Hari berikutnya, pemilik kios mengirim ukuran papan lewat pesan. Aku menghitung harga bahan, biaya perjalanan, dan waktu pengerjaan sebelum mengirim penawaran. Ia menawar sedikit. Aku mengurangi ukuran huruf agar jumlahnya sesuai anggaran, bukan mengurangi upahku sampai tak masuk akal. Setelah beberapa kali bertukar pesan, kami sepakat. Pekerjaan itu akan dimulai pekan depan, bila ia mengirim uang muka.
Pak Ujang melihatku mencatat di meja warung sambil menunggu kopi.
"Kamu sekarang pakai hitung-hitungan," katanya.
"Kalau tidak dihitung, kadang yang dibayar cuma capek."
"Sudah mulai jadi orang dewasa."
"Jangan keras-keras, Pak. Nanti ibu saya dengar dan menaikkan target."
Ia tertawa, lalu mendorong piring pisang goreng ke tengah meja. Aku mengambil satu, membaginya dua, dan menyisakan sebagian untuk Pak Ujang. Warungnya tak pernah benar-benar sepi. Ada yang membeli kopi, ada yang cuma duduk karena rumah terasa terlalu panas, ada yang datang membawa berita dari lingkungan. Pak Ujang mendengarkan semuanya tanpa buru-buru mengubahnya menjadi gosip.
"Kamu sudah menemui ibu Dimas?" tanyanya.
"Belum. Aku mau memastikan dulu beliau siap ditemui."
"Bagus. Kadang orang datang berniat membantu, tapi lupa bertanya orang yang ditolong ingin apa."
Aku mengangguk. Surat Dimas masih tersimpan di laci meja. Setiap kali melihat tulisan tangannya, ada bagian diriku yang merasa harus segera melakukan sesuatu. Namun permintaan menjaga ibunya bukan berarti aku boleh memutuskan hidup beliau sendiri.
Siang itu aku mengirim pesan singkat kepada ibu Dimas melalui nomor yang sudah kukenal. Aku bertanya apakah beliau bersedia ditemui esok sore, dan apakah ada urusan tertentu yang ingin dibicarakan. Balasannya datang beberapa menit kemudian: beliau bersedia, tetapi belum tahu mau meminta apa. Aku menjawab bahwa kami bisa duduk dan mendengarkan saja.
Ponselku bergetar lagi, kali ini dari Nara. "Ayah minta aku bicara lagi malam ini. Aku bilang aku bersedia kalau kami bicara soal dokumen, bukan menentukan tanggal apa pun."
Aku membaca pesan itu dua kali sebelum membalas. "Kamu sudah jelas. Semoga dia mau mendengar. Aku akan kerja sampai sore, jadi kalau balasanku lama, tanganku penuh cat."
Nara menjawab dengan foto tangannya yang memegang map. "Tanganku penuh kertas. Kita sama-sama sibuk."
Aku tertawa sendiri. Pak Ujang melirik, tetapi tidak bertanya.
Sore menjelang, aku menyelesaikan sketsa mural kecil untuk sekolah yang pernah mempekerjakanku. Kali ini aku membuat gambar anak-anak mengangkat pot tanaman bersama. Kepala sekolah meminta sesuatu yang cerah, tapi tidak terlalu seperti poster motivasi. Aku mengirim rancangan dan menunggu jawabannya. Aku belajar bahwa menunggu pekerjaan dibalas juga bagian dari kerja, meski tidak ada yang membayarnya.
Ketika pulang, ibu sedang menghitung uang belanja. Aku menyerahkan bagian untuk kebutuhan rumah. Ia bertanya apakah aku masih perlu membeli cat untuk pesanan pekan depan. Aku menjawab belum, karena uang mukanya belum masuk. Ibu mengangguk dan melanjutkan hitungan. Cara itu membuatku merasa lebih tenang: tak ada yang berutang pada janji yang belum pasti.
Ayah masuk dari teras sambil membawa dua gelas. Ia meletakkan satu di depanku. Kopi hitam tanpa gula.
"Kamu suka yang pahit," katanya.
Aku tersenyum. "Katanya hidup sudah cukup pahit."
"Jangan ikut-ikutan ngomong seperti Pak Ujang."
Kami minum sambil duduk berhadapan. Ayah bertanya apakah aku akan menulis tentang kerjaan. Aku menjawab mungkin, tapi aku belum tahu bentuknya. Ia berkata jangan menulis sesuatu yang membuat orang lain malu. Aku menjelaskan bahwa aku tak akan memakai kisah keluarga tanpa izin. Ayah menatap gelasnya.
"Kalau tentang ayahmu sendiri?" tanyanya.
"Aku juga harus tanya."
Ia mengangguk pelan. Aku tak tahu apakah itu persetujuan atau hanya tanda bahwa ia mendengar. Aku tak memaksanya menentukan saat itu.
Malamnya, Nara menelepon setelah pembicaraan dengan ayahnya. Ia tidak menceritakan semuanya, hanya mengatakan mereka menyortir berkas dan ayahnya kembali bertanya apakah ia masih bisa mempertimbangkan pernikahan itu.
"Aku bilang aku belum berubah pikiran," katanya. "Tapi aku nggak berteriak. Aku cuma ulangi bahwa aku perlu memahami kewajiban usaha."
"Dia marah?"
"Kecewa. Tapi dia nggak memaksa aku jawab malam ini."
"Itu kemajuan kecil."
"Jangan beri nilai lagi," katanya sambil tertawa lemah.
"Maaf. Aku cuma senang kamu bisa bicara."
Nara bercerita bahwa omnya mengingatkan mereka untuk mencatat pertanyaan yang belum terjawab. Ia ingin tidur sebelum memeriksa berkas lagi. Aku berkata ia boleh berhenti dan melanjutkan besok. Ia mengucapkan terima kasih, lalu bertanya apakah aku sudah makan. Aku menjawab sudah. Kami mengakhiri telepon sebelum percakapan berubah menjadi cara untuk menunda istirahat.
Aku membentangkan sketsa mural di meja dan memberi tanda warna yang perlu dibeli bila pesanan disetujui. Besok aku akan menemui ibu Dimas. Ada hal-hal yang tidak bisa kuselesaikan untuknya. Tetapi aku bisa datang dengan telinga terbuka dan tanpa janji yang tak sanggup kutepati.
Sebelum aku pulang, ibu Dimas mengeluarkan sebuah kotak kecil dari lemari. Isinya beberapa benda sehari-hari: kunci cadangan, kartu anggota perpustakaan lama, dan nota pembelian kopi yang diselipkan ke dalam dompet. Ia tertawa pelan melihat nota itu. "Dia selalu bilang nanti bayar, bahkan ke warung yang sudah hafal utangnya." Aku ikut tersenyum. Kenangan itu tidak menghapus kenyataan pahit yang kami hadapi, tetapi mengembalikan Dimas sebagai orang yang pernah membuat orang tertawa, bukan hanya nama di surat.
"Kalau ada yang datang menagih dan aku panik, boleh aku meneleponmu?" tanyanya.
"Boleh. Tapi kalau aku sedang kerja dan belum menjawab, Pak Ujang juga bisa dihubungi. Kita bisa tulis dua nomor yang Ibu percaya." Aku tidak ingin membuat diriku satu-satunya sandaran. Beliau menuliskan nomor Pak Ujang di balik daftar dokumen, lalu meminta izin sebelum menyimpan nomorku. Aku memberikannya. Kami sepakat bantuan harus punya batas yang jelas agar aku tidak menjanjikan sesuatu yang tak mampu kutepati dan beliau tetap bisa menentukan siapa yang boleh datang.
Aku mengirim foto nota kepada pelanggan agar ia tahu bagian mana yang sudah dikerjakan. Ia membalas bahwa semuanya sesuai. Aku memasukkan telepon ke saku dan kembali memeriksa cat sebelum meninggalkan toko.
Aku pulang membawa catatan yang kusimpan di saku jaket.