Pagi itu langit di atas Desa Kaliwungu masih kelabu, dan kabut tipis menggantung di ujung-ujung daun padi yang baru menguning. Sutan berdiri di pematang, menggulung lengan bajunya yang sudah lusuh, menatap hamparan sawah milik keluarganya yang sebentar lagi panen. Bau tanah basah dan jerami yang dibakar di kejauhan masuk ke dalam dadanya, membuatnya merasa, untuk sesaat, bahwa hidup ini masih sederhana.
"Sutan! Jangan bengong saja. Air di petak sebelah utara harus dialirkan sebelum matahari tinggi," teriak Pak Lurah Kasiman dari kejauhan, suaranya menggema di antara batang-batang bambu.
"Iya, Pak," sahut Sutan, lalu segera melangkah menyusuri pematang yang licin. Kakinya yang telanjang sudah hafal setiap belokan, setiap lubang, setiap tempat di mana lintah suka menempel.
Sutan baru dua puluh satu tahun. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tetapi keras dan kering oleh kerja sawah sejak kecil. Ayahnya, Pak Wiryo, sudah meninggal tiga tahun lalu karena demam yang tak kunjung sembuh, dan sejak itu Sutan menanggung ibunya, Mbok Sari, serta adik perempuannya, Lastri, yang baru sebelas tahun. Sawah dua petak inilah seluruh dunianya.
Tetapi pagi itu ada yang berbeda. Sejak fajar, orang-orang di balai desa berbisik-bisik. Kabar datang dari Yogyakarta, dibawa pedagang yang lewat: Belanda kembali menyerang. Mereka menamakannya "aksi polisionil", seolah-olah ini hanya urusan menertibkan, padahal yang datang adalah tentara dengan senapan dan kendaraan baja. Perjanjian yang ditandatangani di atas geladak kapal beberapa bulan lalu sudah mereka koyak sendiri.
"Katanya mereka sudah sampai ke arah Magelang," kata Kang Sapto, pemuda desa yang lebih tua beberapa tahun dari Sutan, ketika mereka berpapasan di tepi kali. Tangan Kang Sapto memegang cangkul, tetapi matanya tidak lagi melihat sawah. Matanya melihat jauh ke utara.
"Kita ini cuma petani, Kang," kata Sutan pelan. "Apa urusan kita dengan Belanda?"
Kang Sapto tertawa kecil, tetapi tawanya pahit. "Tan, kalau rumahmu dibakar, apa kau masih bilang itu bukan urusanmu?"
Sutan tidak menjawab. Ia hanya menunduk, membersihkan lumpur dari jari-jari kakinya. Tetapi kalimat Kang Sapto menempel di benaknya seperti lintah yang sulit dilepas.
Siang harinya, ketika matahari sudah menyengat dan keringat mengalir di punggungnya, Sutan pulang melewati rumah keluarga Atmodjo. Di halaman rumah itu, di bawah pohon mangga yang rindang, Ningrum sedang menjemur padi di atas tikar yang lebar. Gadis itu mengangkat wajahnya ketika mendengar langkah Sutan, dan untuk sesaat keduanya hanya saling pandang.
"Sudah dengar kabarnya?" tanya Ningrum. Suaranya lembut, tetapi ada kekhawatiran yang tersembunyi di dalamnya.
"Sudah," jawab Sutan, berhenti di pagar bambu. "Bapakmu bagaimana?"
"Bapak bilang, kalau benar Belanda datang ke sini, kita harus mengungsi ke selatan, ke arah gunung." Ningrum menyeka tangannya yang berdebu di kain jariknya. "Tapi aku tidak mau pergi, Tan. Ini rumah kita. Sawah kita."
Sutan memandang gadis itu lama. Mereka tumbuh bersama di desa ini, bermain di kali yang sama, mengaji di langgar yang sama. Sejak setahun terakhir, ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka, sesuatu yang belum sempat mereka beri nama. Sutan ingin mengatakan banyak hal, tetapi lidahnya selalu kelu setiap kali berhadapan dengan Ningrum.
"Aku akan menjaga desa ini," kata Sutan akhirnya, dan ia sendiri kaget mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya. "Kau tidak perlu takut."
Ningrum tersenyum tipis, tetapi matanya berkaca. "Jangan berjanji yang macam-macam, Tan. Aku cuma ingin semua orang selamat."
Malam itu, di rumah panggung beratap rumbia, Sutan tidak bisa tidur. Ibunya sudah terlelap di amben, dan Lastri meringkuk di sampingnya. Lewat celah dinding bambu, Sutan menatap bintang-bintang. Di kejauhan, sangat jauh, ia seperti mendengar suara gemuruh—entah guntur, entah meriam. Ia tidak tahu pasti.
Yang ia tahu, dunia kecilnya yang sederhana itu sedang berubah warna. Seperti sawah yang dari hijau menjadi kuning lalu cokelat, sesuatu sedang terjadi, dan ia tidak bisa menghentikannya.
Esok paginya, sebuah rombongan datang ke desa. Mereka bukan tentara Belanda. Mereka berpakaian seadanya, sebagian bercelana pendek, sebagian membawa senapan tua, sebagian hanya membawa bambu runcing. Di pundak mereka tersampir kain merah putih yang sudah pudar.
Mereka laskar pejuang. Dan pemimpin mereka, seorang lelaki bertubuh tegap dengan kumis tebal, berdiri di tengah balai desa dan berseru dengan suara yang menggetarkan dada setiap orang yang mendengarnya.
"Saudara-saudara! Tanah air kita sedang diinjak. Siapa di antara kalian yang masih punya darah merah, ikutlah kami!"
Dan di antara kerumunan itu, Sutan merasakan jantungnya berdebar lebih keras dari sebelumnya.