Parit utara jebol menjelang tengah hari.
Sutan melihatnya terjadi seperti dalam mimpi buruk yang melambat: dinding tanah yang tadi menahan air dan peluru tiba-tiba ambruk ke dalam, longsor oleh hantaman meriam dan rembesan sungai. Di celah yang menganga itu, dua prajurit Belanda yang sudah berhasil mencapai darat memanjat naik, bayonet terhunus.
"Celah! Celah di utara!" Pak Kromo sudah berdiri sebelum Sutan sempat berpikir. "Tutup, atau mereka masuk dari dalam!"
"Karung!" teriak Marto. "Bawa karung pasir ke utara! Cepat!"
Sutan menjatuhkan senapannya, menyambar sebuah karung pasir setengah robek, dan berlari menunduk di sepanjang dasar parit yang becek. Darso mengikuti, menyeret karung lain dengan satu tangan yang sehat. Lumpur menyedot kaki mereka seolah tak rela melepaskan.
Di celah, seorang pejuang sudah bergumul dengan prajurit Belanda. Pak Kromo tak menembak — terlalu rapat, peluru bisa salah kena — ia menghantam dengan popor senapannya, keras, tepat di rahang. Prajurit itu terhuyung jatuh kembali ke air. Yang kedua menusukkan bayonet; Pak Kromo memiringkan tubuh tuanya dengan kelincahan yang mengejutkan, dan baja itu hanya menyobek lengan bajunya.
"Sutan! Karungnya!"
Sutan menjatuhkan karung di mulut celah. Darso melempar miliknya di atasnya. Tetapi air dan tanah longsor terus menggerus; satu-dua karung tak cukup.
"Lagi! Mana yang lain?"
"Habis!" seseorang berteriak dari belakang. "Karung pasir kita habis, Kang!"
Hening sesaat yang mengerikan. Lalu Pak Kromo melompat ke celah itu sendiri, tubuhnya menjadi dinding di tempat karung seharusnya berada. "Tahan di sini!" raungnya. "Pakai apa saja! Pakai badan kalau perlu!"
Sutan tak ingat memutuskan apa pun. Ia hanya tahu kakinya membawanya ke samping Pak Kromo, bahunya menekan tanah yang runtuh, tubuhnya menjadi penyangga bersama tubuh-tubuh lain. Darso di sebelahnya, mengerang menahan beban di bahunya yang luka. Lumpur dingin merembes ke baju mereka, tetapi celah itu berhenti melebar.
Dua prajurit Belanda lagi muncul dari air. Pak Kromo, separuh terbenam, mengangkat senapannya dengan satu tangan dan menembak. Satu jatuh. Yang lain meraih tepi celah; Sutan menghantamnya dengan batu yang entah dari mana ada di tangannya, sekali, dua kali, sampai cengkeraman itu lepas.
"Tahan! Tahan sebentar lagi!" Marto sudah mengirim dua pejuang dengan batang-batang pisang dan tanah dalam ember. Mereka menjejalkan apa saja ke celah — batang pisang basah, tanah liat, sisa-sisa karung yang sudah koyak. Perlahan, dengan keringat dan napas yang tersengal, celah itu tertambal kembali.
Pak Kromo menarik diri keluar dari lumpur, tubuhnya gemetar oleh tenaga yang baru saja ia kerahkan. Ia terbatuk, meludahkan lumpur, lalu menyeringai memperlihatkan gigi ompongnya. "Belanda kira kita kehabisan akal kalau kehabisan karung," katanya, napasnya berat. "Mereka belum kenal orang Jawa yang putus asa."
Sutan terkulai di dinding parit, dadanya naik turun. Tangannya, yang tadi menghantam dengan batu, kini gemetar tak terkendali. Ia memandangi telapaknya yang berlumur lumpur dan darah — entah darah siapa.
"Kau baik-baik saja?" Darso menepuk lengannya, meski wajahnya sendiri pucat menahan sakit di bahu.
"Entah," jawab Sutan jujur.
Di kejauhan, meriam menggempur lagi. Tetapi celah itu, untuk saat ini, mereka tahan. Karung pasir terakhir mereka telah berubah menjadi tubuh manusia, dan tubuh manusia itu masih bertahan.
Pak Kromo memungut senapannya, mengisi kembali pelurunya — Sutan menghitung dengan ngeri, hanya tinggal beberapa butir — dan kembali ke posisinya. "Tetap di garis, Nak," katanya pada Sutan. "Hari ini belum selesai."