Hari setelah Nirasha Vaidya meninggalkan Vardhan Group, tidak ada yang benar-benar berubah di permukaan. Kantor tetap berjalan seperti biasa, rapat dimulai tepat waktu, laporan tetap dikirim sesuai jadwal, dan orang-orang kembali berbicara tentang hal-hal kecil yang tidak pernah benar-benar penting. Seolah tidak ada sesuatu yang hilang dari ruangan itu.
Namun meja Nirasha tetap kosong.
Bersih. Rapih. Terlalu bersih untuk seseorang yang kemarin masih duduk di sana setiap hari. Tidak ada dokumen tertinggal, tidak ada catatan kecil, tidak ada tanda bahwa seseorang pernah menjadikannya tempat untuk bekerja. Hingga akhirnya meja itu tidak lagi diperlakukan sebagai “bekas seseorang”, tetapi hanya ruang kosong yang perlu disingkirkan.
Aryavir Rajput datang lebih pagi dari biasanya. Ia tidak mengatakan alasannya kepada siapa pun, bahkan pada dirinya sendiri. Ia hanya berdiri di depan meja itu lebih lama dari seharusnya, menatap permukaan yang tidak lagi menyimpan jejak apa pun. Kosong itu terasa berbeda—bukan kosong karena belum dipakai, tetapi kosong karena sesuatu sengaja dihapus.
Ia membuka file sistem audit yang sama berulang kali, seolah jawaban akan berubah jika dilihat cukup lama. Namun yang ia temukan selalu sama. Tidak ada jejak tambahan. Tidak ada aktivitas lain. Tidak ada bukti yang bisa menjelaskan arah yang sudah terjadi. Yang tersisa hanya satu fakta yang tidak ia inginkan: Nirasha tidak meninggalkan apa pun setelah pergi.
Di hari-hari berikutnya, Aryavir mulai mencari penjelasan dalam hal-hal kecil. Ia bertanya siapa yang terakhir melihat Nirasha, ia meminta log sistem diperiksa ulang, ia memastikan tidak ada akses lain yang terlewat. Namun setiap jawaban hanya memperkuat satu hal yang semakin sulit ia terima—bahwa Nirasha benar-benar menghilang dari sistem tanpa sisa.
“Tidak ada aktivitas setelah hari kejadian, Pak,” kata tim IT akhirnya. “Akun terakhir aktif sebelum insiden, lalu tidak ada login lagi.”
Aryavir tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap layar lebih lama dari biasanya, seolah sesuatu di dalam data itu akan berubah jika ia cukup diam. Tapi tidak ada yang berubah.
Sementara itu, Ishani Devra mulai hadir lebih sering dalam ruang-ruang keputusan. Ia tidak banyak berbicara, tetapi setiap kehadirannya seperti menggeser arah percakapan tanpa terlihat. Ketika nama Nirasha sempat disebut dalam diskusi singkat, Ishani hanya berkata pelan bahwa kasus seperti itu biasanya selesai dengan sendirinya. Tidak ada yang membantah, dan pembicaraan pun berakhir di sana.
Di luar kantor, tidak ada jejak Nirasha sama sekali. Nomor pribadinya tidak aktif, alamatnya tidak dapat diverifikasi, dan sistem kepegawaian mulai mengarsipkan statusnya sebagai resign tanpa keterangan. Seolah keberadaannya hanya sebatas catatan yang bisa dihapus tanpa meninggalkan ruang pertanyaan.
Namun bagi Aryavir, tidak ada yang benar-benar selesai.
Setiap malam, ia kembali pada kesunyian yang semakin tidak nyaman. Ia mulai mengulang percakapan terakhirnya dengan Nirasha di dalam pikirannya, berulang tanpa henti, sampai tidak lagi terdengar seperti ingatan, tetapi seperti sesuatu yang terus menekan.
“Aku hanya butuh kamu percaya aku.”
Kalimat itu tidak berhenti di kepalanya. Dan setiap kali muncul, Aryavir selalu berhenti di satu titik yang sama—bahwa ia tidak menjawab saat itu.
Di hari-hari berikutnya, meja Nirasha tetap kosong, kantor tetap berjalan, dan dunia tetap melanjutkan rutinitasnya. Namun bagi Aryavir, sesuatu yang lebih sunyi dari kehilangan mulai tumbuh di dalam dirinya—kesadaran bahwa seseorang bisa benar-benar hilang tanpa jejak, bahkan ketika ia masih hidup di suatu tempat yang tidak bisa dijangkau.
Dan di antara semua itu, tidak ada satu pun yang kembali seperti semula.