Lana tidak ingat mengambil pisau.
Itu yang paling menakutkan—bukan pisaunya, bukan teriakan Sulastri, bukan darah tipis di pergelangan tangan perempuan itu. Yang paling menakutkan adalah lubang di ingatannya, seperti potongan film yang hilang, di mana ia tahu ada sesuatu tapi tak bisa memutarnya.
Ia bangun—kalau itu bisa disebut bangun—berdiri di senthong tengah, tangan kanannya menggenggam pisau dapur, dan Sulastri terhimpit di sudut, satu tangannya terangkat melindungi wajah, garis merah merembes di lengan bawahnya.
"Kamu gila!" Sulastri menjerit, suaranya menggema di kayu tua. "Kamu mau bunuh aku! Aku cuma masuk mau ngambil—"
"Aku..." Lana menatap pisau di tangannya seolah benda asing. Jemarinya tak mau melepasnya. "Aku tidak..."
Tapi ia tidak yakin. Itu masalahnya. Ia tidak bisa berkata dengan jujur "aku tidak melakukannya," sebab ia tidak tahu apa yang ia lakukan. Pikirannya menampilkan dua versi sekaligus, keduanya terasa nyata. Dalam satu versi, ia mendengar langkah di joglo tengah malam, melihat Sulastri menyelinap ke senthong dengan sesuatu di tangannya—sesuatu yang berkilat, sebilah, dan Lana mengambil pisau untuk membela diri. Dalam versi lain, tak ada apa-apa di tangan Sulastri sama sekali; hanya Lana yang berjalan dalam tidur, digerakkan oleh sesuatu yang bukan dirinya, mengayunkan pisau pada satu-satunya orang yang kebetulan ada.
Mana yang nyata?
"Kamu yang nyelinap," kata Lana, mencoba memegang versi yang menyelamatkannya. "Tengah malam. Di senthong. Mau ngapain?"
"Aku denger kamu ngomong sendiri!" Sulastri merangkak menjauh, matanya liar. "Aku cuma mau lihat kamu kenapa! Kamu berdiri di depan kursi itu, ngobrol sama dinding, ketawa-ketawa! Terus kamu noleh, dan matamu... matamu bukan matamu, Lana."
Itu menghantam Lana lebih keras daripada tuduhan apa pun. Kursi yang menghadap dinding di senthong tengah—kursi yang selalu terasa sedang menunggu seseorang. Dan ia, mengobrol dengannya. Tertawa.
Ia membuka tangan. Pisau jatuh ke lantai kayu dengan bunyi tumpul.
"Keluar," bisiknya. "Tolong. Keluar."
Sulastri tidak perlu disuruh dua kali. Ia menyambar selendangnya, menekan luka di lengan, dan berlari ke luar, sepatunya menggema di emperan, lalu sunyi.
Lana tinggal sendiri di senthong tengah. Lilin masih menyala di sudut—lilin yang ia tak ingat menyalakan. Dan di dinding, tepat di tempat kursi menghadap, ada bekas baru: garis-garis basah, seolah air mengalir turun dari atas, membentuk pola yang hampir seperti tulisan, hampir seperti wajah.
Ia mendekat. Mencium baunya. Lumpur sumur. Bau yang sama dengan telapak tangannya.
Lana duduk di lantai, memeluk lututnya, dan untuk waktu yang lama ia tak bergerak. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali ia benar-benar yakin akan sesuatu. Yakin bahwa yang ia lihat ada. Bahwa yang ia ingat terjadi. Bahwa tangan-tangan yang menggerakkan tubuhnya adalah tangannya sendiri.
Mbah Jum pernah memperingatkan: ia masuk lewat air. Lewat mandi, lewat minum, lewat hujan, lewat air mata. Dan Lana telah menangis tiap malam. Telah minum air sumur warga karena listrik padam. Telah berjalan menembus kabut yang sebenarnya hanya air yang menggantung. Tiap kontak adalah pintu, dan ia telah membuka semua pintunya tanpa sadar.
Ia mengambil pisau dari lantai—pelan, seolah benda itu bisa menggigit—dan menyimpannya jauh-jauh, di laci yang ia kunci, lalu menyembunyikan kuncinya. Bukan untuk melindungi diri dari Sulastri.
Untuk melindungi orang lain dari dirinya.
Sebelum tidur—kalau ia berani tidur—ia menulis di buku catatannya sendiri, buku baru yang ia mulai untuk merekam apa yang masih bisa ia percayai. Tangannya gemetar saat menulis:
"Aku tidak tahu apakah Sulastri menyerangku lebih dulu. Aku tidak tahu apakah aku berjalan dalam tidur. Aku tidak tahu mana yang nyata. Jadi mulai sekarang, aku catat semuanya. Tiap pagi, sebelum apa pun masuk ke kepalaku, aku catat apa yang nyata. Kalau aku kehilangan diriku, biar tulisan ini yang mengingat untukku."
Lalu, di bawahnya, dengan tinta yang lebih gemetar, ia menambahkan satu baris yang membuatnya menggigil saat menatap hasilnya:
"Tapi bagaimana kalau yang menulis besok bukan aku?"
Lampu lilin meredup. Di luar, kabut menggosok jendela seperti telapak basah mencari celah. Dan Lana duduk terjaga sampai fajar, menjaga pikirannya sendiri seperti seorang sipir menjaga tahanan yang ia takuti—sambil tahu, dengan ngeri yang tenang, bahwa sipir dan tahanan itu adalah orang yang sama.