Tembakan keenam tak pernah datang.
Yang datang adalah hening — hening yang lebih keras dari segala dentuman, hening yang turun di lereng seperti kabut dingin. Lalu, dari bawah, suara teriakan dalam bahasa asing, langkah-langkah yang mendekat, dan satu rentetan tembakan Belanda yang menghantam batu tempat Pak Kromo bersembunyi.
Sutan tahu, tanpa harus melihat. Tetapi ia tetap menatap ke bawah, ke balik batu di jalur sempit itu, sampai Darso menariknya.
"Dia menahan mereka," kata Darso, suaranya hancur. "Dia memberi kita waktu. Jangan sia-siakan, Tan. Demi dia. Jangan sia-siakan."
Mereka menemukan jejak pasukan utama menjelang sore dan menyusul Marto di sebuah cekungan tersembunyi lebih jauh di pegunungan. Ketika Sutan melaporkan apa yang terjadi — suaranya nyaris tak keluar — Komandan Marto berdiri membisu untuk waktu yang lama. Lalu ia melepas topinya, menundukkan kepala, dan seluruh pasukan yang melihatnya ikut menunduk.
"Kromo," kata Marto akhirnya, suaranya berat seperti batu. "Kawan seperjuanganku sejak melawan Jepang. Tidak ada yang lebih berani, dan tidak ada yang lebih tenang menghadapi maut." Ia menatap pasukannya. "Dia mati supaya kita hidup. Itu utang yang tidak bisa kita bayar dengan apa pun selain terus berjuang. Camkan itu."
Malam itu, di bawah pohon-pohon pegunungan yang gelap, Sutan tak bisa tidur. Ia duduk memandangi sesuatu di pangkuannya: senapan tua buatan Jepang milik Pak Kromo.
Salah seorang dari kelompok belakang — pemuda bernama Tarmin yang sempat mengintip dari punggungan — telah memberanikan diri merangkak turun setelah Belanda berlalu, dan menemukan tubuh Pak Kromo di balik batu, sudah tak bernyawa, tangannya masih menggenggam senapan yang kosong. Tarmin tak bisa membawa jenazahnya — terlalu berbahaya, terlalu jauh — tetapi ia membawa senapan itu, dan menyerahkannya pada Sutan.
"Dia pernah bilang padaku," kata Tarmin pelan, "kalau dia tidak kembali, senapannya untuk anak petani yang suka menulis surat. Katanya kau yang paling butuh diingatkan untuk berani."
Sutan menggenggam senapan itu. Kayunya usang, halus oleh tangan yang menggenggamnya bertahun-tahun. Logamnya dingin. Tetapi entah bagaimana, di tangannya, senjata tua itu terasa hangat — seolah masih menyimpan sisa kehadiran lelaki yang gigi ompongnya menyeringai menghadapi maut.
Ia mengeluarkan pensil dan kertasnya, dan di bawah cahaya bulan pegunungan, ia menulis:
*Pak Kromo. Veteran melawan Jepang. Pejuang tua dengan rambut putih di pelipis dan gigi ompong yang selalu menyeringai. Punya anak-anak yang sudah dewasa, tersebar entah di mana — semoga suatu hari mereka membaca ini dan tahu betapa berani ayah mereka. Ia gugur di lereng bukit selatan, menahan patroli Belanda sendirian dengan enam peluru, supaya kami bisa hidup. Ia bilang padaku: tetap hidup, dan tulis namaku di kalengmu. Pak Kromo, namamu sudah kutulis. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Senapanmu ada padaku sekarang, dan aku berjanji akan membawanya dengan berani, seperti caramu membawanya.*
Ia menutup tulisan itu, melipatnya, dan menyimpannya bersama nama-nama yang lain.
Darso duduk di sampingnya, menatap senapan tua itu. "Kau tahu cara memakainya?"
"Pak Kromo pernah menunjukkan padaku," kata Sutan. "Di parit, di malam-malam menunggu. Dia bilang senjata tua butuh tangan yang sabar." Ia mengusap kayu popor itu pelan. "Aku akan belajar sabar."
Esok pagi, pasukan harus terus bergerak. Tak ada waktu untuk berkabung lama; Belanda masih memburu, dan pegunungan masih panjang. Tetapi ketika Sutan bangkit dan menyandang senapan tua Pak Kromo di bahunya, di samping senapannya sendiri, ia merasa ada beban baru — bukan hanya berat besi, melainkan berat amanat. Berat untuk hidup. Berat untuk terus berjuang. Berat untuk mengingat.
Sang veteran telah gugur. Tetapi keberaniannya kini berjalan menaiki bukit, di bahu seorang anak petani dari Kaliwungu.