Tak terasa sudah seminggu lamanya Violet dan Kirana bekerja di Vila tersebut, semuanya berjalan lancar. Mereka merasa cocok dan betah dengan pekerjaan baru yang tengah digelutinya.
Kedua gadis itu pun tinggal di sebuah kamar indekos murah yang hanya berukuran mini, tetapi Violet dan Kirana tidak mengeluh sedikitpun. Mereka merasa bahagia selama kebutuhan keluarga mereka tercukupi.
"Vi, aku izin dulu ya. Perut aku sakit banget," keluh Kirana yang terus-menerus memegang perutnya.
Violet yang tengah asik menyisir rambut hitamnya menoleh ke arah Kirana,"Kamu kenapa? Mau ke dokter?"
"Enggak usah, biasa bulanan hari pertama," lirih Kirana.
"Serius?"
"Iya beneran," jawab gadis berperawakan mungil itu lagi guna meyakinkan Violet.
Violet membersihkan Villa itu seorang diri, mulai dari memotong rumput di halaman belakang hingga membersihkan debu-debu yang menempel.
Waktu terus berputar, gadis itu melihat sebuah jam yang menempel pada dinding lalu beralih melihat keluar jendela.
JEDER!
Kilat tiba-tiba menyambar, dengan panik Violet segera menutup seluruh gorden dan naik di atas sebuah sofa, dengan menekuk lutut dan menutup kedua telinganya. Ingatannya kembali ke masa lalu, di mana titik terendah hidupnya. Violet benci hujan dan kilat, semua itu selalu membuat ingatannya tertarik pada masa lalu.
Sudah lewat dari pukul lima sore, tetapi hujan tidak kunjung berhenti dan semakin deras. Sudah satu jam lamanya gadis itu bergeming di tempat yang sama.
Hujan angin dan kilat membuatnya enggan untuk beranjak dari posisi ternyamannya.
Listrik tiba-tiba padam, membuat pandangannya menjadi gelap gulita. Hanya terdapat cahaya-cahaya kilat yang menambah atmosfer mencekam.
Violet mengambil telepon pintar miliknya yang berada di kantong celananya, tapi lagi-lagi ia harus mengumpat karena ponsel miliknya kehabisan daya.
Brak!
Pintu tiba-tiba terbuka, siluet seseorang tampak jelas di balik cahaya petir. Violet yang tersentak kaget, tak sengaja menjatuhkan ponselnya hingga berbunyi cukup keras.
"Eh, siapa kamu?" tanya Violet dengan suara membentak.
Namun, sosok itu hanya diam lalu tiba-tiba berlari dan menerjang tubuhnya. Violet mencoba memberontak sekuat tenaga, tidak bisa dipungkiri jika ia mengalami ketakutan berlipat ganda dari biasanya.
"Lepas! Jangan sampai gue hajar lo!" pekiknya, mencoba memberanikan diri. Violet terus bergeliat bersikeras membebaskan diri dekapan sosok yang diduga seorang pria beraroma maskulin itu.
Sosok itu mengunci tubuh Violet, lalu membenamkan wajahnya pada bahu gadis itu.
"Woi, kurang ajar!"
Hening, pria itu tidak melakukan apapun lagi. Tubuhnya tampak bergetar dan Violet merasakan sesuatu membasahi baju yang ia kenakan.
"Why ... Why did you leave me alone? I'm heartless without you."
Violet bergeming, mendengarkan rancauan yang keluar dari bibir pria itu.
"Kenapa Veronica? Apa kurangku padamu? Hanya karena aku jatuh miskin, kau tega meninggalkan diriku dan putri kita."
Gadis itu berpikir keras, Veronica nama yang tidak asing baginya. Lama Violet berpikir mengobrak-abrik semua ingatan di kepalanya, hingga akhirnya ia tersentak kala mengingat sebuah lukisan wanita yang terpajang disalah satu kamar di villa tersebut.
"Tuan ... Ke-kenneth," ucapnya mencoba menerka-nerka sosok pria yang mendekapnya itu.
Pria tersebut mendongakkan kepalanya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah gadis itu. Hidung mancung dan manik mata coklat, begitu jelas terlihat dengan bantuan cahaya kilat. Tampan, kalimat itulah yang pertama kali terlintas di dalam hati gadis itu. Manik coklat pria itu menyiratkan sebuah kesedihan dan kekecewaan mendalam.
"Kenapa kalian semua mengkhianatiku? Kenapa! Aku sangat mencintaimu Veronica," lirihnya kembali. Aroma alkohol begitu menyeruak dari mulutnya, menusuk indera penciumannya Violet hingga membuat gadis itu menahan napasnya.
"Tuan, sadar Tuan. Saya bukan Veronica!"
"Setelah seluruh hartaku jatuh ke tangan Jamie, kau meninggalkanku dan memilih bersamanya. Kau pikir aku ini apa? Sampah! Apa kau tidak memikirkan putri kita? Kamu tega Vero!" pekik Kenneth seraya menarik kerah baju Violet.
PLAK!
Sebuah tamparan melesat di wajah pria itu. Violet sangat yakin jika pria di hadapannya tengah berada dalam pengaruh alkohol, hingga membuatnya mengira jika Violet adalah Veronica.
Listrik kembali menyala, kini Violet dapat melihat dengan jelas raut wajah putus asa pria di hadapannya.
Sejujurnya, Violet mengakui jika pria berwajah khas western yang berada di hadapannya sangatlah tampan. Namun, sorot mata coklat pria itu begitu sendu, menyiratkan kesedihan yang mendalam. Wajahnya sembab dan basah karena air mata yang terus mengalir.
"Veronica, bagaimana aku harus menjaga Lyla? Aku mohon kembalilah," desisnya kembali.
Violet yang turut merasakan luka pria tersebut, hanya mampu memutar otaknya lebih keras. Sebenci apapun ia pada sosok pria, tetapi melihat air muka putus asa pria tersebut benar-benar membuatnya mengingat kala dikhianati seseorang yang paling dicintainya. Seseorang yang menjadi sandaran hatinya, yang begitu tega mencampakkannya tanpa perasaan bersalah.
PLAK!
"Hei sadar, aku bukan Veronica!" tandasnya kembali, setelah menampar wajah pria itu untuk kedua kalinya.
Tiba-tiba, pria itu kembali mendekat dan mengecup bibir Violet. Kedua mata gadis itu membulat sempurna, ini adalah kedua kalinya ia mendapatkan ciuman dari seorang pria setelah sang mantan pacar terdahulu.
Tubuh gadis itu terasa kaku, kala pria tersebut semakin memperdalam ciumannya.
"Aku mohon, kembalilah! Aku berjanji akan bekerja lebih keras agar mampu membahagiakanmu," bisiknya sesaat setelah melepaskan ciumannya.
Violet yang tersadar, spontan menendang pria itu hingga jatuh terjungkal, lalu menarik kerah baju pria blonde tersebut sekuat tenaga.
"Ikut aku!" titahnya. Violet menarik tangan pria tersebut lalu membawanya ke dalam kamar mandi.
Dengan cepat, Violet menyalakan shower hingga membasahi tubuh pria yang berada di hadapannya. "Sadar kamu, aku bukan Veronica!"
"Jadi pria itu jangan cengeng, dunia kamu gak akan runtuh hanya karena kehilangan satu pengkhianat!" pekik Violet terus-menerus. Suara gadis itu terdengar nyaring dan menggema memenuhi kamar mandi tersebut.
Hampir satu jam lamanya, ia berusaha menyadarkan pria itu. Hingga kini pria yang diduga Kenneth, terlihat terduduk lemas di bawah pancuran air shower.
Dengan sigap Violet segera mematikan dan membawakan sebuah bathrobe. "Lepaskan pakaianmu dan pakailah ini agar kau tidak sakit," tuturnya.
Namun, bak orang bodoh. Pria itu hanya bergeming di posisi yang sama, tanpa mengacuhkan perintah dari Violet sama sekali.
Gadis berparas cantik itu memutar bola matanya malas dan berdecak kesal. Dengan terpaksa ia harus membantu pria tersebut melepas semua pakaiannya, daripada nanti sakit dan ujung-ujungnya ia yang akan direpotkan. Terlebih ia yakin betul jika pria tersebut adalah pemilik villa itu.
Violet membuka satu persatu kancing kemeja pria itu. Wajahnya bersemu merona, untuk pertama kalinya ia melihat tubuh seorang pria bak model majalah kebugaran.
Tanpa ia sadari, jika kesadaran pria di hadapannya berangsur pulih dan melihat seluruh milik wajah dan gerakannya.
"Cepat dan selesaikan, cepat dan selesaikan, cepat dan selesaikan," rancaunya terus-menerus, mengulang perkataan yang sama. Wajahnya terlihat begitu kikuk terlebih saat harus melepaskan gesper dan membuka ziper celana pria itu. Gadis itu melakukannya dengan mata tertutup, tetapi sedikit mengintip agar pergerakannya tidak salah
"Cepat dan selesaikan, cepat dan selesaikan, aduh si bodoh bikin perkara sendiri, ngerepotin diri sendiri!" Violet terus merancau dan mengumpat, sesekali ia memukul-mukul kepalanya.
Tangan gadis itu gemetar, kala harus melepas pakaian terakhir yang menutupi bagian pribadi pria itu. Violet memalingkan wajahnya dan dengan cepat meraih sebuah bathrobe dan memakaikannya kepada pria tersebut.
"Ah ... selesai juga, ampun! Gak lagi-lagi deh! Hei, Tuan! Harusnya kamu menggajiku dua kali lipat! Tapi karena aku tau kamu bangkrut, ya sudah gak apa-apa. Asal aku tetap digaji sudah syukur, awas saja kalau sampai mangkrak!" ucapnya seraya mengikat tali bathrobe dengan kencang.
Namun, sepertinya penderitaan gadis itu tidak sampai di situ. Pria itu seketika menutup mulutnya dengan wajah yang memucat.
Hoek! Hoek!
"Astaga, jackpot!"