Mereka tidak semua sampai ke bukit.
Dua orang dari kelompok penjaga belakang — Parman dan seorang pemuda yang dipanggil semua orang dengan nama Si Gendut meski tubuhnya kurus — tertinggal di parit. Bukan karena lambat. Mereka memilih tinggal.
Sutan baru menyadarinya ketika ia, Darso, dan Pak Kromo sudah setengah jalan mendaki lereng. Tembakan dari parit yang ditinggalkan masih terdengar — bukan ilusi lagi, melainkan sungguhan, dua senapan menahan gelombang Belanda yang menyerbu masuk. Parman dan Si Gendut tinggal untuk menutup jalan, agar para penjaga belakang yang lain — agar Sutan — bisa mencapai bukit hidup-hidup.
"Mereka—" Sutan berhenti, hendak berbalik.
Pak Kromo mencengkeram lengannya, kuat seperti besi. "Jangan," katanya, dan untuk pertama kalinya suara pejuang tua itu serak. "Kalau kau kembali, kau mati, dan pengorbanan mereka jadi sia-sia. Mereka memilih ini, Sutan. Hormati pilihan mereka dengan tetap hidup."
Tembakan di bawah jarang, lalu berhenti. Lalu sunyi.
Sutan berdiri terpaku di lereng, dadanya sesak. Di bawah sana, di parit tanah merah yang dulu mereka pertahankan bersama, kini tak ada lagi suara perlawanan dari kawan. Hanya seragam-seragam Belanda yang merayap masuk, dan asap, dan diam.
Malamnya, di sebuah cekungan terlindung di lereng bukit, sisa pasukan berhenti untuk beristirahat dan menghitung. Marto memerintahkan tak ada api unggun — terlalu berbahaya. Mereka makan ubi mentah dan sisa nasi jagung dingin dalam gelap. Sutan duduk terpisah, punggung di batang pohon, dan mengeluarkan pensil serta kertasnya.
Darso mendekat, duduk di sampingnya tanpa bicara. Setelah lama, ia berkata, "Apa yang kau tulis?"
"Nama-nama," jawab Sutan. Tangannya bergerak pelan di bawah cahaya bulan yang menembus dedaunan. "Kalau tidak ada yang menulisnya, mereka akan hilang. Seolah tidak pernah ada. Aku tidak mau itu terjadi."
Ia menulis: *Parman, dari dukuh sebelah utara, suka bersiul lagu dangdut Melayu. Si Gendut — aku tidak pernah tahu nama aslinya, dan itu menyiksaku — kurus tapi makannya paling banyak, selalu tertawa. Mereka tinggal di parit Progo supaya kami bisa lari ke bukit. Mereka tidak lari. Mereka tidak pernah lari.*
Lalu ia menambahkan nama-nama lain yang ia ingat — pemuda berdada berlubang di bab pagi pertama, kawan-kawan yang dikubur seadanya, yang tertinggal. Tujuh, delapan, sembilan nama. Tangannya pegal, tetapi ia terus menulis sampai semua yang ia ingat tercatat.
"Untuk siapa surat itu?" tanya Darso pelan.
Sutan diam sejenak. "Untuk Ningrum. Tapi juga untuk siapa saja yang membacanya nanti. Supaya orang-orang tahu, suatu hari nanti, bahwa kemerdekaan ini tidak datang gratis. Bahwa ada Parman dan Si Gendut yang membayarnya." Ia melipat kertas itu, memasukkannya ke dalam saku dekat dada, di samping selendang biru Ningrum. "Kaleng suratku ada pada Pak Mantri. Nanti kutambahkan ini ke sana. Biar lengkap. Biar tidak ada yang terlupa."
Darso menatapnya, dan dalam gelap Sutan tahu sahabatnya itu menahan air mata. "Kau tahu, Tan," kata Darso, suaranya parau, "dulu kupikir kau cuma anak petani yang tidak tahu apa-apa soal perang."
"Aku memang tidak tahu apa-apa soal perang."
"Tidak," kata Darso. "Tapi kau tahu sesuatu yang lebih penting. Kau tahu cara mengingat." Ia menepuk pundak Sutan, lalu bersandar di pohon yang sama. "Tulis namaku juga, kalau aku mati nanti. Jangan lupa bilang aku ganteng."
Sutan tertawa kecil, tawa pertama dalam berhari-hari, basah oleh air mata yang tak ia tahan lagi. "Akan kutulis kau ganteng," katanya. "Bohong, tapi kutulis."
Di bawah mereka, jauh di bawah lereng, parit Progo telah jatuh ke tangan Belanda. Tetapi di saku seorang anak petani, nama-nama yang gugur di sana telah tercatat, dan selama nama itu masih ada, mereka belum benar-benar hilang.