Pagi di Jakarta datang dengan suara kendaraan yang saling mendahului. Dari pesan suara yang Nara kirim, aku membayangkan ia duduk di ruang tamu rumah ayahnya dengan secangkir teh yang tak tersentuh. Ia bercerita singkat sebelum pertemuan dimulai: ayahnya meminta ia datang sendiri dari kamar, tanpa omnya ikut masuk. Ia menyetujui, tetapi meminta omnya menunggu di halaman.
"Aku mau dengar langsung," katanya dalam pesan itu. "Tapi aku nggak mau kalau pembicaraan berubah jadi semua orang bicara menggantikanku."
Aku mendengarkan pesan itu di sela mengecat. Kuserahkan kuas kepada pemilik toko sebentar untuk mengambil kain lap, lalu membalas bahwa ia berhak meminta ruang bicara. Aku tidak menambahkan nasihat panjang. Ia sudah tahu batas yang ingin ia jaga.
Di Jakarta, Nara meletakkan tas di kursi dan duduk berhadapan dengan ayahnya. Rumah terasa lebih kecil daripada yang ia ingat. Beberapa perabot sudah tidak ada. Dinding bekas foto keluarga terlihat lebih terang daripada cat sekelilingnya. Ayahnya tampak letih, tetapi bukan itu yang ingin Nara bicarakan terlebih dahulu.
"Aku pulang karena Ayah minta aku datang," katanya. "Aku nggak pulang untuk menyetujui pernikahan."
Ayahnya menarik napas. "Kamu selalu memulai dari penolakan."
"Karena selama ini orang membicarakan pernikahan itu seolah sudah diputuskan. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Usaha sedang sulit. Ada kewajiban yang harus dibayar. Keluarga rekan Ayah menawarkan jalan keluar."
"Jalan keluar untuk siapa?"
Ayahnya diam. Nara menahan diri agar tidak mengisi keheningan dengan tuduhan. Ia meminta berkas dan angka yang dapat diperiksa. Ayahnya berkata catatan ada di ruang kerja, sebagian disimpan oleh omnya. Nara menyarankan mereka mengumpulkannya satu per satu.
"Aku nggak bisa menjanjikan semua selesai," katanya. "Aku bisa bantu melihat apa yang bisa dilakukan. Tapi aku nggak akan menikah karena utang."
Ayahnya memandangnya lama. "Kamu tahu apa akibatnya kalau kamu menolak?"
"Aku tahu ada akibat. Aku belum tahu besarnya, karena belum melihat catatan. Tapi kalau aku menikah, utangnya juga nggak hilang begitu saja. Aku tidak mau keputusan hidup dibuat berdasarkan angka yang tidak pernah dijelaskan kepadaku."
Ayahnya mengusap pelipis. Ia tidak langsung marah, tetapi tampak seperti seseorang yang kehilangan satu-satunya rencana yang ia pahami. "Ayah pikir ini yang terbaik untuk keluarga."
"Aku percaya Ayah ingin mencari jalan. Tapi aku bukan bagian dari neraca usaha."
Pintu ruang tamu terbuka sedikit. Om Nara muncul dan bertanya apakah mereka perlu waktu. Nara menjawab belum. Ia meminta ayahnya menunjukkan dokumen yang tersedia hari itu. Mereka memeriksa beberapa map bersama. Ada catatan pembayaran, surat peringatan, dan lembar yang belum lengkap. Nara tidak menyimpulkan mana yang sah atau berapa jumlah akhir. Ia menulis daftar hal yang belum dimengerti dan meminta salinan untuk memeriksa dengan orang yang memahami urusan tersebut.
Ayahnya terlihat tersinggung saat ia berkata demikian. "Kamu tidak percaya Ayah?"
"Aku percaya Ayah sedang kesulitan. Tapi aku juga ingin memahami apa yang sedang kita bicarakan."
Omnya menawarkan menyimpan salinan dan membantu mencari pendamping yang dapat menjelaskan dokumen. Nara menerimanya, lalu menegaskan bahwa ia tidak ingin omnya menanggung sesuatu tanpa persetujuannya.
Pertemuan pertama itu berakhir tanpa keputusan besar. Mereka hanya sepakat mengumpulkan berkas dan membicarakan kewajiban usaha secara terpisah dari perjodohan. Ayahnya belum menerima penolakan itu dengan tenang, tetapi ia tak lagi menyebut Nara harus segera memberi jawaban.
Di Majalaya, aku memasang papan nama di depan toko fotokopi. Pemiliknya mengamati hasilnya dan menyodorkan amplop pembayaran tahap pertama. Aku menghitungnya di depan dia, lalu mencatat sisa pembayaran di kertas kecil. Rasanya menyenangkan mendapatkan upah, walaupun nominalnya tak mampu mengubah banyak hal.
Sore hari, Nara menelepon. Aku sedang duduk di pinggir jalan setelah memasang papan.
"Pertemuanmu bagaimana?" tanyaku.
"Aku bilang tidak." Suaranya lelah. "Ayah belum menerima. Tapi dia setuju kami lihat catatan utang dulu dan membicarakan usahanya sendiri."
"Bagaimana perasaanmu?"
"Campur aduk. Aku lega sudah mengatakannya. Tapi aku sedih melihat Ayah merasa aku menolak dia, padahal aku menolak pernikahan itu."
Aku tidak buru-buru menjawab. "Mungkin dia perlu waktu memahami bedanya."
"Mungkin. Om juga bilang begitu. Tapi aku nggak mau mengubah jawabanku hanya karena dia sedih."
"Jangan ubah kalau itu bukan yang kamu inginkan."
Nara menarik napas. "Aku akan tinggal beberapa hari. Besok aku mau kumpulkan dokumen. Setelah itu baru tahu langkah berikutnya."
Aku memandang papan nama di seberang jalan yang baru kupasang. "Aku juga baru menerima bayaran. Tidak banyak, tapi cukup untuk belanja rumah."
"Bagus. Jangan sampai kamu kehilangan kerjaan karena aku."
"Aku tidak akan. Aku belajar menepati janji."
Percakapan kami tidak berubah menjadi pernyataan cinta. Sebelum menutup telepon, Nara berkata ia akan mengabari setelah dokumen terkumpul. Aku bilang aku akan menyelesaikan pekerjaan dan tak akan menunggu di depan ponsel.
Malamnya aku menyerahkan sebagian uang kepada ibu untuk belanja. Ayah melihat dari kursinya dan berkata, "Bagus. Simpan sisanya untuk modal kerja."
Aku mengangguk. Rumah kami tetap sederhana, utang tak mendadak hilang, dan Nara masih di Jakarta menghadapi hal yang rumit. Namun untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa menemani tidak selalu berarti ikut campur. Kadang yang bisa kulakukan adalah bekerja, mendengarkan, dan membiarkan orang lain membuat keputusan atas hidupnya sendiri.
Sore harinya, Nara mengirim kabar bahwa ia tiba dan telah bertemu ayahnya sebentar. Ia belum membahas semuanya; ia hanya memastikan besok mereka duduk bersama. Aku membalas bahwa aku menerima pesanan papan kecil dan akan mulai pagi. Nara berkata ia ingin melihatnya kalau suatu hari kembali, tetapi segera menambahkan bahwa ia tak tahu kapan. Aku tidak memintanya menjanjikan tanggal.
Aku menutup percakapan dan membentangkan kain untuk membersihkan kuas. Ada bagian diriku yang ingin menganggap pesan itu sebagai tanda bahwa ia akan kembali. Aku mengenali kebiasaan itu: mengubah kemungkinan menjadi kepastian agar rasa takut tidak terlalu besar. Maka kutulis di buku, "Aku berharap dia pulang, tetapi harapanku bukan rencana hidupnya." Kalimat itu terasa keras, tetapi lebih jujur daripada membuat cerita sendiri.