang yang dulu dikirim ke ibunya, lalu berhenti.
Jalan menyempit. Pinus berdiri rapat di kedua sisi, batangnya lurus seperti deretan tiang, dan di sela-selanya kabut bergerak seolah ada yang berjalan menyusuri pohon-pohon itu sejajar dengan mobilnya. Lana memaksa matanya tetap di jalan. Ia arsitek; ia terbiasa percaya pada apa yang bisa diukur. Kabut adalah kondensasi. Bayangan adalah pinus. Anyir adalah tanah rawa.
Lalu jembatan itu muncul.
Jembatan kayu di atas Kali Suwung. Papan-papannya menghitam, sebagian melengkung, dipasang berderet di atas dua balok induk yang tampak lebih tua dari desa itu sendiri. Di bawahnya, sungai mengalir — tapi airnya bukan cokelat seperti sungai pegunungan pada umumnya, melainkan hitam. Hitam pekat seperti tinta, atau seperti minyak, memantulkan langit kelabu tanpa riak, sampai-sampai untuk sesaat Lana tak bisa menentukan di mana permukaan air berada dan di mana mulai bayangannya.
Ia memperlambat mobil. Roda depan naik ke papan pertama, dan seluruh jembatan berderak panjang, suara seperti rintihan. Lana menahan napas. Di tengah jembatan, ban kanan tergelincir ke sela dua papan yang renggang. Mobil oleng, miring, hidung menukik ke arah sungai hitam di bawah, dan untuk satu detik yang terasa sangat lama, Lana menatap permukaan air itu — dan permukaan air itu, ia bersumpah, menatapnya balik. Tenang. Sabar. Menanti.
Ia menginjak gas. Ban berputar, mengisap papan, lalu menggigit. Mobil melompat ke depan dan menggelosor turun ke sisi seberang, ke tanah Karangwungu, sementara jembatan masih berderak di belakangnya seperti tertawa pelan.
Lana berhenti. Tangannya gemetar di setir. Jantungnya berdebar di pangkal lehernya. "Cuma papan renggang," bisiknya. "Cuma papan."
Gerbang desa berdiri seratus meter di depan: dua tonggak batu berlumut dengan rangkaian janur kering dan, anehnya, untaian garam kasar yang digantung dalam kantong-kantong kain putih kecil. Di atasnya, papan kayu bertulis KARANGWUNGU dengan huruf yang dimakan jamur.
Begitu ban mobil melewati garis bayangan kedua tonggak itu, Lana merasakannya.
Diawasi.
Bukan satu pasang mata. Banyak. Ia tak melihat siapa pun — jalan utama desa kosong, rumah-rumah kayu dengan jendela tertutup walau hari masih sore — tapi rasa itu menempel di tengkuknya, padat dan dingin, seperti tangan basah yang diletakkan di lehernya dari belakang. Ia menengok ke spion. Jalan di belakangnya kosong. Kabut menutup jembatan, seolah jalan masuk itu sudah tak ada lagi.
Di pertigaan dekat sebuah warung, seorang lelaki berjongkok dengan ojek motor tua. Lana berhenti, menurunkan kaca.
"Pak, permisi. Rumah Mbah Surti, yang mana ya?"
Lelaki itu menegakkan badan perlahan. Wajahnya ramah — terlalu ramah, senyum yang langsung muncul seperti sudah disiapkan. Tapi matanya tidak ikut tersenyum. Matanya bergerak cepat ke arah tas Lana, ke tangannya di setir, lalu ke wajahnya, lama, seperti mencocokkan dengan sesuatu.
"Oalah. Panjenengan putu-ne Mbah Surti, to?" Cucunya Mbah Surti. Bukan pertanyaan. "Sing teko soko kutha." Yang datang dari kota.
"Iya, Pak. Saya Lana."
Ada yang melintas di wajah lelaki itu. Bukan duka. Lebih seperti — perhitungan. "Joglo Mbah Surti niku teng pungkasan dalan iki. Mlebu, terus, mengko ketemu wit asem gede." Joglo itu di ujung jalan ini. Lurus, nanti ketemu pohon asam besar.
"Bapak bisa antar? Saya nggak hafal jalan—"
"Mboten." Tidak. Cepat. Tegas. Senyumnya goyah sedikit. Lalu, lebih halus, seperti menutupi: "Niki sampun sonten. Kulo mboten ngeterke teng mrika sak-sonten." Sudah sore. Saya tidak mengantar ke sana kalau sudah sore.
"Cuma sebentar, Pak. Saya bayar—"
"Mboten, Nduk." Lelaki itu sudah memalingkan wajah, sudah berjongkok lagi di samping motornya, sudah memutus percakapan. Tapi sebelum benar-benar membelakangi, ia menambahkan satu kalimat, pelan, hampir pada dirinya sendiri, dan kalimat itu yang akan Lana ingat berhari-hari kemudian:
"Sampeyan ngerti dalan-e. Wong sampeyan sing didanteni." Kamu tahu jalannya. Karena kamu yang ditunggu.
Lana membuka mulut untuk bertanya apa maksudnya, tapi mesin ojek sudah dinyalakan, deru kasar menelan suaranya, dan motor itu melaju pergi ke arah berlawanan dari joglo — menjauh, secepat mungkin, dari ujung jalan tempat ia harus pergi sendiri.
Lana menutup kaca. Menelan ludah. Ia melanjutkan, pelan, menyusuri jalan tanah yang menyempit, rumah-rumah berjendela tertutup menatapnya dari kiri-kanan, dan kabut yang naik dari tanah merangkak mendahului ban mobilnya, seolah menunjukkan jalan — menuntunnya — ke ujung desa, ke pohon asam besar yang batangnya hitam, dan ke joglo tua yang berdiri di baliknya seperti sesuatu yang sudah lama, sangat lama, menanti pulang.