Pagi itu aku membawa buku ke tempat kerja, tetapi tidak membukanya sampai istirahat. Aku sedang mengecat papan toko yang harus selesai dua hari lagi. Pemilik toko mengubah warna latar setelah melihat contoh di dinding. Aku menghitung ulang bahan dan memberi tahu bahwa perubahan itu menambah sedikit biaya. Ia menerima, lalu kami mencatatnya. Aku ingin tulisan tentang Dimas tidak membuatku lupa pada pekerjaan yang membayar kebutuhan rumah.
Saat istirahat, aku menyalin paragraf ke lembar terpisah. Aku tidak memakai kata-kata dalam surat Dimas. Aku tahu surat itu ada, tahu ia memintaku menulis, tapi tidak tahu apakah ibunya ingin orang lain membaca isinya. Aku juga tidak tahu seluruh alasan Dimas merasa lelah. Tidak ada kalimat yang bisa mengisi bagian itu tanpa mengarang.
Aku menulis: "Aku pernah mengira tawa Dimas berarti ia baik-baik saja. Sekarang aku tahu aku tidak tahu cukup banyak untuk menilai." Lalu aku membaca ulang. Kalimat itu masih tentang diriku, bukan tentang dia. Aku mengubahnya menjadi adegan saat ia menertawakan kopi Pak Ujang yang terlalu pahit, lalu meminta satu sendok gula tambahan. Kenangan itu tidak menjelaskan kondisi batinnya. Ia hanya menunjukkan satu sore yang pernah kami jalani.
Sore, ibu Dimas mengirim pesan bahwa ada orang yang bertanya tentang surat Dimas. Ia merasa tidak nyaman dan meminta aku tidak membagikan apa pun. Aku menjawab bahwa aku tidak pernah membagikan surat itu dan akan tetap menyimpannya. Aku bertanya apakah ia ingin aku datang. Ia berkata tidak perlu; ia hanya ingin memastikan aku paham batasnya.
Aku menyimpan pesannya dan menandai halaman surat di buku catatan dengan kertas kosong. Aku tidak menyalin lagi isi amplop. Saat sampai rumah, aku meletakkan surat asli tetap di tempat yang sebelumnya disetujui ibu Dimas. Ia milik keluarga dan tidak akan menjadi bahan naskah tanpa izin.
Ibu melihatku bekerja di meja dan bertanya apakah aku sedang menulis novel. Aku menjawab belum tahu apakah ini akan menjadi novel. Ia membaca satu halaman yang kuizinkan, lalu berkata aku terlalu sering menyebut diriku gagal menjadi sahabat. Ia khawatir aku menjadikan Dimas alasan untuk menghukum diri sendiri.
"Aku memang merasa gagal," kataku.
"Perasaan itu boleh ada. Tapi jangan kamu tulis seolah itu fakta yang harus dibenarkan."
Aku diam. Ibu benar: rasa bersalahku bukan bukti bahwa aku bisa menyelamatkan seseorang dengan satu pertanyaan. Aku menghapus dua paragraf yang menebak-nebak apa yang mungkin Dimas pikirkan. Aku menyisakan kejadian yang benar-benar kuingat dan apa yang kurasakan, dengan batas yang jelas.
Ayah bertanya apakah aku menulis tentang dirinya. Aku menunjukkan bahwa catatan itu hanya tentang engsel dan pagar, tanpa nama. Ia membaca dua kalimat, lalu mengembalikan buku.
"Kalau nanti dibaca orang lain, tanyakan lagi," katanya.
"Iya."
Ia menambahkan bahwa ia tak keberatan jika aku menulis tentang pekerjaan yang hilang, tetapi tidak ingin nama pabrik disebut. Aku mencatat permintaannya. Menulis tentang keluarga berarti aku harus menerima bahwa mereka punya kuasa atas cerita yang belum siap dibagikan.
Malam itu aku menelepon Nara. Aku mengatakan aku menghapus bagian-bagian yang hanya menebak isi kepala Dimas.
"Rasanya seperti kehilangan bahan," kataku. "Tapi mungkin memang bukan bahan yang berhak kupakai."
"Kalau tulisanmu kehilangan tebakan, mungkin justru jadi lebih jujur."
Nara tidak menyuruhku melanjutkan atau berhenti. Ia bertanya apakah aku masih ingin menulis. Aku menjawab iya, hanya lebih pelan.
"Aku juga belum tahu bagaimana urusanku berakhir," katanya. "Aku hanya tahu aku ingin ikut membaca catatan yang menyangkutku kalau suatu saat kamu menulis."
Aku setuju. Kami mengakhiri panggilan dengan rencana berbicara lagi saat jadwal cocok. Aku kembali ke naskah dan menulis satu kalimat penanda: "Bagian yang tidak kuketahui harus tetap tidak diketahui." Untuk pertama kalinya, ruang kosong di halaman tidak terasa seperti kegagalan. Ia terasa seperti batas.
Aku mencoba menulis satu halaman yang menyebut rasa bersalahku setelah Dimas pergi. Kalimat-kalimatnya keluar cepat, tetapi semuanya berputar pada kemungkinan yang tak bisa kubuktikan. Kalau aku menelepon, kalau aku bertanya, kalau aku memaksa ikut pulang—semuanya hanya andaian. Aku membaca halaman itu berulang kali dan merasa sedang menjadikan duka sebagai panggung untuk diriku.
Aku menutup buku dan berjalan ke luar. Di dekat sekolah, mural anak-anak dan pot tanaman mulai kering terkena matahari. Seorang guru menyapaku dan bertanya apakah aku bisa mengecat papan kelas minggu depan. Aku meminta rincian dulu. Percakapan itu memaksaku kembali pada sesuatu yang nyata: ukuran dinding, bahan, jadwal.
Malamnya aku kembali ke halaman tentang rasa bersalah dan mengubahnya. Aku menulis bahwa aku tidak melihat tanda-tanda yang kupahami saat itu, dan kini aku menyesal. Aku tidak menulis bahwa aku pasti bisa mencegah kematian. Aku juga tidak menulis bahwa ketidaktahuanku membuatku bebas dari semua kesedihan. Kedua hal itu dapat berdampingan tanpa menjadi satu jawaban.
Keesokan pagi, aku menunjukkan paragraf itu kepada ibu. Ia membaca dan berkata bagian tersebut milikku untuk diceritakan, selama aku tidak menjadikannya penjelasan tentang Dimas. Aku menulis catatan: pengalaman Raka, bukan pikiran Dimas. Batas itu membantu membedakan siapa yang berhak bercerita.
Aku menutup buku dan membantu ibu mengangkat belanjaan. Ia bertanya mengapa aku tampak tegang. Aku menjelaskan bahwa menulis tentang Dimas membuatku takut melakukan kesalahan. Ibu berkata salah satu cara menghindarinya adalah membiarkan orang yang terlibat membaca draf dan menerima koreksi. Ia juga mengingatkan bahwa aku boleh berhenti bila tulisan mulai terasa seperti hukuman.
"Aku tidak ingin berhenti," kataku.
"Kalau begitu, lakukan pelan-pelan. Kamu tidak perlu membuktikan kesetiaan dengan menderita."
Aku mengingat kalimat itu sepanjang malam. Aku menghapus satu kalimat yang menyebut diriku tidak pantas tertawa lagi. Kesedihan bukan kewajiban untuk menolak semua hari baik. Aku belum sepenuhnya percaya, tetapi setidaknya aku tidak lagi memaksa tulisan untuk mengulang tuduhan yang sama.
Aku menuliskan keputusan itu di pinggir halaman, lalu kembali bekerja.