Ayah meminta bantuanku mengecat pagar yang telah dipasang. Aku bertanya berapa upah untuk bagian yang kukerjakan. Ia tertawa dan berkata kami bisa membaginya. Aku menolak menerima bagian yang tidak jelas; kami akhirnya menyepakati upah per jam dan biaya cat. Ibu menulis kesepakatan itu di kalender keluarga. Cara itu terasa sedikit canggung, tetapi membuat tidak ada yang merasa pekerjaannya dianggap gratis.
Kami mulai pagi-pagi. Ayah menyiapkan permukaan, aku mengecat sisi depan. Ia meminta warna yang tidak terlalu mencolok. Aku menawarkan dua contoh dan ia memilih warna cokelat tua. Tetangga yang memesan lewat sebentar dan meminta bagian belakang juga dicat. Ayah menjelaskan bahwa itu pekerjaan tambahan dan akan memakan waktu. Tetangga setuju membayar bahan, lalu kami mencatatnya.
Selama bekerja, ayah menceritakan beberapa hal tentang pabrik. Ada rekan yang selalu datang paling awal, ada mesin yang sering macet, ada jeda makan yang mereka gunakan untuk bertukar bekal. Ia tidak menyebut nama atau kejadian yang memalukan. Aku bertanya apakah ia ingin bagian tentang kebersamaan itu kutulis. Ia berkata boleh sebagai catatan, belum boleh dibagikan. Aku menandai batasnya.
"Ayah tidak pernah cerita bagian ini," kataku.
"Karena kamu tidak pernah tanya."
Aku tertawa. "Kupikir Ayah nggak mau membicarakannya."
"Kadang aku juga tidak tahu harus mulai dari mana."
Percakapan berhenti saat cat hampir mengenai bajunya. Kami tertawa dan kembali bekerja. Tidak ada pemulihan yang dramatis; hanya dua orang yang menghabiskan pagi mengecat pagar dan berbagi cerita sedikit demi sedikit.
Saat istirahat, ibu membawa teh dan roti. Ia bertanya apakah jadwal kami molor. Ayah berkata tidak, tetapi ia akan meminta tetangga menunggu sampai sore. Ibu mengingatkan kami makan sebelum kembali mengecat. Kami duduk bertiga di kursi plastik. Ibu bercerita bahwa ia dulu sering menunggu ayah pulang dengan pakaian penuh debu. Ayah menambahkan bahwa ia tidak pernah sadar betapa sering ibu menyiapkan air mandi. Mereka saling tertawa, lalu kembali bekerja.
Di rumah, setelah pekerjaan selesai, kami membagi upah sesuai waktu dan kesepakatan. Ayah menyimpan bagiannya untuk kebutuhan sendiri, aku menyerahkan sebagian untuk belanja. Ibu menolak mengambil seluruh uangku dan berkata sisakan untuk modal. Kami akhirnya sepakat jumlah yang masuk rumah dan jumlah yang tetap menjadi modal. Tidak seorang pun merasa harus membuktikan cinta dengan menyerahkan semuanya.
Malamnya aku menulis satu adegan tentang pagar. Aku menunjukkan kepada ayah kalimat yang menyebut kami menyepakati upah. Ia berkata jangan tulis angka. Aku menghapusnya. Ia juga meminta namanya tetap tidak disebut. Aku menandai catatan sebagai belum boleh dibagikan.
Nara mengirim kabar bahwa ia membantu ayah meminta salinan pembayaran. Ia merasa lebih tenang karena memiliki tugas yang jelas. Aku berkata aku dan ayah baru mengecat pagar bersama. Ia membalas, "Kalian berdua juga mulai punya pekerjaan berdua."
Aku tertawa. Aku tidak menjadikan kalimat itu sebagai tanda bahwa ia ingin menjadi bagian dari keluarga kami. Aku hanya mengirim foto pagar yang sudah kering dan bertanya apakah ia sudah makan. Ia menjawab sudah.
Kami tidak berbicara lama. Aku senang hubungan kami memiliki ruang untuk cerita biasa, tetapi juga ruang untuk berhenti. Aku menutup telepon setelah mengucapkan selamat malam, lalu membereskan peralatan.
Sebelum mengecat bagian kedua, ayah mengukur ulang panjang rak. Ia meminta aku memegang ujung meteran. Kami hampir memotong papan terlalu pendek karena membaca angka dari sisi yang salah. Ayah menghentikan pekerjaan, memeriksa tanda, lalu mengubah rencana. Aku mengakui kesalahan dan menawarkan mengganti bahan jika tak bisa dipakai. Tetangga berkata ia lebih suka menunggu daripada menerima rak yang tidak pas.
Kami menyelesaikan rak keesokan harinya. Ayah meminta upah sesuai jam tambahan, dan tetangga membayar tanpa memperdebatkan. Dalam perjalanan pulang, ayah berkata kesalahan ukuran tak membuatnya menjadi pekerja buruk selama ia mau memperbaikinya. Aku mengingat kalimat itu ketika memikirkan tulisan. Mengoreksi tidak menghapus kekeliruan, tetapi bisa mencegahnya diteruskan.
Saat pulang, aku menyelesaikan rancangan papan kios yang sempat tertunda. Aku mengirimnya kepada pelanggan dan menyebut tanggal yang bisa kupenuhi. Ia menjawab setuju. Aku menandai jadwal, lalu menyisakan waktu istirahat antara pemasangan dan pekerjaan rumah. Ayah melihat kalender dan berkata aku mulai merencanakan seperti orang kantor. Aku menjawab orang kantor juga kadang lupa membayar tepat waktu. Ia tertawa.
Aku lalu duduk menulis adegan tentang meteran yang hampir salah dibaca. Aku tidak menuliskan nama tetangga atau alamat rumah. Aku bertanya kepada ayah apakah bagian tentang kesalahan ukuran boleh disimpan sebagai catatan. Ia berkata boleh, tetapi tidak untuk dibagikan dulu. Aku menandai halaman itu dengan batas yang sama.
Ibu membaca kembali bagian meteran dan berkata ia paham maksudnya. Ia meminta agar aku tidak menambahkan kalimat yang menyamakan kesalahan pekerjaan dengan kesalahan dalam hidup. Aku setuju. Ia tahu aku kadang terlalu cepat mencari makna besar. Aku menghapus satu perbandingan yang belum sempat kutunjukkan kepada ayah. Naskah itu menjadi sedikit lebih pendek dan tidak kehilangan apa pun yang penting.
Aku lalu membantu ayah membersihkan alat dan menyimpan cat agar tidak tumpah. Ia memilih beristirahat sementara aku menyiapkan pesanan besok. Kami tidak membicarakan pabrik atau masa depan. Kadang bekerja bersama cukup menjadi percakapan.
Ayah memeriksa kunci pagar dan berkata pekerjaannya cukup rapi.
Aku menyimpan draf di laci dan merapikan alat.
Besok kami akan memeriksa rak sekali lagi sebelum menyerahkannya kepada tetangga.
Di rumah, aku menyerahkan bagianku kepada ibu dan menyimpan sisanya untuk cat. Ibu bertanya apakah semua sudah sesuai. Aku menunjukkan nota, lalu ia memasukkannya ke map rumah. Ayah duduk sebentar dan mengucapkan terima kasih karena aku menepati jadwal. Aku menjawab kami sama-sama mengatur waktu.
Ibu memeriksa jumlahnya sebelum menutup map.
Kami membereskan ruang depan bersama.
Aku menyimpan pena.
Kami menaruh kuas di tempatnya sebelum pulang.
Aku menyimpan alat setelahnya.
Aku kembali ke rumah.
lalu beristirahat.